Sveta POV Aku mendampingi Dirham yang sedang resah menunggu operasi ibunya. Wajah dingin itu semakin pucat, karena kecemasan luar biasa hampir menelannya mentah-mentah. Aku tahu pasti, kata-kata penyemangat yang klise tak akan mampu menghiburnya saat ini. Karena itulah aku memilih diam dan hanya menatapnya iba. Satu jam berlalu, tapi tim medis belum juga keluar. Operasi itu tampaknya berjalan sengit, entahlah apa yang kini di rasakan Dirham. Pria yang sedari tadi herjalan cemas ke kanan dan ke kiri itu, kini hanya duduk lemas di kursinya sambil sesekali menengok jam di tangannya. Huhh, aku makin tak tega saja. Tapi apa yang harus aku lakukan untuk menghiburnya? Setelah berpikir cukup keras, kurasa Dirham lebih menyukai tindakan daripada perkataan. Ku hampiri dia, dan dengan h

