"Oh bapak ya kalau di Bandung itu kebanyakan bolak-balik hotel sama pabrik Bu. Kadang sengaja datang ke butik yang produksinya pakai kain dari kita. Kadang juga suka diajak makan sama temannya. Kadang saya diajak juga." Pak Ahyat sudah melatih ini bersama Jun. Dan kini ia benar-benar mempergunakan dengan baik.
Indi terdiam, ia sama sekali tak mencurigai jawaban yang diberikan oleh sang sopir. Karena jawaban dari Ahyat terlihat begitu natural. Dan tidak membuatnya sama sekali curiga.
"Dia enggak ketemu perempuan gitu Pak?" tanya Indi lagi. Masih tak menyerah siapa tau dapat info lain. Sebenarnya kecurigaannya sudah sedikit berkurang tetapi tentu saja ia ingin menggali lebih jauh lagi.
Ahyat tersenyum, dia juga sudah ahli dalam berbohong. Seperti sebuah kemampuan khusus karena juga harus menyembunyikan selingkuhan dari sang istri. Dan ia juga akan melindungi Jun yang selama ini sudah memberikan akses untuk bertemu dengan selingkuhannya itu. "Kalau di Butik ya ketemu Bu. 'Kan bapak sering ke butik itu kalau beliau beli pakaian buat ibu tau mau kasih ke yang lain." Ahyat menjawab lancar.
Tentu saja Ahyat akan bungkam karena dia sama saja dengan Jun. Punya selingkuhan, pemilik warung tak jauh dari apartemen Reya dan Jun. Kalau malem selalu kelon bobo hangat dalam dekap janda montok.Mana mau dia kehilangan selingkuhan dan cuan yang jumlahnya banyak? Selama ini Ahyat pintar sekali. Uang gaji jadi sopir dia buat istri tuanya. Bonus dari Jun untuk kekasih gelapnya. Jun dan Ahyat saing melindungi. Meski Jun tak tau kalau Ahyat juga punya selingkuhan di sana.
Indi terlihat lebih tenang. Ahyat bisa melihat dari kaca dasboard kalau sang nyonya mulai terlihat lebih tenang daripada saat naik ke dalam mobil tadi. Tentu saja itu artinya ia berhasil melindungi dirinya dan Jun, atasannya.
Sementara itu kini Jun melangkahkan kakinya memasuki kantor tanpa senyum. Terpaksa diantar sopir sang istri dan ia segera meminta kembali ke rumah. Jun kesal, sejak pagi ia sudah berusaha menghubungi Reya melalui chat w******p, tak ada jawaban. Dan pesan yang ia kirim tak terkirim. Hatinya terus menggerutu, kesal. Reya kekanakan menurutnya, selalu seperti ini kalau marah. Main blok, diam, acuh, tak peduli dengan perasaan Jun yang jelas emosian. Tipikal cewek pisces, jagonya silent treatment, kalau cuek dan diam ratunya.
Sejak jalan masuk tadi langkah tegap dan wajah muramnya sudah buat karyawan diam. Menyapa seadaanya dan tak dapat jawaban apa-apa. Jun tak peduli, padahal biasanya dia ramah. Hanya saja kali ini berbeda, Jun diam saja tak dengar kalau sekitar menyapanya dengan hormat. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
Di dalam lift hanya diam saja, malas. Lalu bersandar sambil sesekali hela napas. Biasanya Jun suka sedikit basa-basi menyapa karyawan. Mereka coba mengerti saja kalau Jun hanya manusia biasa. Dan ada kalanya kesal lal jadi cuek seperti ini.
Pintu lift terbuka, ia berjalan menuju ruangan. Sapaan dari sang sekretaris tak mendapatkan atensi apa-apa, nihil. Masuk ke ruangan lalu sedikit keras menutup pintu sampai Siska terkejut.
Jun segera mengambil ponsel di nakasnya, segera menghubungi sang kekasih hati. Menekan nomer ponsel dengan kesal dan tergesa-gesa. Segera menghubungi dan tak aktif. Jun mencoba lagi, tipikal laki-laki yang pantang menyerah. Dan tak ada jawaban.
"Kebiasaan kayak anak kecil," kesal Jun.
Ya mau gimana, Reya memang bisa dibilang masih kekanakan. Bukan tipe gadis nakal sebelum ketemu sama Jun yang dia panggil Om. Reya anak rumahan, enggak kenal pacaran. Malu sama diri sendiri yang punya badan tambun. Kepikiran punya pacar aja enggak pernah. Apalagi jadi selingkuhan bos yang bisa dapatkan banyak fasilitas.
Jun yang memulai beri perhatian dan segalanya, jadi gila sendiri sama Reya. Apa-apa Reya, maunya Reya, tapi enggak bisa lepas juga dari Indi. Tipe laki-laki masa kini tempat berpulang tetaplah istri tua.
Saat itu pintu diketuk.
"Masuk.' Jun menyahut. Tangannya masih sibuk dengan ponsel.
Siska masuk berjalan mendekat. Seperti biasa mengenakan pakaian ketat dengan menunjukkan bodi yang aduhai. Tetap kalah sama si montok Reya yang bisa buat Jun kalang kabut kalau ngambek.
"Ada apa?" tanya Jun.
"Saya mau ingatkan Pak. Nanti kan akan ada pertemuan direksi." Siska mengingatkan sambil meletakan dokumen. "Ini bahan pembahasan nanti Pak."
"Terima kasih. Kamu boleh ke luar." Jun tak menatap. Tak peduli sama direksi dia saat ini cuma mau dengar suara Reya.
Siska masih menatap, coba mengintip ada apa di layar ponsel yang dipegang atasannya, penasaran. Jun bisa mengetahui itu ia kemudian menatap pada Siska yang segera memalingkan wajahnya. Jun kesal seolah diselidiki.
"Kamu tuli atau gimana sih? Saya 'kan udah bilang keluar." Jun kesal sedikit meninggikan suaranya.
"Ba-baik Pak," ucap Siska terbata. Ia kemudian segera berjalan dengan cepat ke luar dari dalam ruangan sang atasan.
Jun kesal, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menata pikirannya sejenak atas perasaannya yang kacau. Terdiam sejenak untuk memikirkan hal apa yang mungkin bisa ia lakukan saat ini.
Jun kemudian mengambil ponselnya yang lain. Ia akan mencoba hubungi Lili. Akan coba basa-basi siapa tau keponakannya itu sedang bersama Reya. Setidaknya ia bisa tau kalau Reya baik-baik saja.
"Hallo, Om?" sapa Lili dari balik telepon.
"Kamu di mana Li?" tanya Jun seraya coba mendengar apa ada suara Reya di sana.
"Lagi ada di rumah aja. Kenapa Om? Mau ngomong sama mamak?"
"Engga, Om mau tanya aja. kamu udah tau kalau Kuki mau ke Jakarta?" tanya Jun coba cari bahan pembicaraan masih memetakan situasi.
"Udah, si Juki udah bilang mau ke rumah. Aku udah beresin kamar Mas Edo. Katanya sama Om juga?"
"Iya, mau ada undangan sama ada kerjaan di sana. Terus kamu di rumah sama siapa?" tanta Jun lagi.
"Sendiri Om, Mamak kan lagi senam pagi sama ibu-ibu RT. Nanti kalau pulang aku kabarin kalau Om telepon."
"Oke deh, kalau gitu. Om matiin ya panggilannya."
"Lili!"
Jun dengar seruan, jelas itu Reya. Jun terlanjur menekan untuk mematikan panggilan. Sialan! Hatinya kesal sendiri. Itu suara yang sejak pagi ia tunggu untuk menyapanya. Kini malah cuma dengar sedetik saja.
"Kenapa baru datang sih?!" bergumam kesal pada dirinya sendiri. Jun sedikit meruntuki diri sendiri. Harusnya bisa tau ada Reya, dengar suara Reya. Mau hubungi Lili lagi, tapi tanya apa? akan aneh jadinya nanti kan?