10. Dari Desa ke Desa

1224 Kata
ANCIENT NEWBORN . Mandi di sungai sudah cukup, bebungaan diselipkan di dalam saku pakaian, telinga yang mencurigakan ditutupi dengan kain seperti wanita Bulgaria zaman dahulu kala. Melihat bagaimana penampilannya dan Lenard sudah cukup bagus untuk berbaur di keramaian, Kiyo pun nyeletuk dengan ringan, “Tidak sia-sia merampas pakaian dari para perampok, ya?” Lenard yang mengenakan kaos kebesaran dan celana yang seperti popok, mengangguk-angguk saja. Mau bagaimana lagi, tidak ada celana untuk anak kecil berusia lima tahun di antara barang rampasan, sehingga Kiyo mau tidak mau memutar otak supaya sebuah kain segi empat bisa nyaman digunakan Lenard. “Meskipun merampas dari orang lain adalah tindakan tidak terpuji, tapi karena Kiyo yang melakukannya, pasti artinya boleh-boleh saja, kan?” tanya Lenard kemudian. Kiyo mengedikkan bahu. “Ya. Yang bisa melakukan hal seperti ini dan tetap terpuji hanya aku. Jadi kau tidak boleh melakukannya. Kau bisa dihukum dan dimasukkan ke dalam kerangkeng jika tetap bandel.” Lenard tersentak lalu memeluk tubuhnya sendiri. “Aku tidak mau dimasukkan ke dalam kerangkeng,” lirihnya dan tampak merinding. Kiyo melihat itu dan hanya bisa membuang napas, tahu jika Lenard mengalami trauma dengan jeruji besi dan sejenisnya. “Jangan dipikirkan, ayo ke desa terdekat untuk makan. Kau sudah buang air, kan? Perutmu pasti sangat lapar.” Kali ini Lenard mengangguk sedikit lesu. Namun, matanya cerah kembali ketika Kiyo menggandeng tangannya seraya menapaki jalan kecil di hutan. . . . Desa terdekat dihuni oleh sekumpulan anjing dan beberapa manusia bertelinga binatang lain yang berbeda-beda. Namun, Sebagian besar merupakan anjing yang penciumannya terkenal sensitif. Bahkan dengan bebungaan di dalam saku yang wanginya semerbak, seorang penjual roti pinggir jalan masih mengenali Lenard yang berbau seperti kucing besar. “Sudah lama aku tidak bertemu anak kucing. Dari mana asalmu, Nak?” tanya penjual roti yang sedang asik menggebuk adonan di atas talenan. Ia merupakan seorang laki-laki besar dengan telinga anjing yang lebar dan lunglai, wajahnya ramah meskipun otot tangannya luar biasa, mirip anjing basset hound yang selalu Kiyo lihat di depan apartemennya dulu. Apalagi, apron kumal yang penjual itu memiliki renda di tepian, sangat menarik untuk disaksikan. “Kami berasal dari Aurum,” jawab Kiyo singkat, mewakili Lenard yang asik terbengong melihat adonan yang diuleni. “Aurum? Aah, orang-orang Aurum adalah sahabat kami. Duke Aurum dan Duke Grimmwolf adalah sahabat karib.” Penjual roti itu berkata sambil bersemangat, gebukan di atas talenan semakin hebat. “Aku dua kali ke wilayah Aurum, dan orang-orang di sana juga sangat baik padaku.” Kiyo nyengir kuda. “Syukurlah kalau kau merasa nyaman saat pergi ke Aurum.” Penjual roti tersenyum lebar. “Tapi anak muda, mengapa baumu tidak seperti kucing? Baumu aneh. Apa kau ini orang laut?” Kiyo terkekeh saat menjawab. “Hari ini terlalu banyak bergulung di rerumputan dan bunga-bunga. Juga menyelam ke dasar laut untuk mencari kerang. Mungkin karena itu bauku jadi aneh.” Penjual roti hanya mengangguk-angguk maklum. “Pantas saja, ada sedikit bau orang laut, juga bebungaan. Mandilah yang bersih setelah ini, supaya baumu bisa lekas dikenali. Sebagai pemilik berkah roh anjing, kami di sini punya kemampuan penciuman yang sangat-sangat sensitif. Jika kau berkeliaran dengan aroma yang tidak jelas, kau akan menyulitkan orang lain mengenali asalmu.” Kiyo hanya menggaruk tengkuknya. “Baiklah, aku akan mandi dengan bersih,” ucapnya. Padahal dalam hati sedang tertawa haha hihi karena bau yang dia hasilkan kini memang disengaja. “Apa kau punya tempat menginap? Di desa kecil ini, selain rumah kepala desa, tidak ada penginapan khusus. Apalagi, kau mengajak anak kecil,” terang si penjual roti. Satu demi satu, adonan yang sudah dipotong ditata di atas loyang dan diolesi mentega. “Kami sudah punya tempat menginap,” jawab Kiyo tenang. “Di mana?” Namun, Kiyo hanya mengedikkan bahu. “Ada lah …,” sahutnya acuh tak acuh. Penjual roti hanya mengernyit kecil, tapi kemudian tidak lagi ingin mengulik lebih dalam mengenai pelanggan barunya. “Tunggu lima menit lagi, roti yang sejak tadi ada di pemanggang sudah siap untuk diangkat,” ujarnya melenceng jauh dari topik sebelumnya. “Kalau kau menyajikan s**u di depanku, aku akan menunggu dengan lebih sabar,” ucap Kiyo. Penjual roti itu mengerti, dan ia tersenyum kecil saat berjalan ke dapur belakang untuk menuangkan s**u ke dalam dua cangkir sedang. Kemudian, setelah menunggu lima menit untuk mendapatkan roti panas, Kiyo dan Lenard melanjutkan perjalanan untuk ke desa berikutnya. Lenard yang mengatuk tampak lunglai di dalam gendongan Kiyo yang nyaman, kepalanya bersandar di d**a Kiyo dengan kedua tangan yang mengkerut di dekapan. “Tidur saja, bocah yang sudah puas minum s**u akan cepat tumbuh besar kalau tidur tepat waktu,” ujar Kiyo di tengah perjalanan. Kain tipis yang ia simpan, ia gunakan untuk membungkus tubuh Lenard supaya tidak kedinginan. “Kapan Kiyo juga akan tidur?” tanya Lenard lirih. Kedua mata birunya terlihat sayu hampir tenggelam. “Aku bahkan bisa tidur sambil berlari,” jawab Kiyo asal. Namun, mendengar jawaban yang selalu terasa percaya diri, Lenard pun menjadi lebih tenang. Tanpa rasa sungkan, ia memejamkan matanya dan tertidur pulas setelahnya. . . . Ketika Lenard membuka mata, ia terbangun di atas kursi kayu yang keras. Sebuah kain tipis yang membungkus tubuhnya, disingkirkan perlahan ketika ia mencoba peregangan. Ia duduk dengan sedikit tergesa, dan matanya langsung dapat melihat seseorang yang begitu ia puja. Di depannya, Kiyo sedang asik mengudap kukis seraya membaca surat kabar. Perasaan Lenard pun kembali tenang. “Kiyo, selamat pagi.” Kiyo hanya mengangguk, kedua mata masih fokus pada surat kabar yang membentang di atas meja, dan sesekali ia meneguk teh panas dari gelas gerabah. “Lapar?” Lenard mengangguk. “Tapi aku ingin buang air.” “Pergilah ke tempat pemilik kedai. Dia akan mengantarmu,” saran Kiyo. Hanya saja, Lenard tak kunjung beranjak dari kursinya. Ia menggigit tepian bibirnya, dan raut wajahnya terlihat sedikit kalut. “Kiyo ….” Ia pun merengek. Kiyo mengambil napas panjang. “Ayo, kuantar ke depan pemilik kedai. Tapi kau sendiri yang harus bicara untuk minta izin.” Sedikit ragu tapi Lenard mengangguk. Kiyo tersenyum puas, dan akhirnya mengantar Lenard si bocah ‘pemberani’ ke hadapan pemilik kedai kopi untuk meminta izin menggunakan toilet. Usai buang air, Lenard meminta tolong Kiyo untuk memakaikannya celana. Mau bagaimana lagi, celana yang ia pakai sekarang adalah karya seni tidak terduga dari tangan Kiyo, sehingga hanya Kiyo lah yang tahu cara menatanya kembali. Hingga ketika Lenard mencuci mukanya di wastafel yang menurutnya sangat jelek dan kumuh, Kiyo tiba-tiba berkata, “Ayah dan ibumu masuk koran hari ini.” Lenard berhenti mencuci mukanya, dengan wajah yang basah ia turun dari kayu pijakan yang membuatnya bisa mencapai tinggi wastafel. Saat ia turun, wajahnya yang memang sudah basah, semakin basah oleh air mata. Ingatannya tentang ayah dan ibunya yang tewas kembali merasuki pikirannya. “Kau juga sedang dalam pencarian. Sepertinya, Paman Francis yang selalu kau bicarakan, sedang mencari keberadaanmu.” Namun, Lenard tidak menanggapi apa-apa hanya terus menangis tanpa suara. Kiyo mengambil napas panjang, ia pun berniat untuk mendekap Lenard seperti biasa. Sayang sekali, sebelum Kiyo berhasil menggapi Lenard di hadapannya, suara dobrakan pintu kamar mandi terdengar tiba-tiba. Segerombolan orang masuk dengan gerakan cepat dan terlatih. Terlebih, tanpa bicara tanpa permisi, orang-orang itu mengarahkan pedang mereka ke leher Kiyo yang masih berdiri tenang dan tampak agak jengah. “Jangan melawan atau lehermu putus saat ini juga.” Salah seorang bicara, memberi peringatan. Kiyo hanya bisa memutar bola matanya. ‘Hadeeeeeh’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN