11. Merengek di Depan Paman Francis

1135 Kata
Kiyo tidak bergerak, bahkan wajahnya yang selalu menarik perhatian itu kini hanya tertekuk penat. Padahal, ujung-ujung runcing pedang berada tepat di titik vitalnya, mengelilingi lehernya dengan sangat siaga. Bukan berarti ia sedang meremehkan lawannya, atau ingin bunuh diri sia-sia, tapi ia hanya merasa bahwa melakukan perlawanan bukanlah saat yang tepat untuk saat ini. “Bawa Tuan Muda pergi, dan tahan orang ini.” Seseorang memberi perintah lagi. Dengan itu, salah satu dari gerombolan prajurit tersebut membawa Lenard yang menangis ke gendongannya, bertindak seolah dialah pahlawannya. Sementara salah satu yang lain mulai mengikat kedua tangan Kiyo menggunakan tali sihir yang berbentuk seperti rantai. Sebagai orang yang tidak memiliki kemampuan sihir sama sekali, agaknya mustahil bagi Kiyo untuk melepaskan diri. Bukan berarti tidak ada cara untuk lepas sendiri, tapi ia memang sedang malas memikirkan caranya. Lagi pula, lihatlah wajahnya, seperti kucing bosan yang kekenyangan dan siap tidur siang. Ketika Kiyo dibawa ke luar toilet dan digiring untuk keluar dari kedai, ia bisa melihat seorang pria berambut emas yang menyambut Lenard dengan suka cita. Pria tinggi dengan telinga dan ekor singa itu, menggendong Lenard dengan erat. Kiyo bahkan bisa mendengar suara pria itu yang terus menerus mengucap syukur, mengatakan bahwa dia sangat merindukan Lenard, dan ini dan itu yang sangat emosional. Akan tetapi, ketika pria itu melihat Kiyo yang digiring mendekat ke arahnya, wajahnya menjadi muram dan dipenuhi curiga. Sangat berbeda dengan Lenard yang tampak semringah. “Kiyo!” Lenard memanggil lantang. “Kiyo, Kiyo, yang kau katakan benar. Paman Francis mencariku.” Kiyo hanya mengedikkan bahu, melirik sekilas pria berambut pirang yang disebut Francis, lalu berkata dengan enteng, “Baguslah. Berarti sekarang kau sudah bisa pulang sendiri.” Mendengar itu wajah Lenard berubah sangat pucat. “Ta-tapi Kiyo sudah berjanji akan mengantarku sampai rumah. Kau sudah berjanji!” Pria berambut emas yang menggendong Lenard, Francis, lantas menyahut. “Tuan Muda, Anda sekarang aman bersama saya. Tuan itu pasti punya keperluan lain, dan kita tidak boleh merepotkannya.” Lenard tidak mau mendengar apa pun. Baginya, Kiyo sudah seperti seorang dewa, seorang panutan yang tidak tergantikan. Kiyo adalah penyelamat di saat orang lain tidak mendengar suaranya. Kiyo, adalah segala-galanya. “Ti-tidak merepotkan. Kiyo tidak pernah berkata aku merepotkan. Kiyo sendiri yang bilang bahwa mengantarku adalah hal biasa, menjagaku adalah sesuatu yang biasa saja, karena … karena Kiyo sangaaaat kuat. Sangat-sangat keren dan hebat. Jadi-jadi-jadi Kiyo tidak akan kerepotan olehku!” Setelah mengatakan hal panjang lebar begitu, Lenard tiba-tiba mengeluarkan air mata. Awalnya hanya tetesan-tetesan kecil, tapi semakin lama ia menangis meraung-raung dan semakin kencang. Di depan kedai yang memang sudah ramai orang karena tertarik dengan rombongan prajurit, kini menjadi ramai dengan bisik-bisik. “Kiyo sudah berjanji mengantarku pulang. Kiyo tidak akan meninggalkanku. Huaaa huaaaaa.” Bahkan kini Lenard mulai meronta-ronta, kedua tangan kecilnya menggapai-gapai Kiyo yang memasang wajah jengah. Francis yang meskipun sudah terbiasa menjadi pengasuh dadakan Lenard, tetap saja merasa kewalahan dengan perilaku yang diluar dugaan ini. Ia pikir, anak majikannya itu akan senang bertemu dengannya, dan bisa diajak pulang dengan lebih tenang. Namun, lihatlah ini, Lenard menangis hanya karena tidak mau ditinggal orang asing yang baru dikenal. Ingin rasanya Francis membawa lari Lenard begitu saja, tapi jika ia melakukan hal seperti itu, Lenard akan marah padanya berhari-hari. Ia masih sangat ingat, betapa menyusahkan dunianya ketika Lenard tidak ingin bicara padanya. “Tuan Muda … Tuan