Kiyo tidak begitu sering berkomunikasi dengan paus. Mungkin karena dulu ia lebih banyak menghabiskan misi di daratan, sehingga teman bicaranya hanya kucing-kucing atau burung liar.
Di dalam laut, ia lebih sering berjumpa hiu atau lumba-lumba. Dan sejujurnya, ia paling benci dengan lumba-lumba, mereka cerewet, licik, dan selalu punya nafsu membara. Menyebalkan sekali jika bertemu tanpa sengaja.
Paus, meskipun bertubuh lebih besar dari mamalia laut lainnya, tetapi sepengetahuan Kiyo, mereka yang paling ramah. Sedikit dingin memang, tapi tidak lantas menyakiti. Kadang, saat ia menyelundup di dalam sekumpulan paus yang sedang migrasi, berenang di bawah tubuh mereka untuk berlindung dari pengamatan orang lain, Kiyo tidak pernah ditendang keluar. Ia dibiarkan, dan kadang dilindungi dengan sengaja.
Kiyo mungkin hanya harus berhati-hati saat mereka tiba-tiba membuka mulut untuk menyedot makanan.
Namun, sekarang ia malah menemukan seekor paus yang menutup mata di tengah batuan karang. Bukankah ini pemandangan langka?
Jika saja Kiyo punya kamera, seharusnya ia bisa memotret momen seperti ini, membuat video tentangnya, dan menjualnya ke para peneliti. Pasti bayarannya lumayan, bisa untuk jajan selama sebulan.
Menghapus imajinasinya yang sudah semakin jauh, Kiyo pun berenang tepat di depan hidung paus kelabu tersebut. Ketika ia sudah berada sangat dekat, mata paus di depannya terbuka, menampilkan warna biru muda seperti permata.
Bukankah ini terlalu langka? Kiyo tidak mungkin tidak terpesona, ‘kan?
“Manusia, apa yang kau perlukan dengan mendatangiku di sini?”
Tunggu dulu, baru saja paus ini mengirimkan telepati ke pikirannya? Hebat sekali. Kiyo bahkan tidak perlu menggunakan kemampuannya untuk berkomunikasi.
“Sebenarnya, aku perlu bantuan,” jawab Kiyo pada akhirnya.
“Tidak berbasa-basi. Kau bahkan tidak mengenalkan namamu.”
“Aku Kiyo.”
Paus itu pun diam sejenak, tampaknya sedikit kesal sekaligus heran, sebab manusia di hadapannya benar-benar tidak banyak bicara. Hanya berkata sesuatu yang memang menjadi tujuan utama. Seingatnya, manusia lebih suka bicara berputar-putar.
Apakah manusia zaman sekarang memang sudah berubah?
“Bagaimana bisa seorang manusia sepertimu menemuiku? Dengan perilaku yang tidak sopan, dan tiba-tiba datang meminta bantuan.” Paus itu bicara lagi, dengan nada yang lembut meskipun terdengar agak kesal.
“Oh, apakah kau membutuhkan sopan santun manusia? Kukira kaummu pasti punya cara sendiri untuk bersopan santun.”
“Kaum apa yang kau maksud? Aku sendirian di dunia ini.”
“Bukan paus?” tanya Kiyo kemudian.
“Paus, tapi sedikit berbeda. Jika aku paus seperti lainnya, aku tidak mungkin bisa bicara denganmu, manusia.”
“Kau benar. Lalu, apakah ada sesuatu yang perlu aku lakukan supaya kau bersedia membantuku?”
Tidak ada jawaban, tetapi Kiyo bisa melihat paus di abu-abu di depannya sedang menyunggingkan senyum kecil.
“Sudah lama sekali tidak ada yang menemuiku atau meminta bantuanku. Sebenarnya, aku sedikit kesepian beberapa ratus tahun ini.”
Kali ini Kiyo yang diam. Jika paus tersebut berusia ratusan tahun, artinya bisa saja makhluk itu merupakan sesuatu yang dituahkan. Bahkan bisa saja, menjadi sebuah legenda hidup yang keberadaannya tersembunyi.
Pada akhirnya, dengan lancar Kiyo berucap. “Aku akan sering mengunjungimu, dan bicara denganmu.”
“Benarkah?”
Mata biru seperti permata itu berkilauan dengan binar yang luar biasa mengesankan. Sepertinya terlalu gembira sampai keindahan matanya pun terpancar begitu saja.
“Aku biasanya selalu menepati janji. Jika aku lupa, kau bisa memanggilku kapan saja jika mau,” jawab Kiyo.
“Bagaimana caranya aku menghubungimu? Telepatiku tidak bisa mencapai jarak terlalu jauh. Apalagi jika kau ada di daratan.”
“Apa kau bisa bicara dengan burung? Atau apa saja yang bersayap, mungkin. Suruh mereka mencariku, aku bisa berkomunikasi dengan yang seperti itu meskipun secara tidak langsung,” jelas Kiyo.
Paus dengan mata berkilauan itu pun tertawa dengan riang. “Kau benar-benar manusia yang aneh. Kau datang meminta bantuan, juga menawarkan janji dengan begitu mudah. Karena aku memang suka membantu, aku akan membantumu.”
“Namamu?” tanya Kiyo sekali lagi.
“Eiddwen.”
Kiyo sedikit menelengkan kepalanya. “Pasti banyak yang berharap padamu, ya?”
“Dulu sekali … ratusan tahun lalu, aku ini disembah manusia, lho.”
“Sepertinya kau punya banyak cerita, ya? Tapi bantu aku dulu, kau bisa cerita semaumu kapan-kapan.”
“Kau benar-benar aneh, Kiyo.”
.
.
.
Dari arah laut, sesuatu yang besar datang mendekat.
Lenard yang awalnya duduk diam pun, mulai berdiri untuk bisa melihat lebih jelas ke depan. Saat ia memperhatikan dengan saksama, ia menjumpai sesuatu yang sangat besar mulai menampakkan diri ke permukaan.
Namun, yang lebih menakjubkan adalah Kiyo ada di atas ‘sesuatu’ tersebut.
Bibir Lenard pun terukir ke atas, ia tertawa dengan bahagia lalu melambaikan tangan seraya melompat-lompat riang. “Kiyooooo Kiyoooo!” teriaknya.
Kiyo yang mendengar teriakan Lenard, ikut melambaikan tangan.
.
.
Pada akhirnya, Lenard bisa ikut menaiki punggung Eiddwen.
Di atas paus, bersama Lenard yang terus menerus antusias, Kiyo duduk termenung menatap ke depan.
Ia hanya merasa, bahwa monster-monster yang ada di dunia ini lebih mudah diajak berkomunikasi daripada sekadar hewan biasa. Ia masih ingat, jika kucing-kucing liar yang sering ia temui di jalanan lebih susah ditembus pikirannya, padahal ia sangat suka kucing dan selalu berusaha bermain dengan mereka meskipun sering dicakar membabit buta.
‘Apa jangan-jangan karena itu, aku bisa simpati kepada Lenard dengan mudah?’ Batin Kiyo tersentak. Ia pun mulai memperhatikan Lenard dengan saksama, melihat bagaimana telinga singa Lenard menjentik-jentik imut, atau ekor panjang yang mengibas-ngibas kalut.
‘Dia memang lucu, seperti kucing’
Rasanya Kiyo semakin yakin bahwa kecintaannya pada kucing adalah salah satu alasan mengapa ia mau menolong Lenard tanpa pandang bulu.
Merasa diperhatikan, Lenard pun menoleh dan menelengkan kepala. “Ada apa, Kiyo?”
Kiyo menggeleng. “Kau sepertinya senang ada di atas paus,” dan ia mulai mengalihkan pembicaraan.
“Ini pertama kalinya aku naik paus. Sebenarnya, semua hal yang kulalui bersama Kiyo adalah pertama kalinya bagiku. Aku sangat senang.”
Tanpa sadar, tangan Kiyo pun menepuk-nepuk puncak kepala Lenard dengan lembut. “Baguslah. Untuk menjadi orang dewasa yang keren, kau harus punya banyak pengalaman.”
Lenard percaya sepenuh hati. Ia sudah tidak lagi meragukan apa pun yang diucapan Kiyo. Rasanya, Kiyo adalah panutan paling berharga. Kasihan Paman Francis, posisinya tergeser sedikit dari hati Lenard yang sepolos kain mori.
Setelah itu, karena perjalanan di atas lautan sangat panjang, sekitar 12 sampai 14 jam untuk sampai daratan, Kiyo dan Lenard pun menghabiskannya dengan bermain tebak-tebakkan, bercerita keseharian, lalu tidur dengan nyaman.
Saat paus yang membawa mereka bersandar ke tebing karang, hari sudah sangat gelap. Namun, karena terlalu puas tidur di siang hari, keduanya tidak sama sekali mengantuk.
“Kiyo … aku lapar sekali dan haus, dan ingin buang air.”
“Ya sudah, ayo ke permukiman untuk mencari penginapan.”
Lenard mengangguk bersemangat, tidak sabar untuk bisa buang air besar. Sementara Kiyo harus memikirkan bagaimana cara menyembunyikan telinganya dengan aman, dan bagaimana cara mendapatkan pakaian yang bisa digunakan berbaur di keramaian.