Mantan Narapidana (2)
***
“Ya, tidak keduanya, karena kenyataannya aku bukan ‘mau’ dilecehkan, tapi sudah berkali-kali dilecehkan. Bahkan perasaan jijik dan benci pada diriku sendiri karena ulah pria yang seharusnya kupanggil bapak itu terus melekat hingga kini.”
Irma menatapku dengan pandangan yang entah, hingga aku memalingkan muka. Tiba-tiba anganku kembali ke masa lalu. Aku tidak pernah tahu mengapa ibu sangat membenciku. Ia bahkan beberapa kali berusaha membuangku, akan tetapi selalu ketahuan polisi dan akhirnya kami dipertemukan kembali.
Yang ketiga kali ketika umurku sembilan tahun. Aku masih sangat ingat, saat itu ibu memintaku berdiri di dekat lampu merah. Katanya, dia akan kembali. Kenyataannya sampai malam aku menunggu, dia tak kunjung datang menjemputku.
Aku menangis, hingga membuat simpati orang-orang di sekitarku. Kemudian salah seorang pria membawaku ke kantor polisi terdekat. Di sana, salah seorang polisi mengenaliku dan paham kalau ibu untuk yang kesekian kali hendak membuangku.
Akhirnya ibu dipaksa menandatangi kertas di atas materai, yang berbunyi, jika mengulangi hal yang sama maka ibu akan mendapatkan hukuman kurungan penjara karena telah menelantarkan anaknya. Itulah terakhir kalinya, ibu berusaha melakukan hal itu.
Saat ibu menikah, kupikir hidupku akan sempurna. Terlebih ketika lelaki yang kupanggil ‘Pak’ itu terlihat begitu perhatian padaku. Ia tidak segan memarahi ibu jika wanita itu berbuat sesukanya dan selalu marah-marah padaku.
Ia juga selalu membawakanku jajan dan mainan saat pulang dari bekerja. Awalnya, aku merasa ada angin segar dalam kehidupanku. Hidupku yang selama ini dingin dan mencekam, menghangat setelah adanya dia, sayangnya aku salah.
Di saat aku sudah benar-benar percaya padanya, di sanalah tapak kehidupanku yang lebih mengerikan bermula. Lelaki itu, dengan kejinya merenggut mahkotaku setelah dua tahun menjadi ayah sambungku. Tepat ketika umurku memasuki usia yang ke dua belas tahun. Di saat aku sudah percaya penuh dengan kasih sayangnya, dengan ketulusannya dan dengan kebaikannya. Di saat itu juga ia menghancurkan masa depanku sehancur-hancurnya.
Aku masih ingat malam di mana ia memaksaku untuk melayaninya. Malam di mana tiba-tiba ia memasuki kamarku, lalu menyeringai seperti seekor srigala yang hendak memangsa seekor itik di depannya. Wajahnya yang biasa meneduhkan malam itu sangat mengerikan. Aku berusaha memberontak dan berlari keluar dari kamar. menggedor pintu kamar ibu dan berusaha meminta pertolongan. Sayang, sepertinya ibu tidak mendengarku, karena ia tak merespon sedikitpun.
Laki-laki itu menarik lengan dan memaksa aku kembali masuk ke kamar, lalu peristiwa menjijikkan itu pun terjadi. Tak perduli aku memelas memohon dikasihani, tak peduli aku menangis meminta pengampunan diri. Dengan beringas ia merenggut mahkotaku.
Tangan kekar yang seharusnya melindungiku, menjadi tangan jahat yang meluluh lantahkan kehormatanku. Di usia yang ke dua belas tahun, aku merasakan duniaku menjadi abu-abu. Aku tak terlarik lagi pada dunia ini, yang ada dalam pikiranku saat itu, mengapa Tuhan menciptakanku, jika pada akhirnya hanya penderitaan yang terus saja menderaku.
Sejak malam itu, di malam-malam selanjutnya menjadi malam yang mengerikan bagiku. Ia selalu datang setiap kali ada kesempatan. Tak lupa ia berpesan supaya aku tidak bicara pada siapa-siapa, karena jika sampai bocor, maka nyawaku yang menjadi taruhannya.
"Suatu hari, aku memberanikan diri mengatakan semuanya pada ibu. Mengharapkan perlindungan darinya. Dia satu-satunya harapan terbesarku, karena hanya dia yang aku punya, tidak ada yang lainnya."
“Lalu apa kata ibumu? Apakah dia memarahi suaminya itu? Atau ... ia melaporkan perbuatan b******n itu ke polisi?”
Irma dengan seksama menatapku. Aku mendengus tertawa mendengar pertanyaannya, semakin lama tawaku semakin kencang, tapi entah mengapa bersamaan dengan itu malah air mata yang mengalir deras. Rasa sesak itu tiba-tiba datang menghimpit d**a, aku bahkan harus mengatur nafasku berulang-ulang supaya bisa lebih tenang.
“Rin, maaf kalau pertanyaanku menyakitimu.”
Aku menggeleng. “Harapan hanya tinggal harapan. Kenyataannya tidak seperti yang aku impikan. Ibu memang marah, dia murka, tapi bukan pada suaminya."
"Jadi pada siapa?"
"Padaku ... Dia malah memukuliku dan mengatakan kalau akulah yang menggoda suaminya, sampai suaminya melakukan itu semua. Dia menyebutku jalang, dia menyebutku pelacu*, dia cemburu dan .... “
Aku kembali tertawa disertai derasnya air mata, menertawakan kehidupanku yang begitu payah sampai bahuku terguncang hebat. Irma berdiri, duduk di sampingku dan langsung memelukku.
“Rin, sudah ... jika mengingat hal itu menyakiti hatimu, lebih baik kita lupakan semuanya. Seharusnya dia mengataiku dengan sebutan itu, bukan mengataimu. Iyakan?” Irma melerai pelukan, menghapus jejak air mataku juga air matanya.
"Hidupku sepayah itu, Ir. Sepatah itu."
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, air mata yang selama ini kutahan akhirnya tumpah juga. Entah mengapa aku langsung mendapatkan kenyamanan dan kepercayaan setelah mengenal gadis berkulit putih dihadapanku ini. Mungkin karena nasib kami yang tak jauh berbeda sehingga aku yakin jika dia bisa mengerti perasaan dan keadaanku.
"Hidupku juga payah. Aku terjerumus ke lembah hitam juga karena dijebloskan oleh om dan tanteku sendiri. Mungkin, kita dipertemukan di sini untuk saling menguatkan satu sama lain."
Aku mendongak dan, kemudian kami sama-sama tertawa. Menertawakan nasib kami yang sama-sama payah. Kuusap ujung mata, dan menarik nafas dalam-dalam. Irma berdiri, lalu memberiku segelas air minum.
“Sudah malam, tidurlah. Besok pagi-pagi setelah sarapan, kita akan melakukan pembersihan lapas.” Aku mengangguk. Irma kembali ke kasurnya, lalu menarik selimutnya. “Aku tidur, ya!”
“Ya. Makasih sudah mau mendengarkan ceritaku.”
“Sama-sama. Kamu gadis yang hebat, bisa melewati ini semua. Selamat tidur Rin.“
Lalu ia memejamkam mata. Aku ikut berbaring, menatap langit-langit lapas ini. Padahal aku belum mengatakan alasan mengapa aku sampai menghilangkan nyawa lelaki itu. Di saat Irma sudah terlelap, bayangan masa lalu kembali melayang di pelupuk mata. Aku ingat akan Bude Yanah.
Wanita paruh baya yang rumahnya tepat berada di belakang rumah Ibu. Setiap kali ibu marah dan memintaku tidur diluar, dia yang selalu datang dan memberi pertolongan. Memberiku makan dan tempat tidur yang hangat. Yang dia tahu, ibu sangat keras terhadapku, dia tidak pernah tahu, jika rumah itu seperti neraka bagiku.
“Sudah, kamu makan dulu. Besok juga ibumu sudah bersikap seperti biasa padamu. Ini ada nasi hangat dan sambal tempe. Bude memasaknya tadi sore.” Lalu ia menyodorkan sepiring nasi hangat itu untukku.
“Makasih Bude.”
“Sama-sama. Nanti kalau kamu besar, sudah jadi orang sukses, jangan lupakan Bude, ya!”
Aku tersenyum mengingat semuanya. Setidaknya ada sedikit kenangan baik dan manis dalam hidupku. Berkat Bude Yanah juga aku bisa bersekolah. Meskipun sedikit terlambat, akhirnya aku bersekolah di usiaku yang ke delapan tahun.
Semuanya berkat kebaikan Bude Yanah. Ia meminta tolong salah satu keluarganya yang seorang perangkat desa untuk mengurus banyak hal supaya aku bisa bersekolah seperti anak-anak lainnya. Andai tidak ada dia, pasti aku tidak mengenal huruf dan angka. Pasti aku tidak bisa berhitung dan membaca.
Awalnya bibirku tersenyum ketika mengingat Bude Yanah, lalu senyum itu menghilang setelah bayangan Ibu menggantikannya. Malam di mana peristiwa mencekam itu terjadi, ibu yang pertama kali menemukan kami. Bapak tergeletak di lantai dapur bermandikan darah, dan aku ada di dekatnya dengan memegang pisau yang juga penuh dengan darah.
Aku bahkan lupa, berapa kali aku menikamnya, karena aku melakukannya sambil memejamkan mata. Seketika ibu berteriak memanggil para tetangga. Kukira dia akan menceritakan kejadian yang sesungguhnya, nyatanya dia malah menunjukku dan mengatakan pada semua orang bahwa akulah pembunuh suaminya, tanpa alasan yang jelas.
Pertanyaan besar dalam benakku hingga saat ini yang belum kutemukan jawabannya adalah, Mengapa, ibu sangat membenciku? Apakah aku bukan anak kandungnya? Jika benar, lalu siapa aku?