“Sayang, please pikirankan kembali perkataanku yang tadi,” bujuk Melanie. Melanie masih tidak percaya kalau Revano masih akan tetap bekerja di Chang, bahkan Suami Cadanganya itu sudah bersiap untuk berangkat bekerja seperti biasanya. “Tidak mudah keluar dari perusahan Chang, sayang. Apa lagi Chang menyimbolkan kalau aku adalah karyawan paling berharganya karena mengingat pekerjaanku.” Revano mengusap lembut rambut istrinya. “Nanti aku aku akan memikirkannya, tenang saja tidak usah khawatirkan aku,” ucap Chang yang dianggukan Melanie meski hatinya berat. “Kamu hati-hati di jalan yah sayang.” Revano pun mengangguk melumat bibir istrinya sejenak. “Rasanya satu ronde tadi itu tidak puas untukku sayang, bagaimana kalau nanti malam kita lanjutkan kembali?” bisik Revano. Melanie mengangguk

