Bab. 40.

1511 Kata

"Bagaimana, Nak?" tanya Tuan Arya merasa cemas melihat wajah sembab putrinya. Bunga tersenyum tipis, dia menubruk tubuh kekar ayahnya. Menangis lagi di sana, seolah tangis sepanjang jalan itu belum cukup untuknya. Tuan Arya hanya bisa diam, mengusap pelan punggung anaknya yang bergetar. Beban berat yang ditanggung Bunga lelaki paruh baya itu dapat merasakannya. Dia tak menyangka anaknya akan menyandang gelar janda di usia muda. Miris memang, kisahnya pun tak pernah dia duga sebelumnya. Reski yang terlihat baik dan penyayang akbirnya harus menduakan cintanya meski dengan ketidaksengajaan. 'Kamila, sendainya kamu masih bersama kami!' Tuan Arya juga sedih karena tak ada pendamping untuk putrinya yang sedang sedih. Hanya dia seorang yang akan mencoba menguatkan dan memberikan semangat ag

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN