BAB 3 - WEDDING

2434 Kata
Happy Reading ♡♡ "Key! bangun, Sayang. Ada Rangga, nih!" seru Erina dari bawah tangga. "Kamu ke kamarnya aja deh, ya? Tante minta tolong, anak itu emang agak susah bangun kalo cuma dipanggilin." Rangga mengangguk paham. Kakinya sudah menginjak anak tangga satu persatu, sampai akhirnya berada di depan sebuah pintu yang berwarna mencolok, lain dari tema latar rumahnya yang berwarna krem berpadu dengan putih, cenderung kalem. Posisinya emang tak berubah, tapi pasti akan banyak perbedaan di dalamnya. Tok! tok! "Kesya?" panggil Rangga, namun tak ada sahutan. Cklek! Rangga segera mengalihkan pandangannya dari sosok yang terkapar di atas ranjang berukuran sedang itu. "Key?" panggilnya lagi, kakinya semakin melangkah masuk, tapi matanya masih tetap ia usahakan untuk melihat ke arah lain. Sampai. Tangannya sudah menyentuh area kasur, perlahan ia pun duduk di pinggirannya. Hening. Canggung. Rangga benar-benar merasa canggung sekarang. Apa ia harus membangunkannya dengan lembut, atau bahkan menariknya dengan kasar agar segera bangun dan tidak berlama-lama? Di tengah-tengah pemikirannya, sosok yang sedang jadi topik utama malah beralih posisi membelakangi, seolah tak ada siapapun di sini. Tapi memang Kesya tidak mengetahui keberadaannya, kesalahan kali ini ada pada Rangga yang masih diam saja. "Ayo bangun!" Rangga menarik guling yang sedang Kesya peluk dengan nyaman. "Apasih, Bu?! hari ini Kesya gak ngampus!!" lenguh gadis itu tanpa berniat untuk membuka matanya, ia malah menarik kembali apa yang hendak Rangga ambil. "Mau bangun atau gue ikut tidur di sini?" Bisik Rangga, pada telinganya. Deg! Tanpa perlu mendengar yang kedua kali, mata Kesya segera terbuka lebar. "R-Ra-Ranngga?" gumamnya ragu. "Apa Sayang?" Kesya segera merubah posisi tubuhnya menjadi terduduk. "Elo? ngapain di sini?" menarik selimut tebalnya untuk menutupi badannya yang hanya terbalut kain tipis tanpa menggunakan dalaman. Memang benci untuk mengakuinya, tapi sepertinya Rangga melihat apa yang seharusnya tak ia lihat, setidaknya sebelum pernikahan. "Bangunin kamu lah, lagian susah banget dibangunin." "Ka-kamu?" ulang Kesya berekspresi mual, "nggak usah sok akrab! mendingan sekarang lo pergi, dan biarin gue lanjut tidur lagi dengan aman, tentram, dan damai, oke?" Rangga mengangguk, "Oke." Tapi persetujuan yang Rangga jalankan bukan seperti yang Kesya maksudkan. Pria itu malah mau ikut serta berbaring di atas kasur miliknya, sontak membuat gadis itu loncat dari kasurnya. "Lo itu apa-apaan, sih?! udah gue bilang kalo hari ini gue gak ngampus, Rangga!!" geram Kesya sembari sibuk mempererat selimutnya. "Hari ini kita Fitting baju. Kalo dalam 30 menit masih belum siap, gue bukan cuma bakal ikut tidur di sini, tapi..." "Coba aja, pintu gue kunci!" tantangnya galak, tak sadar kalau posisinya bisa saja menjadi tak aman. "Kunci pintu?" Rangga menarik sebelah ujung bibirnya, membuat Kesya mengernyit bingung. Rangga beranjak dari tempatnya lalu menutup pintu kamar dan kemudian menguncinya dari dalam. "Pilihan bagus." *** "Udah selesai, kan?" ujar Kesya setelah terduduk di kursi penumpang, "turunin gue di kafe depan," tambahnya, kembali sibuk dengan gadget miliknya. "Mau ketemu siapa?" tanya Rangga, namun gadis itu tak berniat menjawabnya. Kring .. kring .. Dering telepon Kesya kemudian menyela Rangga yang hendak kembalu berbicara. Kesya menjawab teleponnya, tanpa mau tahu apa yang sosok di sampingnya itu bicarakan. "Iya, Sayang!" ucap Kesya, sengaja memberi penekanan dalam panggilan "sayang"nya, "ini aku lagi di jalan, tunggu di sana, ya. Jangan kemana-mana." "Ayo jalan," delik Kesya pada pria yang malah sibuk memerhatikannya. Rangga tak terusik, karena tak merasa punya kewajiban untuk mengikutinya. "Oke, gue bisa tu..." ucapan Kesya terhenti dengan suara mesin mobil yang mulai menyala. "Halo," ucap Kesya lagi di balik benda pipihnya yang sejak tadi ia tutupi bagian speakernya. "Kamu bilang apa tadi? maaf aku nggak denger." Selesainya pembicaraan Kesya di telepon, sampainya pula mobil di tempat yang Kesya maksudkan. Tunangan yang mrangkap sebagai sopir pribadinya ini memang cukup bisa diandalkan, Kesya tidak terlalu kerugian. Namun ketika ia hendak turun, tiba-tiba pria itu merebut ponselnya lalu keluar dari mobil, sementara Kesya dibiarkan terkunci di dalamnya. "Nih!" Rangga mengembalikan benda yang telah selesai ia utak-atik sebelumnya pada pemiliknya yang sekarang raut wajah itu bertambah kusut lebih dari sebelumnya. "Lo itu ngeselin banget tau, nggak?!" geram Kesya, meremas kuat ponselnya. Rangga mencondongkan tubuhnya pada Kesya, "Tuh, pacarnya nungguin," tunjuknya ke arah bangunan yang ada di sampingnya. "Jangan sampe dia liat gue ada di sini." "Ya liat tinggal liat, emang kenapa?" dengus Kesya, "lagian lo bukan siapa-siapa!" tambahnya penuh penekanan sembari membuka cincin yang tersemat di jari manisnya tepat di hadapan pria yang sedang menyalakan api peperangan dengannya. "Kesya?!" geramnya, tapi gadis itu sudah turun dari mobilnya, menebarkan senyum kemenangan. Sementara rahang Rangga kian menegas, menahan amarahnya yang merasa direndahkan. *** "Sayang!" seru Kesya, mengecup pipi kanan dan kiri milik Reza secara bergantian, membuat wajah musam pria itu mulai memudar. "It's okay," sahut Reza, membalas senyum. "Dianter siapa?" Tanya Reza, menilik mobil yang masih bertengger di tempat semula. Kesya menoleh, mengikuti arah pandang pacarnya, "ahh ituuu," tertawa kaku, "sodara, dia orang Bogor kan, belum hapal jalanan Jakarta, jadi sibuk sama maps pasti sekarang." Reza mengangguk paham, bersamaan dengan mobil milik Rangga yang telah beranjak. "Ayok!" Reza bangkit dari kursinya. Kesya mengernyit bingung, "baru juga sampe." "Di sini rame," ucap Reza, "kita butuh privasi," tambahnya setengah berbisik. Tanpa Kesya tahu, ternyata Reza membawanya ke apartement yang ia tempati selama hampir 4 tahun, sepanjang perkuliahan berjalan. "Aku nggak pernah bawa kamu ke sini, dan sekarang saatnya." Tak ada kecurigaan apapun, Kesya hanya mengikuti alur yang bahkan seharusnya tak aman. Ketika Kesya sedang menyembunyikan sesuatu, maka Reza sedang memastikan sesuatu. Setidaknya gadis ini tidak akan menghilang dari hidupnya, karena Reza tak pernah memikirkan hal yang demikian. Ternyata di apartement, Reza sudah menyiapkannya dengan baik. Banyak cemilan dan berbagai minuman tertara rapi di atas meja, seolah memang bukanlah suatu yang kebetulan seperti ajakannya yang tiba-tiba. "Ini minuman apa?" Kesya meraih salah satu dari beberapa botol minuman yang mereknya saja tak pernah Kesya temui. Reza terduduk di samping Kesya, "mau coba?" Awalnya Kesya ragu, tapi apa salahnya mencoba? pikirnya, ia tak akan tahu kalau tak pernah mencobanya. Kesya tahu, itu minuman beralkohol, tapi setidaknya sekali dalam seumur hidup Kesya harus tahu bagaimana rasanya. Sebab selama ini bukannya tak mau, Kesya hanya tak pernah dapat kesempatan saja. Kesya mengernyit, satu tegukan membuat tenggorokkannya terasa seperti terbakar. Perlu beberapa menit untuknya kembali menelan dengan nyaman. Seharusnya kalau hanya untuk tahu, sekali saja cukup, tapi nyatanya gadis itu malah menghabiskan satu gelas. "Kayaknya pacarku ini kuat alkohol, ya?" kekeh Reza, mengusak gemas rambut milik Kesya. Sebenarnya tidak seperti yang Reza katakan, karena Kesya mulai kehilangan fokusnya. Terlihat dari matanya yang tak lagi segar seperti sebelumnya, dan gadis itu mulai meracau tak beraturan. "Apa kita bisa bereng terus?" Kesya bersandar pada d**a bidang milik Reza, "harusnya bisa, tapi mereka nggak ngerti," tambahnya, mendengus kesal. Kesya mendongak, melihat wajah yang berada di atasnya. "Akuu.." telunjuk Kesya menyentuh area bibir Reza, "akkhh!" ringisnya kemudian, Reza mengigitnya. Namun kesakitan itu beralih segera menjadi tawa keduanya yang mulai bersahutan. "Kamu nggak akan ke mana-mana," ucap Reza, membingkai wajah Kesya, menatapnya lekat. "Setelah ini kamu hanya untuk aku." Reza mendorong tubuh Kesya yang sudah terkulai lemah ke pangkal sofa. "Kamu percaya sama aku, kan?" ucapnya lagi, mengecup bibir Kesya lembut. Pengaruh alkohol seakan menghilang dalam sekejap, suhu tubuh memanasnya menarik kembali kesadaran. Namun ketika Kesya hendak membenarkan posisinya, seseorang yang berada di atasnya tak memberikan akses, membuat Kesya cukup kesulitan untuk bergerak. "Hhahhh," lenguh Kesya ketika secara tiba-tiba bibir Reza menelusuri area lehernya, "Re-Reza, kamu.." "Sssstt!" Reza berdesis, "diem. Rasakan aja sensasinya, kamu bakal ketagihan. *** "Rangga?" seru Erina, "loh, Kesyanya mana?" "Tadi Kesya minta turun di jalan, ketemu temennya. Memangnya Kesya belum pulang?" "Duh, anak itu," lenguh Erina, raut wajahnya berubah khawatir, "biasanya ngabarin, tapi sekarang nggak ada sama sekali." "Ibu tenang, ya," Rangga merogoh ponselnya, menekan ikon telepon pada nomor yang ada di daftar panggilan terakhirnya. "Kamu di mana? kenapa belum pulang?" "Eumhhh," terdengar suara sayup milik Kesya. "Key?" "Nanti aja teleponnya, Sayang." Tut! tut! "Halo Key! halo, Kesya?!" Rangga mengepal kuat tangannya. "Gimana, apa katanya?" tagih Erina. "Minta jemput katanya," sahut Rangga, cukup membuat wanita paruh baya itu kembali bernapas lega. "Rangga pamit dulu ya, Tan." "Iya, hati-hati." Rangga memutar tubuhnya bersamaan dengan senyuman yang kian berubah garang. Tanpa aba-aba, pria itu segera memuenginjak pedal gasnya, bahkan membuat Erina menaruh curiga seolah ada sesuatu hal yang amat mendesak, jauh dari kata baik-baik saja. Titik koordinat ponsel Kesya tak begitu jauh dari tempat di mana Kesya hendak minta diturunkan, dan tanpa perlu banyak persimpangan Rangga sudah sampai di tempat yang seharusnya Kesya berada. Sebuah gedung apartement, cukup menarik untuk seorang pria dan wanita bisa saling menghabiskan waktu bersama. Kaki Rangga sudah sampai di depan pintu yang bahkan tidak tertutup rapat, perlahan ia mulai menerobos masuk, dan hal yang pertama kali ia lihat adalah hal yang begitu cepat membuatnya naik pitam. "b*****t!" damprat Rangga, segera menarik pria yang hampir melucuti seluruh pakaian milik gadis yang hendak ia nikahi. Buggh! Rangga menghajar habis-habisan pria itu. Pengaruh alkohol membuat Reza tak mampu membalas pukulan yang diterimanya, bahkn sekarang ia tergeletak lemas di lantai dengan penuh lebam. "Rangga stop!" teriak Kesya dengan langkah gontai nya, menarik Rangga yang hendak kembali memberi pukulan. "Dia udah coba menyentuh lo, Kesya! gue nggak terima." "Lo nggak punya hak atas gue!" balas Kesya tak kalah, "lagian gue nggak keberatan." Pernyataan tak berdasar itu sontak membuat Rangga semakin berada pada puncak amarahnya. Sebelum semakin kalang kabut, ia pun meraih tubuh gadis yang bahkan masih punya tenaga untuk menolaknya, tapi tak cukup sebanding dengannya yang sudah berhasil mengangkat Kesya ke atas bahunya. "Rangga turunin!" amuk Kesya, memukul punggung Rangga juga dengan kaki yang menendang-nendang sekananya. "Tolongggg.." teriak Kesya, meski terdapat beberapa orang yang melihat taoi tak ada seorang pun yang berniat untuk menolongnya. Kesya tak habis pikir, sepertinya rasa perikemanusiaan di dunia ini memang sudah terkikis habis. Tanpa terpengaruh apapun Rangga memasukkan gadis yang dipanggulnya ke dalam mobil, lalu segera tancap gas dengan kecepatan melebihi batas maksimal yang diperbolehkan. Rasa pusing bercampur mual membuat Kesya tak lagi bisa berkata-kata. "Lo itu ngapain mau dilecehin sama dia?" bentak Rangga, intonasi suaranya mengalahkan suara mesin mobil. "Jawab!!" desaknya lagi tak mendapati suara Kesya. Ckit! Rangga menginjak rem secara mendadak, membuat tubuh keduanya memantul ke depan. Terlebih lagi Kesya yang tak memakai seatbelt, membuatnya menabrak dashboard. "Ck! segini doang? nggak bisa lebih bikin sakit apa?" deliknya, mengelus pelipisnya yang terbentur. "Maaf," Rangga meraih tubuh Kesya, membuatnya menghadap. Amarah berlebih pria itu seketika luruh, berganti rasa bersalah yang teramat sangat. "Udah, gapapa!" Kesya menarik dirinya kembali ke posisi awal. "Gue nggak mau hal seperti ini terjadi lagi." "Kenapa?" dengan mudahnya gadis itu kembali menimpali, menampakkan wajahnya yang seakan tidak sedang melakukan kesalahan. "Lagian Reza pacar gue, dia punya hak." Tanpa diduga, kali ini Rangga tak terbawa emosi, "kalo gitu, gue yang tunangan lo lebih punya hak daripada dia yang cuma pacar lo." Rangga semakin mengikis jarak, sedangkan Kesya kini mulai was-was, bahkan wajahnya sudah menunduk ketakutan. "Bilang, sampe mana gue bisa memperlakukan lo." Plak! Sebuah tamparan menjadi jawaban. "Gue nggak mau nikah sama orang yang mandang rendah gue!" geram Kesya, tubuhnya bergetar hebat, ini pertama kalinya ia melakukan kekerasan. "Lo sendiri yang udah jatohin harga diri, lo nggak sadar?" Tanpa takut Kesya membalas tatapan tajam milik Rangga, "gue mau pernikahan ini batal!" Mendengar hal itu sontak membuat Rangga terkekeh, membuat Kesya semakin geram. Tak peduli malam semakin gelap ia hendak turun dari mobil, namun sebuah tangan meraih tengkuknya lalu membawanya ke arah yang berlawanan. Cup! Mata Kesya melebar, sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya tanpa ijin. Kesya memberontak, tapi itu tak cukup membuat Rangga berhenti. Semakin Kesya melakukan penolakan, semakin gencar pula Rangga memperdalam pagutannya. Sampai akhirnya pasokan oksigen mulai menipis, membuat pria itu dengan sadar melepasan gadis yang mulai kehabisan napas. Ibu jari Rangga menyeka lembut sisa salivanya pada bibir Kesya, "kali ini lo nggak akan lolos!" pungkasnya, kembali menutup pintu yang Kesya sempat buka. "Pah, Rangga mau pernikahan berlangsung lusa," ucap Rangga di balik teleponnya. "A-apa.." Tangan Rangga segera membungkam mulut Kesya yang mulai meracau, "nggak ada alasan. Rangga cuma nggak sabar melakukannya," ujarnya rancu, membuat Kesya semakin tidak mau diam, "ah maksudnya Rangga nggak sabar buat menjaga Kesya." "Selama 24 jam setiap hari, setiap detik, setiap hembusan napas," tuturnya lagi, kini hanya pada Kesya, teleponnya sudah terputus sebab sang penerima kabar terlampau bahagia. "Arghhh!" ringis Rangga, Kesya menggigit tangannya. "Maksud lo apa?" protes Kesya, meski sebenarnya adalah hal yang sia-sia saja. "Nggak usah ngaco, lo pikir nyiapin pernikahan itu gampang apa?!" "Nggak gampang bukan brarti nggak bisa cepet!" Rangga menampilkan senyum smirknya, "biar aku kasih tau sejauh apa aku bisa berbuat, Sayang." "Sa-Sayang?" Kesya memaksa tawanya, "in your dream!" *** Rangga berhasil membuktikan kebisaannya, pengumuman 2 bulan berubah menjadi 2 hari tanpa ada hambatan. Sedangkan Kesya, kekalahannya tak terelakkan. Suaranya bahkan tak dibutuhkan pada kehidupan yang jelas-jelas adalah miliknya. Ingin sekali Kesya menjerit sekuat tenaga, lalu setelahnya menghempaskan diri dari atas gedung yang paling tinggi. Meski sakit tapi itu hanya terjadi satu kali karena nyawanya jelas-jelas melayang. Daripada harus menjalani apa yang bukan kehendaknya. Kesya bahkan tak pernah membayangkan hal semacam ini selama hidupnya. Menikah dengan orang yang tak dicintainya, bahkan Kesya pun tak merasa mendapatkan cinta dari pria yang memilih untuk menikahinya ini. Entah apa yang ada dalam otak pria itu, tapi sangat jelas kalau pernikahan dua orang yang tak saling mencintai itu seharusnya tak terjadi. Itu buruk. Tidak seperti yang seharusnya, Kesya bahkan sama sekali tak merasakan kebahagiaan di hari pernikahannya. Tapi saat melihat wajah Ayah dan Ibunya begitu berseri, seolah inilah hal yang oaling keduanya tunggu-tunggu seumur hidupnya, barulah Kesya mampu tersenyum. Kesya rela kehilangan hidupnya jika itu memang satu-satunya cara agar orang tuanya bahagia. Ketika semua orang harus memiliki Kesiapan sebelum memilih untuk menikah, berbeda dengan Kesya hanya perlu bersedia menjalani hidupnya yang baru. Kehidupan yang jauh dari bayangan, jauh dari impian, juga segala yang pernah sejauh Kesya pikirkan. Sama sekali tak terduga kedatangannya. Ceklek! Pintu terbuka, membuat Kesya tersadar dari lamunannya, membiarkan beberapa pelayan masuk untuk membantu melepaskan gaun pernikahannya yang mentok di resleting panjang yang ada di punggungnya. Beberapa tangan yang hendak merawatnya seketika berhenti bergerak, keberadaan Rangga jelas membuat suasana begitu canggung. Pria itu bahkan memberi tanda agar aemua orang pergi dari kamarnya, sama sekali tak memedulikan perasaan sosok gadis yang belum siap menerima kenyataan. "Mau ke mana?" tahan Rangga, meraih lengan milik gadis yang telah sah menjadi istrinya, beberapa jam lalu. "Nyuruh keluar, kan?" "Teruntuk istriku, tidak diijinkan keluar." Rangga mendorong pintu dengan punggungnya, membuatnya tertutup rapat. Sedangkan Kesya, gadis itu sudah dibaluti kekhawatiran yang teramat sangat. "Inget ya, kita cuma nikah!" Kesya mengacungkan telunjuknya, memberi peringatan. "Jadi, lo nggak usah mimpi buat dapetin gue." Bersambung . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN