Masih Berusaha

1007 Kata
Jun masih berusaha menghubungi Reya bahkan sudah mengancam gadis itu. Hanya saja tak ada balasan, tadi pesannya sudah terbaca, Namun Reya tak membalas dan bahkan enggan untuk menerima panggilan darinya, Jun rasanya mulai gila sendiri karena kelakuan gadis pujaannya itu. Jun kemudian mengambil ponsel miliknya lagi.Mencoba menghubungi Lili. Lagi-lagi mau tau bagaimana situasinya siapa tai masih ada Reya di sana. "Halo Om?" "Hmm, ibu udah balik?" tanyanya berpura-pura. Padahal tak tau juga apa yang akan dibicarakan kalau ada sang kakak yang sejak tadi ia cari. "Belum pulang Om. Nanti kalau ibu pulang aku telepon Om ya?" "Hmm, oke. Terus kamu sama siapa?" tanya Jun, "Sendiri, tadi ada Reya sih. Cuma ngobrol sebentar terus pulang nemenin ibunya lagi sakit." Lili menjelaskan. "Ah, sakit apa?" Jun putra-pura tak tau-menahu padahal ia dengan jelas tau masalah itu. "Jatuh Om. Kurang tau persisinya. Tapi sekarang masih pakai kursi roda. Jadi, apa-apa Reya sekarang, Enggak bisa ditinggal." Jun mendengarkan saja, Seolah baru mengetahuinya. "Kasihan, kalau gitu kamu bisa bantu Om? Kamu kirimin ibunya Reya itu buah-buahan. Kasih ke Reya buat ibunya." "Wah, makasih Om. Nanti aku sampaikan itu dari Om Jun." Lili merasa senang karena berpikir kalau sang Om benar-benar baik hati. "Nanti sekalian Om kirim uang buat kamu buat jajan ya?"Jun melancarkan satu bujukan lagi agar Lili segera membeli buah dan memberikan pada Reya. Jun ingin Reya tau ia sudah tak marah dan ingin berbicara. Dengan mengirimkan pesan pada Lili seharusnya pesan itu tersampaikan. Seperti sebuah kode yang tersembunyi dan Reya sudah paham tentang itu. Lili tak mengerti jika ia jadi oengantar oesan. Njma saja tau mungkin tak akan berpikir seperti ini. "Waduh asik, makasih ya Om." "Iya sama-sama. Ya udah, Om mau lanjut kerja dulu ya. Setelah ini Om langsung kirim uangnya dan kamu bisa cek langsung dan segera kirim buahnya ya." "Oke, Om. Makasih banyak Ya Om." Lili terlihat begitu senang. tentu saja ia senang karena jun memberikannya uang. tak lama ia mendapatkan informasi kalau mendapatkan kiriman uang. Segera saja Lili berganti pakaian dan membelikan buah seperti apa yang dikatakan oleh Jun. Ia tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan yang diberikan oleh sang paman. Membeli buah di toko yang tak jauh dari rumah. Membeli parsel buah terbaik karena jumlah uang yang dikirimkan Jun cukup banyak. Setelahnya ia segera melajukan motornya ke rumah Reya. Saat itu Reya tengah sibuk dengan kegiatan dapurnya. Memasak makan siang sambil memikirkan hubungannya dengan Jun. Kadang ia ingin sekali mengakhiri hubungan ini. Karena ia tak punya cukup keberanian untuk menghadapai hujatan netizen jika ketahuan. Bukan sekali ini ia mengatakan niatnya untuk berpisah, tapi beberapa kali ia mengatakan itu dan berakhir dengan kembali berbaikan dnegan Jun yang terus saja menghubunginya. mengancam akan datang ke rumahnya dan lain-lain. "Rey!" Sapaan Lili terdengar, gadis itu segera berjalan keluar. Hanya tinggal menunggu sopnya tanak. ia berjalan menuju pagar, melihat sahabatnya yang membawa sesuatu. Reya membuka pagar rumahnya. "Baru pulang gue. Lo kangen banget kayaknya sama gue?" ledek Reya pada sahabatnya itu. Lili menyerahkan parsel buah. "Dari Om Jun." "Siapa?" Reya bertanya. Coba meyakinkan apa yang ia dengar barusan. "Kok Om Jun tau?" tanta Reya berpura-pura tentu saja. Untuk membaca situasinya. "Dari pagi nyariin mamak gue, Terus tadi telepon lagi, gue cerita tadi ada lo ke rumah. Ya gitulah pokoknya." Lili menceritakan. Reya tau tujuannya bukan untuk mencari ibu dari sahabatnya itu. Melainkan untuk mencaritahu apa ia ada di sana. "Yaudah, sampaikan sama Om Jun gue makasih." "Lo kan ada nomernya. bilang aja langsung." "Ah, nomernya kehapus. Lo aja deh yang bilang makasih banyak gitu. Enggak usah repot-repot." Reya katakan lagi. "Ah, lo bilang sendiri lah, nanti gue kirim nomernya, Jangan enggak sopan ya ibu ini, udah dikasih itu makasih sendiri. Ya udah gue balik ya." Lili kemudian segera berjalan ke luar dan meninggalkan Reya. Reya kembali berjalan masuk ke dalam rumah. Mengintip kamar sang ibu yang sudah terbangun, Ia berjalan masuk lalu meletakan parsel buah di atas meja rias yang berada di kamar sang ibu. Ratna menatap melihat putrinya itu. "Dari siapa Nduk?" tanya Ratna. "Dari Om Jun yang waktu itu beli rumah ayah. Ibu inget kan? Om-nya Lili?" Reya menjawab lalu mendekati sang ibu dan membantunya duduk ke kursi roda. Ratna tersenyum senang dapatkan perhatian. "Jangan lupa kamu sampaikan terima kasih." "Iya, nanti aku bilang ke Om." Reya kemudian mendorong Kursi roda menuju ruang tengah. "Bu .., Reya jemurin dulu ya. Makan siang udah selesai. Nanti Reya siapin habis jemur baju." Ratna menatap si sulung lalu mengusap tangan Reya. "Maafin ibu ya Nduk. Kamu jadi susah. Kerja keras untuk ibu dan adikmu. Terima kasih ya Nduk. Kamu kebanggaan ibu." Seperti ada yang menyayat hati Reya. Sakit sekali mendengar apa yang dikatakan sang ibu. Perasaan Reya memang terlalu sensitif tak bisa kalau dengar hal seperti ini. Bisa langsung menangis. "Ibu jangan ngomong gitu ah. Aku enggak suka, Udah ah, mau ke atas jemurin dulu." Perasannya jadi ingin menangis dengar apa yang dikatakan oleh Ratna. Ratna mengangguk, ia kenal betul Reya. Si sulung pasti menangis. Dan ia hanya bisa mengucapkan terima kasih atas apa yang dilakukan anak gadisnya itu. Merasa bersalah karena tak bisa membantu apapun. Reya mengambil ponsel miliknya, mematikan kompor kemudian berjalan ke lantai dua. Lantai dua hanya digunakan untuk mencuci dan menjemur pakaian. Tapi, sesekali Reya sering ke atap hanya untuk menghubungi Om Jun jika terpaksa sekali seperti ini. Reya kemudian menekan ponsel miliknya, menghubungi Om Jun. Segera diterima. "Kenapa kamu menolak semua chat dan telpon saya?" tanyanya ketika menerima panggilan, "Kamu enggak tau saya gila sendiri karena kamu cuek sama saya? Seharusnya, saya yang marah kan karena kamu yang melanggar kesepakatan?" Reya tak menjawab hanya diam, mau menangis, merasa berdosa karena hubungannya dengan Jun. Yang terjadi sekarang ia terisak sendiri. Sering kali seperti ini karena berada pada dua sisi.. ingin memiliki karena jatuh hati, dan tak bisa karena takut menjadi wanita yang menyakiti wanita lain. "Hai, Rey? Kamu kenapa sayang?" Jun bertanya cemas situasinya mulai terbaca. Nada suaranya merendah. Takut menyakiti Reya. "Om, kita putus aja ya? Om, aku setiap hari merasa bersalah sama ibu. Aku enggak pernah mau jadi perusak hubungan orang lain. Om, cukup ya? Hmm?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN