Bunyi dentingan piring dan sendok terdengar di ruang makan yang didominasi oleh furniture kayu oak. Meja makan persegi panjang yang terletak di tengah ruangan dikelilingi oleh enam kursi bersandaran tinggi yang kini diisi oleh pemiliknya. Terkadang bunyi derit kursi terdengar dilantai persegi corak hitam putih yang disusun secara berdampingan. Tiga kursi terisi sedangkan tiga lainnya masih terlihat kosong. Sepertinya pemilik dari kursi-kursi itu belum terlihat pagi ini atau mungkin tidak pernah terlihat sama sekali. Mereka terfokus pada makanan mereka tanpa mengucap sepatah kata pun, seolah asyik dengan dunia masing-masing. Hingga seorang pria paruh baya yang masih terlihat muda mengangkat serbet dari pangkuannya untuk menyeka mulut. Ia mendeham sekali dengan sorot mata setajam mata elang, ia menatap satu persatu wajah istri dan anaknya. Kemudian berhenti sejenak pada gadis berambut pirang dihadapannya.
"Bagaimana sekolahmu?" tanyanya seraya meletakkan serbet diatas pangkuannya yang berbalut celana hitam. Matanya yang teduh menatap putrinya dengan tatapan bijaksana seolah mata itu menyediakan jalan keluar segala masalah kehidupan. Semua orang di meja makan mengangkat kepala menatap si pria paruh baya itu dengan tatapan terkejut.
Secara bersamaan mereka saling memandang, otomatis aktivitas makan mereka terhenti. Sunyi senyap, keheningan seolah menyergap mereka, tak lama kemudian terdengar dengusan geli dari istri dan putrinya. Seolah kalimat yang ditanyakan sang Ayah merupakan sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu.
"Ayolah, Yah...jangan bercanda...!!!" kata Anneliese Darrellyn. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mencemooh dengan sikap malas khas pemberontak remaja.
"Pertanyaanmu terdengar menggelikan." tambahnya. Wajahnya yang manis dan terkesan sexy membuatnya terlihat menawan. Ditambah lagi ia juga bukanlah ras manusia. Darah peri dan Dewi mengalir dalam tubuhnya. Tak heran jika Anneliese terlihat seperti seorang dewi.
"Anneliese...jaga bicaramu!!!" tegur Sofia Darrellyn yang duduk di samping Ayahnya. Sang bunda yang masih terlihat sangat cantik itu tidak segan untuk menegur putrinya. Biarpun Anneliese adalah putri kesayangannya jika itu menyangkut tata krama, ia tidak akan segan untuk menghukum. Rambut ikalnya berwarna coklat madu ditata sedemikian rupa, sementara tubuhnya berbalut dress biru langit senada dengan iris matanya yang memancarkan keanggunan dan keramahan.
Victor Darrellyn, sang ayah tertawa keras hingga suaranya memenuhi seluruh ruang makan, menatap putrinya dengan tatapan jenaka dan hangat khas seorang Ayah.
"Aku hanya ingin menanyakan hal yang seharusnya ditanyakan seorang Ayah."
"Kau terlambat, Yah. Setelah lebih dari satu abad hidupku, ku habiskan untuk bersekolah di dunia manusia, kau baru menanyakannya hari ini???" protes Anneliese.
"Anneliese," tegur Sofia memperingatkan.
"Bu, kita sedang berada di dunia manusia. Bukan di dunia Arcadia, bukankah tidak perlu tata krama kerajaan?" protes Anneliese yang terlihat kesal.
"Tak peduli kau di dunia manusia ataupun Arcadia, kau harus mengutamakan tata krama," jawab Sofia dengan tegas.
Victor memperhatikan perbincangan istri dan putrinya tersenyum lebar. "Benar kata putri kita, Sofia...tidak ada tata krama kerajaan di wilayah manusia. Di sini kita adalah keluarga dari bangsa manusia tanpa ada berbagai macam protokol kerajaan." Sofia tersenyum mengangguk patuh pada suaminya.
"Baiklah, akan ku ganti pertanyaanku." Seketika wajah Victor berubah serius, dan ketegasan terpancar dari mata hijau yang menggelap. Kedua tangannya yang terkepal diletakkan di atas meja makan, menopang dagunya yang ditumbuhi janggut tipis."Apakah kalian sudah menemukan keberadaan Ratu Cynzia?"
Suasana hening seketika, tidak ada yang berani menatap apalagi menjawab pertanyaan penjaga Nareus. Mereka semua menunduk, menghindar dari tatapannya. Hanya hembusan nafas beratlah yang terdengar di ruang makan.
Victor menghembuskan nafas berat dan menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya menerawang pada sisa makanan di atas meja.
Dunia Arcadia adalah dunia dari mana Victor dan keluarga berasal. Dunia immortal yang terletak jauh dari jangkauan manusia. Dunianya para dewa dewi tanpa batas yang memiliki keindahan tiada tara. Keindahannya tidak akan pernah bisa dijumpai di dunia manusia. Di dunia Arcadia dan wilayah manusia terdapat portal penghubung yang hanya bisa dilihat oleh para makhluk immortal saja, seandainya ada manusia yg bisa masuk ke Arcadia dia hanyalah segelintir manusia yang sudah terpilih.
Untuk masuk ke Arcadia tidaklah mudah untuk manusia biasa, portal itu terletak di hutan belantara yang tidak pernah terjangkau manusia. Dan tempat itupun juga masih menjadi misteri bagi kalangan manusia.
Arcadia dihuni oleh berbagai makhluk dan klan. Diantara klan Amarious, klan Afeidas, klan Moriquendi, klan Anteros ( klan penyihir ), klan Erabus, klan mermaid, dan berbagai macam klan yang memiliki populasi lebih kecil.
Setiap klan tinggal terpisah di wilayah masing-masing dengan sistem pemerintahan yang ditentukan oleh raja dari setiap klan.
Klan Amarious adalah klan tertinggi dari semua klan, dimana klan Amarious memiliki kekuatan para dewa terkuat dari klan lainnya. Wujud yang sempurna dengan para dewa dewi. Para Amarious memiliki kekuatan alam diantaranya air, api , udara dan alam. Bahkan beberapa makhluk Amarious memiliki lebih dari satu elemen. Klan Amarious merupakan penentu berlangsungnya kehidupan di dunia Arcadia dengan mengendalikan sebuah bunga kehidupan bernama Mezaluna yang terdapat di wilayah Nareus. Nareus sendiri adalah tempat dimana para dewa dewi Arcadia dari seluruh klan mendapatkan keseimbangan.
Klan Afeidas merupakan klan campuran antara kaum elf murni dan dewa matahari. Dahulu kala dewa matahari yang sedang mencari bunga penawar racun untuk sang Dewi, bertemu dengan seorang kaum peri yang membantu menemukan bunga tersebut, dan sebagai balas budi rasa terima kasih sang dewa matahari mempersunting sang peri. Hingga terciptalah klan baru yang disebut klan Afeidas.
Klan Moriquendi adalah bangsa elf kegelapan. Dari pendahulunya ada seorang bangsa elf yang jatuh cinta pada bangsa kegelapan. Mereka melanggar peraturan dua klan hingga diusir dari klan elf lalu menciptakan kerajaan dan klan baru.
Klan Anteros adalah klannya para penyihir. Mereka tinggal di dunia yang di penuhi oleh mantra dan berbagai macam sihir. Mereka berada di wilayah yang berbeda dengan para dewa maupun peri. Mereka juga sangat membenci para peri karena menganggap mereka sebagai pencuri dari mantra dan sihir yang mereka ciptakan.
Klan Erabus adalah klan para monster termasuk Titan dan para demon. Mereka tinggal di dunia bawah. Dunia Erabus adalah tempat dimana sang kegelapan tinggal. Bertahun tahun silam, baik kegelapan mau klan lainnya tunduk dan setia pada Arcadia. Sebelum terpecah seperti saat ini.
Dunia Arcadia berbeda dengan dunia manusia. Terdapat inti dari sebuah peradaban dunia yaitu sebuah bunga kehidupan yang bernama Mezaluna. Sebuah bunga yang hanya dimiliki oleh seorang Amarious murni dan lahir pada malam bulan sabit.
Mezaluna merupakan sebuah bunga kehidupan yang berbentuk bunga anggrek bulan yang terletak di wilayah Nareus dan hanya dapat dikendalikan oleh kekuatan alam yang dimiliki oleh klan Amarious. Gabungan kekuatan yang dimiliki oleh klan Amarious membuat Mezaluna hidup dam mengeluarkan kekuatan berupa cahaya yang menyebar ke seluruh penjuru dunia Arcadia.
Kekuatan cahaya dari Mezaluna manfaat penting bagi dunia Arcadia. Mezaluna adalah sumber energi dari kehidupan Arcadia. Tanpa adanya Mezaluna tumbuhan-tumbuhan akan sulit untuk berkembang karena cahaya Mezaluna merupakan faktor pendukung dalam keberlangsungan tumbuh-tumbuhan dan binatang yang terdapat di Arcadia. Tanpa adanya Mezaluna semua kehidupan perlahan akan mati.
Dan yang terpenting dari kekuatan Mezaluna adalah bunga kehidupan tersebut merupakan penentu keseimbangan alam dan dunia Arcadia. Alam menyediakan siang dan malam berbagai musim dan suhu, sedangkan Mezaluna merupakan inti dari keseimbangan seluruh alam. Tanpa Mezaluna seluruh elemen alam akan berjalan secara acak.
Namun, sejak p*********n klan Moriquendi 374 tahun silam tidak ada lagi keseimbangan di dunia Arcadia. Persekongkolan klan Moriquendi dan klan Anteros menyebabkan perpecahan antar klan. Banyak klan Amarious yang tewas saat p*********n itu. Tidak banyak klan Amarious yang tersisa. Hingga membuat sang Ratu yang belum dinobatkan saat itu harus menyegel sang pembawa petaka. Kehidupan di Arcadia pun menjadi kacau. Setengah dari Mezaluna hilang bersamaan dengan menghilangnya sang Ratu.
Cahaya Mezaluna meredup, setengah dari bunganya mengering. Para makhluk Arcadia mulai kesulitan mencari makanan karena hampir lima puluh persen tanaman mati dan tidak bisa berkembang. Bahan makanan pun semakin langka. Sumber kekuatan mereka yang ditentukan oleh bunga kehidupan lenyap seketika. Semua penghuni Arcadia dipaksa untuk bertahan tanpa energi dari Mezaluna dan mengandalkan bahan makanan yang semakin menipis.
Hingga saat ini pun Arcadia masih kacau balau. Tanpa pemimpin, tanpa bunga kehidupan, tanpa sang Ratu. Entah dimana sang berada saat ini. Sudah tiga ratus tujuh puluh empat tahun setelah p*********n, sang Ratu masih belum di temukan.
Tapi beberapa hari yang lalu, Mezaluna bersinar lebih terang, para tetua mengatakan ini adalah kabar baik. Kemungkinan sang Ratu masih hidup, tapi kemungkinan juga sinar bunga kehidupan merupakan sinar terakhirnya.
"Victor," Sofia menggumam lirih menggenggam erat tangan Victor, berusaha menenangkan kegelisahan hati suaminya.
"Tidak ada yang tahu bagaimana ciri-ciri dan rupa Ratu Cynzia, Ayah. Itulah yang menyebabkan kami kesulitan mencarinya." jawab Anneliese menatap sang Ayah penuh kesungguhan.
Victor kembali menerawang, setelah p*********n klan Moriquendi dan Anteros kala itu, Arcadia mendapatkan kabar bahwa tidak ada tubuh Putri Cynzia dari seluruh mayat klan Amarious yang berhasil ditemukan. Berbagai macam hal muncul di benak mereka. Masih ada harapan untuk keseimbangan dunia Arcadia dengan menemukan Ratu Cynzia yang tidak diketahui keberadaannya.
Dan mulai saat itu, seluruh bangsa di dunia Arcadia memerintahkan semua makhluk untuk mencari keberadaan Ratu Cynzia, pemilik bunga bulan sabit.
Victor menatap Anneliese dengan serius dan berkata, " Amarious mempunyai aura yang sangat kuat, Anne. Dan aura ini hanya dimiliki oleh klan Amarious. Seperti halnya werewolf dan mermaid. Mereka berbeda, dan kau bisa menemukan dengan mudah. Di dunia manusia ini sangat jarang makhluk seperti kita. Mungkin hanya beberapa."
"Tapi aku sudah mencarinya lebih dari tiga abad, Ayah. Dan aku masih belum menemukannya." kali ini bukan terkesan seperti pemberontak melainkan frustasi. Tangannya yang menegang mengambil gelas berisi cairan hijau didepannya, lalu meminumnya dengan sekali teguk.
"Aku rasa Ratu Cynzia menyembunyikan jati dirinya." ucap Sofia. Mata birunya menatap Victor dengan ragu. "Kau ingat, sang ratu mempunyai kemampuan untuk menghilangkan jati diri, jadi bukan tidak mungkin ia bisa menyembunyikan aura dan kekuatannya. Jika kita hanya menggunakan Cakra dan aura untuk mencari Ratu itu sama saja menunjukkan keberadaan Ratu pada klan Anteros. Kita harus mencari cara lain." tambahnya.
"Selama ini aku mencarinya di seluruh sekolah manusia, aku gunakan seluruh hal yang ku tahu. Mulai dari mencari identitas seluruh siswa hingga ku gunakan cakra dan sihir, tapi hasilnya selalu nihil." timpal Anneliese sambil mengangkat kedua bahu lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, tampak lelah dengan pencarian yang sia-sia.
"Seandainya saja Lamia ada disini, dia mungkin akan membantu kita," Anneliese bergumam lirih menatap makanan penutup yang belum habis dihadapannya, mengingat teman sepermainan yang telah lama menghilang.
Sesaat suasana kembali hening.
Victor terdiam, keningnya berkerut tanda sedang berpikir keras. Jika benar Ratu Cynzia menyembunyikan jati dirinya didunia manusia, seharusnya klan Amarious seperti dirinya masih bisa mendeteksi. Portal Arcadia dan dunia manusia bisa ditembus dengan mudah oleh klan Amarious. Dan jika sang Ratu masih berada di Arcadia, bukan tidak mungkin klan para penyihir melenyapkannya saat ia pertama kali ditemukan dan berita itu akan langsung menyebar. Tapi hingga saat ini tidak ada tanda-tanda akan hal itu. Kecuali, sebagian ingatan sang Ratu tersegel.
"Lalu bagaimana selanjutnya kita akan menemukan, Yah? Kita tidak bisa membiarkan Arcadia terpuruk terus menerus. Kita tidak bisa membiarkan perang antar klan karena memperebutkan tahta sang Ratu. Moriquendi sudah mulai menggila." kata Anneliese menggebu-gebu sesaat iris mata hijaunya berubah menggelap karena emosinya yang meluap-luap.
"Tetap cari Ratu di wilayah bumi ini. Ayah dan ibumu akan kembali ke Arcadia." ucap Victor dengan tegas.
"Oh ya, Anneliese... bukanlah kau akan disekolah yang baru?" tanya sang Ayah.
Anneliese mengangguk seadanya ."Tetaplah waspada, mungkin saja saat ini Ratu menyamar menjadi manusia."
"Baiklah, Ayah."
Tiba-tiba suhu ruangan menjadi dingin hingga mampu membangkitkan bulu roma dan menusuk ke tulang persendian mereka. Masing-masing dari mereka menahan nafas dan berkonsentrasi melawan suhu dingin yang tiba-tiba muncul, berusaha mengusap lengan mereka masing-masing untuk menghangatkan diri.
"Dia datang." Sofia berbisik berusaha untuk tenang dengan menghirup nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
Victor meneguk cairan berwarna ungu dari gelasnya, kearah pintu ruangan tersebut dengan senyum yang berkembang di balik gelasnya. "Sepertinya kita mendapatkan kabar buruk."
Pintu ruangan terbuka lebar. Menampilkan seorang pria bertubuh tinggi dengan rambut hitam kelam yang tersisir rapi hingga menyentuh krah kemeja hitamnya. Wajahnya terlihat dingin tanpa ekspresi dengan rahang yang tinggi dan tegas. Mata birunya menyorot tajam ke depan. Langkah kakinya terdengar berirama melangkah ke kursi yang berada di sudut meja. Yang langsung berhadapan dengan Victor.
"Alvindhar, sudah berapa lama kita tidak bertemu?" kata Victor dengan senyum lebar saat menyambut putranya.
"Terakhir kali bertemu beberapa hari yang lalu, Yah." jawabnya datar. Tangganya meraih teko bening berisi minuman berwarna ungu dan menuangkannya pada gelas kosong yang ada di hadapannya.
" Benarkah? Entah mengapa aku merasa sudah lama tidak bertemu denganmu." mata Victor berbinar penuh makna.
"Apa yang membuat mu mengeluarkan aura sedingin ini, Indhar?" tanya Sofia menatap dengan sorot mata keibuan.
"Aku kemari untuk memberikan informasi mengenai Ratu Cynzia." tatapannya dingin mencerminkan jika ini bukanlah berita baik.
Semua orang menahan nafas mendengar ucapan Alvindhar. Mereka semua menatap Alvindhar dengan wajah terkejut dan bibir yang membuka.
Alvindhar meneguk minumannya hingga tuntas lalu menatap sang Ayah dengan tajam tepat di kedua manik hijaunya. "Ratu sudah tiada."
Tenggorokan mereka tercekat mendengar pernyataan Alvindhar. Wajah mereka menegang bahkan Anneliese yang saat itu sedang memegang gelas, gelas itu pecah hancur berkeping keping.
Alvindhar menatap Anneliese dengan tajam, mata birunya berubah menggelap, dingin semakin menusuk persendian karena hawa diruangan itu yang seperti gurun es. "Apa kau meragukan perkataanku, Ann?" tanyanya tajam seakan many mengulitinya saat itu juga.
Anneliese mengalihkan pandangannya. Menahan amarah mendengar berita yang disampaikan oleh saudara kembarnya. "Bagaimana kau mengetahui informasi itu?"
Alvindhar memejamkan matanya, lalu menghembuskan nafas berat. Ketika matanya terbuka sorot mata yang menunggu jawaban terlihat dari keluarganya.
"Aku menggeledah kamar Lamia, dan menemukan beberapa bukti. Dan salah satunya adalah ini." Alvindhar memperlihatkan kelopak bunga anggrek yang tak lain adalah Mezaluna. Semua keluarga semakin dibuat terperangah dan kaget. Bagaimana mungkin Mezaluna ada kamar Lamia?
Semua masih terdiam.
"Aku menggunakan sihir untuk menerawang masa lalu, dan yang ku temukan adalah benar-benar diluar dugaan."
"Apa yang terjadi???" tanya Anneliese.
"Dia penghianat Amarious..."
"Tidak mungkin..." teriak Anneliese menggebu-gebu. Bagaimana mungkin seorang yang paling dekat dengan sang Ratu menjadi penghianat.
"Indhar, apa kau sadar dengan apa yang baru saja kau katakan? Lamia adalah tunanganmu, orang yang dekat dengan sang Ratu. Bagaimana kau mengatakan bahwa dia penghianat?"
Alvindhar terdiam. Kelopak bunga anggrek adalah bukti nyata yang tidak bisa ia pungkiri.
"Dia mencuri bunga kehidupan. Dengan Mezaluna, Ratu Cynzia mengorbankan setengah jiwanya untuk menyegel sesuatu. Akibatnya tubuh Ratu akan menghilang dari Arcadia dan terlempar ke dimensi lain. Dan Lamia mencuri Mezaluna untuk membantu Ratu keluar dari Arcadia. Mungkin Lamia juga sudah menyegel dirinya sendiri."
Semua orang terperangah, terlebih Victor ia tidak menyangka kalau Lamia bisa melakukan hal senekat ini.
"Sepertinya mereka sedang menyembunyikan sesuatu,.. apa yang sebenarnya mereka lindungi?" ucap Victor sambil memijit pangkal hidungnya.
"Entahlah, Yah. Satu-satunya orang tahu di mana Ratu berada hanyalah Lamia. Tapi Lamia sudah menggunakan bunga kehidupan untuk menghancurkan ingatannya. Dan saat ini pun mungkin Lamia juga terlempar ke dunia dimana Ratu Cynzia berada. Tapi untuk saat ini, aku belum menemuka. dimana ratu berada, atau mungkin ratu memang sudah tiada."
