"Kenapa?" tanya Wira saat melihat raut bingung di wajah sang kakak. "Tadi papanya Dania bilang, aku gak boleh ke sini kalau gak ngajak apa dan mama," jawab Damar. "Terus kenapa bingung?" "Ya masa atuh, Dek. Mau ketemu Dion aja harus ajak papa dan mama." Wira memijat kepalanya yang terasa berdenyut. "Kakak kapan sih pintarnya? "Aku pintar, Dek. Makanya aku bisa jadi dokter Kalau gak pinter, gak mungkin dong. Kamu pikir jadi dokter itu cuma modal ganteng doang? Enggak lah. Harus modal otak juga," sahur Damar. Wira menghempaskan napas kasar. "Kalau ada bengkel otak, aku bawa Kakak ke bengkel,'' gerutunya sembari mulai mengemudi meninggalkan tempat itu. "Bengkel otak-otak ada juga," tanggap Damar kemudian berpikir, kembali mencerna apa yang kakek anaknya katakan. "Hah! Jangan-jangan ...