Muda mari tenang lebih dulu dan dengarkan saya bicara. Jika Anda seperti ini, Anda akan kehilangan martabat sebagai seorang Aurum. Bukankah Yang Mulia Aryeh selalu mengajarkan Anda untuk menjadi pribadi santun di manapun itu?” Sayangnya percuma. Ceramahan Francis sama sekali tidak mempan kali ini, tenggelam oleh raungan Lenard yang lebih keras daripada suaranya. “Hadeeeh. Kalau kau menangis begitu, orang-orang akan semakin menyalahkanku. Wajahmu juga jadi tidak keren. Lihat tuh ingusmu ke mana-mana,” ucap Kiyo tiba-tiba. Ucapan yang tidak sopan itu lantas membuat semua orang meradang, terutama Francis dan prajuritnya. Ekor singa Francis bahkan melecut tanpa sadar. Namun, tidak dengan Lenard. Mendengar Kiyo bicara, ia segera berusaha keras menahan tangisnya. Cepat-cepat ia mengusap air mata yang membahasi hampir seluruh wajah, membuat hidung dan pipi tembamnya berubah menjadi merah. “Aku … aku sudah tidak menangis,” ujar Lenard kemudian. Sikap Lenard yang begitu patuh, semakin membuat Francis waspada. Sebab seingatnya, Tuan Mudanya ini sangat sulit mengakrabkan diri dengan orang asing. Bahkan jika mood-nya buruk, Lenard cenderung ketus dan tidak mau diajak bicara siapa pun. Sihir macam apa yang diberikan orang asing itu hingga Lenard mau mendengar omongannya dengan mudah? “Paman Francis, aku ingin turun.” Lamunan Francis buyar ketika Lenard bicara padanya. “Tuan Muda ….” Memejamkan mata sejenak, ia melanjutkan, “Tuan Muda, bukankah Anda sangat lelah? Bagaimana kalau kita masuk ke dalam kereta dan beristirahat? Saya akan memijat Anda … ya?” bujuknya. “Aku ingin turun.” Namun Lenard meminta dengan tegas. Menghela napas kecil, Francis pun menurunkan Lenard dari gendongannya. Ketika Lenard sudah turun, ia langsung berlari menyongsong Kiyo, lalu memeluk kaki penyelamat kesayangannya. “He he, Kiyo.” “Kenapa wajahmu begitu? Kau ingin aku menggendongmu?” Kiyo mengernyit sengsara. Namun, Lenard menggeleng. “Hanya memastikan bahwa Kiyo akan terus bersamaku, mengantarku pulang.” Kiyo mengambil napas panjang, lalu mendebas kecil. Ia berjongkok di depan Lenard, menyejajari bocah singa yang menggemaskan itu supaya bisa saling bersitatap. “Apa aku harus mengantarmu pulang sampai rumah? Benar-benar sampai rumah? Di halaman rumahmu?” Lenard mengangguk dengan cepat dan bersemangat. “Iya benar! Aku ingin menunjukkan rumahku pada Kiyo. Kau pasti terkejut karena rumahku saaaangat besar.” Kedua tangannya melebar, dan begitu pula senyuman di bibirnya. “Tapi ‘kan sekarang sudah ada Paman Francis di sisimu.” Kiyo melirik sedikit pada Francis yang memperhatikannya dengan cermat, dan ia tahu Francis sangat kesal saat ia menyebut panggilan Francis seperti yang Lenard lakukan. “Kenapa tidak pulang dengan Paman Francis sendiri?” Lenard menggembungkan pipinya. “Kiyo sudah berjanji.” “Baiklah, aku memang sudah berjanji.” “Dan Kiyo juga tidak punya tempat tinggal, bukan? Atau … apa kau mau kembali ke rumah keluargamu? Di mana keluargamu? Aku akan mengantarmu setelah kau mengantarku.” Seperti biasa, Kiyo mengedikkan bahunya. “Kau benar, aku tidak punya tempat tinggal, dan aku juga tidak punya keluarga. Aku gelandangan, nih.” “He he he. Aku akan menampungmu. Aku kaya raya.” Kiyo hanya bisa tertawa terbahak-bahak dengan ucapan Lenard itu. “Baiklah … tampung aku kalau begitu. Beri aku makan dan tempat tinggal.” Lenard mengangguk-angguk lucu. Ia pun merentangkan tangannya sekali lagi. Kiyo menaikkan sebelah alis, lalu bertanya, “Kau minta gendong, ya?” “Iya!” “Tapi sayangnya kedua tanganku terikat di belakang. Aku tidak menjamin bisa menggendongmu sewaktu-waktu jika kondisiku begini.” Wajah Lenard menjadi pucat dan panik, sedangkan Francis yang melihat itu hanya memberikan tatapan jengkel pada Kiyo yang tampak semakin mencurigakan di matanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN