Sejak semalam Reya tak bisa terlelap. Sejak semalam ia memikirkan bagaimana caranya meminta maaf. Jadi takut kalau menghubungi Juna duluan. Takut si Om marah, padahal kangen. Ditambah lagi Jun sama sekali tak menghubungi. Hati dan perasaan Reya jadi makin tak keruan. Sebagai wanita biasanya memang paling menderita kalau perihal bertengkar begini. Paling sensitif, apa-apa jadi enggak enak.
Reya pagi ini sudah buat sarapan. Menyiapkan nasi goreng untuk ibu dan adiknya juga yang hari ini akan berangkat ke kampus lebih pagi. Nasi goreng kampung tanpa kecap, dibuat dengan potongan rawit dan banyak daun bawang. Setelah selesai ia menyiapkan semua ke meja makan, tak lupa kerupuk putih yang dia beli di warung dekat rumah.
Setelah selesai menyiapkan sarapan, Reya menuju kamar sang ibu untuk membantunya untuk pindah ke kursi roda, kemudian Reya mendorong menuju meja makan.
Selanjutnya ia memanggil sang adik untuk segera sarapan bersama. Namun, tak ada jawaban. Kemudian kembali menuju ruang makan.
"Udah kamu di sini aja biarin Arka masih mandi kali," kata Ratna saat si sulung berjalan mendekat. Kebiasaan memang si bungsu kalau tidur susah dibangunkan.
Reya anggukan kepala lalu duduk di samping ibunya. Gadis itu lalu mengambilkan nasi goreng, lalu potongan telur dadar, meletakan di atas piring Ratna. Reya tak terlalu khawatir jika tak ada pesan dari Arka 'harus dibangunkan ' tandanya harus teriak sampai adiknya itu bangun.
"Makan dulu Bu," ucap Reya sambil meletakkan piring di depan Ratna.
Gadis itu kemudian mengambil untuk dirinya sendiri. Sejak tadi ia tak sadar, kalau sesekali sang ibu memerhatikan. Sejak dulu Anak sulungnya itu paling mudah ditebak jika sedang memikirkan sesuatu. Reya yang biasanya selalu tersenyum mendadak menjadi muram dan berwajah masam. Seperti saat ini sejak tadi membantu sang ibu di kamar ia sama sekali tak tersenyum. Nada bicaranya cenderung lemah dan terdengar malas.
"Kamu lagi ada masalah?" tanya sang ibu.
Gadis itu menoleh, menatap sang ibu lalu tersenyum. Dia tak ingin membuat Ratna ikut memikirkan masalahnya karena tak mungkin juga ia memberitahu masalah yang terjadi. "Nggak ada apa-apa Bu cuman lagi pusing aja."
"Kenapa gara-gara ceritamu? Ceritamu ditolak lagi?" Ratna berpikir kalau anak gadisnya sedang murah karena masalah cerita yang ia ajukan ke platform online ditolak.
Sebenarnya, karena masalah itu juga. Tadi ia menjadi kesal sejak kemarin. Namun, masalah utamanya bukan karena itu. "Iya," jawabnya singkat.
Ratna mengusap bahu putrinya dengan lembut. "Ya udah sabar aja. Kamu kan bisa coba lagi. Ibu yakin nanti pasti diterima asal kamu mau berusaha." Ia coba menyemangati Reya. Tak ingin melihat wajah cantik anak gadisnya itu terus murung.
"Iya Ibu tenang aja nanti aku coba lagi," sahut Reya. Kemudian yang memilih fokus pada santap paginya. Setidaknya perutnya harus kenyang meskipun hatinya sedang kesal.
Setelah selesai menyelesaikan sarapan, ia menuju kamarnya. Mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak. Belum ada panggilan dari Jun. Padahal hari ini sudah jam delapan pagi. Biasanya, kekasihnya itu sudah berada di kantor kemudian mengirimkan pesan. Hanya saja kali ini tak ada sama sekali.
Mungkin Jun masih merasa kesal dengan apa yang dilakukan Reya kemarin. Jadi, pria itu sengaja tak menghubungi. Lalu Reya juga jadi merasa kesal atas kelakuan kekasihnya dan ia memutuskan untuk mematikan ponselnya.
Setelahnya, Reya berjalan ke luar kamar dengan membawa laptop miliknya. Ia akan melanjutkan ceritanya di ruang tengah seraya menemani sang ibu. Akan lebih mudah untuknya jika Ratna membutuhkan sesuatu saat dia ada di sampingnya.
"Mau ngetik mbak?" tanya sang ibu.
Reya anggukan kepala, seraya mengatur laptopnya. "Iya Bu sambil nemenin ibu."
Rarna membelai rambut putrinya itu. "Makasih ya nduk, kamu udah mau susah buat ibu dan adik kamu."
Semakin sesak saja dadanya dengar apa yang dikatakan oleh Ratna. "Ibu jangan ngomong gitu."
Tau anaknya itu malah akan menangis, Ratna merubah pembicaraan mereka berdua. "Yaudah lanjut nulisnya."
Sementara itu di rumahnya, Jun pagi ini masih belum berangkat ke kantor. Keberangkatannya sedikit tertunda karena tadi Indi kalau mintanya untuk lari pagi bersama. Lalu keduanya menyempatkan diri untuk mencari sarapan bersama dan itu cukup menyita waktu. Jun baru saja selesai mandi kemudian ia bergegas berganti pakaian.
Sementara Indi juga sudah rapi ia akan berangkat untuk bertemu dengan beberapa teman arisan dan juga para sahabat sosialitanya. Kegiatan rutin yang biasa ia lakukan dua atau tiga kali seminggu.
"Mas aku boleh ikut kamu 'kan kita bisa berangkat bareng?" Indi meminta.
"Tumben kamu biasanya berangkat sendiri?" Jun bertanya masih sambil sibuk mengenakan kemeja dan merapikan dasinya.
Melihat sang suami yang kesulitan memakai dasi, Indi kemudian berjalan mendekat ia merapikan dasi suaminya itu agar bisa lebih cepat. "Iya cuman aku lagi pengen sama kamu aja. Memangnya enggak boleh tha?"
Tentu saja saat ini Jun tidak bisa menolak permintaan dari Indi setelah apa yang terjadi malam tadi. Istri bisa saja curiga kemudian bertanya macam-macam. Ya itu sudah hafal betul dengan sifat istrinya.
"Jadi kita antar kamu dulu ke kantor, terus aku minta Pak Ahyat untuk antar aku. Bisa kan Mas?" tanya Indi kemudian ia menepuk-nepuk pelan d**a suaminya setelah selesai memakaikan dasi.
Pertanyaan seperti itu tentu saja yang dilakukan Jun hanya menganggukkan kepalanya. "Sure, silakan kalau kamu maunya begitu. Apa sih yang nggak buat kamu?"
Setelah keduanya selesai lalu mereka berjalan menuju ke depan rumah. Di sana mobil Jun sudah menunggu, tanya keduanya masuk ke dalam mobil. Tak ada yang dibicarakan selama mereka dalam perjalanan karena Jun pun sibuk untuk membaca artikel bisnis dari ponselnya. Sejak tadi yang menahan diri untuk melihat status w******p. Pria itu benar-benar cemas dengan keadaan kekasih gelapnya. Dan lagi-lagi saat ini tak ada yang bisa ia lakukan. Harapannya adalah untuk cepat-cepat sampai ke kantor.
Mobil itu berhenti tepat di depan pintu kantor. Pria berlesung pipi itu lalu tapi kan tasnya dan sebelum turun ia menyempatkan diri untuk mengecup pipi sang istri.
"Saya turun duluan ya," kata Jun kemudian melangkahkan kakinya ke luar.
"Hati-hati Mas," ucap Indi.
Kemudian berjalan keluar dari kantor, mengantarkan sang nyonya menuju tempat tujuannya. Sejujurnya Ahyat sedikit merasa cemas karena tumben sekali istri dari atasannya itu ingin ia antar.
"Pak saya mau tanya," ucap Indi membuka pembicaraan.
Pak Ahyat menatap dari kaca dashboard.
Ahyat menatap Indi berusaha setenang mungkin. "Ada apa Bu?"
"Bapak kalau ke Bandung itu biasanya ngapain aja ya?"