Chapter 8

2056 Kata
“Gimana? Kali ini kalian dapat apa lagi?” Pertanyaan Bimo menyambut kedatangan Rian dan Flora yang baru memasuki ruang musik. Wajah mereka berdua tampak biasa saja, seperti tak ada masalah besar yang mereka hadapi. Padahal sedari tadi Bimo, Kikan dan Alfi sudah begitu cemas menunggu mereka kembali dari ruang BP. “Cuma diskors seminggu,” balas Rian santai. “Makanya, sebelum ngelakuin sesuatu itu dipikir dulu,” omel Kikan. “Ya udah lah, yang penting gue puas udah bisa ngusir tu anak belagu,” sahut Flora pula. Alfi yang sedari tadi hanya diam menghela nafasnya sesaat sebelum angkat bicara. “Gue harap ini terakhir kalinya kalian cari masalah sama dia, masih untung kalian cuma diskors, gimana kalau kalian dikeluari?” Ucap Alfi mengingatkan. Rian dan Flora hanya tampak acuh mendengar seluruh perkataan dari teman-temannya. “Ya udah, bentar lagi udah mau masuk. Kalian balik ke kelas masing-masing, ntar malam kita latihan jam 7 di studio biasa,” ucap Alfi yang mendapat anggukan dari semuanya. Satu persatu mereka keluar dari ruang musik meninggalkan Alfi yang sedang membereskan beberapa alat musik yang sempat ia mainkan tadi. Kebiasaan Alfi yang selalu kerajinan membereskan ruang musik yang menjadi ruangan favoritnya di sekolah ini. Ruang musik sudah tertata rapi bahkan seperti tak tersentuh. Alfi tersenyum puas melihat hasil kerjanya namun sesaat kemudian diiringi kekehan kecilnya saat menyadari bahwa dirinya seperti berbakat dalam berbenah. Heii, bukan itu maksudnya, Alfi hanya tak suka melihat ruangan yang paling ia sukai di sekolah ini berantakan. Setelah selesai membereskan ruangan musik yang tidak memerlukan waktu yang lama itu, Alfi langsung bergegas menuju kelasnya. Diliriknya jam di ponselnya diiringi hembusan nafas lega, ia tak akan terlambat masuk ke dalam kelas. Saat kaki Alfi melangkah memasuki kelas, pandangan yang ia lihat sangat beragam di setiap sudut ruang kelas itu. Ada beberapa orang yang sibuk membolak-balikkan bukunya, ada pula yang sedang membuat sebuah jimat di atas kertas kecil yang ia yakini merupakan salinan berbagai macam rumus, dan ada pula yang memilih untuk tak acuh seolah tak akan terjadi apa-apa. Begitu banyak pilihan tindakan yang dilakukan teman sekelasnya, Alfi pun memilih pilihan ke tiga yaitu bersikap tak acuh. Bukannya tak peduli bahwa sebentar lagi mereka akan melakukan ulangan fisika, pelajaran yang akan membuat mereka memutar otak, mengaduk-aduk rumus mencari jawabannya, hanya saja Alfi merasa bahwa kemarin malam ini sudah cukup belajar. Alfi  memang bukan siswa yang sangat pandai, namun ia juga tak begitu bodoh, bisa dibilang biasa saja. Hal ini dikarenakan Alfi jauh tertarik dengan musik dari pada pelajaran akademik mana pun. Alfi melangkah menuju kursinya, matanya sedikit menyipit saat melihat bagian di sebelah kursinya kosong. Ke mana gadis itu? “Prillia mana?” Mungkin dengan bertanya dengan salah satu teman kelasnya yang duduk di belakang Alfi dan Prillia dapat menjawab kebingungan Alfi. “Lo kayak gak tau dia aja,” jawaban singkat gadis berkacamata yang Alfi tanya itu langsung menyadarkan Alfi satu hal. Prillia tak mungkin ada di kelas saat ini. Alfi mengurungkan niatnya untuk duduk di kursinya, ia melirik bangku yang akan diduduki pak Candra selaku guru fisika yang masih kosong. Mungkin ia masih punya waktu. Tanpa berpikir panjang, Alfi langsung bergegas kembali keluar dari kelas. Tujuan utamanya hanya 1, kantin! Ke mana lagi gadis si pemaksa itu berada disaat akan menghadapi ulangan kalau bukan di kantin. Alfi sempat menggerutu kesal di perjalanan. Kapan gadis itu akan berubah. “Lo pikir baju gue bisa kering hanya dengan ucapan maaf lo?” “Maaf kak, aku bener-bener gak sengaja.” “Lo tunggu in aja ya besok surat pengeluaran lo dari sekolah ini.” Samar-samar Alfi mendengar suara gaduh dari arah kantin. Saat memasuki kantin pemandangan Prillia yang sedang berdiri begitu angkuh di depan 3 orang siswi yang sedang menunduk takutlah yang ia dapati. “Ada apaan sih?” Tanya Alfi. Prillia yang sedari tadi memandang geram orang yang sudah mencari gara-gara padanya langsung menoleh pada Alfu yang entah sejak kapan berada di sampingnya. “Lo liat nih baju gue kotor gara-gara ni bocah,” balas Prillia kesal. “Maaf kak, aku benar-benar gak sengaja. Aku sama teman-teman lagi buru-buru soalnya udah bel,” jelas salah satu dari ketiga siswi itu. Alfi melirik jus jeruk di tangannya, mungkin jus jeruk itu yang tumpah ke baju Prillia. “Ya udah kalian masuk sana,” Prillia yang sedang memperhatikan bajunya yang basah mendongakkan wajahnya tak percaya dengan apa yang Alfi katakan. “Tap...” “Buruan masuk, kalian bisa kena hukum kalau telat masuk,” Alfi menyela ucapan Prillia yang ia yakini akan melontarkan protes atas tindakannya. Ketiga siswi itu mengangguk canggung dan segera berlalu dari hadapan Alfi dan Prillia. Mereka bernafas lega, bagi mereka kedatangan Alfi menyelamatkan mereka yang seolah sedang terkurung di kandang macan yang terdapat macan betina yang sangat lapar dan siap menerkam mereka. “Lo apa-apaan sih,” protes Prillia tak terima. “Lo yang apa-apaan. Dia kan gak sengaja, gak usah di perpanjang dong.” “Tapi baju gue jadi basah, dia harus dapat hukuman.” “Gimana orang mau suka sama lo dan bersahabat sama lo kalau sikap lo kayak gini,” ucapan Alfi itu membuat Prillia terdiam sesaat. Prillia mengalihkan pandangannya dari Alfi. Ia tahu tak ada yang ingin bersahabat dengannya, lalu ia harus peduli? Prillia berlalu dari hadapan Alfi dan duduk di sudut kantin. Kantin kelihatan sangat sepi, wajar saja karna sudah bel sejak tadi. Alfi menghela nafas sejenak kemudian mengikuti Prillia dan duduk di samping Prillia. “Lo kenapa gak masuk?” Tanya Alfi membuka suara. “Gue gak ikut ulangan nilai gue juga bakal bagus kok kalau gue mau. Mending lo yang masuk deh,” balas Prillia santai. “Gue gak mau tau pokoknya lo juga harus masuk,” Alfi menarik pelan pergelangan tangan Prillia namun segera dicegah oleh gadis itu. “Lo gak lihat baju gue kotor gini? Udah lo aja yang masuk, gue mau makan.” “Ntar kita ke koperasi buat ambil seragam baru buat lo.” “Oke, tapi ada satu syarat,” Alfi menautkan alisnya mendengar ucapan Prillia. “Apa?” “Malam ini lo harus ke rumah gue.” Alfi mengembuskan nafas kasar. Gadis ini akan mulai mengajaknya berdebat lagi. “Gue gak bisa, ntar malam gue mau latihan band.” “Pokoknya harus bisa, gue tunggu lo di rumah,” ucap Prillia tetap memaksa. “Gue gak bisa.” “Harus bisa Alfi Arkayuda, lo gak akan pernah bisa nolak permintaan gue. Pokoknya malam ini lo harus dateng ke rumah gue atau gue bakal coret-coret lagi nih kantin,” ancam Prillia. “Gue bilang gak bisa ya gak bisa,” Alfi bangkit dari duduknya setelah menolak tegas permintaan Prillia. “Lo kenapa sih di ciptakan menjadi manusia yang sangat egois? Gue harus latihan ntar malam karna persiapan band kami buat festival belum matang. Gue udah terlalu banyak ngabisin waktu gue sia-sia buat lo. Sekarang TERSERAH lo mau ngelakuin apa pun kalau lo masih mau bertahan sama sikap egois lo, gue capek,” Alfi mengucapkan kata-katanya penuh penekanan kemudian berlalu dari hadapan Prillia. Prillia menatap nanar kepergian Alfi. Dadanya terasa sesak, apakah ia seegois itu di mata Alfi? “Malah gue bersyukur diciptakan sebagai manusia yang sangat egois. Karena hanya keegoisan gue yang bisa mengikat huruf A sesempurna lo,” ucap Prillia lirih sembari menyeka kasar air matanya yang entah sejak kapan sudah jatuh. *** “Maaf ya kak baru sempat datang.” “Di kantor lagi banyak kerjaan.” “Kakak udah makan?” Daniel menghembuskan nafas kasar saat tak ada sahutan. Di hadapannya kini memang ada seseorang, bahkan seseorang itu sedang menatapnya, namun ia seakan-akan tak mendengar dengan apa pun yang Daniel ucapkan sedari tadi. Walaupun ia menyahut, pasti sahutannya tak ada hubungannya dengan apa yang Daniel katakan. Daniel menyesal tak punya banyak waktu untuk menjenguk salah satu wanita yang berarti dalam hidupnya. Kesibukan Daniel di kantor lah yang membuatnya jarang sekali kesini, belum lagi sejak membeli sekolah di mana gadis kecilnya bersekolah untuk membuat gadis kecil itu nyaman membuat fokusnya juga harus terbagi. “Kalau mainnya di petik namanya? Hayooo apa? Gak bisa jawabkan? Emang susah ini pertanyaannya,” wanita itu tertawa sembari menunjuk Daniel. Mungkin dia sedang menertawakan Daniel. Daniel menatap Sonya iba. Harus sampai kapan kakaknya dalam keadaan seperti ini? Ia rindu mata itu memancarkan kasih sayang padanya dan juga tentunya pada Prillia. “Permisi,” Daniel mendongakkan wajahnya saat mendengar suara lembut itu. “Ibu Sonya sudah waktunya minum obat.” Daniel bangkit dari duduknya memberikan ruang pada Fara untuk memberikan obat pada Sonya. Daniel tersenyum kecil saat melihat Fara dengan sabarnya membujuk Sonya untuk meminum obatnya, karna bukan hal yang mudah untuk memberikan obat pada Sonya. “Maaf mengganggu ya Pak,” ucap Fara saat sudah selesai memberikan obat pada Sonya. Daniel berdecak kesal mendengar ucapan dokter cantik di hadapannya. Ia tak pernah berubah. “Aku gak setua itu buat dipanggil pak. Udah sering aku bilang kan, panggil aku Daniel aja,” ucap Daniel mengingatkan. “iya Daniel, maaf,” Daniel tersenyum puas mendengar perubahan Fara dalam panggilannya.  “Mau makan siang bareng?” Tawar Daniel. “Maaf aku masih banyak pasien, lain kali aja ya. Aku permisi dulu,” tolak Fara halus kemudian berlalu dari Daniel. Daniel tersenyum kecil melihat kepergian Fara. Cukup susah mendekati dokter cantik itu. Apa pesonanya tak mempan untuk Fara? Biasanya tak ada wanita yang mampu menolak pesonanya. Daniel kembali mendekati Sonya. Sepertinya ia tak bisa berlama-lama di sini. Saat ia mengingat sesuatu yang sangat tidak boleh ia lupakan membuat Daniel harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia harus pulang lebih awal hari ini. *** Alfi melirik kesal ke arah jam dinding yang berada di dinding studio. Ke mana mereka semua? Kebiasaan sekali mengulur-ulurkan waktu. “Sorry telat bro, macet parah,” Alfi menatap malas ke arah Rian dan Bimo yang baru memasuki studio. “Sorry banget Al, telatnya gak lama kan?” Tak lama Flora dan Kikan juga memasuki studio. “Lo semua biasa banget ya, udah ah buruan siap-siap,” balas Alfi dengan nada kesalnya. “Gue kira lo gak bakal dateng al,” ucap Kikan membuat alfi menautkan alisnya. “Emangnya kenapa gue gak bisa datang? Bukannya kita emang udah janjian buat latihan.” “Ya soalnya gue pikir dihari biasa aja Prillia bakal mengikat lo muluk buat sama dia, apalagi di hari ulang tahunnya,” ucapan Kikan itu sukses membuat Alfi yang sedang menyetel gitarnya menatap Kikan bingung. Tak jauh berbeda dari Alfi, Rian, Bimo dan Flora pun menatap Kikan bingung.  “Maksud lo?” Tanya Alfi. “Lo gak tau? Hari ini kan Prillia ulang tahun, bulan kelahiran lo sama kali sama dia. Emangnya dia gak kasih tau lo atau ngajak lo ke mana gitu?” Tanya Kikan. Alfi terdiam mendengar penuturan Kikan. Jadi hari ini Prillia ulang tahun? Apa ini alasan gadis itu tadi siang memaksa Alfi untuk ke rumahnya? Kenapa Alfi tak tahu bahwa ia ulang tahun? Sebegitu tak peduli kah Alfi akan gadis itu?  “Ya iyalah Alfi gak tau. Kalau deketin orang cuma karna terpaksa mah gak harus tau apa-apa tentang dia. Biar aja dia ngerayain sendiri, gak ada yang tau juga kan dia ulang tahun kapan,” ucap Flora diiringi tawa meremehkannya membuat Rian ikut tertawa. “Lo kok bisa tahu Kan?” Tanya Rian. “Gue gak sengaja baca di data buat camping waktu itu,” balas Kikan. Alfi masih setia dengan diamnya. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Apa Prillia sangat mengharapkan kehadirannya di ulang tahunnya? Apa yang sedang gadis itu lakukan sendiri di ulang tahunnya? “Kalau lo udah memutuskan buat terikat sama seseorang walaupun bukan lo yang sengaja mengikatnya, lo harus banyak tau tentang seseorang yang sedang terikat sama lo. Cuma lo yang dia punya, dan dia pikir mungkin cuma lo yang peduli. Jangan bikin dia merasa apa yang dia pikirkan selama ini salah. Gue yakin lo tahu apa yang harus lo lakuin bro,” bisik Bimo pelan sembari menepuk pelan pundak Alfi. “Kenapa jadi pada diam gini sih? Jadi latihan gak nih?” Pertanyaan Rian itu sontak membuat Alfi terjaga dari lamunannya. Alfi mengusap wajahnya kasar berharap sesuatu yang mengganggu pikirannya dapat lenyap, sesaat kemudian ia kembali fokus pada gitarnya. “Ya udah yuk mulai latihan,” ucap Alfi membuat teman-temannya dengan bersemangat langsung mengambil posisi di balik alat musiknya masing-masing. Bimo menggeleng pelan melihat sikap Alfi. Ternyata ucapannya tak berpengaruh apa-apa pada Alfi.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN