sembilan

1024 Kata
"Itu ada pesan kenapa kamu matikan hapenya Mas?" tanya Indie curiga. Ia menatap pada sang suami yang terdiam. Jun kemudian merebahkan tubuhnya, membawa Indie ke dalam pelukannya membiarkan wanita itu rebah di bahu kemudian memeluknya. Tentu saja harus ada cara agar tak dicurigai dan Jun paling mengerti kalau Indi suka dimanja. "Saya capek dan udah malas banget malam ini. Kita istirahat ya," rayunya kemudian mencium kening wanitanya. Masih penasaran sebenarnya dengan gerak-gerik yang ditunjukan Jun. Hanya saja, Indi terlalu naif dan berpikir kalau Jun tak mungkin mendua atau apapun sebutannya. Jun begitu penyayang dan perhatian, hingga Indi berpikir kalau dirinya akan nampak jahat karena memikirkan kemungkinan akan ada perempuan lain di hati prianya. Bukan tanpa alasan Indi berpikir seperti itu. Dulu wanita itu berasal dari keluarga terpandang dan kehidupannya benar-benar dibatasi. Tak ada yang bisa ia lihat selain keindahan taman rumahnya yang layaknya istana. Kemudian ia dipaksa menerima perjodohan keluarga. Indi menerima, karena tak ada pilihan pikirnya. Sejak pertama mereka bertemu pipi Indi sudah bersemu, sementara tubuhnya bak dihinggapi kupu-kupu yang berterbangan di dalam hatinya hingga buat ia tak bisa tahan senyum. Apalagi setelahnya Jun memperlakukannya layaknya ratu dan Indi semakin jatuh hati dan terseret jauh ke dalam pesona Juniar. Jun membawa sejuta pengalaman pada Indi dan akhirnya buat ia begitu terpikat, terikat bahkan sampai saat ini. Meski pikirannya dipenuhi misi-misi mengenai kebaikan dan juga jadwal-jadwal donasi yang begitu menjadi fokusnya kini. Jun lalu mencium lembut bibir sang istri. Stimulasi perlahan yang membawa Indi larut salah tarikan sensual dan membawa dalam gairah seksual, ingin lebih lagi. Apalagi, sang suami begitu pandai membuat jantungnya berdebar hebat. "Mas," lenguhan terdengar tak sadar saat jemari Jun mulai mengusap labia wanita itu dengan jari tangannya. Bermain di sana dengan menggerakkan telunjuk dan jari tengah kayaknya sebuah gunting, terbuka dan tertutup. Indi gila sendiri. Sementara tangan Indi sudah bisa merasakan ereksi dari bagian inti sang pria. Mengurut, naik dan turun terkadang dengan gerakan memutar. Sesekali Jun terhenti rasakan desakan hasrat yang masih harus ia tahan. Berbeda perlakuan dengan Reya. Indi suka berlama-lama, sementara gadisnya sebentar saja, tapi berkali-kali. Sama-sama nikmat baginya seperti hal baru. Wanita itu bergetar hebat setelah pelepasan pertamanya. Tangannya mencengkram tangan Jun. Jun mencium wajah sang istri beberapa kali. Kemudian ia memposisikan dengan posisi konvensional, memasukkan miliknya. "Ahh," desah wanita itu ketika Jun berhasil memasukan seluruh miliknya. Pria itu segera bergerak memaju mundurkan tubuhnya. Agar miliknya bisa ke luar dan masuk liang wanitanya. Indi bergetar hebat, rasanya masih sesekali terasa ngilu, sakit tapi nikmat dan buat ia inginkan Jun lagi dan lagi. Pria itu ikut mendesah seraya terus bergerak, dengan tubuh yang berkeringat, seksi dan luar biasa. Desahan tak terhenti sambil terus bergerak merasakan sensasi juga hingga sesekali memejamkan mata dan menyeringai dalam nikmat yang ia buat. "Aah, mas," desahan terus terdengar. Indi membuka dan memejamkan mata rasakan hasratnya yang kembali meningkat. Jun kini mencium leher sang istri seraya membuat tanda merah yang selalu jadi kesukaannya, sementara tangannya memilin p****g dan meremas p******a tak lupa menyesap layaknya bayi yang kehausan. Tubuh wanitanya sudah kembali bergetar hebat. Sama juga dengan Jun yang mempercepat gerakannya. Setelahnya pria itu bergetar hebat, menekan tubuhnya kuat-kuat. Lalu. Merebahkan diri tempat di samping sang istri yang sudah memejamkan mata. Pria itu lalu menarik selimut agar menutupi tubuh mereka berdua. Jun memejamkan mata karena ia mengantuk, dan kini ia berhasil melarikan diri dari pertanyaan sang istri. Malam ini Jun lolos Indi tak terlalu lagi curiga. Bagusnya ia tak sempat membaca isi pesan itu tadi. Sementara sang pelaku pengirim pesan saat ini tengah was-was sendiri. Ia telah melanggar janji. Seharusnya tak mengirim pesan saat Jun berada di rumah. Jun pasti akan marah. Reya kini menggigit ujung kuku ibu jarinya. Ia mendadak rindu pada sang om. Bukan tanpa alasan, semua karena ia tanpa sengaja membaca bacaan dewasa dan teringat bagaimana tiap kali Jun membawanya pesona dan hasratnya. Jun telah membawanya jauh ke dalam dunia baru yang jelas buat ia menggebu dan b*******h. Bagaimana tidak, keduanya menjalani ketertarikan yang rumit, saling memikat dan memliki ketertarikan sensual yang tak bisa dijabarkan. Reya merasa bukan karena ia adalah gadis yang naif, padahal memang begitu awalnya. Dan kini setiap kali ia pikirkan, rasanya gadis itu telah siap dengan konsekuensi dan risiko yang akan ia terima. "Mati deh gue," kecamnya pada diri sendiri. Apalagi tak ada balasan dari Jun. Malam itu ia habiskan dengan terus was-was. Kemudian akhirnya subuh tadi gadis itu terbangun karena ponsel yang bergetar. Reya segera menerima. "As-" "Kamu lupa sama apa yang saya bilang?" tanya Jun dan jelas pria itu marah. Reya seolah baru saja disiram air dingin yang seger membuat matanya terbuka dengan sempurna. "Maaf Om, aku enggak sengaja.' Memelas bahkan terdengar nyaris menangis. Jun hela napas, terdengar jelas dari balik telepon. Kepalanya nyaris pecah ketika pesan dari Reya terbaca, ia tak bisa tenang. Bagaimana kalau pesan yang dikirim Reya membawanya pada prahara rumah tangga yang tak diinginkannya? "Kita sudah dua tahun dan kamu masih saja abai, Ini kedua kalinya lho." Juna masih terdengar begitu marah, Ia memang sedikit keras pada masalah janji dan kedisplinan, Meski agaknya ia lupa diri kalau sudah melanggar janji pernikahannya sendiri. "Aku bener-bener mint maaf. Hmm?" Reya memohon. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca kini. Hatinya terlalu sensitif mendengar seseorang yang berbicara keras. Tak ada jawaban dari Jun, hanya mendengarkan seraya tahan emosinya. "Kalau aku salah dan Om mau ninggalin aku. Enggak apa-apa." Tipikal gadis berzodiak pisces yang selalu mendramatisir keadaan. Masih tak ada jawaban dan Jun, Dan Reya mematikan panggilan itu sendiri dengan hati yang berantakan padahal Jun tak berikan kepastian apapun. Ia juga mematikan ponselnya. Kemudian menghapus air mata dan berjalan ke luar. Pagi ini Ratna sudah duduk di ruang makan, Pagi tadi Arka sudah membeli sarapan untuk mereka. ratna menatap si sulung yang berjalan menuju kamar kecil sambil menunduk. "Makan dulu Mbak," ajaknya. Reya mengangguk tanpa menolehkan wajah kemudian menjawab, "Mandi dulu Bu." Ratna hanya memerhatikan anak perempuannya yang memang terkadang terlalu sensitif itu. Sambil menunggu Reya ia menyantap nasi uduk miliknya. Ratna tak lagi memiliki siapapun selain kedua anaknya yang kini menjadi satu-satunya sandaran hidup. Ia begitu menyanjung Reya yang menjadi tulang punggung keluarga selama ini. Entah seporak-poranda apa hatinya nanti jika mengetahui Reya hanyalah wanita simpanan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN