EMPAT

2719 Kata
Zeta menjatuhkan b****g nya di salah satu kursi kosong di kantin, tepat nya di samping Vinny yang tengah memainkan ponsel nya. Di meja itu hanya ada Vinny dan Alya. "Sabrina sama Lisa mana?" Tanya Zeta melirik Alya dan Vinny bergantian. "Belum dateng Zi. Mingkin bentar lagi." Jawab Alya, seraya menghentikan aktivitas menulis nya menatap Zeta sebentar. "Lo bikin apa sih?" "Tugas. Gila banyak banget, pusing kepala gue." Keluh Alya. "Mangka nya pilih jurusan tu yang gampang-gampang aja. Ini kedokteran, botak kepala lo juga bisa." Samber Vinny, dan meletakkan ponsel nya di atas meja. Alya memberengut, sedangkan Zeta terkekeh pelan. Ya, di antara dia dan keempat teman nya, hanya Alya yang memilih jurusan kedokteran, satu jurusan dengan Malvin. Sementara Sabrina jurusan bisnis bersama dengan nya dan Gevan, dan Vinny beserta Lisa memilij jurusan farmasi satu jurusan dengan Rendra dan Risky. "Ck, gue juga gak mau. Nyokap tuh, nyuruh gue masuk jurusan kedokteran. Kata nya, siapa yang mau nerusin dia jadi dokter kalau bukan gue." Ujar Alya menirukan gaya bunda nya jika mengomel. "Sabrina aja yang punya rumah sakit gak ngambil jurusan kedokteran loh." Kata Vinny. "Itu karna Sabrina keras kepala, dan gak mau denger omongan orang tua. Dia kan hidup sesuka jidat nya aja." Balas Alya, dan kembali memfokuskan pikiran nya pada tugas nya. Vinny tersenyum tipis lalu melirik Zeta yang memperhatikan Alya menulis. "Malvin mana? Tumben dia gak ngawasin lo." Zets mengalihkan pandangan pada Vinny. "Lagi rapat BEM." "Acara apa sih Rapat mulu perasaan?" Alya bersuara. "Kalau gak salah graduation nya senior ya. Bakal ngadain camping gitu sih." ujar Vinny. "Tau darimana lo?" "Dari si Rendra, trus anak BEM lagi nyiapin acara kemping nya. Tapi gak tau kapan." Zeta mengangguk. Pantas saja Malvin sejak semalam selalu berkutat dengan laptop. Zeta yang tengah melamun, tersentak saat merasakan kecupan singkat di puncak kepala nya. Dia mendongak, dan mendapati senyum hangat Malvin. "Ya elah Vin nyium gak liat tempat banget." desah Risky, lalu duduk di samping Alya. "Hai Al." Dia menaikkan kedua alis nya, menatap dengan senyuman manis ke arah Alya. Alya hanya berdehem dan kembali memfokuskan mata nya pada tugas. "Yah di kacangin lo. Emang enak!" Ledek Rendra yang langsung di balas jitakan kecil oleh Risky. "Segini doang, yang lain mana?" Gevan bertanya seraya duduk di samping Vinny, di susul oleh Rendra. "Yang mana maksud nya?" Tanya Rendea sedikit menggoda Gevan. "Ya yang lain, trus siapa lagi? Lisa sama yang satu lagi tuh sispa nama nya ya." "Bilang aja lo nanyain Sabrina bro." Sindir Risky. "tauk! sok lupa nama lagi lo." Timpal Rendra, di sertai kekehan Risky dan Makvun." Gevan bergidik ngeri. "Gak deh, mending gak ketemu dia, sakit semua badan gue kalau dekat dia. Di pukulin terus." "Kok gitu?" Zeta bersuara menatap Gevan. "Ck, gak deh Zi. Temen lo yang satu itu galak nya mintak ampun. Main tangan terus. Dikit-dikit nampol, gue di jutekin terus padahal nanya baik-baik loh. Dia ngegas mulu." Gevan terus menyerocos tentang Sabrina tanpa tau, orang yang tengah dia omongi berada tepat di belakang nya. "Bagus! Lo ngomongin gue di belakang. Mulut emak-emak lo." Gevan tersentak saat mendengar suara tersebut, dia menoleh ke belakang, mata nya langsung saja bertemu dengan mata dingin bak elang milik Sabrina. "Apa lo liat-liat?! Mata lo mau gue congkel ke luar?!!" Ucapan sengit Sabrina langsung mengundang tawa yang lain nya. Sementara Gevan masih memasang wajah melongo nya. "Kok dia di sini sih?! Kayak jailangkung aja, datang gak di undang, pul---Awww!!" Gevan tiba-tiba saja memekik tertahan saat Sabrina memukul kuat bagian perut cowok itu. Gevan meringis memegangi perut nya. "Tuh kan! Kalian lihat kan?! Ganas banget tau gak! Lo cewek apa bukan sih?!!" hardik Gevan pada Sabrina yang duduk dengan santai di samping Vinny setelah menggusur Rendra. "Casing nya cewek Van, tapi tenaga nya cowok." Timpal Risky, seraya meredakan tawa nya. "Ck, lo yang lembek. Di tinju segitu doang udah ngaduh-ngaduh. Casing doang kekar, dalam nya cewek." Sindir Sabrina dingin. Gevan seketika memelotot. "Ngomong apa? Lo?!!" Sabrina membalas dengan santai. "Lo b***k?" "Udah-udah! Berantem lagi, ntar saling suka loh." "Gak bakal?!!" Jawaban serempak Gevan dan Sabrina membuat Rendra tersedak dari minum nya. Dia menatap cengo ke arah Gevan dan Sabrina bergantian, berhubung dia berada di antara kedua nya. "Kompak ya." Gumam nya heran. Malvin terkekeh pelan, dia lalu memfokuskan penglihatan nya pada gadisnya kali ini. Tangan nya terangkat dan membelai lembut rambut Zeta, sesekali dia tersenyum saat Zeta menoleh ke arah nya. "Kamu mau makan?" Tanya nya seperti berbisik. "Enggak ah. Kan tadi udah di apartemen." Jawab Zeta seraya menyandarkan kepala nya di d**a bidang Malvin. "mana tau kamu mau makan lagi." Malvin mengecup pipi Zeta sekilas. Zeta menggeleng, lalu memainkan tangan Malvin yang ada di paha cowok itu. "Kasihani lah para jomblo di sini Vin." Desah Risky, saat melihat kemesraan Zeta dan Malvin. "Tauk kayak dunia milik berdua aja." Tambah Rendra. "Ck, berisik lo pada!" Desis Malvin, tangan nya tidak berhenti membelai rambut Zeta. "Lisa mana Sa?" Suara Vinny mengalihkan perhatian yang lain nya. Termasuk Malvin dan Zeta. "Gak masuk kayak nya. Di suruh ke cafe sama nyokap nya. Gak ada yang handle di situ." Jawab Sabrina, seraya menyeruput minuman yang di yakini nya milik Vinny itu. Pasal nya hanya Vinny lah yang menyukai jus alpokat. Vinny mengangguk. "mau kemana?" Malvin menahan tangan Zeta saat gadis itu berdiri. "Aku mau ke toilet." "Aku temenin?" Zeta terkekeh. "Gak usah. Ke toilet doang kok." "Gue deh yang nemenin." Vinny bersuara. "Gak usah, gue bisa sendiri. Pada kenapa sih? Cuman ke toilet doang." Zeta melirik Vinny. Malvin mengangguk. "Jangan lama-lama." Zeta hanya membalas dengan senyuman. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️ Semua orang yang ada di meja itu menatap ke arah Malvin yang sejak tadi tampak gelisah. Pasal nya, sudah 10 menit tapi Zeta tak kunjung kembali dari toilet. "Kenapa sih Vin?" Tanya Gevan seraya mengerutkan dahi nya. "Tauk gelisah banget. Nungguin Zeta? Ya elah baru juga 10 menit, udah gelisah nya mintak ampun. Gimana pergi setahun." Ucapan Rendra langsung saja di hadiahi tatapan tajam oleh Malvin. Membuat cowok itu menggaruk belakang kepala nya. "Bercanda mas bro. Sensi amat." "Bentar lagi juga paling balik Vin." Alya bersuara. Malvin mengangguk. Suasana baru saja tenang, sebelum akhir mya pekikakan orang satu kantin membuat Malvin cs, dan Pop Girl minus Lisa tersentak kaget. Belum lagi pekikan, dan bunyi dentuman yang cukup keras. Malvin langsung saja bangkit dari duduk nya, dan berlari ke arah kerumunan. Perasaan nya benar-benar khawatir sekarang. Gevan dan yang lain nya langsung menyusul Malvin menerobos kerumunan itu. "ZETA!!" Malvin berteriak saat melihat gadisnya terkapar di lantai dengan dahi yang mengeluarkan darah. Tanpa buang waktu, Malvin memangku tubuh gadis itu. "Zi! Sayang, bangun sayang." Malvin dengan panik menepuk-nepuk pelan pipi kekasih nya itu. "Zeta hey, bangun sayang." "Sorry, gue---" Suara itu mengalihkan perhatian semua orang. Termasuk Malvin, mata nya menyorot tajam kepada gadis yng memakai pakaian super minim itu. "Lo apain cewek gue?!!" Tanya Malvin tajam dengan suara yang tertahan. Gadis itu diam. "LO APAIN CEWEK GUE?!!" suara Malvin naik beberapa oktaf, memenuhi kantin tersebut. Dia bangkit berdiri dan mendorong cewek itu, dia tidak memandang orang di depan nya ini perempuan atau bukan. Suasana di kantin itu berubah begitu tegang, ini pertama kali nya bagi mereka melihat emosi Malvin yang begitu besar. Selama ini, Malvin di kenal sebagai ketua BEM yang memang dingin, tapi tidak pernah terlihat emosi dalam kondisi apa pun. Namun, lihat lah sekarang cowok itu berubah menjadi singa lapar yang garang saat kekasih nya di temui pingsan. "Vin! Lo bawa Zeta ke uks! Biar dia gue yang urus." Sabrina angkat suara, mata elang nya menatap tajam ke arah gadis berpakaian minim itu. Dengan sekali hentakan Sabrina menarik tangan cewek itu, di susul oleh Alya dan Vinny. Malvin dengan tangan bergetar menggendong Zeta yang sejak tadi tak kunjung sadar. Emosi, khawatir, panik dan rasa takut bercampur menjadi satu di d**a Malvin kini. Gevan, Risky, dan Rendra mengikuti langkah Malvin ke uks. Sesampai di uks Zeta langsung di tangani oleh salah satu petugas pmi Santa University. Malvin sejak tadi tak henti nya mengumpat dan mengusap gusar wajah nya. "Vin lo tenang dulu. Zeta pasti gak papa kok." Gevan angkat suara, dia menyentuh pundak Malvin dia dapat merasakan pundak kekar itu bergetar begitu hebat. Tak lama pintu uks terbuka. "Gimana Zeta?" Tanya Malvin cepat. "CEPET b**o!! GIMANA CEWEK GUE?!!" "vin! Kontrol emosi lo?!!" Tegur Gevan saat Malvin malah memebentak petugas pmi itu. Petugas pmi itu menghela nafas nya. "Zeta baik-baik aja, cuman lecet di dahi doang kok." Malvin menggeram. "Doang lo bilang?!! Cewek gue pingsan dan jawaban lo santai kayak gini hah?!!" Dia menarik krah baju pria itu. Rendra dan Risky langsung saja menarik Malvin. "Vin apa-apan sih lo?!! Mending sekarang kita lihat Zeta?!" Ujar Rendra. Malvin menepis tangan Rendra dan Risky, dia lalu memasuki uks tersebut. "Thanks ya! Dan sorry" Gevan mengucapkan terima kasih kepada petugas pmi itu, mewakili Malvin. Petugas itu tersenyum ramah. "sama-sama. Gak masalah kok, saya mengerti." Gevan menyusul Malvin, dan kedua teman nya ke dalam uks setelah petugas pmi itu beranjak pergi. Langkah nya terhenti saat melihat bagaimana Malvin begitu mengkhawatirkan Zeta, sahabat nya itu tampak duduk di samping ranjang uks dengan tangan yang begitu erat menggenggam tangan Zeta. Gevan menghela nafas mya dengan pelan, rasa sesak itu masih saja ada saat melihat hal tersebut. Jujur, rasa untuk Zeta masih begitu besar di hati Gevan. Tiga tahun, dia berusaha melupakan perasaan nya itu, tapi semakin ke sini bukan nya hilang justru semakin besar. Saking asik nya menatap ke arah sana. Gevan tidak menyadari jika sudah ada seseornsg yang berdiri di samping nya. "Cemburu?" Gevan menoleh pada suara itu. Sebenarnya tanpa menoleh pun dia sudah tau siapa pemilik suara dingin tersebut. "Sok tau lo." Balas nya. Sabrina melirik dingin ke arah Gevan, lalu menaikkan sebelah alis nya sebelum akhir nya berjalan ke arah ranjang tempat sahabat nya masih belum sadarkan diri. Kedatangan Sabrina langsung saja mengalihkam perhatian yang lain nya. Terutama Malvin. "Lo tenang aja. Tu cewek udah gue amanin, dan gue kasih pelajaran." Ujar Sabrina dengan pandangan pada Zeta. "Gimana Zi?" "Lecet di dahi Sa." Rendra mewakili. Sabrina mengangguk. "Lo apain tu cewek?" Gevan bersuara. Sabrina menghela nafas nya. "gue ajak main dikit doang." Jawab nya santai. Tapi membuat Rendra dan Risky di sana bergidik ngeri. Sedikit yang di katakan Sabrima itu bukan lah sedikit yang kita perkira kan. "Gak sampai lo bunu kan?" Risky berucap hati-hati, melirik ke arah Sabrina. "Maunya gitu, tapi gue masih tau batas." Jawab Sabrina sebelum akhir nya berlalu keluar uks. Sementara mereka yang ada di sana saling pandang satu sama lain. Kecuali Malvin pasti nya, karna cowok itu sibuk menggenggam dan menatap ke arah Zeta. "Sadis." Gumam Rendra dan di anggukan oleh Gevan dan Risky. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️ Zeta mengerjapkan mata nya perlahan, menyesuaikan dengan cahaya di ruangan tersebut. Dia memegang kepala nya saat merasakan pusing menyerang kepala nya saat mata nya terbuka sempurna. "Malvin!" Zeta bersuara lemah. Dia menatap sekeliling dan tidak mendapati siapa pun di sana. Namun, tak lama kemudian pintu ruangan uks terbuka. Malvin langsung saja berlari ke arah ranjang saat melihat Zeta berusaha untuk bangkit dari tidur nya. "Sayang! Sayang kamu mau ngapain hm?" Malvin menahan tubuh kekasih nya itu agar kembali berbaring. Zeta hanya menurut karna memang tubuh nya terasa begitu lemas. "Ada yang sakit sayang? Atau kita ke rumah sakit ya. Biar di periksa aja, ya kita kerumah sakit sayang?" Malvin mengusap rambut Zeta dengan sebelah tangan yang lain menggenggam tangan gadisnya itu. Zeta menatap ke arah Malvin, dia dapat melihat tatapan penuh khawatir di mata kekasih nya itu. Dia lalu tersenyum. "Aku baik-baik aja kok. Cuman pusing aja." Malvin menghela nafas nya kasar. "Tapi aku takut Zi kalau kamu kenapa-kenapa? Kita ke rumah sakit ya sayang. Plisss!" Zeta menyentuh pipi Malvin. "Gak usah Vin. Aku baik-baik aja. Kamu gak usah khawatir." "Sayang! Gimana aku gak khawatir kalau kamu kayak gini. Jantung aku udah mau copot ngeliat kamu pingsan dengan darah di dahi kayak gitu. Jangan suruh aku untuk gak khawatir sayang." Malvin bersuara lembut, bercampur dengan nada khawatir. Zeta tersneyum manis. "Maaf ya udah bikin kamu khawatir." Dia membalas genggaman tangan Malvin. Malvin tersenyum lega, dia lalu mengecup dahi Zeta yang di plester, lalu kedua pipi gadis itu dan berakhir di bibir nya. "Kamu selalu bikin aku khawatir dengan tingkah kamu. Bikin aku terus ngerasain takut sayang. Aku takut kehilangan kamu." dia menatap dalam ke manik mata Zeta. Zeta tersenyum, dia lalu menggeser tubuh nya memberikan ruang untuk Malvin. Malvin langsung saja naik ke atas ranjang uks yang tidak terlalu besar itu, dia berbaring di samping Zeta, mendekap gadis itu ke dalam pelukan nya. Zeta langsung saja merapatkan tubuh nya pada Malvin, mencari kenyamanan di d**a bidang tunangan nya itu. Wangi tubuh Malvin selalu membuat nya tentram berada dalam pelukan cowok ini. Malvin mengusap kepala Zeta dengan lembut, dagu nya dia letakkan di atas puncak kepala gadis itu, berulang kali dia mengecup puncak kepala gadisnya itu cukup lama. "Kamu gak mau cerita sama aku?" Malvin bersuara lembut, tangan nya terus mengusap kepala kekasih nya itu. "Cerita apa?" Zeta bergumam dengan wajah yang masih di sembunyikan di d**a bidang Malvin. Malvin tersenyum, walau Zeta tidak bisa melihat nya. "Kenapa kamu bisa pingsan tadi?" Zeta mengangkat kepala nya, mata nya langsung saja di kunci oleh tatapan Malvin. "Aku---aku kepeleset Vin." jawab nya dengan suara pelan. Malvin tersenyum hangat, lalu mengecup bibir Zeta sekilas. "Jangan bohong sayang. Sejak kapan kamu suka bohong hm?" "Aku gak bohong." "Mau aku cari tau sendiri? Kamu tau kan konsekuensi kalau aku cari tau sendiri?" Zeta mengalihkan pandangan nya dari Malvin, kini pandangan nya tertuju pada d**a bidang Malvin yang di lapisi kaos putih ketat itu. Cowok itu hanya menggunakan dalaman kaos, lalu memakai kemeja simpel dengan lengan yang di gulung hingga siku. Walaupun pandangan nya ke situ, tapi pikiran nya melayang pada kejadian di kantin tadi. "Zi---" "Aku gak tau, tapi tadi aku ngerasain ada yang nyenggol lengan aku." Zeta mulai bersuara pelan dengan tangan gadis itu yang membuat gambar-gambar abstrak di d**a bidang Malvin. "Trus?" Suara Malvin terdengar serak, sentuhan tangan Zeta itu membuat tubuh nya meremang. Bagaimana pun juga, dia adalah laki-laki normal. "Ya udah aku jatoh trus ke pentok sama salah satu meja tadi. Habis itu gak tau lagi." Lamjut Zeta dengan tangan yang masih saja seperti tadi. Malvin menangkap tangan Zeta yang terus membuat gambar-gambar abstrak di d**a nya, dia tau gadis itu tidak menyadari nya. Pasal nya, setiap di introgasi Zeta selalu melakukan hal yang sama, guna menghilangkan rasa gugup nya. "Kamu marah?" Zeta menatap Malvin yang memejamkan mata nya. Malvin menghela nafas nya, lalu kembali membuka mata nya. Mata nya langsung saja bertemu dengan Zeta. "Gak kok sayang." "Trus kenapa kamu merem? Biasanya kamu kalau merem pertanda marah." Malvin terkekeh dia mengceup gemas batang hidung Zeta. "Siapa yang marah? Aku gak marah sayang. Kamu sih, ngapain tadi tangan kamu nakal banget di d**a aku. Kamu lagi ngegodain aku?" dia menatap geli ke arah Zeta, yang kini pipi nya memerah. "Ih apa an sih!! Orang tadi refleks kok." Zeta memukul d**a Malvin. Juur, dia sebenarnya malu. "Trus kamu ke goda gitu?" Malvin sedikit bangkit dari posisi berbaring nya, dia menyangga tubuh nya dengan sebelah lengan nya. Lalu menatap dalam ke manik mata Zeta yang masih berbaring di smaping nya. Posisi nya kini, seperti setengah menindih Zeta. "Siapa yang gak ke goda? Aku cowok normal ssyang." Malvin bersuara s*****l di depan wajah Zeta. Gadis itu bergidik merasakan hembusan nafas Malvin, dan juga belaian lembut tangan cowok itu di sekitaran wajah nya. Terlebih posisi mereka yang terbilang cukup intim ini. "Tapi aku gak akan ngerusak kamu. Aku gak mungkin ngerusak orang yang aku sayang dan sangat cintai." Lanjut Malvin seraya mendekatkan wajah nya pada Zeta. Zeta merasakan kenyal nya bibir Malvin menyentuh bibir nya cukup lama. "Aku cinta kamu. Selama nya." Bisik Malvin tepat di depan wajah Zeta. Ujung hidung nya dengan gadis itu masih menyatu. Zeta tersenyum. "Aku Juga. Jangan pernah tinggalin aku." "Gak akan! Gak akan pernah." Balas Malvin yang langsung saja membuat Zeta menghambur ke dalam dekapan Malvin, membuat cowok itu kembali terbaring dengan kepala Zeta yang berada di atas d**a bidang nya. Malvin tersenyum hangat, lalu mengeratkan rengkuhan nya pada tubuh mungil gadisnya itu. ✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN