Alvindhar berdiri diatas bebatuan tebing. Mata birunya menatap nyalang hamparan hutan pinus dibawah bukit. Wajahnya mengeras, kedua tangannya di masukkan kedalam saku celana. Pikirannya melayang ke segala arah, mencari jalan keluar akan kerumitan para klan yang menginginkan keseimbangan dunia mereka kembali. Ribuan makhluk tergantung pada Mezaluna. Satu dunia bergantung pada pada energi yang dihasilkan oleh bunga kehidupan. Dan bunga kehidupan hanya bisa berfungsi jika ada pemiliknya, dan pemiliknya adalah sang Ratu Amarious yang di nyatakan menghilang sejak tiga ratus tujuh puluh empat tahun yang lalu.
Dan saat ini kepastian akan reinkarnasi sang Ratu masih abu-abu, tidak ada kejelasan seolah tertutup oleh kabut tebal yang menghalangi masa depan dunia Arcadia.
Membuat keputusan berarti mengenai sesuatu yang tersembunyi pada balik kabut tebal tersebut, apakah padang rumput dengan hamparan bunga berwarna-warni atau justru jurang dimana dibawahnya mengalir lava pijar yang meletup-letup.
" Ada apa Orion?"
Secercah cahaya terbentuk dari buliran air bercampur api muncul di belakang Alvindhar. Buliran-buliran air itu meliuk-liuk di udara menyatu dengan api yang menggambarkan siluet manusia dan memunculkan sosok pria mengenakan pakaian kerajaan. Wajah tampan dan tubuh tingginya menambah kegagahan seorang pangeran dari negeri api. Dia merupakan klan dewa api murni yang selalu menjunjung tinggi kesetiaannya pada Nareus dan Arcadia. Orion Kladeus pangeran dari kerajaan Antropus yang masih bertahan ditengah kekacauan antar klan selama berabad-abad lamanya. Sebagai salah satu dewa terkuat Arcadia, ia harus lebih pandai dalam memilah mana pemberontak dan mana kawan. Sehingga ia bisa menjadi raja yang bijaksana dimasa depan menggantikan ayahnya yang telah tiada karena p*********n tiga ratus tahun yang lalu.
Orion berjalan ke arah Alvindhar dan berdiri di samping pria itu dengan hembusan nafas panjang. Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman ramah pada Alvindhar. " Kudengar kau menyiksa Lamia." Itu adalah sebuah pernyataan bukanlah pertanyaan yang terlontar dari mulut Orion Kladeus, sahabat nyaris seumur hidupnya.
Alvindhar menghembuskan nafas berat. "Dan menyiksa diriku sendiri." jawabnya dengan intonasi yang dingin dan kaku. Keputusan yang diambil oleh Alvindhar untuk mengorek informasi mengenai Ratu Cynzia sangatlah berat. Seperti yang kita tahu, jika seorang yang melakukan perjanjian darah, jiwa mereka akan saling terikat satu sama lain. Jika salah satu jiwa ada yang tersakiti maka jiwa yang lain juga akan merasakannya. Lamia Hemera dan Alvindhar Darrellyn adalah sepasang kekasih. Mereka adalah kedua pilar yang menjaga sang Ratu, calon pemimpin Arcadia.
Sebagai seorang kekasih, ia sangat ingin menjadi egois untuk melindungi Lamia dan tidak menyentuh tunangannya. Tapi sebagai penghuni Arcadia dimana dunia yang mereka tempati tengah sekarat, keputusan sulit itupun dipilih. Meskipun harus mengorbankan tambatan hatinya. Demi seluruh penghuni Arcadia, demi keberlangsungan hidup mereka. Dan demi keseimbangan.
Seketika suhu tebing terasa semakin dingin. Membuat Orion harus bersikap waspada. Disaat seperti ini merupakan saat dimana panglima es Nareus tengah murka.
"Tenanglah, sobat. Jangan sampai kau membuat tebing ini menjadi tebing es."
Alvindhar hanya terdiam. Ia merasakan sakit yang amat sangat ketika ia memasuki memori Lamia secara paksa. Sama seperti apa yang di rasakan Lamia. Gambaran saat Lamia kesakitan tergambar jelas di pelupuk mata Alvindhar.
"Tenanglah, Lamia juga adikku. Dia akan baik-baik saja." tambah Orion menenangkan Alvindhar yang masih terus mengeluarkan aura dinginnya sambil menepuk bahunya. Perlahan-lahan udara dingin pun kembali menghangat, iris matanya pun mulai membiru.
"Kau tidak marah padaku? Aku sudah membuat adikmu terlihat seperti seorang penghianat." Alvindhar masih terus menatap hutan pinus dihadapannya tanpa mengalihkan pandangan.
"Aku sudah menyakiti adikmu. Sehingga ia lebih memilih bungkam, entah apa yang di sembunyikannya dariku." ucap Alvindhar semakin geram dengan Lamia.
"Itu adalah keputusan Lamia. Aku mengenal adikku dengan baik. Dan kau lebih mengenalnya dari pada aku, kakaknya sendiri. Lamia mungkin memang menyembunyikan sesuatu dari kita, tapi dia tidak akan melakukan hal sebesar ini jika ia tidak mempunyai alasan yang kuat. Percayalah, Lamia akan baik-baik saja."
Pangeran Orion yang bicara panjang lebar membuat Alvindhar menarik sudut bibirnya. Ia tidak menyangka, seorang pangeran api dari negeri Antropus bisa berbicara sebijak ini. Mengingat tingkahnya yang sedikit agak konyol. Alvindhar berbalik menatap Orion. "Kau terdengar menggelikan."
Mata Orion membola. Matanya menatap Alvindhar dengan kesal. "Hei...jangan menatapku seperti itu. Biarpun aku raja yang buruk, tapi aku bukanlah seorang kakak yang tidak peduli pada adiknya. Kau tahu, sangat sulit membuatmu sedikit tersenyum seperti ini."
Orion masih menatap Alvindhar dengan kesal, tapi melihat sedikit senyuman di wajahnya, itu menandakan jika sang panglima es masih baik-baik saja, atau mungkin berpura-pura baik-baik saja.
Alvindhar menggelengkan kepalanya yang sedikit lelah. "Aku sudah mendengar dari Tuan Ouranos, beliau ingin menggunakan laboratorium Antropus untuk memproduksi formula kimia untuk mengembangkan tumbuh-tumbuhan dan hewan secara besar-besaran. Apa tidak ada jalan keluar yang lain? Lalu, bagaimana nasib Arcadia selanjutnya?"
"Aku tidak tahu."
Orion mendengus lalu terkekeh. "Aku harus cepat-cepat menemukan calon istriku. Aku tidak mau mati dalam keadaan masih bujangan seperti ini." ujar Orion memasang mimik wajah serius yang dibuat-buat, melirik Alvindhar dengan tatapan canda khas miliknya. Berusaha mencarikan suasana ketegangan yang menguar disekitar mereka.
"Lebih baik kau mencari dimana keberadaan Ratu Cynzia atau keturunannya, dibandingkan mencari calon istri, Kladeus." ketua Alvindhar.
"Kenapa nama Ayahku dibawa-bawa?" dengan tatapan polos sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Seingatku Putri Orinthya sudah tewas saat p*********n Nareus tiga ratus tahun yang lalu, apa kau lupa?" Alvindhar meliriknya kesal. "Lagi pula bukanlah kau menolak Dewi angin itu?"
Orion mengingat-ingat tentang Putri Orinthya. Salah satu Dewi angin yang berdiri di bawah titah sang Ratu. Ia mengorbankan nyawanya demi melindungi sang ratu saat p*********n. Ia menggunakan tubuhnya sebagai tameng saat Putri Ainera hendak menusuk sang Ratu dari belakang. Dia adalah Dewi angin yang melindungi Ratu Cynzia hingga akhir dan dia juga tunangannya dari Pangeran api, Orion Kladeus.
"Bukan dia. Aku masih belum menemukannya. Lagi pula Putri Orinthya tidak mencintaiku waktu itu."
"Darimana kau tahu?"
"Dia mengatakannya sendiri padaku, sesaat sebelum p*********n terjadi. Mungkin dia sudah tahu akan terjadi sesuatu. Dewi angin bisa menerawang masa depan bukan."
Mereka berdua terduduk di pinggir tebing dengan kaki menggantung ke bawah. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.
"Sepertinya Ratu Cynzia tidak memiliki keturunan." celetuk Orion
Alvindhar yang duduk disampingnya pin menoleh.
"Jika bayi itu dilahirkan sebagai Amarious seharusnya terjadi bencana besar baik Arcadia ataupun di dunia manusia. Tapi selama lebih dari tiga ratus tahun hal itu tidak terjadi. Sedikit ku pelajari, bukankah Klan Amarious mempunyai aura yang tidak dimiliki oleh klan lain?". Alvindhar mengangguk.
Kedua mata pria berbeda warna itu menerawang pepohonan pinus dibawahnya. Pikirannya melalang buana mencari sebuah titik terang.
"Ada yang harus kau tahu, Kladeus."
Orion menoleh kearah Alvindhar, ia tahu bahwa sahabat dan teman seperjuangannya ini menyembunyikan sesuatu.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
Alvindhar menunduk, ia menatap jurang tanpa ujung di bawah sana. "Ratu Cynzia mengambil setengah dari Mezaluna." Orion terdiam seribu bahasa. Untuk apa sang Ratu mengambil resiko sebesar ini dan membahayakan seluruh Arcadia? Belum selesai Orion berkelana dengan segala pemikirannya suara Alvindhar kembali terdengar.
" Dan adikmu membantunya mencuri bunga kehidupan itu." Orion langsung berdiri seketika. "Meskipun hanya setengah inti bunga itu, aku yakin... kekuatannya masih sangat kuat dan mampu membuat sesuatu yang mustahil menjadi nyata."
"Apa yang katakan, Alvindhar? Lamia tidak mungkin melakukan hal sebesar ini." setahu Orion, Lamia hanya membantu Ratu Cynzia untuk keluar dari Arcadia, bukan mencuri setengah dari Mezaluna.
"Tapi itulah kenyataannya, dan hal itu juga yang membuatku begitu sakit." Alvindhar berdiri menghadap sahabatnya yang masih tercengang.
"Apa Yang Mulia sudah gila?Apa dia tidak tahu, bencana mengerikan apa yang akan terjadi jika bunga kehidupan tidak lengkap. Bagaimana dia bisa disebut sebagai Ratu pelindung Arcadia? dan Lamia....mengapa dia harus terlibat." Orion semakin frustasi.
"Aku pikir Yang Mulia melakukannya untuk menyelamatkan sesuatu. Untuk saat ini, kita hanya bisa menunggu. Lamia dan Ratu Cynzia menggunakan setengah dari Mezaluna untuk hal mustahil. Tapi kita tidak tahu apa itu."
"Bagaimana jika yang diselamatkan adalah pembawa petaka?" wajah Alvindhar mengeras, ia teringat akan sesuatu.
"Apa kau lupa, saat penyerang tiga ratus tahun yang lalu bertepatan dengan kelahiran sang pangeran kegelapan. Dan setelah penobatannya sang ratu harus melenyapkan bayi kegelapan itu. Tapi tanpa diduga Moriquendi menyerang bahkan sebelum Yang Mulia dinobatkan. Semua benar-benar diluar dugaan."
Mereka berdua terdiam beberapa saat.
"Kita tidak tahu apa tujuan Ratu Cynzia mengambil setengah dari Mezaluna, untuk saat ini semuanya masih abu-abu. Yang bisa kita lakukan hanyalah bertahan dengan setengah Mezaluna."
Mezaluna tanpa pemilik sama saja menanam bunga tanpa adanya pot, mereka tidak akan selaras dan seimbang. Belum lagi para klan lain yang haus akan kekuasaan Arcadia. Bagi mereka siapa yang terkuat dialah yang akan memimpin para klan. Ketakutan itulah yang dirasakan klan Amarious maupun klan dewa murni. Meskipun kedua klan ini adalah klan tertinggi, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk menggulingkan mereka saat pemilik bulan sabit belum ditemukan. Pemberontakan dan penghianatan sudah terjadi di Arcadia sudah lebih dari tiga ratus tahun. Semua seakan semakin bertambah kacau. Lalu dimanakah sang Ratu berada? Mungkinkah ratu sudah benar-benar tiada?
Semua semakin bertambah rumit. Mereka berkelana dengan pikiran masing-masing.
"Kita harus kembali ke Arcadia." ucap Alvindhar dengan tegas.
"Untuk apa? Saat ini Arcadia sedang melemah. Kita pun para dewa tidak bisa berbuat banyak. Selama Ratu belum ditemukan, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya tempat yang bisa sedikit membantu adalah Nareus. Tapi saat ini Nareus masih tidak terlihat." kata Orion sambil berjalan ke arah batu di pinggir tebing.
Alvindhar baru menemukan jawaban Nareus menghilang bukan karena akibat ulah klan Moriquendi atau pun klan penyihir melainkan sebagian dari Mezaluna menghilang. Apalagi bunga kehidupan tidak sempurna hal itu juga berpengaruh terhadap tempat dimana bunga itu tumbuh.
"Tapi kita harus tetap kembali dan mencari Ratu. Kita harus menemukannya terlebih dulu sebelum Moriquendi."
Tanpa beralih dari tempatnya, Alvindhar ia lalu memejamkan mata. Cahaya biru bersinar terang mengelilingi tubuh Alvindhar dari ujung rambut hingga ujung kaki. Seketika itu juga pakaian ala manusia berubah menjadi pakaian kerajaan Ia mengenakan jubah berwarna putih biru seusai dengan kekuatan api es yang dimiliki.
Mata elangnya menyorot tajam pada sahabat yang sedari tadi tengah memperhatikan. "Kau mau ikut tidak?" celetuknya.
Sontak Orion menelan ludah dengan susah payah. Ia meringis tersenyum terpaksa. Kata-kata bukan terlihat seperti pertanyaan melainkan perintah. Apalagi dia sudah mengeluarkan tatapan itu, siapapun tidak akan berani menolaknya, bukan?
"Iya, iya baiklah." Dengan gontai Orion melangkah turun dari atas baru menghampiri Alvindhar yang sudah mulai berjalan.
" Lagi pula siapa yang berani menolakmu dengan tatapan seperti itu." gerutu Orion lagi sambil berjalan di belakang Alvindhar.
"Aku mendengarnya. " kata Alvindhar tanpa menatap Orion.
Seketika itu juga Orion gelagapan dan berlari mengejar Alvindhar yang semakin menjauh. Mereka berdua bukan hanya sekedar teman. Bahkan mereka sudah seperti saudara. Kesetiaannya pada Arcadia tercipta karena sang Ratu. Mereka menjunjung tinggi integritasnya karena Ratu yang selalu melindungi mereka meskipun tidak mampu. Karena itulah mereka juga akan berjuang dikala Arcadia sedang lemah dan tidak akan pernah lelah mencari keberadaan sang Ratu.
Lalu mereka pergi menuju tempat terjauh dari jangkauan manusia.