Setelah sarapan pagi ini Reya memutuskan untuk datang ke rumah Lili. Tak ada kerjaan, lagi pula tadi sudah menyelesaikan daily paginya alias update cerita terbaru. Meninggalkan sang ibu yang sedang terlelap setelah sarapan. Hitung-hitung menghilangkan rasa galau karena si Om malam tadi. Sengaja juga matikan hape lagi malas bicara. Karena selama ini yang banyak menghubungi juga hanya Jun saja.
Sebelum sampai di rumah Lili, Reya menyempatkan diri untuk membeli kerupuk basreng pedas dan juga es teh dalam plastik. Meski keduanya sudah berusia dua puluh tahun lebih, tapi mereka masih saja suka makanan yang biasa di makan oleh anak-anak dan memang itu salah satu hal yang bisa membuat keduanya merasa senang. Setiap kumpul pasti nyemil terutama pada dunia permicinan, suka sekali.
Senang setelah membawa bekal untuk mengobrol, Reya kembali melangkah menuju rumah Lili. Segera menyapa dari luar, ia tau tak ada siapa-siapa di dalam rumah. Karena biasanya memang seperti itu. Setiap Rabu ibu-ibu ada pengajian di masjid dan ibu dari sahabatnya itu menjadi MC biasanya. Sementara saat ini Lili memang sedang tak ada pekerjaan jadi sudah pasti ada di rumah.
"Lili!" seru Reya. Memanggil teman yang sudah jadi kebiasaannya sejak dulu.
Tak lama yang disapa ke luar. "Dateng juga ibu." Lili menyapa, tadi Reya memang sudah beritahu kalau akan datang.
"Iyas, udah siap dong gue," kata Reya sambil menunjuk kantong plastik berisi jajanan yang ia beli.
Lili tersenyum ketika Reya menunjukkan kantong bening yang terlihat isinya adalah kudapan yang biasa mereka santap dengan nikmat, biasa generasi micin jaman masa kini. Melihat micin buat senang dan semudah itu menyenangkan keduanya.
"Masuk masukin, ibu pagi-pagi gini sudah bawa makanan mevah," kata Lili sambil membuka pagar.
"Ho,oh saya kan paling pengertian sama ibu." Reya berseloroh sambil berjalan masuk.
Lalu keduanya duduk di teras rumah. Teras rumah Lili dan rumah reya sudah jadi saksi betapa keduanya serinh sekali mengobrol dengan segala macam pergibahan dari tentang tulis menulis, artis dsn juga banyak hal. Mereka memang sering melakukan itu untuk mengisi waktu dengan hal yang tidak berguna.
Baru saja mendudukkan b****g, Lili segera menyambar satu bungkus basreng dan menyantapnya. "Jadi apa pergibahan kita pagi ini?"
"Gue stres anjir, mikirin cerita gue. Enggak bisa ngetik, stres banget gue, dari kemarin gue cuma update satu bab aja. Itu juga ngerjainnya lama banget." Reya mulai menceritakan keresahannya.
Ya, masalah penulis pada umumnya, yaitu mengalami writer block, meskipun sudah terkonsep kadang sulit untuk mengembangkan. Apalagi Reya tipe sensitif, pemikir yang dramatis, apa-apa selalu jadi beban pikiran. Rasanya tubuhnya gemuk bukan hanya lemak, tapi juga kebanyakan over thinking. Termasuk tentang masalah asmaranya.
"Lo ada masalah?" Lili bertanya to the point. Ia hafal betul, biasanya sahabatnya itu selalu seperti ini karena ada masalah yang tenbah dialami.
Reya terdiam, tak mungkin ia mengatakan 'iya, Li gue ada masalah sama Om Jun'. Bisa dibabat habis, dibuat jadi pergedel sama Lili. Reya masih punya kewarasan untuk itu. Lalu kini otaknya tengah memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menjawab pertanyaan Lili.
"Ya ada sih masalah. Masalah dompet. Lo tau lah masalah gue enggak jauh-jauh dari duit." Bohong, jadi kebiasaan Reya. Makin lama makin ahli, makin jago, luwes sekali ke luar dari dalam mulut. Semua gara-gara si Om. Mau bagaimana lagi tak mungkin juga berkata jujur.
Lili anggukan kepala. Karena itu juga yang sering mengganggu dirinya. Kalau tak ada uang semuanya jadi hampa. "Masalah kita sama bestie."
Reya tertawa terbahak. "Dan memang selalu seperti itu kan?"
"Tidak usah diperjelas." Lili berujar sambil menyedot minumannya.
"Tapi lo kan udah kerja," kata Reya yang ingat kalau Lili sedang bekerja paruh waktu disebuah toko pakaian.
Mendengar apa yang dikatakan sahabatnya itu Lili teringat sesuatu. "Lo inget enggak sih, Devi? Temen kita jaman SMA?" tanya Lili kini ia sibuk membuka ponselnya. Kemudian menunjukan pada Reya.
"Apa itu?" tanya si gemoy sambil sibuk menatap layar ponsel Lili. Terlihat sebuah tawaran pekerjaan. Reya menatap ke arah Lili. "Ini di mana lokasinya?"
"Itu di depan gang jalan depan. Lumayan lima menit lo jalan kaki, udah sampai. Kemarin gue udah bilang kalau lo mungkin mau. Cuma gue hubungin lo dari pagi enggak ada jawaban," jelas Lili. Sejak pagi tadi menghubungi namun gak ada jawaban dari Reya
Reya anggukan kepalanya kemudian berpikir apakan ia akan menerima pekerjaan itu? Lagi pula, memang ia tak bisa terus bergantung pada si om kan? Mungkin saja hubungan mereka kan berakhir setelah ini. Dan ia butuh banyak uang untuk merawat sang ibu.
"Gue mau, ini kirim CV-nya ke mana?" tanya Reya bersemangat.
"Kayaknya lo langsung ke sana aja deh. Kayaknya sore ini dia mau ke toko kuenya, ngecek gitu, Kan memang lagi direnovasi." Lili memberitahu sambil sibuk dengan kudapan di tangan.
"Gue sore nanti ke sana deh. BTW udah tau belum PUEBI udah berubah jadi EYD lagi?"
Lili anggukan kepala. "Pusing gue anjir. Lo udah baca belum?"
Reya menggelengkan kepalanya. "Gue kan nunggu lo. Kalau lo tau, kasih tau gue yang poin-poin penting aja. Yang berhubungan sama kepenulisan naskah."
Lili menggelengkan kepalanya, kesal juga karena punya teman yang tak mau berusaha untuk dirinya sendiri. "Usaha dong bestie."
"Ini kan juga salah satu usaha gue membuat lo lebih rajin." Reya berujar kemudian terkekeh geli. Apalagi saat ia melihat sahabatnya yang kesal.
Reya kemudian melanjutkan pembicaraan tentang kepenulisan bersama Lili. Ia cukup senang karena bisa berbagi hal tentang kepenulisan dengan sahabatnya itu, Apalagi secara penguasaan EYD Lili jauh diatasnya. Dan tak salah jika berteman dengan Lili. Reya dapat banyak hal termasuk kekasih. Kalau tak kenal Lili mana bisa ia bertemu dengan Om Jun?
Tak lama seelah berbicara dengan Lili, Reya segera berjalan pulang. Ia tak pernah bermain terlalu lama jika bermain bersama Lili, atau yang lainnya. Hanya sekilas, sejenak saja untuk membuat perasaannya jadi lebih baik.
Masuk ke dalam rumah ia segera menuju kamar sang ibu, Mengintip Ratna yang masih terlelap. Reya lalu berjalan ke dapur untuk memasak makan siang. Ia akan memasak sup ayam. Setelah mengeluarkan bahan masakan, gadis itu memutuskan untuk berjalan ke kamarnya mengambil ponsel miliknya dan menyalakan ponsel.
Gadis itu menunggu sesaat sampai ponselnya benar-benar menyala. Lebih dari dua puluh panggilan dari Jun dan chat dari kekasihnya itu. Reya menatap dengan cemas setelah membaca pesan dari Jun.
'Masih enggak mau angkat telepon saya? Jangan sampai saya tiba-tiba muncul di depan rumah kamu ya?'
"Dasar gila," kesal Reya.