""Keesokan harinya warga kembali heboh, maling yang semalam mereka tangkap dan para warga ikat dipohon besar samping rumah Bu Siti menghilang.
Sepertinya ada yang sudah melepaskannya. Dilihat dari talinya yang masih utuh.
Bagaimana bisa maling itu bisa lepas? Apa kalian tidak mengikatnya dengan kencang ucap lelaki tua yang semalam melarang para warga main hakim sendiri.
Tidak ki saya dan Sapri sudah mengikatnya dengan kencang, iya kan Pri ucap temannya.
Iya betul ki, semalam kami berdua mengikatnya sangat kencang.
Kami juga tidak tau kenapa bisa lepas.
Ya sudah lah, semuanya bubar, kita harus lebih waspada lagi untuk kedepannya karena bisa saja para maling itu kembali beraksi ucap orang yang disebut Aki itu mengingatkan warga untuk waspada.
Wulan, Siti dan Saripun kembali masuk kedalam rumah.
Mereka akan kembali memasak.
Menurutmu bagaimana maling itu bisa lepas Wulan ucap Bu Siti bertanya pada Wulan.
Tidak mungkin kan kalau maling itu bisa lepas dengan sendirinya. Karena menurut Sapri dan Agus mereka telah mengikatnya dengan sangat kencang.
Seseorang sudah menolong dan melepaskan ikatan talinya, semalam saya melihat ada beberapa orang kembali kerumah ini. Mungkin untuk menolong dan menyelamatkan temannya.
Kenapa Neng Wulan tidak menghajarnya lagi ucap Bu Siti melirik Wulan yang sedang memotong sayur.
Karena saya ingin tau siapa dalang dibalik semua ini.
Apa Neng Wulan bisa menebak siapa dalangnya.
Saya sudah tau, tapi saya juga tidak bisa mengatakannya secara langsung pada ibu, karena saya belum punya bukti ucap Wulan lagi.
Betul juga pikir Bu Siti. Bu Sitipun hanya manggut-manggut saja.
Menurut Neng Wulan, apakah mereka akan kembali datang kesini?
Mungkin saja, karena mereka mengincar emas yang saya bawa. Sepertinya seseorang tau akan hal itu.
Sekarang Bu Siti tau maksud Wulan.
Merekapun kembali melanjutkan tugasnya.
Sedangkan malamnya, setelah satu maling tertangkap keempat temannya begitu takut dan khawatir.
Yang mereka takutkan adalah juragannya pasti marah besar karena mereka gagal menjalankan aksinya. Sedangkan khawatirnya karena temannya berhasil tertangkap dan yang mereka takutkan temannya bicara kalo dalang dibalik semua ini adalah juragannya.
Mereka berempatpun kembali kerumah Bu Siti.
Saat mereka melihat para warga ramai memukuli temannya mereka hanya diam mengintip. Rupanya nasib baik masih berpihak pada mereka
Temannya berhasil mereka selamatkan ,saat para warga bubar dan mengikat temannya dipohon.
Pagi ini kelima anak buah Mardi berkumpul untuk melaporkan kejadian semalam.
Bagaimana apa kalian berhasil ? ucap Mardi menatap tajam kelima anak buahnya. Mardi sudah membayangkan ia akan mendapatkan uangnya kembali berikut emas yang Wulan miliki. Mardi yakin kalo para anak buah yang selama ini selalu ditugaskan untuk merampok dan mencuri di rumah para warga itu selalu berhasil dan tidak pernah gagal.
Ampun juragan, kami gagal menjalankan tugas dari juragan ucap ketua dari rombongan tersebut angkat bicara.
Apa. ....bagaimana bisa? Bukankah selama ini kalian selalu berhasil ucap Mardi nyalang.
Gadis yang ada dirumah Siti berhasil menggagalkannya dan Gadis itu juga memiliki ilmu kanuragan yang cukup mumpuni juragan. Kami berlima saja kalah saat bertarung dan melawannya.
GOBL*K,,,,,,,,,,mana mungkin, kalian bisa dikalahkan oleh seorang perempuan hah, memalukan saja kalian semua.
Aku tidak mau tau pokonya, kalian harus kembali kerumah si Siti nanti malam untuk mengambil kembali uangku berikut emas yang gadis itu miliki. Kalau gagal lagi kalian tau akibatnya ucap Mardi berteriak marah dihadapan kelima anak buahnya tersebut.
Pergi kalian dari hadapanku sebelum aku menghajar kalian semua bentaknya lagi.
Tanpa bicara lagi kelimanya pun segera keluar dari rumah juragannya tersebut.
Hari ini Bu Siti memanggil tukang untuk membetulkan rumahnya. Dinding rumah bagian depannya jebol terkena lemparan tubuh maling semalam.
Ada juga beberapa kayu yang diganti berikut dinding bambunya. Wulan juga meminta Alas rumah Bu Siti sekalian di pelur. Karena rumah Bu Siti tidak besar dan berukuran kecil. Akhirnya pekerjaanpun selesai sorenya. Dibantu para warga yang menganggur.
Wulan juga memberi upah pada warga yang membantu, juga dijamu dengan berbagai masakan.
Banyak warga yang iri melihat keadaan rumah Bu Siti yang sudah lebih bagus. Banyak juga yang bersukur karena rumahnya sudah lebih layak. Kehidupan Bu Siti memang sangat miskin dan kekurangan. Setelah suaminya meninggal kehidupan Bu Siti sangat memprihatinkan. Berkat kedatangan Wulan semuanya berubah Bu Sitipun terbantu dan tidak kekurangan lagi. Begitupun para warga yang merasa terbantu oleh Wulan.
Malamnya tengah malam, kembali para maling itu beraksi.
Kali ini Bu Siti dan Sari ikut tidur bersama Wulan diruang tengah. Mereka menggelar tikar baru dan kasur lantai yang siang tadi Wulan beli diwarung sembako. Warung sembako tapi lengkap dengan berbagai perabotan walaupun kecil.
Terdengar oleh Wulan suara pintu rumah Bu Siti di rusak.
Wulanpun segera bangun dan berjalan menuju dapur. Wulan akan menangkap para maling itu didepan rumah Bu Siti. Karena Wulanpun tidak ingin kembali merusak rumah Bu Siti yang baru selesai tadi sore diperbaiki.
Sebelum pintu rumah Bu Siti rusak Wulan langsung saja menendang kelima orang itu sampai terpental dengan sekali tendangannya.
Bug,,,,,, Bug,,,,, Bug,,,,, Bug,,,,,,Bug,,,,,
Aaaaaaah, suara teriakan kelimanya terdengar dan membangunkan Bu Siti dan Sari yang sedang tertidur. Mereka kaget begitu mendengar suara teriakan dari depan rumahnya.
Para warga juga mulai berdatangan, karena mendengar suara gaduh dan teriakan. Para warga terutama lelaki langsung saja menangkap dan mengamankan kelimanya. Mereka mengikat kelimanya dengan begitu kencang supaya tidak bisa lepas lagi.
Tangkap mereka dan kita ikat yang kencang ucap satu warga.
Pukuli Saja lagi mereka kapok. Baru semalam kalian hampir tertangkap tapi tidak kapok juga ucap warga lain juga.
Bakar saja,,,,,,, bakar..... banyak teriakan -teriakan dari yang lain juga.
Bagaimana ki, maling ini harus kita apakan, sepertinya mereka tidak akan pernah kapok.
Ampuni kami,,,,, tolong lepaskan kami. Kami janji kami tidak akan maling lagi ucap satu maling angkat bicara.
Tolong kami punya anak istri yang butuh makan, tolong lepaskan kami ucap maling satu lagi ikut bicara, dan yang lainnya juga ikut memohon agar dilepaskan.
Bug,,,,,,, Bug,,,,,,,Bug,,,,,,
enak saja kami melepaskan kalian begitu saja ucap Sapri menendangnya.
Betul, kalian itu sudah meresahkan warga dikampung cisaat ini ucap Agus lagi ikut -ikutan Sapri.
Mereka begitu kesal karena semalam gagal menangkap maling tersebut, sekarang setelah tertangkap jangan harap bisa dilepaskan begitu saja.
Warga yang sudah gerampun ikut -ikutan Sapri dan Agus.
Aki Jalu tidak lagi melarang, karena percuma, warga sudah begitu banyak dirugikan oleh maling tersebut.
Banyak hasil panen, harta benda warga yang sudah dicuri oleh para maling tersebut.
Siapa diantara kalian yang bisa menghubungi aparat teriak Wulan lagi.
Sebaiknya mereka segera ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara.
tiba -tiba ditengah keramaian itu Mardi datang dengan terburu -buru begitu mendapat laporan dari warga yang dekat rumahnya.
Karena tidak ingin kedoknya terbuka Mardipun ikut jadi propokator.
Ternyata kalian maling yang selama ini sudah mengambil harta para warga kampung sini.
Kurang ajar, ,,,, Bug,, , ,,Bug, , ,,,Bug, ,,,,,Bug. ...
Rasakan ini, biar Kalian kapok teriak Mardi menendang kelimanya membabi buta, ditambah amarahnya yang berkobar karena kembali mereka gagal bahkan sampai tertangkap.
Maaf juragan, biar mereka kita bawa kekantor polisi dan dijebloskan kedalam penjara ucap Aki Jalu angkat bicara.
Mardi menarik nafasnya dan menatap nyalang kelimanya. Kelima anak buah Mardipun diam menunduk.
Biar saya saja yang akan melaporkannya kepihak berwajib. Serahkan semuanya pada saya, karena saya juga sebagai kepala kampung berhak untuk menghukum mereka bagaimana ucap Mardi mengedarkan pandangannya pada semua warga.
Itu lebih bagus juragan, lagi pula kamipun kurang mengerti dan percaya pada juragan ucap Aki Jalu.
Selama ini Mardi memang selalu baik jika dihadapan warga, tapi para warga tidak tau saja bagaimana kelakuan busuk Mardi dibelakang mereka.
Wulan sangat menyayangkan hal itu, tapi Wulan juga belum punya bukti untuk menuduh Mardi dalang dibalik semua ini.
Wulan akan melihat dulu apa yang akan Mardi lakukan pada kelima maling tersebut.
Lalu apa yang harus kami lakukan sekarang juragan ucap Aki Jalu bertanya pada Mardi.
Bawa mereka semua kerumahku dan aku akan membawanya pada aparat kepolisian.
Merekapun setuju dan membawa kelima maling itu kerumah Mardi dan menyekapnya digudang kosong dirumah Mardi. Setelahnya semua warga kembali bubar setelah mempercayakan semuanya kepada Mardi.