Evan POV “Sheryl??” Aku tak menyangka Sveta menghadiahkan Sheryl untuk ku, bukannya aku tidak suka pada gadis polos ini. Namun, ada maut yang mengintaiku jika aku sampai menodai gadis ini. Om Dhany, Tante Nay, Papa, hingga Mama Nat pasti akan merajamku bersama-sama. “Hmmm, kamu sedang nunggu Sveta ya?” tanyaku kalem berusaha menutupi kegugupanku. Sheryl mengangguk, “Iya, Kak Evan sendiri?” Haruskah aku mengatakan padanya, kalau tujuanku kesini adalah untuk memangsanya? Ahh, aku belum mau cari mati, sebaiknya ku alihkan dulu topiknya agar suasana kaku ini mencair. “Sveta bilang gak kenapa dia nyuruh kamu ke sini?” “Kata Kak Sveta mau ada yang dia bicarakan padaku?” jawabnya jujur. “Hemm, ya udah kita tunggu bareng aja.. Daripada kamu garing sendirian,” lanjutku sambil menghempaskan