Victor terpaku pada kata-kata terakhir Alvindhar. Kepalanya memikirkan berbagai macam jalan keluar agar bisa bertahan.
"Lalu, jika Ratu Cynzia tiada siapa yang akan mengendalikan Mezaluna? Apakah ini pertanda kiamat untuk dunia Arcadia?" tanya Sofia dengan suara gemetar ketakutan.
"Kita harus bertahan hidup tanpa Mezaluna. Bukankah lebih dari tiga abad kita bertahan tanpa Mezaluna, maka untuk selamanya pun kita akan bisa hidup tanpa bunga kehidupan. Kita bisa meminta ilmuwan di Arcadia untuk mengembangkan formula demi penyelamatan seluruh makhluk.". Pupil mata Victor membesar saat menatap Alvindhar lebih yakin. "Kita akan menuju era peradaban baru di dunia Arcadia."
Alvindhar menggeleng, menolak semua gagasan sang Ayah. "Tidak bisa, menuju peradaban baru membutuhkan waktu yang sangat lama, sementara Arcadia membutuhkan segera untuk dibenahi. Jika itu terjadi para makhluk immortal akan berbondong-bondong mengotori dunia manusia, vampir akan menghabisi semua manusia yg ada karena mereka adalah santapan lezat untuk kaum vampir. Belum lagi para demon dan Titan. Jika mereka semua berpindah ke dunia manusia tempat ini akan menjadi Arcadia kedua, manusia akan punah seperti halnya Amarious." Victor bungkam mendengar putranya yang bicara panjang lebar. Baru kali ini ia bicara sepanjang itu. Mungkin karena penghianatan akan tunangannya, Alvindhar jadi seperti ini.
"Tidak akan ada keseimbangan. Dan yang paling mengerikan Raja kegelapan akan semakin berkuasa di Arcadia. Ingatanlah makhluk seperti kita harus berada di Arcadia, bukannya dunia manusia."
Victor menyandarkan tubuhnya di kursi. Sofia dan Anneliese menunduk memikirkan bagaimana Lamia sekarang menghilang tanpa jejak dan di cap sebagai penghianat Arcadia. Berita hilangnya sang Ratu dan juga Lamia membuat mereka tidak mampu berkomentar.
"Lalu kita harus bagaimana, Indhar?" tanya Anneliese dengan suara bergetar. "Jika Arcadia tidak bisa diselamatkan, maka satu-satunya cara adalah memindahkan seluruh makhluk Arcadia ke dunia manusia. Dunia manusia tidak bergantung pada pada sebuah bunga kehidupan alam."
"Masih ada kemungkinan."
"Apa???" tanya Sofia penasaran.
"Reinkarnasi Ratu Cynzia."
Semua orang terperangah. Terlebih sang ayah. " Bagaimana bisa kau berpikir tentang reinkarnasi sang Ratu?" tanya Victor yang mulai penasaran.
"Terakhir kali aku mendengar berita mengenai Ratu, beliau tidak hancur dan tubuhnya pun juga tidak di temukan. Ratu mungkin saja tengah bereinkarnasi di suatu tempat yang kita tidak mampu menjangkaunya."
"Mungkin kita bisa ke Nareus untuk mencari tahu." celetuk Anneliese.
Sudut bibir Alvindhar terangkat, tersenyum meremehkan. " Kau tidak bisa masuk ke wilayah Nareus tanpa persetujuan dari pemilik bunga kehidupan. Meski kau memaksakan untuk diri untuk ke sana semuanya akan sia-sia. Wilayah Nareus tidak akan tampak di matamu." katanya dengan sinis.
"Aku harus pergi..." Alvindhar beranjak dari kursinya, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah lebar, meninggalkan sejuta masalah dalam benak mereka.
Tanpa mereka sadari mereka menghembuskan nafas lega setelah kepergian Alvindhar. Merasakan kembali kehangatan yang terkurung akibat aura dingin yang dikeluarkan oleh Alvindhar. Semua terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing.