“Apa kabar Prill?”
“Baik dan masih tetap cantik,” balasan Prillia itu membuat ia dan seorang wanita yang sedang duduk di hadapannya sama-sama tertawa.
“Kamu nih bisa aja.”
“Gimana dok perkembangan mommy?” Tanya Prillia Wanita di hadapan Prillia itu tampak membolak-balikkan buku catatannya. Kini Prillia sedang berada di dalam ruangan dokter pribadi yang selama ini memantau perkembangan ibunya. Dokter Fara Angela, psikiater muda yang selama ini selalu memberi perkembangan tentang ibu Prillia. Setiap bulan Prillia selalu menghampiri dokter Fara untuk mengetahui perkembangan ibunya.
“Mommy kamu dalam bulan ini keadaannya stabil.”
“Hanya stabil? Apa gak ada kemajuan dok?” Tanya Prillia.
“Stabil itu sudah dalam keadaan yang sangat baik Prill, setidaknya sekarang mommy kamu terlihat lebih tenang. Jauh berkembang kan dari yang dulu.”
“Tapi mommy masih gak bisa diajak ngobrol dok, aku udah setiap hari ajak mommy ngobrol, tapi kayaknya mommy gak pernah peduli. Apa mommy tau kalau aku anaknya? Atau selama ini mommy cuma anggap aku orang asing?” Tanya Prillia terdengar frustrasi.
Fara menatap iba pada gadis di hadapannya itu. Fara selalu kehabisan akal bagaimana cara menjelaskan kondisi ibu Sonya, mommy dari Prillia agar gadis itu tak terbebani. Gadis ini terlalu peka untuk mengetahui bahwa ibunya belum dalam keadaan yang baik-baik saja.
“Semuanya butuh waktu Prill, kamu harus sabar. Mommy kamu cuma butuh waktu.”
“Mau sampai kapan dok? Aku juga mau mommy tau kalau selama ini mommy punya aku,” suara Prillia kini terdengar bergetar. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya membuat Fara menjadi tidak tega. Fara bangkit dari duduknya menghampiri Prillia, diusapnya punggung Prillia seolah memberi kekuatan pada gadis itu.
“Kamu udah berjuang sejauh ini, percaya Prill gak ada yang sia-sia. Suatu saat kamu bakal dengar mommy kamu manggil nama kamu,” Prillia mendongakkan wajahnya menatap Fara dengan air mata yang entah sejak kapan sudah membanjiri pipinya.
Fara menarik Prillia lembut ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya. Ia paham bahwa hal ini tak mudah dijalani orang anak seumuran Prillia. Baginya Prillia sudah sangat kuat dan ia berharap gadis itu akan selalu kuat.
***
Prillia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Dirabanya bagian pipi dan matanya untuk memastikan tak ada air mata yang tersisa. Ia tersenyum kecil saat melihat ibunya sedang duduk di kursi tempat ia biasa duduk. Entah kenapa Sonya sangat suka duduk di sana, setiap hari ia habiskan untuk duduk di bawah pohon dengan berdiam diri dan tatapan yang kosong. Hanya sesekali ia terdengar bergumam tak jelas.
“Udah waktunya mommy istirahat, Prillia antari ke ruangan mommy yuk,” ajak Prillia berlutut di hadapan ibunya sembari menggenggam tangan Sonya. Sonya melirik Prillia sembari menautkan alisnya. Ia selalu memperlihat ekspresi seperti ini pada Prillia, ekspresi seolah ia merasa asing dengan wajah seseorang yang setiap hari menghampirinya.
“Kamu ini siapa sih? Samperi terus. Kalau pangeran bergitar yang datang baru aku mau,” Sonya bangkit dari duduknya menatap Prillia sinis kemudian berlalu dari Prillia.
Prillia menundukkan kepalanya menahan sesak di dadanya, namun sesaat kemudian ia bangkit dari posisinya menyusul Sonya. Prillia dapat bernafas lega ternyata Sonya berjalan menuju ruangannya. Mungkin karna sudah terlalu lama di sini Sonya sudah mulai hafal letak ruangannya.
***
Prillia memasuki rumahnya, seperti biasa rumah besar ini terlihat selalu sepi. Setelah menjenguk ibunya di rumah sakit jiwa tadi, Prillia memutuskan untuk langsung pulang. Baru Prillia beberapa langkah memasuki rumahnya, mata Prillia berbinar saat melihat seseorang yang tampak sedang duduk di ruang santai sembari sibuk dengan berkas-berkasnya. Akhirnya!! Pekik Prillia dalam hati. Prillia berlari menghampiri pria tampan itu kemudian langsung memeluknya dari belakang. Pria itu tampak tersentak kaget, namun sesaat kemudian ia tersenyum saat melihat gadis kecilnya sedang menyembunyikan wajahnya di lehernya. Pria itu langsung mengemasi file-file yang sedari tadi mencuri perhatiannya kemudian memfokuskan dirinya pada gadis kecilnya itu.
“I really miss you Pi,” bisik Prillia yang terdengar manja. Pria itu tertawa kecil mengelus tangan Prillia yang melingkari lehernya.
“Yes, me too Princess,” balasnya.
“Sini duduk,” pria itu menepuk-nepuk bagian sofa di sampingnya. Prillia melepaskan pelukannya dan duduk di samping pria itu yang tak lain adalah papinya, Daniel Zafrael.
“Kayaknya nemuin Papi lebih susah dari pada nemuin presiden ya,” Daniel terkekeh kecil mendengar ucapan gadis kecilnya itu. Sementara Prillia mengerucutkan bibirnya kesal.
“Maaf ya Princess, papi benar-benar lagi sibuk, banyak perusahaan cabang yang harus papi pantau."
“Ya... ya... ya... Prillia paham.”
“Kamu habis jengukin mommy?” Tanya Daniel yang langsung dibalas Prillia dengan anggukan.
“Tadi Prillia juga udah ketemu sama dokter Fara buat nanyain keadaan mommy dan kata dokter keadaan mommy stabil,” jelas Prillia membuat Daniel mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
“Papi besok pagi deh jengukin mommy.”
“Jengukin mommy atau ketemu dokter Fara?” Tanya Prillia dengan senyum jailnya. Prillia menaik turunkan alisnya menggoda Daniel yang tampak salah tingkah.
“Hayoo jawab, Papi pasti mau modusin dokter Fara kan? Dasar playboy cap kaki tiga! Kemarin jalan sama model, terus kemarinnya lagi sama pemain sinetron. Awas ya kalau Papi PHP in dokter Fara, dia itu cewek baik-baik,” ancam Prillia.
Daniel tertawa geli melihat ekspresi gadis kecilnya yang sangat menggemaskan setiap kali mengancamnya untuk tak mempermainkan dokter kesayangannya itu. Tangan Daniel terulur untuk mengacak-acak rambut Prillia membuat Prillia memekik kesal. Selalu saja rambutnya yang menjadi sasaran gemas Daniel.
“Jangan salahkan papimu ini Princess yang terlalu tampan, salahkan wanita-wanita itu yang terlalu gampang jatuh ke pesona papi,” ucap Daniel santai membuat Prillia mencibir. Percaya diri sekali, ya walaupun Prillia akui ia memang tampan, bahkan sangat tampan. Namun bagi Prillia, Daniel tak ada apa-apanya dibandingkan dengan Alfi.
“Gimana sama sekolahnya? Ada yang membuat Princess papi gak nyaman?” Tanya Daniel membantu Prillia yang terlihat masih membenarkan rambutnya yang tadi menjadi sasaran gemasnya.
“Sekolahnya biasa aja, dan Prillia mau kasih pelajaran sama 2 orang yang udah cari gara-gara sama Prillia. Bolehkan Papi?” Tanya Prillia.
“Permintaan kamu sangat mustahil untuk ditolak sayang, lakukan apa pun yang membuat kamu bahagia,” balas Daniel mengelus rambut Prillia penuh sayang.
Prillia tersenyum senang kemudian memeluk Daniel erat. Walaupun ia tak punya banyak waktu yang bisa dihabiskan bersama Daniel, namun Prillia merasa selalu suka saat-saat seperti ini. Mendapat perhatian kecil seperti ini dari Daniel saja dan semua permintaannya terkabul rasanya sudah cukup, Prillia juga paham Daniel memiliki kesibukan sendiri.
“Sekarang kamu mandi dan siap-siap, abis itu kita makan bareng di luar. Papi mau ngedate sama pacar kecil papi,” ucap Daniel. Prillia mendongakkan wajahnya dengan tatapan berbinar mendengar ucapan Daniel. Makan di luar? Yang benar saja. Ini sesuatu yang sangat langka.
“Serius Pi?”
“Yes, Princess,” Daniel mencolek hidung mancung Prillia membuat senyum gadis itu makin merekah.
“Oke, pacar kecil papi ini akan dandan secantik mungkin. I love you Pi,” Prillia mencium singkat pipi Daniel kemudian langsung berlari dengan semangat ke kamarnya.
Daniel menggeleng kecil melihat tingkah gadis kecilnya itu. Baginya kebahagiaan Prillia adalah segalanya. Jika bisa, rasanya ia ingin membeli dunia ini dan memerintahkan seisi dunia ini untuk membuat gadis kecilnya selalu bahagia. Terkadang ia merasa bersalah tak mempunyai banyak waktu untuk Prillia. Selain di sibukkan dengan pekerjaannya sebagai pengusaha sukses, terkadang naluri jiwa mudanya membuat ia masih ingin bersenang-senang. Hei! Daniel belum setua yang kalian pikirkan.