Chapter 4

1746 Kata
“Pokoknya Bibik jangan lupa ya setiap siang antar makanan buat Mommy selama Prillia pergi, minta anter aja sama mang Mamat. Prillia yakin Mommy juga kangen sama Bibik, udah lama gak ketemu kan. Nah Bibik ntar pulangnya kalau Mommy udah tidur siang ya, biasanya kalau selesai makan Mommy bakal santai sebentar terus nanti bakal tidur siang deh. Ajakin Mommy ngobrol ya Bik, siapa tau Mommy respons.” Mbok Iyem tersenyum sembari menggelengkan kepalanya kecil mendengar rentetan jadwal yang sudah disiapkan oleh majikan mudanya itu. Walaupun tangannya tampak sibuk mengikat tali sepatu namun bibir kecil berwarna merah murni miliknya itu tak berhenti berbicara. “Oh iya, papi bakal pulang ntar malam Bik. Jangan lupa masak buat papi ya,” ucap Prillia lagi kemudian bangkit dari duduknya dan mengambil koper kecil miliknya. “Siap Nona,” balas bik Iyem dengan senyum jailnya membuat Prillia tertawa. “Ya udah kalau gitu Prillia pergi dulu ya, Alfi udah nungguin nih di depan,” ucap Prillia. “Hati-hati ya Non,” Mbok Iyem kemudian mengantarkan Prillia ke ambang pintu. Senyum Prillia makin merekah saat keluar dari rumah mendapati Alfi yang sedang duduk di atas motor kesayangannya dan tampak sibuk dengan ponselnya. Sepertinya Alfi belum menyadari kehadirannya. “Ekhemmm,” Prillia berdehem cukup keras membuat Alfi tersadar akan kehadiran gadis itu. Alfi mengalikan pandangannya dari ponsel kemudian memasukkan ponselnya itu ke dalam sakunya. “Mau ke puncak aja dandannya lama,” ucap Alfi pelan namun mampu didengar oleh  Prillia yang dibalas gadis itu dengan mengangkat bahu acuh. “Kita pakai motor?” Pertanyaan Prillia itu membuat Alfi yang tadi hendak menyalakan motornya kembali menatap Prillia. “Kita ke sekolah pakai motor. Ntar motor gue ada yang jemput ke sekolah. Kita ke puncak pakai bus lah sama anak-anak yang lain.” “Gue gak mau pakai bus sama orang-orang gak jelas itu. Kita pakai motor aja,” Prillia melipat kedua tangannya di depan d**a. Alfi menghembuskan nafas jengah. Sepertinya gadis ini sedang mengajaknya untuk berdebat. “Kita gak mungkin pakai motor. Gue gak bisa jamin keselamatan lo. Lo mau leher gue di sembelih bokap lo kalau anaknya yang pemaksa ini kenapa-kenapa?” Tanya Alfi tersenyum remeh. Prillia menatap lelaki itu diam, ia tau bahwa lelaki itu sedang menghinanya. “Ya udah kita pakai mobil gue aja. Gue ambil kunci mobil dulu,” Alfi dengan cepat menahan pergelangan tangan Prillia yang sudah mulai melangkah kembali memasuki rumahnya. “Prill dengari gue dong. Gak enak sama yang lain. Masa kita pakai mobil sendiri. Ayo lah berbaur sama mereka,” bujuk Alfi. “Gue gak pernah suka tatapan mereka sama gue, gue merasa asing. Bisa gak sih lo biarin gue cuma dapat tatapan yang udah bikin gue nyaman selama ini, yang gue cuma dapat dari lo,” gadis itu menatap Alfi nanar tepat di manik matanya. Perlahan pegangan tangan Alfi melonggar hingga terlepas. Prillia langsung memasuki rumahnya kembali berlalu dari Alfi. Alfi menghembuskan nafasnya sejenak. Entah sampai kapan Alfi membiarkan Prillia menjadi layaknya kepompong, tertutup tak tersentuh. Bukankah ia bisa menjadi kupu-kupu yang terbang ke mana saja dan berbaur dengan lingkungan apa saja? Sampai kapan gadis itu ingin bertahan tak ingin dilihat orang lain? Bukankah jika ia menjadi kupu-kupu semua orang akan tahu dibalik kepompong yang tertutup itu terdapat sesuatu yang sebenarnya indah? Prillia, satu-satunya kepompong yang tak akan pernah menjadi kupu-kupu. *** Alfi meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah menyetir beberapa lama. Diliriknya gadis di samping yang tampak masih begitu nyaman dalam tidurnya. Gadis ini yang membuatnya tadi harus berdebat dengan teman-temannya karena memilih untuk membawa mobil sendiri. Alfi sangat tahu bahwa sebagian besar temannya tak menyukai gadis itu, mungkin karna sifatnya yang memang menyebalkan. Namun Alfi tak mengerti kenapa ia tak pernah bisa benar-benar membenci gadis itu seperti teman-temannya yang lain. Mungkin karna Prillia tak pernah berlaku buruk padanya kecuali sifat pemaksanya yang memang sudah tidak ada obatnya. Alfi terkekeh kecil mengingat sifat Prillia. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan dimasuki oleh seseorang seperti Prillia. “Prill,” panggil Alfi sembari menepuk-nepuk pelan pipi Prillia. “Prill,” kini gadis itu tampak menggeliat kecil dan mulai mengerjapkan matanya. “Buruan bangun, udah sampai nih. Gue turun duluan ya, mau mengurus yang lain sama panitia. Lo bisa langsung ke tenda cewek ekskul drama atau teater, lo langsung cari Dinda aja. Buruan keluar,” tanpa menunggu jawaban Prilia yang tampak masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, Alfi langsung keluar dari mobil milik Prillia. “Ih Alfi kok gue ditinggal?” Prilla mengerucutkan bibirnya kesal melihat Alfi yang sudah semakin menjauh menghampiri orang-orang yang sedang berkumpul di samping bus. Prillia berdecak kesal kemudian keluar dari mobilnya. Tak ingin bergabung dengan orang-orang yang sedang berkumpul dengan Alfi, Prillia langsung memilih untuk menuju tendanya. *** Malam ini semua peserta camping sedang berkumpul mengitari api unggun. Agenda mereka saat ini adalah diskusi sekaligus penyampaian materi. Tentu saja kegiatan ini dipimpin Alfi selaku CEO ekskul. “Diskusi kita kali ini di mulai dari ekskul tari. Silakan Maya, ketua ekskul menyampaikan materi dan persiapan kalian udah sejauh mana? Bulan depan kalian bakal ikut lomba di Lombok kan?” Ucap Alfi membuat Maya mengangguk kemudian mulai menyampaikan materinya. “Jadi kami rencananya mau gabungin tari tradisi dari 5 pulau terbesar di Indonesia. Dengar-dengar peserta lain hanya menggunakan 1 tari tradisi tapi di kombinasikan dengan tari modern bahkan ada juga yang menggunakan tari dari negara lain karena memang sebagian besar penontonnya nanti adalah turis, bahkan jurinya juga ada yang dari Jerman. Tapi tetap aja menurut gue dan teman-teman yang harus ditonjolin itu tari tradisi,” ucap Maya menjelaskan. Beberapa peserta tampak mengangguk setuju. “Tapi kami belum tahu tarian apa yang bakal di kombinasikan,” lanjut Maya lagi.  “Ya udah kalau gitu ada usul?” Tanya Alfi mengedarkan pandangannya pada peserta lain. “Gimana kalau kalian ambil satu tarian dari setiap pulaunya yang belum sering di ekspose? Pasti itu jadi sesuatu yang menarik,” usul Kikan. “Nah benar tuh.” “Ide bagus.” “Setuju.” Beberapa peserta tampak mendukung ide dari Kikan. Alfi tampak mengangguk-anggukan kepalanya. “Gue setuju, iya gak guys?” Tanya Maya pada teman-teman sesama ekskulnya, mereka semua tampak mengangguk setuju. “Oke kayaknya untuk ekskul tari cukup. Sekarang saatnya band dan paduan suara. Tapi berhubung paduan suara baru aja minggu kemarin udah ikutan lomba dan alhamdulillah menang, kali ini hanya materi band yang bakal gue sampaiin sendiri,” ucap Alfi. Peserta yang lain tampak tetap serius mendengarkan. Sebelum kembali membuka suara, Alfi melirik Prilla yang sedari tadi duduk di sampingnya. Gadis itu sepertinya mendengarkan, namun ia terlihat acuh dan hanya memainkan tali jaket Alfi. Sesekali Alfi merasakan Prillia memasukkan tangannya ke dalam saku jaket milik Alfi, Alfi tau gadis itu sudah mulai kedinginan. Dasar keras kepala! Hal inilah yang membuat Alfi tak ingin ia ikut. “Gue sama teman-teman band yang lain bakal ikut festival band. Tapi kali ini gak seperti festival biasa, karna peraturannya harus nyanyi duet. Sementara kami belum nemuin teman duet buat Kikan, jadi mungkin kalau kalian pernah dengar atau bahkan punya suara yang bagus selain anak-anak paduan suara bisa kasih usul atau mengajukan diri. Oh iya, yang kami cari cowok ya,” ucap Alfi. “Nih si Ogi aja nih Al. Gue sering dengar dia nyanyi di kamar kos nya.” “Jangan Ogi, bisa dilempari botol kosong ntar band sekolah kita.” “Benar tuh.” “Elah lo mah pada sirik, gak tahu apa gue biduan kamar mandi.” Alfi hanya mampu menggelengkan kepalanya mendengar perdebatan teman-temannya yang mengusulkan Odi salah satu anak ekskul teater. Sembari menunggu suasana sedikit tenang karena sekarang masih riuh dengan ledekan kepada Odi, Alfi kembali melirik Prillia di sampingnya. “Dingin?” Bisik Alfi. “Sedikit,” balas Prillia pelan. “Udah lah lo aja Al, suara lo juga baguskan. Kita kan sering karaoke bareng, suara lo keren bro,” usul Bagas, salah satu anak teater. Peserta lain langsung mengangguk setuju. “Nah benar lo aja Al, sambil main gitar, nyanyi,” usul Kikan pula. Alfi berpikir sejenak. Ia memang hobi menyanyi, namun ia belum pernah menyanyi untuk umum. “Ya udah deh,” balas Alfi akhirnya. Sepertinya tak ada salahnya ia mencoba. “Sekarang giliran lo No yang terakhir,” ucap Alfi pada Nino ketua ekskul teater. “Oke, jadi sebenarnya persiapan kami udah matang, kami bakal tampilin teater dari salah satu provinsi di Indonesia dan masih rahasia karena kami mau kasih kejutan, tapi karena berhubung Prillia baru masuk. Kami bingung mau kasih peran apa,” ucap Nino membuat semua orang menatap Prillia. Prillia yang merasa ditatap hanya membalas dengan menaikkan alisnya bingung. Merasa tak nyaman dengan tatapan mereka yang tak bersahabat, Prillia memutarkan bola matanya malas. “Gue gak berminat ikut dalam teater kalian. Gue masuk ke dalam ekskul teater cuma karena gue mau ikut camping. Jadi kalian gak usah bingung mau kasih gue peran apa,” balas Prillia acuh kemudian berlalu memasuki tenda. Semua orang yang melihat gadis itu hanya mampu membelalakkan matanya mendengar jawaban gadis itu. “Emang benar-benar seenaknya banget ya tu cewek. Lagian lo ngapain sih Al biarin dia ikut?” Tanya Rian yang terlihat kesal. “Tau nih Alfi, nambah-nambah anggota doang tapi gak ada gunanya,” timpal Flora. “Kalau gue sih gak heran. Dari awal gue udah yakin dia gak serius,” ucap Nino. Alfi hanya mampu terdiam mendengar ucapan teman-temannya. Alfi bangkit dari duduknya meninggalkan semua orang dan menghampiri Prillia di tendanya. “Prill,” panggil Alfi dari luar tenda. “Hmmm,” mendengar balasan dari Prillia walaupun seadanya, Alfi langsung memasuki tenda Prillia. Prillia tampak duduk di dalam tenda sembari memainkan ponselnya. “Lo kenapa sih? Lo harus konsisten dong, kalau lo udah mutusin masuk ekskul teater, lo harus siap buat ikut dalam kegiatannya.” “Gue kesini cuma buat lo Al, gak ada yang lain,” balas Prillia penuh penekanan. “Lo paling tau gue gimana kan? Jadi gak usah habisi waktu lo buat bujuk gue deh,” lanjut Prillia lagi. “Ya udah lah terserah lo. Sekolah punya bokap lo ini,” balas Alfi dengan nada menyindir kemudian bergegas untuk keluar dari tenda, namun tiba-tiba Prillia menahan lengannya. “Kenapa?” Tanya Alfi. “Gue boleh pinjam jaket lo? Masih dingin.” Alfi menautkan Alisnya mendengar permintaan Prillia. Namun sesaat kemudian Alfi melepaskan jaketnya kemudian memberikannya pada Prillia. “Sekarang lo tidur, istirahat,” ucap Alfi kemudian keluar dari tenda milik Prillia. Setelah kepergian Alfi, Prillia memeluk jaket Alfi erat sembari menghirup aroma khas Alfi dalam-dalam. Tanpa Prillia sadari, air matanya jatuh begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN