Chapter 6

1344 Kata
“Kita sekarang memasuki acara terakhir kita sebelum kita pulang besok yaitu mencari jejak. Sebenarnya ini bukan sekedar mencari jejak aja tapi juga menambah wawasan. Gue dan tim udah sebar beberapa clue yang berhubungan sama ekskul kalian masing-masing. Kalian harus mengumpulkan setiap clue buat jawab pertanyaan di clue terakhir. Mengerti?” Tanya Alfi. “Mengerti,” sahut mereka semua.  “Gue gak mau ikutan,” ucap Prillia membuat semua orang terfokus padanya. “Lo harus ikutin agenda apa pun yang ada di sini,” balas Alfi menatap Prillia tajam. “Tauk, semuanya aja lo gak mau ikut, terus ngapain lo ikut camping?” Tanya Rian. “Mau nemplokin Alfi muluk lo?” Timpal Flora pula. Walaupun begitu banyak yang tak suka Prillia, Rian dan Flora lah yang kadang berani secara frontal memperlihatkan bahwa mereka tak suka. Mereka tak pernah peduli jika Prillia mengadukan mereka pada ayahnya. Bahkan Rian dan Flora sudah menjadi langganan guru BP untuk menghadapi masalahnya dengan Prillia. “Lo berdua bisa diam gak? Mau gue ikut atau enggak bukan urusan lo,” balas Prillia tak kalah sengit. “Udah... udah, kalian kenapa jadi ribut sih?” Lerai Bimo. “Dia aja tuh yang mulai duluan, oh jangan bilang lo takut berkeliaran di hutan buat cari clue? Macan masa takut sama habitatnya,” ucap Flora dengan nada menyindir.  “Lo nyindir gue? Lo pikir gue takut. Gue bakal cari clue itu sendiri,” balas Prillia tak terima. “Silakan, tapi kalau lo gak berhasil, lo harus pulang ke Jakarta hari ini juga,” tantang Rian. Semua yang ada di situ menatap Rian tak percaya. Satu hal yang mereka pikirkan, bagi mereka Rian sangat berani menantang si gadis pembuat masalah itu. Terlebih lagi Alfi, ia yang sedari tadi diam menunggu waktu yang pas untuk menyudahi pertengkaran mereka merasa tak percaya dengan ucapan Rian. “Oke,” balas Prillia kemudian berlalu dari mereka semua memasuki hutan yang sudah diberi petunjuk jalan. Alfi menatap kepergian Prillia tak percaya, dalam hati ia menyalahkan gadis itu yang terlalu mudah menerima tawaran Rian. “Lo apa-apan sih,” ucap Alfi pada Rian. “Udah lah, kita liat aja sampai kapan sih dia betah dengan sifat sombongnya dia, yuk ah jalan,” ucap Rian kemudian diikuti anggota yang lain. Hutan yang cukup luas sudah di bagi sesuai dengan ekskul masing-masing. Namun anggota yang tergabung dalam ekskul teater tetap tinggal di tenda karna Prillia lah yang akan mencari clue mereka. *** Prillia menggerutu di sepanjang perjalanan, sudah cukup lama ia mengelilingi hutan ini namun tak ada satu pun clue yang ia dapat. Sebenarnya di mana mereka menyembunyikan clue itu? Belum lagi hari yang semakin sore membuat hutan terlihat lebih gelap. Sesekali Prillia menggaruk tangannya yang di gigit nyamuk. “Makanya jangan ke bawa emosi dan langsung terima tawaran bodoh kayak gitu,” suara itu membuat Prillia menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Ia mendapati Alfi sudah berada di belakangnya. “Teman lo itu ngeselin tau gak.” “Udah tau Rian orangnya emang gitu, masih aja diladenin. Udah lah balik tenda aja yuk,” ajak Alfi. “Lo mau gue diketawai sama mereka semua?” “Udahlah, clue nya emang gak ada kan. Ntar gue yang bilang sama mereka.” Tanpa menunggu jawaban dari Prillia, Alfi langsung menarik tangan Prillia untuk mengikutinya keluar dari hutan. *** “Dia gak bakal dapat apa-apa lah. Gue sama Rian kan udah cabut semua clue nya, jadi kalian tenang aja malam ini dia gak bakal ada lagi di sini,” langkah Alfi dan Prillia terhenti saat mendengar suara yang ia yakini adalah suara milik Flora. Setelah itu mereka mendengar suara sorakan riuh dari peserta yang lain. Prillia mengepalkan tangannya erat-erat. Matanya menatap tajam pada orang-orang yang sedang berkumpul di depan tenda. Alfi menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Dengan emosi yang sudah memuncak Prillia langsung menghampiri sekumpulan orang-orang itu. “Cara lo emang benar-benar kampungan banget ya. Begitu kepinginnya gue pergi dari sini? Oke! Gue pergi,” ucap Prillia kemudian memasuki tendanya mengambil kopernya. “Oh iya satu lagi. Buat pecundang kayak lo berdua, tunggu aja ya surat panggilan dari sekolah.” Setelah mengucapkan itu Prillia langsung berlalu dari hadapan mereka semua. “Bodo amat, gue gak takut,” pekik Flora. “Yeayyy dia pergi,” sorak yang lainnya. “Gue gak menyangka cara kalian senorak ini,” ucap Alfi yang terdengar kecewa kemudian langsung mengejar Prillia.  “Prill,” panggil Alfi. Prillia sama sekali tak menghiraukannya dan terus saja berjalan menuju mobilnya. “Prill,” panggil Alfi lagi menahan Prillia yang sudah akan masuk ke dalam mobilnya. “Apa? Ngapain lo disini? Harusnya lo kan senang-senang sama teman-teman lo.” Ucap Prillia. Alfi dapat melihat mata gadis itu berkaca-kaca walaupun ia masih tetap berusaha biasa saja. Alfi tak habis pikir kenapa temannya bisa melakukan hal itu. Ia tahu Prillia menyebalkan, tapi bukan seperti ini caranya. “Lo gak harus pergi. Besok kita pulang sama-sama.” “Maksud lo gue harus balik sama mereka gitu? Lo pikir dong Al, bahkan mereka ngelakuin segala cara buat ngusir gue.” “Gue janji bakal negur mereka. Lo gak mungkin balik ke Jakarta sendiri, ini udah hampir malam,” bujuk Alfi. Prillia mengalihkan pandangannya dari Alfi saat merasa matanya mulai berkabut menahan sesuatu. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat menahan sesuatu itu keluar dari matanya. Alfi yang tak tega langsung membawa gadis itu ke dalam pelukannya. “Mereka jahat Al,” bisik Prillia lirih. “Gue mau pulang,” ucap Prillia lagi. “Oke kita pulang sekarang ya,” ucap Alfi akhirnya yang dibalas Prillia dengan anggukan pelan. *** Mobil yang Alfi kendarai terparkir sempurna di depan halaman sebuah rumah yang sangat besar itu. Bahkan mungkin di depan halaman ini bisa terparkir puluhan mobil sangkin besarnya. Cahaya lampu di hampir setiap sudut di bagian depan rumah ini langsung menyambut mereka. “Yakin gak mau dimasuki ke dalam garasi aja mobilnya?” Tanya Alfi lagi mengulang pertanyaannya beberapa saat yang lalu. “Udah di sini aja, lo itu bukan sopir gue,” balas Prillia acuh kemudian keluar dari mobilnya. Alfi hanya berdecak kesal kemudian ikut keluar menyusul Prillia. Prillia menyandarkan tubuhnya di samping mobil sembari menunggu Alfi mengambil motornya yang sejak kemarin berada di rumah Prillia. Sesekali Prillia mengusap lengannya yang sudah mulai merasakan angin malam yang menusuk tulangnya. Akibat perjalanan pulang yang cukup macet membuat mereka sampai malam hari.  “Gue pulang ya,” pamit Alfi yang sudah ada di hadapan Prillia. “Hati-hati ya, atau lo mau mampir dulu? Kan capek tadi nyetir.” “Gak usah deh gue langsung pulang aja. Oh iya, gue mewakili Rian sama Flora minta maaf ya soal yang tadi.” “Lo gak perlu minta maaf, lo berdoa aja semoga teman-teman norak lo itu gak dikeluari, karna kalau mereka dikeluari lo bakal susah buat nyari anggota band yang baru. Tapi kayaknya lebih seru kalau dikeluari deh,” Prillia tersenyum sengit membayangkan apa yang akan ia lakukan kepada kedua orang yang sudah sangat berani berurusan dengannya itu. Alfi tampak gelisah mendengar ucapan Prillia. Bagaimana jika Prillia benar-benar mengeluarkan mereka? Bagaimana pula nasib festival mereka? Aarghhh!! Alfi merutuki kebodohan kedua temannya itu yang selalu mengutamakan kepuasannya melawan Prillia. Prillia menautkan alisnya saat melihat raut kecemasan di wajah Alfi, namun sesaat kemudian Prillia sadar dari mana berasal kecemasan itu. “Lo kasih tau teman lo, lain kali pikir dulu sebelum berbuat. Mereka gak lupa kan lagi berhadapan sama siapa.” “Ya... ya... ya... Prillia Pricillia,” balas Alfi dengan nada menyindir kemudian langsung memakai helmnya. “Hati-hati ya, jaga diri lo buat gue. Gue bakal beli aspal di Jakarta ini kalau sampai lo kenapa-kenapa,” ucap Prillia sebelum Alfi menyalakan motornya. Alfi terkekeh geli mendengar ucapan Prillia yang menurutnya aneh itu. “Udah masuk sana, di luar dingin.” “Lo takut gue sakit?” “Gue cuma kasihan anginnya salah masuk ke dalam tubuh cewek ngeselin kayak lo,” balas Alfi santai kemudian melajukan motornya. Prillia mengerucutkan bibirnya kesal menatap kepergian Alfi. Mengapa lelaki itu sangat menyebalkan dan tidak romantis? Prillia mengentak-entakkan kakinya kemudian memasuki rumahnya sambil terus menggerutu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN