alfi berlari tergesa-gesa dengan pandangan yang terus beredar mengamati setiap sudut di sekitarnya. Perasaan kesal dan khawatir bercampur menjadi satu. Namun akhirnya Alfi dapat bernafas lega saat melihat seseorang yang sedang duduk di rerumputan dengan pandangan lurus ke depan. Walaupun orang itu sedang membelakanginya, Alfi bisa memastikan bahwa dia lah yang ia cari. Apalagi dengan jaket yang ia pakai membuat Alfi makin yakin bahwa gadis itu adalah Prillia. Alfi menghampiri Prilia yang tampak hanya termenung, dan sepertinya Prillia sama sekali tak menyadari kehadiran Alfi. Bahkan saat Alfi duduk di sampingnya, gadis itu sama sekali tak bergeming.
“Lo bisa gak sih kalau mau pergi itu bilang-bilang dulu? Lagian ini cukup jauh dari tenda. Kalau lo kenapa-kenapa bisa habis gue sama bokap lo,” ucapan Alfi itu berhasil membuat Prillia mengalihkan pandangannya pada Alfi.
“Bisa gak lo nyariin gue bukan karena lo takut sama bokap gue tapi karena emang lo peduli dan khawatir?” Alfi sempat terdiam mendengar balasan dari Prillia. Gadis itu kini tengah menatapnya sendu. Alfi merasa tatapan gadis itu menembus matanya dan langsung membawa arti tatapan itu ke dalam hatinya yang berefek nyeri di sekitar dadanya yang Alfi rasakan. Alfi tertunduk sejenak melepaskan kontak mata dengan Prillia, sesaat kemudian ia kembali menatap Prillia.
“Ini masih pagi banget Prill, lo ngapain sih malah kesini? Di sini dingin banget, liat deh lo pucat,” Alfi baru menyadari bahwa bibir gadis yang biasa selalu mengucapkan kata-kata paksaan padanya yang biasa ia lihat berwarna merah muda alami kini tampak memutih. Prillia tersenyum kecil mendengar ucapan Alfi. Tiba-tiba Alfi menggenggam kedua tangannya dan menggosok-gosokkan tangan mereka berusaha membuat Prillia merasa hangat.
“Lo tau gak, gue di sini merasa kayak ikan yang harus beradaptasi sama padang pasir. Asing dan gak akan mungkin bisa menyatu,” ucap Prillia pelan melepaskan tangannya dari Alfi kemudian kembali menatap lurus ke arah danau. Alfi menghela nafas sejenak kemudian ikut menatap lurus ke arah danau. Alfi mengerti apa maksud dari ucapan Prillia.
“Sejak awal lo masuk ke sekolah kita, harusnya lo udah tau kalau lo bakal masuk ke padang pasir. Kenapa lo memilih jadi ikan? Lo bisa aja jadi unta atau kaktus yang bisa bikin lo gak ngerasa asing karena itu memang tempatnyakan?”
“Kenapa gue harus jadi unta atau kaktus kalau saat gue masuk yang gue temui bukan padang pasir tapi air yang tenang.” Alfi melirik Prillia sesaat dan ia melihat sudut bibir gadis itu tertarik membentuk seulas senyuman.
“Gue memang sekarang ikan yang dikelilingi padang pasir. Tapi gue bersyukur setidaknya gue punya air yang akan selalu buat gue bertahan di antara padang pasir, dan air itu adalah elo,” Prilia kembali menatap manik mata Alfi.
“Gue air yang sengaja lo seret buat membantu lo bertahan di padang pasir,” balas Alfi membuat Prillia tertawa. Ucapan Alfi membuat Prillia tersadar bahwa semuanya terjadi memang akibat dari paksaannya. Namun jika dengan cara memaksa ia bisa membuat Alfi tetap bersamanya, kenapa tidak? Untuk beberapa saat mereka sama-sama terdiam. Entah sudah berapa lama Prillia berada di sini sebelum kedatangan Alfi. Prillia merasa selalu tidak nyaman melihat orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itulah Prillia memilih untuk berada di sini, suasana yang tenang membuatnya nyaman, namun dengan kedatangan Alfi kini rasa nyaman itu makin bertambah besar.
Prillia tertunduk melihat ranting-ranting pohon yang berjatuhan di rerumputan itu. Tiba-tiba senyum Prillia merekah saat mengingat sesuatu. Prillia bangkit dari duduknya kemudian mulai mengumpulkan beberapa ranting. Alfi menautkan dahinya heran melihat gerak-gerik Prillia. Setelah dirasa cukup, Prillia kembali duduk di tempatnya semula dengan membawa beberapa ranting ditangannya. Alfi menatap Prillia sembari menunggu apa yang akan gadis itu lakukan.
Prillia tampak mulai sibuk dengan ranting-ranting pohonnya, ia merangkai ranting itu satu demi satu. Perlahan Alfi mulai menyadari apa yang gadis itu lakukan. Apalagi saat melibat kini ranting itu sudah terangkai menyerupai huruf A dan P. Alfi menggeleng kecil sembari tersenyum melihat gadis itu yang menepuk tangannya kegirangan saat kegiatan anehnya itu selesai.
“Liat deh al huruf A ini,” Prillia menunjuk huruf A yang ia rangkai membuat Alfi ikut memperhatikannya.
“Huruf A itu kelihatan sempurna banget ya. Walaupun gak seistimewa huruf O yang gak ada putusnya, tapi dia adalah huruf yang berdiri sangat kokoh dengan dua penyangga. Sekarang lo lihat huruf P itu,” pandangan Prillia beralih menatap huruf P diikuti oleh Alfi.
“Huruf P itu jauh berbeda dari A yang terlihat kokoh, bahkan dia cuma punya satu penyangga, padahal lo bisa lihat sendiri kan beban dia lebih besar. Tapi hebatnya dia, dia juga bisa berdiri walaupun hanya dengan satu penyangga.” Alfi beralih dari huruf-huruf itu menatap Prilliaseolah meminta penjelasan dari penuturan Prillia yang masih belum ia mengerti.
“A itu adalah Alfi, dan P itu adalah Prillia. Lo punya banyak penyangga dalam hidup lo yang bisa bikin lo berdiri kokoh, bahkan yang rela jadi penyangga lo banyak banget dan bikin lo kelihatan makin sempurna. Sementara gue si P, cuma punya satu penyangga tapi harus nahan beban yang cukup besar. Kelihatan mustahil memang buat berdiri kokoh, tapi buktinya sampai saat ini gue kuat walau hanya dengan satu penyangga. Dan gue harap penyangga itu gak akan pergi kemana-mana.”
Alfi terdiam mendengar ucapan gadis itu. Ucapan yang penuh dengan pengibaratan namun terasa begitu dekat dengan dirinya. Prillia langsung mengalihkan pandangannya dari Alfi saat ia merasa matanya mulai memanas. Dengan segera Prillia langsung bangkit dari duduknya.
“Balik ke tenda yuk, gue udah lapar banget. Awas aja kalau mereka belum masakin makanan buat gue. Bakal gue suruh bokap gue nutup agenda rutin camping ekskul yang rada gak penting ini,” ucap Prillia kemudian berlalu terlebih dahulu meninggalkan Alfi. Alfi menggeleng pelan melihat gadis itu kemudian segera mengikutinya.