Sabrina menghentikan langkah nya seraya menarik tangan nya dari tarikan Gevan. Memasang wajah datar bak elang nya. "Apa sih lo? Narik-narik emang gue kambing." Ujar nya datar sedatar wajah nya.
Gevan yang sadar menghela nafas nya. "Sorry! Refleks tadi."
Sabrina menyandarkan tubuh nya di bemper mobil, seraya mengusap kulit tangan nya yang terasa gatal karna gigitan nyamuk, sial nya dia tidak membawa jaket.
Gevan memperhatikan gerak gerik Sabrina sejak tadi, dia lalu ikut menyandarkan tubuh nya di bemper mobil, tepat di samping gadis itu.
Sabrina melirik Gevan dengan sudut mata nya. "Ngapain lo di sini? Sana cabut!" sinis nya.
Gevan berdecak. "Jutek banget sih lo."
Sabrina diam, tidak menanggapi.
"lo ngapain di sini?" Gevan balik bertanya pada Sabrina.
"Ck, balik nanya lagi ni bocah." Gumam Sabrina pelan. "Ya nungguin Zeta lah!"
"Ya udah, berarti sama! Gue juga lagi nungguin Malvin." Balas Gevan santai.
Sabrina mendesah kasar. "Maksud gue, lo ngapain nungguin di sini? Balik ke asal lo." dia menatap tajam ke arah Gevan.
Gevan juga ikut menatap ke arah Sabrina. Dia menghela nafas nya. "Lo kenapa sih? Alergi banget deket sama gue. Aneh lo, alergi sama cogan."
Ini bukan hanya kali pertama Sabrina mengusir nya, bila Gevan berdiri tepat di samping atau di dekat gadis itu. Sudah berulang kali, terhitung mereka satu kampus, di tambah satu jurusan. Bahkan ketika mereka satu kelompok pun, Sabrina pasti akan bersuara tajam jika berdekatan dengan nya.
"Takut jatuh cinta ya lo sama gue?!" Gevan menaikkan sebelah alis nya, dengan wajah yang di dekat kan kepada Sabrina.
Sabrina menatap dingin ke arah mata Gevan. Dia lalu meninju perut cowok itu. Membuat Gevan terpekik tertahan.
"Makan tuh cinta!" Desis Sabrina, bersiap akan berlalu memasuki mobil.
Bertepatan dengan Gevan gang meraih tangan gadis itu, membuat langkah Sabrina terehenti.
"Mau kemana lo?" Tanya Gevan, dengan wajah yang masih meringis.
"Menurut lo? Gue gak mau darah gue habis di isep nyamuk." Ketus Sabrina, menepis tangan Gevan.
"Pulang yuk!" Gevan kembali menahan tangan Sabrina. Membuat Sabrina menggeram tertahan, lalu melirik tajam kepada Gevan.
Gevan yang sadar, langsung menjauhkan tangan nya dari tangan Sabrina. "Sorry."
"Ngapain lo ngajak-ngajak gue pulang. Pulang ya pulang aja sendiri." balas Sabrina.
"Ck, lo mau jadi nyamuk antara Zeta sama Malvin?"
Sabrina diam, dia hanya menatap Gevan dengan mata dingin nya.
"Malvin pasti pulang sama Zeta. Ya udah, mending lo pulang sama gue. Digigit nyamuk lebih baik, ketimbang jadi nyamuk." Kata Gevan.
Sabrina tampak berpikir, ada benar nya juga ucapan Gevan.
"Kelamaan mikir!" Gevan menarik tangan Sabrina, lalu memasukkan gadis itu ke bangku penumpang dan merebut kunci mobil gadis itu.
"Ngapain lo?" Tanya Sabrina mengerutkan dahi nya, saat Gevan duduk di belakang kemudi mobil nya.
"Gue gak bawa mobil, tadi sama mobil Malvin. Jadi lo harus anterin gue pulang dulu." Ujar Gevan ganpa dosa.
"Apa?! Gila ya lo?! Dimana mana cowok yang nganterin cewek."
Gevan melirik malas pada Sabrina. "Emang lo cewek?" Suara nya terdengar menggoda Sabrina.
Sabrina mengangkat tangan nya menyerupai tinju, dia siap memukul Gevan saat cowok itu terkekeh. "Tu kan! Baru aja ngomong gitu, lo udah mau mukul gue."
Sabrina menggeram dan memukul dashboard mobil nya, lalu mengalihkan pandangan keluar jendela.
Sementara Gevan tersenyum geli, dan mulai melajukan mobil tersebut meninggalkan lokasi taman.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Mata Malvin sejak tadi tidak beranjak memperhatikan Zeta yang tengah mengunyah makanan di depan nya. Sesekali tangan nya mengusap tangan kiri gadis itu yang terletak di atas meja yang sejak tadi juga berada dalam genggaman tangan nya. Tangan yang selalu pas dalam genggaman tangan nya.
Malvin tersenyum seraya mengusap bibir Zeta yang belepotan. "Sayur nya di makan sayang!" Ucapan Malvin itu terdengar sebagai perintah.
Zeta mengangkat kepala nya, dia lalu memelas dan menggeleng. "Dimakan sayang!" Malvin bersuara lembut, dia mengusap puncak kepala Zeta.
"Vin aku gak suka." Rengek Zeta, jangan kan memakan, melihat nya saja dia sudah mual.
Malvin menghela nafas nya, dia lalu bangkit dan mengangkat kursi nya jadi duduk tepat di samping Zeta. "Kamu tau peraturan nya kan?" Malvin lalu mengambil alih sendok di tangan gadisnya itu, lalu menyuapkan nasi beserta sayur nya.
Zeta mengatup mulut nya rapat. "Zi! Jangan bikin aku marah ya. Buka mulut kamu!" Malvin kembali bersuara.
Zeta masih diam, dan menatap Malvin yang ada di samping nya. Dia menggeleng.
"Mau pake cara lunak?! Atau aku paksa?!" Desis Malvin masih berusaha mengontrol emosi nya.
Zeta memberengut, dan mau tak mau membuka mulut nya. Malvin dengan perlahan menyuapi tunangan nya itu.
"Kunyah! Dan telen!" Perintah Malvin.
Zeta mengunyah dengan malas-malasan, sesekali dia seperti akan memuntahkan isi mulut nya, namun berusaha mati matian menelan sayuran tersebut.
Malvin terus menyuapi Zeta beserta dengan sayuran tersebut. Sampai akhir nya, Zeta memegang tangan Malvin dan menggeleng.
"Aku kenyang."
"Satu lagi!" Ujar Malvin.
Zeta menggeleng kuat. "Enggak mau! Aku kenyang Vin. Udah banyak loh daritadi aku makan." Dia menatap Malvin dengan pipi nya yang menggembung karna masih ada makanan di mulut nya.
Hal tersebut membuat Malvin tersenyum geli sekaligus gemas. Dia mencubit gemas pipi tunangan nya itu. "Ya udah, minum sayang."
Selagi Zeta meneguk minuman nya, Malvin tak henti nya membelai rambut gadisnya itu yang mempunyai harum yang sangat memabukkan. Sesekali dia mengecup nya.
"Vin---"
"Apa sayang?"
"Aku pikir kamu gak inget loh sama annive kita." gumam Zeta seraya menyandarkan kepala nya di d**a bidang Malvin.
Malvin terkekeh, seraya mengusap puncak kepala Zeta. "Kok kamu mikir nya gitu?"
"Ya habis nya, kamu sibuk banget sama acara BEM, aku di anggurin terus." Malvin tersenyum mendengar penuturan kekasih nya itu, dia lalu mengecup pipi Zeta. "Trus tadi pas aku tanya hari apa sekarang. Kamu jawab nya malah hari sabtu."
Mvim terkekeh geli. "Kan emang sabtu kan?"
"Ck, kamu mah." Zeta menghentakkan kaki nya dan bangkit dari d**a bidang Malvin, dia menatap kesal ke arah cowok itu.
"Jangan di gituin kaki nya Zi. Ntar sakit loh, kaki kamu tu masih dalam masa penstabilan." Malvin kembali merenguh Zeta, dan menyandarkan kepala gadis itu ke d**a nya.
"Udah tiga tahun. Masak penstabilan mulu."
"Emang iya. Bulan ini udah cek up?"
Zeta menggeleng. "Belum. Kan masih satu minggu lagi."
Malvin mengangguk, tangan nya tidak berhenti membelai rambut Zeta.
"aku tu bukan nya gak inget sekarang hari apa sayang. Aku selalu inget kok tanggal annive kita, jadi kamu gak usah khawatir. Aku cuman pingin ngasih sesuatu yang beda aja untuk annive kita tahun ini. Selama dua tahun, kan aku gak pernah ngasih surprise." Malvin kembali membahas topik anniversery mereka.
"Tapi kamu selalu romantis."
Malvin tersenyum, dan mengeratkan rangkulan nya pada Zeta. "Sama kamu doang loh."
Zeta mendongak. "Masak? Gak ada yang lain. Mana tau, kamu punya selingkuhan gitu."
Malvin mengacak rambut Zeta. "Ngacok kamu. Ya mana mungkin aku selingkuh, ngurus kamu aja susah nya mintak ampun." jawab nya sekaligus menggoda Zeta. Benar saja, gadis itu langsung memberengut dan ingin melepaskan rangkulan nya. Namun, langsung di tahan nya.
"Bercanda sayang. Maksud aku, ngapain aku selingkuh, nyari yang lain. Orang kamu udah sempurna banget buat aku, bodoh kalau aku nyari lagi." bisik Malvin, membuat pipi Zeta memanas seketika.
"Merah pipi kamu." dengan jarak seperti ini, Malvin bisa melihat wajah Zeta dengan jelas. Termasuk semburat merah di pipi nya itu.
Zeta menenggelamkan wajah nya di d**a bidang Malvin, hal yang sering di lakukan gadis itu jika merasa malu akan sikap Malvin.
Malvin mengeratkan rangkulan nya pada tubuh Zeta, lalu menempelkan dagu nya di atas kepala Zeta. "Percaya sama aku. Sampai kapan pun, gak akan pernah ada yang bisa ngegantiin kamu di hati aku. Kamu bisa rasainkan detak jantung aku, mau deket ataupun jauh dari kamu. Detak jantung aku, terus kayak gini. Cuman kamu yang bisa bikin aku kayak gini." Malvin menundukkan kepala nya, menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah gadisnya. "Jatuh cinta setiap waktu." lirih nya.
Zeta mengulum senyum nya, dengan mata menatap ke arah Malvin. Ujung hidung nya dengan Malvin menyatu. "Kamu tau apa yang bisa bikin aku tergila-gila?" Malvin menatap lekat ke manik mata gadisnya.
Zeta menggeleng. "Kamu." Bisik Malvin dengan posisi yang masih sama. "Kamu yang selalu bikin aku tergila-gila." ucapan Malvin membuat jantung Zeta berdebar sangat cepat.
"Mal---"
"Mangka nya jangan pernah ninggalin aku. Aku bisa gila kalau kamu ninggalin aku." Malvin meninggalkan kecupan singkat di bibir Zeta.
Tatapan mereka terus bertemu, tatapan Malvin yang begitu lekat begitu pun dengan Zeta. Tatapan yang sama-sama penuh dengan cinta yang tak terkira besar nya lagi.
Malvin mengerutkan dahi nya saat Zeta mengulurkan tangan nya. "Hadiah nya mana?"
Malvin terkekeh, lalu meraih tangan gadis itu, dan mengecup nya. Sebelum akhir nya mengeluarkan sebuah kotak kecil. Zeta menerima nya dengan bersemangat, lalu membuka kotak tersebut.
"Jepitan?" Zeta bergumam, dan meraih jepitan lucu tersebut. Dia menatap ke arah Malvin.
"Kamu gak suka?" Malvin bertanya seraya mengusap puncak kepala Zeta.
"Suka. Aku suka. Tapi kok jepitan?"
Malvin tersenyum, dan meraih jepitan itu. "Biar kalu lagi sama aku, rambut kamu gak ngalangin wajah kamu sayang." dia lalu menjepitkan kepada anak rambut Zeta. "Nah kan cantik nya keliatan." ucap Malvin gemas, meninggalkan kecupan singkat di dahi Zeta.
"Makasih." Zeta tersenyum.
"Kok makasih aja." Zeta mengerutkan dahi nya. "Kiss nya mana?"
Zeta menghela nafas nya. Dia lalu mendekatkan wajah nya pada Malvin, mengecup pipi kanan, pipi kiri, dahi dan berakhir di bibir Malvin.
"I love you."
"Love you too."
Malvin tersenyum, dan merengkuh Zeta ke dalam pelukan nya. Malam ini menjadi saksi, bagaimana Malvin semakin takut kehilangan gadis ini. Dia merasa telah menjadi sempurna semenjak kehadiran Zeta di hidup nya. Dia ingin selalu seperti ini.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Malvin membuka pintu kamar tunangan nya, bau harum semerbak parfum gadis itu langsung menyambut kedatangan nya. Dia menghela nafas saat melihat gadisnya masih bergelung di dalam selimut.
Malvin mendekat ke arah ranjang tempat Zeta kini tertidur, setelah menutup pintu terlebih dahulu.
Malvin duduk di pinggir ranjang, dia tersenyum melihat gadisnya yang masih begitu damai dalam tidur nya. Tangan nya terangkat mengusap rambut Zeta, mata nya masih terfokus pada ciptaan Tuhan yang begitu indah itu.
"Ck, udah gila beneran gue." Gumam Malvin pelan seraya tersenyum sendiri. Dia lalu menghela nafas nya.
"Sayang. Bangun sayang, hari ini kita jadwal joging kan? Sayang bangun yuk!" Malvin mengelus lembut pipi kekasihnya itu.
"Zi! Sayang bangun yuk, kita joging dulu sebentar."
Gadis itu hanya melenguh dan membalikkan tubuh nya tanpa membuka mata sedikit pun. Malvin menghela nafas nya perlahan, dia lalu naik ke atas tempat tidur dan berbaring tepat di samping Zeta.
Malvin memiringkan tubuh nya searah dengan Zeta, lalu memeluk gadisnya itu dari belakang, membenamkan wajah nya di leher bagian belakang Zeta.
Zeta mengerutkan dahi nya, saat merasakan seasutu yang berat menimpa pinggang nya. Dia mengerjapkan mata nya perlahan, saat merasakan hembusan nafas seseorang di leher nya.
Dia menghela nafas nya. "Ck, Malvin jangan ganggu dong. Aku ngantuk." Zeta bersuara parau, ciri khas orang bangun tidur.
"Bangun sayang! Kan kita harus joging pagi ini. Kan itu anjuran dokter buat kaki kamu." Ucap Malvin tanpa merubah posisi nya.
Zeta menghindari kepala Malvin. "Ih geli Malvin." Dia membalikkan tubuh nya, tatapan nya langsung saja beetemu dengan mata Malvin.
Malvin tersenyum lalu mengecup singkat bibir gadis itu. "Morning sayang."
Zeta kembali memejamkan mata nya. "Morning."
"Loh kok merem lagi?" Malvin merengkuh tubuh Zeta mendekat ke arah nya. Bukan nya bangun, Zeta justru membenamkan kepala nya di d**a bidang Malvin, mencari kenyamanan di sana.
Malvin terkekeh, dia mengelus kepala Zeta dan mengecup nya sesekali. "Bangun yuk! Kita joging dulu sebentar, habis itu makan, habis itu kamu boleh tidur lagi sayang. Yuk bangun sayang."
"Erghh---aku ngantuk."
"Iya, cuci muka dulu, nanti juga kantuk nya hilang."
"Nanti aja deh joging nya. Siangan."
"Siang itu bukan joging lagi nama nya sayang. Ayok dong, ini demi kamu juga. Sebentar aja kok."
Malvin menghela nafas nya, tidak ada pilihan lain. Sekarang hampir jam 7, bisa-bisa mereka tidak jadi joging hari ini. Malvin menggendong Zeta ala bridal style, dan membawa gadis itu ke kamar mandi.
Mata Zeta seketika terbuka saat merasakan tubuh nya melayang. Dia memukul punggung Malvin. "Malvin turunin! Aku gak mau joging! Malvin!" Teriak nya.
Teriakan Zeta terhenti saat Malvin menurunkan nya di atas wastafel. Tatapan dingin Malvin menusuk ke mata Zeta, membuat nyali gadis itu seketika menciut.
"Udah teriak-teriak nya?"
Zeta diam, gadis itu menunduk. Sampai Malvin meraih dagu nya.
"Dengerin aku. Kamu harus joging pagi ini!" tekan nya, menatap tajam ke mata Zeta.
"Tapi Vin---"
"Gak ada tapi-tapian! Aku gak suka kamu ngebantah terus kayak gini! Nurut! Semua nya buat kebaikan kamu!"
Zeta semakin tidak merespon melihat wajah serius Malvin.
"Sekarang kamu cuci muka! Gosok gigi!" Malvin mengusap puncak kepala Zeta, nada suara nya masih terdengar tajam dan tidak terbantahkan.
Zeta hanya menurut dan meraih sikat gigi yang sudah di olesi odol oleh Malvin. Dia mulai menggosok gigi nya dalam diam. Sementara Malvin memegang rambut nya, agar tidak terkena busa. Setelah itu mencuci muka.
"Udah." gumam Zeta, tanpa menatap Malvin.
Malvin kembali menggendong Zeta. "Kalau kamu nurut aku gak akan marah Zi. Ngerti!"
Zeta mengangguk.
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️
Malvin melirik Zeta yang berlari kecil di samping nya, sejak tadi gadis itu tidak berbicara sama sekali. Hanya diam, dan bahkan tidak melirik ke arah nya.
Malvin menghentikan lari nya saat gadisnya tiba-tiba saja berhenti dan membungkuk kan tubuh.
"Kamu kenapa sayang?" Malvin berucap khawatir dan menyentuh pundak Zeta.
Zeta menepis tangan Malvin. Tanpa menjawab dia kembali berlari. Namun, tangan Malvin langsung saja mencekal lengan nya.
"Kamu kenapa? Kamu capek? Ya udah---"
"Enggak! Tapi kamu yang nyuruh aku joging! Biar aja aku joging sampe besok pagi!" Ketus Zeta, dan menepis kembali tangan kekasih nya itu.
Malvin meraih kedua pundak Zeta, membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Iya maaf. Aku tau kamu masih marah. Tapi kalau kamu capek, kita istirahat dulu ya." Dia mengelus kepala Zeta.
Tanpa menunggu jawaban dari Zeta, dia membawa gadis itu ke bangku taman. Lalu menarik Zeta agar duduk di pangkuan nya. Dia menatap lekat gadisnya itu yang masih enggan menatap ke arah nya.
"Udah dong sayang marah nya. Ya udah maafin aku karna marah-marah sama kamu tadi." Dia membelai rambut Zeta, berucap selembut mungkin. "Tapi aku kayak gitu buat siapa? Buat kamu kan? Kamu cuman punya jadwal joging 1 kali seminggu, apa susah nya buat nurut. Itu kan anjuran buat kesehatan kaki kamu."
Zeta untuk pertama kali nya menoleh pada Malvin. "Ya tapi ini udah tiga tahun Vin. Aku udah sembuh."
"Iya kamu udah sembuh. Tapi kan harus---"
"Kamu tu bersikap seakan-akan aku cewek paling lemah tau gak?!! Emang kalau aku gak ikutin anjuran itu trus aku lumpuh lagi gitu?!! Lumpuh seumur hidup?!!"
"ZETAAA!!"
Zeta terperanjat saat Malvin tiba-tiba saja membentak nya. Tubuh nya bergetar dan spontan bangkit dari pangkuan Malvin, mata nya sama sekali tidak lepas dari mata Malvin yang berkilat marah.
Nafas Malvin terengah, mata nya terus menyorot tajam ke arah Zeta yang mulai melangkah mundur. Bentakan nya tadi ternyata mengundang tatapan beberapa penghuni taman.
Malvin mengusap gusar wajah nya, dia lalu melangkah mendekati Zeta. "Gak sayang bukan gitu! Sayang! Zi! Hey, aku gak maksud bentak kamu."
Malvin meraih tubuh Zeta saat gadis itu terus menghindar dan berusaha melepaskan dekapan Malvin. Malvin semakin merasa bersalah saat mendengar isakan Zeta.
"Zi! Sayang maafin aku, aku gak bermaksud gitu." Malvin menangkup wajah Zeta, menatap lekat ke mata gadis itu. Mata nya menyorot penuh penyesalan kepada gadisnya itu. "Maafin aku sayang, aku cuman gak suka kamu ngomong kayak gitu."
Zeta masih sesegukan karna tangis nya. Malvin mengecup kedua mata Zeta, lalu kembali menatap lekat ke mata gadis itu. "Aku lakuin ini demi kamu Zi. Bukan maksud aku buat bikin kamu merasa lemah, enggak sayang. Aku cuman pingin kamu baik-baik aja. Sakit nya kamu, itu sama aja sakit nya aku Zi. Jadi aku mohon, nurut sayang. Aku mohon!"
Zeta tertegun mendengar suara Malvin. "Maafin aku Vin."
Malvin menggeleng, dia kembali mendekap Zeta. "Bukan salah kamu sayang. Bukan salah kamu. Udah lupain aja ya, sekarang udah jam setengah 8, jam makan kamu udah lewat. Kita makan dulu ya?"
Malvin menatap lembut ke mata Zeta seraya menghapus air mata Zeta, gadis itu mengangguk dan membiarkan Malvin merangkul nya.
"Kamu tunggu sini! Biar aku yang pesenin ya."
Zeta mengangguk. Malvin berlalu menuju salah satu penjual nasi goreng yang ada di taman itu. Dia harus memastikan sendiri bahwa makanan yang di makan gadisnya itu bersih, dan tidak pedas serta sehat untuk Zeta. Dia tidak mau, magh atau penyakit lambung Zeta yang lain nya kembali bangkit apalagi sampai di rawat di rumah sakit.
Selagi menunggu Malvin, Zeta sibuk memainkan ponsel milik nya. Membuka aplikasi i********:, melihat post-postan terbaru dari orang yang dia ikuti. Zeta tersenyum saat melihat ada postingan Zoya di sana. Gadis itu tampak berfoto di depan sebuah bangunan dengan tulisan American University.
"Ya ampun gue kangen banget sama Zoya." Gumam Zeta, dengan semangat dia mengomentari foto sahabat nya itu.
Ya, Zoya memang tidak berkuliah di Indonesia. Melainkan di America, bukan tanpa alasan gadis itu terpaksa di kirim oleh tante nya yang merupakan mantan guru matematika nya dulu di SMA, siapa lagi kalau bukan Buk Windy, untuk berkuliah di Amerika. Karna, jika di Indonesia maka Zoya tidak akan serius untuk belajar, contoh nya saja saat SMA bahkan saat detik-detik mau ujian nasional gadis itu malah masih sempat nya bolos. Sebab itu lah, Buk Windy mengirim Zoya ke Amerika, Zoya boleh kembali ke Indonesia jika dia sudah menamatkan kuliah nya.
"Lagi ngapain sayang?"
Zeta mendongak, dia tersenyum ke arah Malvin yang mengusap puncak kepala nya. "Ini lagi balas-balasan komen i********: sama Zoya."
Malvin melirik ke hp Zeta, memastikan bahwa gadisnya itu tidak berbohong. "Oh, Zoya baik?" Zeta mengangguk, dan kembali menatap ke ponsel nya.
"Ya udah tarok dulu hp nya ya, kamu makan dulu. Ini udah telat banget kamu makan nya." Malvin menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah kekasih nya itu, lalu menjepitnya kembali dengan jepitan yang di berikannya semalam.
Zeta menurut, dan menerima suapan nasi goreng dari Malvin. "Pedes sayang?" Tanya Malvin.
"enggak. Kayak nasi goreng bikinan kamu. Kamu yang bikin?"
Malvin tersenyum, dan mengecup singkat bibir Zeta. "Iya, aku sengaja bikin sendiri. Biar bumbu yang aku masukin itu pasti, gak kepedasan gak kemanisan."
Zeta tersenyum sumringah. "So sweet banget sih."
"Iya dong pacar siapa dulu?" Malvin mencubit hidung Zeta.
"Pacar Zeta dong."
Malvin tertawa pelan mendengar jawaban Zeta yang begitu menggemaskan di telinga nya. "Kamu gak makan?" tanya Zeta dengan mulut penuh dengan makanan.
"telen dulu sayang! Nanti kamu keselek."
"Kamu makan juga dong. Masak aku doang." ucao Zeta setelah menelan makanan nya, dia lalu mengambil alih sendok di tangan Malvin. Dan menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulut cowok itu.
"Kamu aja dulu yang makan. Nanti aku bisa makan kapan aja kok."
"Gak mau. Aku gak mau makan kalau kamu gak ikut makan." Zeta balik mengancam.
Malvin terkekeh, mengacak pelan rambut Zeta. "Iya aku makan." Dia menerima suapan nasi dari kekasih nya itu, yang membuat Zeta seketika tersenyum senang.
Malvin tak henti nya bersyukur, melihat tawa dan senyum Zeta saja sudah cukup untuk nya.
"Aku sayang kamu."
Zeta mengangkat kepala nya, mata nya bertemu dengan mata Malvin yang begitu menatap nya dengan lembut. "Kamu gak bosen ngomong gitu terus?"
"Gimana aku mau bosen, karna memang itu yang aku rasain setiap hari nya."
Zeta mendekatkan wajah nya pada Malvin. Membuat jarak wajah mereka begitu dekat. "Aku juga sayang sama kamu." bisik nya di sertai senyuman manis.
Malvin terkekeh, lalu mengecup singkat bibir kekasih nya itu.
"Ih kamu, cium-cium gak lihat tempat."
"Biarin!"
✉️✉️✉️✉️✉️✉️✉️