Jun memilih mengalah kali ini. Ia sudah hafal betul jika dicecar, kekasihnya itu malah akan semakin menjadi. Biasanya jika iterlalu sensitif, Reya tengah dekat dengan datang bulan. Bukan sekali- dua kali gadis itu bersikap seperti itu. Jadi Jun coba maklumi. Meski begitu ia masih merasa kesal karena terlalu lama diabaikan.
Jun mengetuk jemarinya di meja kerja. Seperti kebiasaannya setiap kali merasa kesal atau sedang memikirkan sesuatu. Padahal sebentar lagi akan ada pertemuan dengan direksi. Namu, moodnya malah kacau seperti ini. Pria itu lalu coba hela napas beberapa kali, lalu meneguk air mineral yang berada di atas mejanya.
Pintu diketuk, Jun mempersilahkan untuk masuk. Itu adalah Siska yang Jun tau kalau ia akan mengingatkan untuk rapat.
"Maaf Pak, sudah ditunggu."
Jun anggukan kepalanya, ia kemudian berjalan ke luar ruangan. Diikuti Siska berjalan menuju ruang rapat. Pembicaraan kali ini mengenai tawaran dari pemerintahan untuk bekerja sama dalam pemenuhan kain dalam jumlah besar.
Jun duduk di ruangan dengan menatap para direksi yang seolah sudah tau dengan jawaban yang akan ia berikan. Semua memberikan komentar dan juga pendapat mereka. Coba meyakinkan Jun, kalau ini akan menguntungkan perusahaan dan juga akan ada banyak pemesanan lanjutan.
"Kalau dihitung, jumlah keuntungan jauh lebih besar dari pembelian rekanan kita di Jepang dan China lho Pak."
Jun anggukan kepalanya, tersenyum, kemudian merapikan jasnya seraya meletakkan dua tangannya ke atas meja dan menjadikan sebagai penopang wajahnya. Sejak tadi mendengar apa yang dikatakan direksi sejujurnya buat dirinya muak sendiri. Keuntungan dan sekalu keuntungan. Lalu bagaimana dengan resiko yang harus ia terima? Jika sesuatu terjadi jelas ia yang harus menerima akibatnya.
"Memang untungnya besar. Akan tetapi banyak juga ranjau di sana. Kita enggak tau uang apa yang dipakai sama pemerintahan daerah ini. Kenapa enggak apple to apple? Kenapa kalau mereka mau kerja sama sama kita secara jujur, harus pakai vendor? Kalau kalian mau kerja sama silahkan, jangan dari perusahaan kita. Silahkan cari rekanan yang berminat. Saya udah tekankan, perusahan saya tidak akan bekerja sama dengan pihak pemerintahan, titik! Saya rasa pembicaraan selesai."
Jun kemudian berjalan ke luar ruangan. Jun takut jika harus berurusan dengan pihak pemerintah. Tentu saja meskipun ia nantinya hanya akan jadi pemasok kain ataupun pakaian. Resikonya besar sekali. Jika ada penyelewengan dana dalam kerja sama itu. Dirinya akan terseret dalam kasus tersebut. Jun tak ingin itu terjadi, lebih baik bekerjasama dengan pihak swasta.
Jun memilih segera kembali ke rumah setelah rapat selesai. Lagipula tak ada yang ia kerjakan lagi. Ia melangkahkan kakinya ke luar. Di sana ia sudah melihat Ahyat yang menunggu. Jun segera masuk ke dalam mobil. Tentu saja Ahyat sudah menunggu karena Siska menghubungi dan memberitahu kalau sang atasan akan pulang.
"ibu tadi ngapain?" tanya Jun saat mobil sudah mulai melaju.
"Tanya ke saya Pak. Kalau bapak ke Bandung itu ngapain aja."
"Kamu jawab apa?" tanya Jun mulai merasa cemas dengan sikap Indi.
Tentu saja Jun tau kalau akan ada kecurigaan dari sang istri setelah kejadian tempo hari. Lagipula Jun merasa tak sepenuhnya itu adalah salahnya. Indi sejak dulu banyak menolak ketika ia mengajak dalam kegiatan bisnisnya. Indi selalu mengutamakan kegiatan sosialnya. Sementara Indi tau ketika lelah Jun justru butuh melampiaskan hasrat sebelum akhirnya terlelap.
"Seperti yang sering bapak bilang. Saya ikut semua yang bapak bilang ke saya Pak." Ahyat menjawab pertanyaan sang atasan.
"Ibu percaya?"
"Setelah saya jawab semua ibu diam Pak kelihatannya percaya."
Jun menganggukan kepala. Memang tak salah ia memilih Ahyat sebagai orang kepercayaannya. Dan kini tinggal dirinya memastikan di rumah nanti. Ia harus memastikan tak ada kecurigaan dari Indi.
Jun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. ia melihat Kuki yang kini tengah duduk di kursi ruang tengah. Jun duduk di samping anak semata wayangnya. Kuki mencium tangan sang ayah. ia meletakkan ponselnya, menatap Jun yang sudah pulan ke rumah.
"Tumben udah pulang Pi?" tanya Kuki.
"Iya habis rapat sama direksi bikin mumet," keluh Jun sambil melonggarkan dasinya.
"Hehehe, paling udah papi smash tuh mereka semua sampai diam enggak berkutik tho?" tanya Kuki lagi.
Jun mengacak rambut anaknya itu. "Iya pasti, peduli amat sama mereka. Kalau untung aja diam. Giliran papi kasih saran yang enggak menguntungkan berisik. Padahal ini demi mereka dan perusahaan." Jun jelaskan. Kadang ia suka mengobrol dengan Kuki seperti ini.
Menurut Jun, Kuki harus mengetahui apa yang terjadi di perusahaan. Karena suatu saat perusahaan itu akan menjadi miliknya. Jun akan membuat Kuki akan menjadi seseorang yang lebih bijak darinya. Lebih memiliki kekuatan meski kadang merasa ragu karena sikap Kuki yang sedikit selengekan. Berbeda dengan dirinya yang kaku dan begitu menaati aturan sejak dulu.
"Papi jadi ke Jakarta?" tanya Kuki.
Jun menganggukan kepalanya. Tentu saja ia harus ke Jakarta dan menemui Reya, rasanya akan menjadi hal yang lebih penting dari menemui rekan bisnisnya Bram yang akan menikahkan anak perempuannya.
"Kenapa kamu tanya?" Jun menetap ke arah sang putra. Karena tumben sekali ditanya seperti itu. Atau curiga juga kalau Kuki mungkin saja ingin tambahan uang jajan.
"Aku kayanya harus berangkat lebih cepat. Karena mau ada kegiatan lain sebelum acara." Kuki menjelaskan ia menatap sang ayah dengan tak enak. Kuki takut membuat sang ayah menjadi terburu-buru untuk berangkat karena dirinya.
Mendengar itu justru membuat Jun merasa senang. Dengan begitu ia bisa bertemu Reya lebih cepat untuk menyelesaikan masalah mereka. Wajah Jun terlihat begitu sumringah. Rasanya ia bisa mendapatkan energi baru lebih cepat. Apalagi belakangan memang sering sekali bertengkar dengan kekasihnya itu. Namun, Jun mencoba untuk menyembunyikan kesenangannya ia tak mau terlalu terlihat mencurigakan.
"Memang mau berangkat kapan?" tanya Jun lagi.
"Lusa Pi." Melihat jawaban dari sang ayah yang biasa saja membuat anak itu sedikit bersemangat.
"Yaudah bareng aja. Papi bisa liburan di rumah budemu juga. "Jun beralasan. Karena tak mungkin dia mengatakan kebenarannya kalau ingin segera datang ke Jakarta untuk bertemu dengan gadis selingkuhannya.
Kuki tersenyum senang. Ia merasa senang bisa melakukan perjalan bersama sang papi. Seolah memiliki waktu yang berkualitas bersama ayahnya nanti, ketika ia sudah tiba di Jakarta. Sayang sekali, Kuki tak tau apa yang ada di dalam pikiran Jun adalah bukan tentang hal yang akan mereka habiskan bersama. Yang ada di dalam pikiran sang ayah adalah bagaimana ia bisa bersama dengan kekasihnya yang adalah temannya dan juga sahabat sepupunya.
'asik. Kalau gitu nanti kita jalan bareng ya Pi? Aku juga kangen udah lama banget nggak ketemu sama Lili."