Special 1

1309 Kata
Namanya Dhany Tuswantono, putra bungsu dari dua bersaudara pasangan Rida Prameswari dan Budi Tuswantono. Dhany terlahir prematur dan sempat bermalam di dalam inkubator selama 3 minggu lamanya. Sejak kecil Dhany mengalami kelainan jantung, penyakit itu membuat tubuh Dhany rentan sakit dan lemah. Karena itulah Mama Dhany menjadi over protektif pada Dhany, saking protektifnya Mama Dhany bahkan memperlakukan Dhany seperti bayi. Semua keperluan Dhany dipersiapkan sendiri oleh Mamanya, mulai dari makanan, minuman, obat, bahan pakaian, kebersihan tempat duduk dan lain sebagainya, perlakuan Mama Dhany yang tidak lazim itulah yang akhirnya membuat Dhany tidak memiliki satupun teman. Hampir seluruh teman Dhany menjadi risih dan menjauhi Dhany karena dimana ada Dhany pasti ada juga Mamanya. Lama kelamaan Dhany pun merasa risih dan merasa masa kecilnya lebih menyedihkan daripada masa kecil anak ayam dalam kandang. Okey, lupakan masa kecil Dhany yang selalu dianggap bayi oleh Mamanya, mari kita beralih ke masa SMP. Si Dhany kecil yang jelek, buluk, berkacamata tebal, memakai jaket berlapis-lapis kemana-mana layaknya tinggal di kutub, dan didampingi sang induk semang kemana-mana, kini mulai bertransformasi. Transformasi seperti apa? Jangan bayangkan Dhany berubah menjadi pemuda yang cool, jenius, dan keren dengan kemeja rapih dan kacamata persegi yang stylis. Itu jauh sekali dari gaya Dhany, dia lebih suka tampil kusut dengan rambut acak dan kaos oblong yang dirangkap kemeja. Tak bisa dipungkiri wajahnya memang rupawan, mengingat Pak Budi memang tampan dan Bu Rida juga cantik. Tapi Dhany sama sekali tak memperdulikan penampilan, meski terlahir di keluarga bangsawan yang cukup bergelimang harta. Dhany tak pernah menggunakan barang-barang mewah, selama SMP hingga SMA Dhany dengan setia mengayuh sepeda gunung kesanyangannya untuk pulang pergi ke sekolah. Semenjak operasi transplantasi jantungnya sukses, Dhany berubah lumayan drastis dan dramatis. Katakan penyakit jantungnya sembuh, katakan kini Dhany berubah bukan lagi sebagai anak mama, katakan begitu... But, you know??? Hilang sakit jantung, tumbuh sakit jiwanya. Kak Nathasya pun merasa demikian, adiknya yang pendiam, pemalu, penyabar, dan tidak terlalu menonjol itu menjadi begitu jahil, ekspresif, agresif, dan memiliki mood yang berubah-ubah pasca operasi. Dhany menjadi terobsesi pada sebuah benda atau sesuatu yang kadang itu sangat konyol karena sesuatu tersebut hanyalah benda sepeleh, seperti dulu waktu SMP Dhany sempat mengunci diri dikamar karena depresi kotak makannya pecah terlindas mobil Kak Nathasya, saat SMA Dhany tidak mau turun dari pohon jambu hanya karena selfi kucing kesayangannya mati karena sakit. Dan sekarang, setelah mengurung diri beberapa bulan akhirnya bocah saraf itu keluar entah kemana, dia menyetir sendiri membawa mobil bmw hitam kesayangannya. Setelah pergi meninggalkan rumah setengah hari lamanya, Dhany kembali dengan permintaan konyol. Dia meminta kakak dan mamanya, mencarikan jodoh untuknya. Dhany berkata, dia ingin segera menikah dan menghasilkan bayi. Katakan Dhany gila! Tapi memang begitulah kenyataannya apa yang menjadi keinginannya tak bisa dibendung atau dialihkan, tapi keinginannya kali ini benar-benar konyol? Andai Papa Dhany masih hidup, kira-kira apa yang akan dikatakan oleh Pak Budi? Mungkin jika kali ini Pak Budi mendengar permintaan Dhany, beliau akan langsung sakit jantung dan mati untuk kedua kalinya. Baiklah, lupakan berandai-andainya. Mari kita intip chat Dhany dengan beberapa cewek yang sempat dikenalkan oleh Kak Nathasya padannya. Dhany dan Dhea : Dhany  : Hi... Dhea    : Hi jg! Dhany  : Gue Dhany, adiknya ka Nat Dhea    : iya, gue tau n bisa baca!! Dhany  : *frustasi ngomong ma tembok* Dhea    : ??? Dhany dan Nanas : Dhany  : Malem Nanas? Nanas  : Malem Dhany :) Dhany  : Lagi sibuk gak? Nanas  : Engga kok, paling lagi ketak-ketik hape, balesin chat dari cowok cakep.. hihi Dhany  : O,o Udah kita nikah ajahh yukkz?? Cuma di read tidak ada balasan, seketika ruangan kamar Dhany dipenuhi oleh suara jangkrik Krikkk krikkk krikk krikk... 10 menit kemudian             Nanas  : Nikah tuh bukannya gelas untuk ice blend ya??             Dhany  : itu MIKA!!! *depresi ngomong ama Uus* Dhany dan Kila :             Dhany  : Kil, elo tahu nggak apa itu definisi pernikahan?             Kila      : Pernikahan? Heemmm.. Ikatan suci untuk menyatukan komitmen.             