#Mantan_Narapidana
#Part_3
***
“Ir, bisa nggak meminta masa tahanan kita ditambah?”
Irma terbatuk mendengar pertanyaanku. Kami sedang makan pagi dengan menu nasi putih, tumis kangkung dan telur asin. Makanan ini di susun dalam mangkuk bersekat empat berwarna ungu, persis seperti wadah bekal pada umumnya.
“Di mana-mana orang pengen cepat bebas, Rin. Kamu kok malah pengen menambah masa tahanan.”
Irma kembali memakan sarapannya. Aku hanya tersenyum tipis mendengar jawabannya. Sejujurnya, tujuan utamaku tidak mau mengatakan semuanya pada polisi adalah supaya aku dihukum seberat-beratnya. Aku ingin menetap di sini saja, karena memikirkan setelah keluar dari sini, membuatku pusing kepala. Apa yang akan kulakukan nanti diluar sana. Di sini kehidupanku lebih tenang dan terarah.
Makan teratur, banyak teman, ibadah jalan terus, dan banyak hal positif yang kudapatkan. Sementara diluar sana, aku takut kembali bertemu dengan iblis berwujud manusia seperti sebelumnya. Selesai sarapan, bersih-bersih sebentar, lalu lanjut sekolah. Karena aku dulunya terlambat masuk Sekolah Dasar, diumur ke enam belas tahun ini jika sekolah formal aku masih duduk di bangku kelas VIII Sekolah Menengah Pertama, sehingga di sini aku mengejar paket B . Sementara Irma yang seharusnya duduk di kelas XII Sekolah Menengah Atas ia mengejar paket C.
Pukul 11.00 siang, kegiatan belajar mengajar selesai, dilanjutkan dengan pembersihan lingkungan, lalu persiapan untuk sholat zuhur. Di mushola aku kembali bertemu dengan Irma dan yang lainnya. Satu persatu aku mulai mengenal teman yang satu lapas denganku. Yang berhijab bernama Dini, baru tadi pagi kami kenalan. Yang berambut ikal bernama Yuna, kemudian yang lain bernama Rini dan Puput.
“Gimana belajarnya?” tanya Irma saat kami makan siang.
Kali ini kami makan dengan menu nasi putih, capcay dan ikan laut yang digoreng.
“Baik. Aku suka gurunya, dia sangat ramah. Tadi kami belajar IPS.”
Irma mengangguk. “Syukurlah kalau Kau suka. Semoga semakin betah di sini.”
“Aamiin. Kalau kamu sudah menjalani masa tahanan berapa lama, Ir?”
“Aku baru satu tahun di sini. Aku menyukai tempat ini, hanya saja kadang aku merasa bosan. Rindu juga kebebasan di luar sana. Eh, tapi bukan rindu dengan om om, ya!” Aku tertawa mendengarnya meluruskan maksud dari perkataannya sendiri.
"Aku nggak mikir gitu kok! Hahaha!"
Irma nyengir kuda, lalu ia terdiam dan mengembuskan napas berat. Pandangannya menerawang jauh ke depan dan aku kembali sibuk dengan makananku. Setelah beberapa saat terdengar ia berseloroh.
“Rin, pernah mikir nggak sih, kalau adanya kita di sini itu sebenarnya cara Tuhan memperbaiki dan menyelamatkan hidup kita.”
Aku yang sedang mengunyah makanan, menghentikan kegiatan makanku. Memindai mimik wajahnya yang sedang memikirkan sesuatu.
“Maksudnya?”
“Jadi begini, selama ini hidup kita itu digempur dengan berbagai macam masalah dan cobaan, kemudian ‘musibah yang menjadi anugrah’ ini datang setelahnya, cerita pahitnya hidup kita selesai.” Dahiku mengernyit, kebingungan. “Masih nggak paham?" Aku menggelengkan kepala. "Maksudnya begini loh." Irma mencondongkan tubuhnya kearahku. "Setelah kita dipenjara, hidup kita yang sekarang jauh lebih baik dan lebih terarah dari sebelumnya. Aku tidak lagi menjadi seorang PSK dan penderitaanmu di rudapaksa oleh lelaki itu juga selesai. Ibumu juga tidak bisa lagi memaki dan memukulimu sesuka hatinya. Iya, ‘kan?”
Aku mengangguk secara perlahan, mulai paham dengan apa yang dia katakan. Kemudian Irma tersenyum sendiri dan kembali sibuk dengan makan siangnya. Jika dipikir-pikir benar saja, setiap masalah dan musibah pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik setelahnya. Jika aku tidak dipenjara, hidupku pasti masih seperti di neraka. Aku menatap Irma yang sedang lahap memakan makan siangnya. Kemudian aku juga tersenyum tipis menatap wajahnya.
Sepertinya mengenal dia sini menjadi salah satu hal yang patut kusyukuri di dunia ini, selain mengenal Bude Yanah. Meskipun latar belakangnya seperti itu, tapi dia dewasa, baik dan sangat bijak dalam memandang suatu masalah. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Ali Bin Abi Thalib bahwa ‘Jangan melihat siapa yang berbicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan.’ Karena bukan tidak mungkin hikmah atau kebaikan itu berasal dari lisan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
***
Malamnya aku kembali meresapi nyamannya berada di sini, karena biasanya, setiap malam aku pasti merasakan ketakutan dan rasa was was yang luar biasa. Dulu, hidupku benar-benar tidak bisa tenang. Takut kalau laki-laki itu datang dan kembali melakukan hal-hal yang membuatku muak. Kadang aku berfikir, rasanya tidak mungkin ibu tidak mengetahui perbuatan be_jatnya. Apa mungkin ibu hanya diam karena takut ditinggalkan?
Anehnya Ibu sering mencam_bukku hingga bahu ini terluka dan itu sering dia lakukan jika malamnya, laki-laki itu datang ke kamarku dan melakukan perbuatan terkut_uknya. Sepertinya Ibu memang tahu dan melampiaskan kekesalannya itu hanya kepadaku saja. Aku meraba punggungku dan masih ada bekas luka.
Jika mengingat semua memori tentang kesakitanku, sepertinya aku memang bukan anaknya. Aku merasa, setiap kali dia menatapku, yang ada hanya kebencian, tapi mengapa dia sangat membenciku? Mengapa?
Aku yang sejak tadi tidur terlentang berbaring miring ke arah kanan, dan kulihat ternyata Irma juga belum memejamkan matanya. Kami saling bertatapan dan sama-sama tersenyum.
“Sudah berapa malam tidur di sini? Masih saja meresapi kedamaian?”
Senyumku semakin melebar. “Aku lagi bertanya-tanya, mengapa ibuku begitu membenciku. Apa mungkin aku bukan anaknya? Jika bukan, lalu aku anak siapa?”
“Sebelumnya apa dia tidak pernah bercerita mengenai itu semua?”
“Kami tidak pernah bicara. Dia mau bicara padaku hanya jika dia marah." Kemudian aku ingat sesuatu. "Tapi sebentar .... “
Aku berdiri, lalu menuju di mana tasku tergeletak. Kubuka resletingnya dan mencari sesuatu di sana. Aku ingat aku perah menemukan amplop berwarna putih saat membuang sampah. Aku pikir isinya uang, makanya aku membukanya, ternyata isinya sebuah foto, tapi aku hanya melihatnya sekilas dan menyimpannya.
Setelah membongkar isi tas, aku baru menemukan amplop itu. Irma menatapku dengan raut wajah penasaran. Barangkali dia menunggu, apa yang akan aku tunjukkan. Aku menatap sekeliling, memastikan kalau yang lainnya sudah terlelap. Setelah yakin aku mendekati kasur Irma, dan duduk di sampingnya.
“Itu apa?” tanyanya setelah melihatku membawa amplop berwarna putih ini.
“Awalnya aku pikir ini uang, ternyata bukan. Ini sebuah foto lama. Aku menemukannya di kotak sampah saat hendak membuangnya ke luar rumah.”
Irma mengambilnya dari tanganku, lalu membukanya. Ekor matanya fokus menatap foto di tangannya.
“Kau mengenal perempuan ini?”
“Tidak.”
“Lalu anak kecil ini siapa?”
“Aku juga tidak tahu siapa anak itu.”
Foto seorang perempuan mengenakan dres selutut berdiri dengan rambut ikal tergerai panjang menghadap ke belakang. Dia menoleh sedikit ke arah kamera sembari mencium wajah anaknya. Sayang wajah foto perempuan itu tidak jelas, karena wajahnya sama sekali tidak terlihat, sebab penuh dengan coretan pena. Hanya wajah anak kecil itu yang jelas terlihat, tetapi sayangnya aku pun tidak mengenalinya siapa anak kecil dalam foto tersebut.
“Foto hitam putih, sepertinya foto lama, ya!”
“Ya.”
“Kau benar-benar tidak mengenalinya?” Aku menggeleng. “Simpan foto ini, siapa tahu nanti bisa jadi petunjuk jika benar Kau bukan anak dari wanita itu. Tapi, apa Kau yakin, kalau wanita yang selama ini bersamamu itu bukan ibumu?”
Irma kembali memasukkan foto itu ke amplop, lalu menyerahkannya padaku.
“Entahlah, tapi jika mengingat hari-hari yang sudah kulalui bersamanya, aku tidak pernah melihat cinta di dalam matanya. Bahkan kadang aku merasa ... selain dia membenciku, dia juga seperti menyimpan sesuatu padaku.“
“Menyimpan sesuatu, apa itu?”
Aku coba mengingat-ingat cara dia menatapku, cara dia memperlakukanku dan aku juga sering memergoki dia sedang menatapku dengan pandangan yang cukup mengganggu. Di sorot matanya aku melihat kebencian dan juga ...
"Rin! Kok malah bengong? Menyimpan apa?"
Aku menoleh, menatap kedua bola mata Irma cukup lama, lalu berkata.
“Dendam.”
"Dendam?"
"Ya. Itu yang aku rasakan. Selain kebencian sepertinya dia juga menaruh dendam kepadaku."
"Tapi mengapa dia menyimpan dendam padamu?"
Aku menggeleng secara perlahan, mengalihkan pandangan, kemudian menjawab.
"Itu yang aku tidak tahu .... "