Dhany  : Kalo tujuannya?             Kila      : Untuk mendapatkan keturunan... Emmm dan mendapatkan teman hidup.             Dhany  : Yes! Gue rasa elu bukan tembok atau Uus...             Kila      : Maksud lo, Dhan??             Dhany  : Karena elo udah paham banget definisi dan tujuan pernikahan, yuk gue   nikahin?             Kila      : *garuk-garuk kepala*             Dhany  : Mau nggak nikah ama gue?? T,T             Kila      : Pertanyaan terakhir lo horor banget Dhan...             Dhany : Oh my God!! Cewek sekarang tuh aneh... Diajak nikah malah dikata horor, emang gue penampakan apa?             Kila      : Elu yang aneh! Kenal baru 5 menit udah ngajak nikah... Dasar sedeng!             Dhany  : *pingsan tertusuk pisau putus asa* Ketiga cewek yang dikenalkan Kak Nathasya gagal, tidak ada satupun yang bisa Dhany jadikan istri penghasil bayi-bayinya kelak. *** -Romeo AbalAbal- Nathasya POV Pulang kampus aku melihat rumah masih tenang, hemmm rupanya si barokokok Dhany belum bangkit juga dari kuburnya. Huhhh ada apalagi adik semata wayangku ini?? Kuhampiri Mama yang sedang menyiapkan makan malam, wajah Mama tampak layu karena anak tercintanya mengurung diri lagi setelah sempat beberapa waktu yang lalu waras. “Adek belum keluar juga Mah?” tanyaku hati-hati.  Mama hanya mengangguk sambil asyik mengaduk nasi goreng di wajannya, aku membantu menuang air putih ke dalam gelas-gelas yang sudah tertata rapi di meja makan. Semenjak Papa meninggal karena penyakit jantung seperti yang diderita Dhany, keluarga kami hanya terdiri dari dua orang wanita dan satu orang pria sedeng. Upss hampir lupa, ada satu lagi pria lurus yaitu Om Dito adik dari Mama, yang saat ini membantu menjalankan bisnis keluarga kami. Om Dito sebenarnya juga tinggal di rumah ini, beliau belum berkeluarga tapi lebih sering bepergian ke luar kota. Kupikir makan malam kali ini akan sepi, karena hanya ada aku dan Mama. Ternyata adik terlabilku turun, dengan wajah kusut dan rambut acak-acakan Dhany duduk lalu menyambar gelas berisi air putih. Dalam sekali teguk Dhany menghabiskan satu gelas air putih, aku dan Mama tidak berani menegur anjing gila yang tengah kelaparan. Kami memutuskan untuk menunggu Dhany mengeluarkan suaranya, setelah beberapa suap makanan memenuhi mulutnya. Akhirnya Dhany mengatakan sesuatu, “Tumben sarapan pake nasi goreng Mah? Biasanya cuma roti bakar...” Sekonyong-konyong air putih yang baru menyentuh tenggorokanku terpaksa menyembur keluar karena perkataan ngelantur Dhany, “Helooooo... Babi aja jam segini udah mulai ngepet, elo baru sarapan... Dasar kamprettt??” Dhany hanya memandangku dengan wajah manyun, bibirnya mengerucut tajam bahkan lebih mancung dibanding hidungnya. Melihat putera kesayangannya mulai bad mood, Mama segera memberi kode padaku, “Nat, jangan mulai deh!!” Aku hanya manggut-manggut menuruti perkataan Mama yang sudah seperti sabda raja di rumah ini, kulirik Dhany mulai sumringah lagi. Dengan hati-hati aku melemparkan sebuah pertanyaan padanya, “Gimana temen-temen kakak yang kemarin kak nat kenalin ke kamu? Cantik-cantik kan?” Dhany menghela nafas, “Cantik sih, tapi nggak ada yang mau nikah sama Dhany...” jawabnya tidak bersemangat. “Lho lho lho... Kok bisa sih nolak anak Mama yang gantengnya tidak terobati gini?” Sahut Mama dramatis. “Gantengnya sih memang tak terobati, tapi stressnya juga tidak terobati Ma... Makanya cewek-cewek pada kabur. Lagi, masa baru kenal udah lo ajak nikah! emang kucing??” Tandasku blak-blakan. Mama melotot sambil menodongkan goloknya, “Nathasya???” “Dhany heran Ma, cewek-cewek sekarang klo diajak ke hotel ayoayo aja... Giliran diajak nikah pada parno semua?” Kata Dhany lemas sambil mengupas jeruk. “Cewek mana maksud lo?? Cewek taman lawang? Jangan sembarangan ngomong lo, gue juga cewek. Gue tersinggung kali!” Sungutku penuh emosi. “Maaph, Dhany lupa kalo kak Nat tuh cewek... Habisan mana ada cewek ototnya kemana-mana??” Ledek Dhany sukses memicu keluarnya tandukku. Belum sempat aku membalas cemoohan Dhany, Mama sudah memotong niatku dengan semena-mena. “Udah-udah Nat! Kamu yang sabar ya Dhany, nanti Mama akan tanya ke teman-teman arisan Mama siapa tau ada anak-anak gadis mereka yang siap nikah... Yang terpenting kamu jangan murung lagi di kamar, sering-sering keluar siapa tahu ketemu jodoh!” Hibur Mama pada Dhany, dengan nada super lembut untuk menenangkan bayinya, BAYI DAKJAL!! *** Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN