BAB 2 - Rencana Perjodohan

3588 Kata
Happy Reading . . . “Cantik sekali kamu, Sayang!" puji Rindu pada Kesya yang baru datang. "Kamu emang juara dandan dari dulu," tambahnya, mengalihkan objek pujiannya pada Rindu. Kesya berdesis, “Ibu aja Kesya yang dandanin, kok,” imbuhnya, tak terima dengan hasil karyanya yang malah tak diakui. Rindu mengangguk. “Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya,” sahutnya yang masih saja berpihak pada sahabatnya. Kesya tertawa kecil, sejak dulu ia memang mengagumi hubungan keduanya. Tidak ada keterkaitan keluarga, apalagi darah, namun mereka mampu lebih dekat dibanding dengan yang mempunyai ikatan. Berasal dari mereka, lah, ia bermimpi agar suatu saat bisa memiliki hubungan persahabatan yang sama kokohnya, memanjang sampai berkeluarga, dan bahkan berlangsung sampai ke kehidupan setelah kematian. “Ehmm.” Erina berdeham, memecah obrolan kedua orang yang sedang keasyikan. “Kok, telingaku panas, ya?” ujarnya berpura-pura tidak mendengar apa pun, padahal sudah berdiri di tempatnya sejak awal perbincangan. “Tante Rindu bilang aku cantik. Aku jawab, kan turunan Ibu.” Kesya melenceng dari yang sebenarnya. “Kamu benar.” Rindu mengiyakan alibi Kesya, lalu diikuti tawa kecil setelahnya. Kesya mengedarkan pandangannya, merasa tak melihat sesuatu yang membuatnya berdebar di sepanjang perjalanan menuju kemari. “Tante sama Om berdua doang?” tanya Kesya. Reno ikut mengedarkan pandangan. “Di sini ramai, kok. Bukan hanya kami,” guraunya. “Itu, sih, Kesya tahu!” lenguh gadis itu. “Memangnya kamu cari siapa?” tanya Rindu. Kesya yang merasa tertangkap basah segera mencari pengalihan. “Tante sama Om mau makan apa? Biar Kesya pesenin,” tawarnya setelah terduduk paling pertama. “Mana coba, Tante lihat.” Rindu bergabung dengan Kesya, padahal di depannya ada daftar menu yang sama, namun ia lebih memilih berbagi dengan gadis yang ada di sampingnya. Sedangkan dari jauh terlihat seorang pria yang berdiri memperhatikan, masih menimang antara harus menghampiri, atau kembali ke kantor untuk kembali pada pekerjaannya yang masih menumpuk. “Harus datang! Kecuali kamu sudah tidak menganggapku sebagai Mamimu lagi.” Kalimat mengerikan itu kembali terulang. Walau seandainya memilih kembali ke kantor, sungguh ia tidak akan bisa fokus kalau Ibunya sudah merajuk seperti ini. “Calon menantu yang baik, harusnya banyak tahu tentang calon mertuanya.” Rangga menyahuti kalimat Kesya sebagai tanda kedatangannya. “Calon menantu? Mertua?” ulang Kesya usai mendengar suara asing, lalu kemudian mengenyahkan buku yang menghalangi penglihatannya. “Kamu terlambat 10 menit.” Suara Reno mencuat. “Tadi kejebak macet,” jelas Rangga. “Kamu bisa berangkat lebih awal,” balas Reno. “Tadi masih banyak kerjaan.” “Masih bisa dikerjakan besok.” Sebenarnya Rangga hanya buang-buang energi, ia tak akan pernah menang melawan pemilik perusahaan tempat di mana ia menghabiskan waktu, dan pemikirannya selama lebih dari 7 tahun itu. Pria itu terlalu berumur kalau dilawan, terlalu berpengalaman kalau ditanggapi, dan selalu menjadi terlalu jika dibandingkan dengannya. “Lo?!” Kesya bangkit dari duduknya, wajah sok tenang yang kini berada di hadapannya masih terekam jelas dalam memori ingatan. “Pantesan! Sama atasan sendiri aja kurang ajar, enggak tahu diri.” “Apa lo bilang?” Rangga sudah mengalihkan tubuhnya untuk menghadap pada gadis yang kini sedang terang-terangan menghinanya, bahkan di depan orang tuanya sendiri. Bagaimana mungkin gadis seperti ini yang akan dijodohkan dengannya? Apa Mamanya sudah hilang akal? Serela itu, kah, melepas anaknya pada gadis barbar begini? “Gak-tahu-diri!!!” ulang Kesya memenuhi permintaan dari orang yang sedang jadi objek cercaannya. “Kalian sudah pernah bertemu?” Heran Rindu, sepertinya hal ini tidak akan terjadi pada 2 orang yang tak saling tahu. “Iya!” jawab Kesya. “Nggak,” Jawab Rangga. Kedua jawaban yang keluar secara bersamaan namun mengandung unsur yang saling bertolak belakang. “Kamu enggak salah orang, kan?” Rindu memastikan jawaban dari Kesya, sebab ia tahu sendiri kalau kedatangan anaknya di negara ini masih kurang dari 1 minggu, belum lagi wilayah yang kembali asing karena sudah lama tak kembali. “Enggak, kok, Tante! Jelas banget ini orangnya, sama-sama songong.” Mendengar hal itu membuat tawa Reno pecah, ini kali pertama ia melihat anaknya dibuat kehabisan kata-kata oleh seorang gadis yang tak takut mengekspresikan dirinya. Sedangkan Erina, dan Erwin yang notabene sebagai orang tua sang gadis hanya bisa menggeleng kepala atas perilaku sarkas anaknya pada jumpa pertama antar dua keluarga yang berencana menjadi satu. Tapi, bukankah awal yang tidak baik akan selalu berakhir mulus? Kesya menautkan kedua alisnya. “Om, kok, ketawa sih? Enggak ada yang lucu, kok.” Reno menyeka ujung matanya yang berair. “Maaf. Oke, lanjutkan. Tadinya Om memang mau marah, terima kasih sudah mewakili.” Rindu mendelik pada suaminya yang malah mendukung kesalahpahaman yang terjadi. “Sebenarnya kalian ada masalah apa?” tanyanya pada Kesya yang terlihat amat tak menyukai lelaki yang bahkan selalu jadi nomer 1 dalam segala hal apa pun. Entah itu dalam akademik, non-akademik, bahkan dalam dunia bisnisnya yang saat ini banyak diincar para pesaing. Mungkin kekurangannya hanya terletak pada kisah cintanya yang tidak pernah berjalan mulus. Bagus, lah, ini mendukung terealisasinya janji persahabatan yang saat ini sedang diperjuangkan. “Aku, sih, enggak ada masalah, cuma dianya yang nyari masalah sama aku,” sahut Kesya. “Jangan ngarang! Kita enggak pernah—” Ucapan Rangga dihentikan oleh gerakan tangan sang Mama yang memberi tanda. “Coba cerita,” pinta Rindu pada Kesya. Sesuai permintaan, Kesya dengan senang hati mengeluarkan unek-uneknya dari A sampai Z tanpa kurang sesuatu apa pun, bahkan sampai adegan wajahnya yang menjadi sasaran sebuah jas. Meski mahal namun seketika nilainya menghilang, tindakan yang dianggap tak wajar, dan sangat kurang ajar. “Benar?” tanya Rindu, memastikan kebenaran agar tidak menjadi pendengar hanya pada salah satu pihak. Rangga menghela napas, gadis di depannya ini hanya melebih-lebihkan, padahal kejadian sebenarnya hanya 2 orang yang tak saling memperhatikan langkahnya, dan terkena batunya satu sama lain. “Enggak usah membesar-besarkan hal kecil, deh. Kayak enggak ada kerjaan lain aja,” ketus pria yang umurnya 5 tahun lebih tua dari Kesya itu. “Tuh, kan, Tan? Nyebelin, kan?!” lenguh Kesya, “hal besar itu berawal dari hal yang terkecil. Kalau lo menyepelekan yang kecil, gimana bisa lo ngadepin yang terbesar?” “Minta maaf.” Rindu memberi intruksi pada orang yang sudah jelas-jelas menjadi penyebab panjangnya masalah yang tidak seberapa. Dengan meminta maaf tidak membuat rendah seseorang, sebuah kata yang dianggap berat padahal hanya tediri dari 4 huruf, simple. “Biasanya kamu selalu mengakui kesalahanmu, lalu kenapa yang satu ini enggak?” Meski kejadian ini bukan murni kesalahannya. “Maaf.” Ibunya tetap selalu menang atas dirinya. Kesya memamerkan senyum kemenangannya, seolah memberi tahu kalau tak ada yang bisa lepas dari inginnya. “Oke, sudah clear, ya!” putus Rindu. “Kamu juga pasti salah.” Erina bersuara, mengetahui jelas sifat putrinya yang selalu ingin menang atas apa pun. Jelas saja Kesya tak terima, masalah yang seharusnya sudah selesai malah kembali dibahas, dan tentu saja sesuatu yang tidak diharapkan akan segera terjadi. “Minta maaf!” Suara itu berlanjut mengintruksinya, sesuai dengan dugaan. “Ibu, kok—” Kesya mengurungkan niatnya. Gadis itu bisa saja melakukan semua yang ia inginkan, termasuk mendapat dukungan dari Rindu, dan Reno seperti yang baru saja terjadi. Tapi sejak kapan ia bisa melawan keinginan Ibunya? Bahkan untuk datang kemari saja bukan kehendaknya, kepentingannya tidak lagi menjadi penting. “Maaf,” ucap Kesya dengan penuh penekanan, ketidak tulusan, dan keterpaksaan. “Rangga?” panggil Reno mengecoh ketertegunan anaknya. “Ra-Rangga?” Kesya mengulangi penyebutan nama yang dirasa janggal. “Rangga, Tan?” tanyanya pada wanita yang duduk di sampingnya. Rindu mengangguk. “Rangga, setelah ini Mami enggak mau dengar Kesya mengeluh begini lagi, ya?!” “Ma-Mami?” gumam Kesya. Kenapa Kesya tidak menyadarinya? Sebanyak apa tadi bicaranya, kini menjadi sebanyak wajahnya ditampar rasa malu. Angin malam yang berembus saja sudah tidak terasa, suhu mendadak panas, dan menyesakkan. “Malam Tante, Om, maaf untuk masalah barusan.” Rangga mengucap penuh sesal pada kedua orang yang sudah jelas tak ia sadari keberadaannya sejak awal, dan juga keadaannya sekarang tak jauh beda, hanya saja ia pintar menyembunyikan kekeliruannya, lain dengan gadis di depannya yang sudah terlihat berkeringat dingin. “Apa kabar?” Rangga mengulurkan tangannya. Deg… deg…. Kesya terpaku. Bagaimana ini? Kenapa jantungnya berdegup tidak pada waktunya? Otot tangannya pun seperti mati rasa, tidak mampu digerakkan seperti yang otaknya perintahkan. Sampai akhirnya sang Ibu membawakan lengannya untuk segera menyambut. “Baik.” “Oke, jadi kapan pertunangannya dilaksanakan?” bahas Reno kembali ke tujuan awal. "Lusa!" pungkas Rangga, "persiapan bisa dilakukan dalam satu hari." Meski usulnya menohok tapi sama sekali tak terlihat sedikit pun keraguan dari wajahnya. Memang apa yang dikatakannya bukanlah suatu hal yang tidak mungkin, sebab jika ada uang segala hal bisa terwujud dalam satu malam. Seperti halnya seribu candi pada saktu dulu yang dibantu jin, bedanya sekarang lebih canggih saja. Kesya terkekeh, seolah apa yang ia dengar hanyalah sebuah omong kosong belaka. Kesya tidak tahu kalau pria yang ada di hadapannya ini bukanlah malaikat pelindungnya lagi, semua sudah sangat jauh berbeda. "Ngaco!" simpul Kesya setelah puas dengan tawanya yang bahkan sampai membuat kulit perutnya sakit. "Kamu serius sayang?" setelah sekian lama terdiam akhirnya Rindu angkat bicara. "Apa sekarang Rangga keliatan bercanda?" sahut Rangga, mencondongkan tubuhnya ke arah wanita yang ada di seberang mejanya. "Lagi pula pernikahan bukan hal yang harus dibercandain. Rangga tau porsinya." "Mustahil!" dengus Kesya kembali memberikan tanggapan, "Makanya kalau ngomong itu yang pasti-pasti aja. Mana ada orang mutusin tunangan secepat itu?! yang pacaran lama aja musti mikir mateng-mateng, apalagi baru ketemu." Alis Rangga terangkat, "baru ketemu? aku pikir kita udah cukup lama saling kenal." "Bagus!" Erwin menimpali, "laki-laki itu memang harus tegas. Kamu nggak pernah berubah, selalu sesuai dengan ekspetasi, Om bangga sama kamu!" menepuk bahu Rangga, sebagai tanda kebanggaannya. Melihat hal itu sontak membuat kedua mata Kesya melebar. Kenapa ayahnya begitu gampangan? Bahkan Kesya tidak pernah tahu hal ini. "Tante juga setuju," susul Erina, "lagian kan lebih cepat lebih baik, kan?" tambahnya, membuat semua yang ada di meja tertawa bersama, kecuali Kesya, hanya gadis itu yang sama sekali tak memiliki ketertarikan. "Oke, jadi acara pertunangan Rangga dan Kesya diadakan lusa," Reno kembali bersuara, menyimpulkan apa yang menjadi keputusannya. "Gak ada yang nanya pendapat gue?" Kesya membatin, "kalau suara aku nggak didenger di sini, kenapa Kesya harus dateng?" Kesya berlalu meninggalkan meja. "Key?" Erina hendak menyusul, namun Rangga menahannya. "Biar Rangga yang nyusul Kesya." Rangga beranjak, mengikuti ke mana langkah kaki jenjang itu pergi. "Apasih?!" geram Kesya, langkahnya tertahan oleh cengkraman kuat pada tangannya. "Nggak usah kayak anak kecil." "Apa lo bilang?" Kening Kesya mengernyit, "anak kecil?" tertawa hambar, "siapapun bakal ngelakuin hal yang sama kalau kayak gini caranya, Rangga!" Tangan Rangga kini berda di kedua bahu Kesya, "terus mau kamu apa?" "Nggak ada yang nanya pendapat gue. Lagian siapa juga yang bakal setuju sama perjodohan ini? Hah?? gue nggak mau! lo denger? NG-GAK MA-U!!" cerocos Kesya panjang lebar, "apa lagi tau kalo orangnya itu elo, dih ogah." "Emang lo pikir gue juga mau?" Rangga menampilkan senyum smirknya, sembari menarik tangannya lalu memasukkannya ke masing-masing saku celana. "Jangan geer! gue ngelakuin ini karena mau bikin orang tua gue seneng aja. Emang lo nggak mau liat orang tua lo seneng?" Entah harus senang atau kecewa dengan kenyataan yang pria itu katakan, yang jelas ada sedikit sentilan ketika ia menolak dengan keras sepenuh hatinya, ternyata yang ditolak tak menyertai penawaran itu dengan hatinya. "Ini cuma tunangan," ujar Rangga lagi, "bukan nikah." Rangga meraih lengan Kesya lalu membawanya kembali ke tempatnya tadi. Kaki Kesya tak lagi merasa keberatan dengan langkahnya, seperti saat datang tadi. Ya, Rangga benar. Ini cuma tunangan, bukan nikah. 15 tahun lamanya terpisah tanpa saling bertukar kabar, lalu kembali dipertemukan dan merasa kembali asing. Wajar saja, waktu dapat merubah seseorang. Tapi ada satu hal yang tidak Kesya temukan perbedaan. Rangga, pria itu masih memiliki kemampuan untuk menenangkannya. Sifat Kesya sudah kentara sejak kecil. Semaunya sendiri, dan akan sangat marah kalau ada hal yang menghalangi kemauannya. Dan kalau sudah marah, tidak cukup dengan disogok makanan, mainan, atau apapun itu. Kesya bisa kembali baik hanya ketika ia ingin. Tak peduli berapa lama. Dan ketika itu, hanya Rangga yang mampu mengendalikannya. Lalu sekarang, pria itu masih sama, masih jadi sosok yang mampu memenangkannya. *** "OMG!" Diana terkejut, ia menutup mulutnya yang menganga. "Jadi lo lagi mau dijodohin sama orang yang tabrakan sama lo di mall kemarin yang ternyata orang itu adalah bagian dari masa kecil lo?" simpulnya panjang lebar dengan sekali tarikan napas. "Ssstt! jangan keras-keras," protes Kesya, membungkam mulut comel sahabatnya yang menimbulkan perhatian banyak orang. Diana hanya nyengir, "Habis gue speechless, Key, sumpah!" lanjutnya lagi, mengulangi kesalahan yang sama. "Diana!" peringat Kesya lagi, menempelkan telunjuk pada bibirnya agar gadis itu memelankan suaranya. "Bantuin gue mikir gimana caranya keluar dari masalah ini." "Turutin aja maunya, gampang!" mengerlingkan matanya lucu, "lagian itu cowok good looking kok, apa yang bikin lo keberatan coba?" "Masalahnya gue punya pacar!" tandas Kesya, kehabisan kesabaran. Tak habis pikir dengan usul temannya yang di luar nalar, tanpa dipikir, dan asal jeplak. Entah kenapa pertemanan keduanya bisa seawet ini, Kesya saja tidak mengerti. "Ssstt!" Desis Diana, kini giliran ia yang mengingatkan temannya yang membuat semua penghuni kantin melihat penuh tanya ke arahnya. "Tapi kalo gue jadi lo sih, gue bakal milih yang ini lah, gakan pakek bingung-bingung segala. Si Reza paan, modal cakep doang jemput cewek panggang," diakhiri nyinyiran yang sedang hype di i********:. "Yee emang kenapa? orang gue cintanya sama dia, kok." "Cinta doang nggak cukup, Key. Lagian dulu juga lo nggak cinta kan, brarti cinta ada karena terbiasa. Sama yang ini juga lama-lama ntar cinta." Mendengarnya saja Kesya sudah bergidik ngeri, "nggak mungkin!" "Apanya yang nggak mungkin? matahari aja bisa terbit di barat, kenapa cuma cinta doang bisa nggak mungkin?" "Kamu di sini?" kemunculan seseorang menyela obrolan asik kedua gadis itu. Cup! Reza mengecup pipi kanan dan kiri Kesya secara bergantian, budaya yang sudah ditetapkan setiap kali bertemu. "Aku nyariin kamu ke mana-mana juga." "Maaf ya," Kesya menampilkan senyum khasnya. Di samping itu sesekali ia melirik ke arah Diana agar tak membahas topik yang sebelumnya dibicarakan. "Ck!" Diana memutar bola matanya malas, "gue duluan, deh. Ketemu di kelas ya, nanti." "Eh," Kesya hendak menyusuli temannya, tapi Reza tak membiarkannya. "Aku laper, Sayang. Temenin makan, ya?" Msski sangat ingin menyusuli Diana, tapi akhirnya Kesya menurut saja apa maunya Reza. Ketika dulu Kesya bisa menolak pria ini begitu keras, tanpa memikirkan sedikit pun perasaannya. Tapi sekarang, jangankan menolak, untuk sekadar keberatan saja Kesya tak kuasa. Ketekunan Reza dalam mendekatinya selama hampir 3 tahun lamamya membuahkan hasil. Mungkinkah ini sebuah karma yang harus Kesya terima atas jual mahalnya yang tak kira-kira? apapun itu, Kesya tak keberatan, toh perasaannya yang dulu tak seperti yang sekarang ia punya. *** Meski sempat meragu, akhirnya Kesya sampai juga pada kenyataan yang pada akhirnya sama sekali tak bisa ia hindari. Kesya menatap lekat pantulan dirinya pada cermin berukuran besar yang ada di hadapannya. Balutan longdress yang begitu pada pada tubuh tinggi semampainya begitu membuatnya takjub. Tapi ketika mengingat apa yang akan ia hadapi, seketika nyakinya kembali ciut. "Ini cuma tunangan, cuma tuker cincin, nggak lebih." Kesya terus melafalkan kalimat itu guna membuatnya tenang, tapi sekeras apapun Kesya berusaha bersikap biasa, tetap saja jantungnya tidak bergerak normal seperti biasanya. "Lo pasti bisa, Key!" ujar seseorang yang tiba-tiba muncul. "Belom nikah, kok. Selowww." Kesya mendelik, "enak banget ya kalo ngomong." "Enak banget malah," kekeh Diana. "Biar gak deg-degan banget, coba aja lo bayangin mukanya si Rangga jadi monyet, biar agak tenang aja dikit." "Deg-degan nggak, ngakak iya," Kesya mendengus, "bukannya lo ngefans sama dia, kenapa sekarang jadi dukung gue? tobat lo?" "Ya mau gimana lagi, sahabat gue kan elo." Tangan Diana melingkar pada Kesya, "sesuka apapun gue sama Rangga, gue pasti lebih suka sama lo." "Jadi lo suka sama tunangan temen lo sendiri? hemm." "Cieer ngakuin?" "Dianaaaa.." lenguh Kesya, "btw dari kemaren gue belum ngabarin Reza, gue bingung.." "Gampil!" Diana membentuk tangannya menjadi lambang Ok. "Udah gue urus." Mata Kesya seketika berbinar, seakan semua beban dalam dadanya terangkat semua, membuat tubuhnya begitu ringan. "Serius?" Diana memainkan satu matanya, "gue bilang lo lagi ke rumah nenek lo yang di Bogor. Berhubung di perkampungan jadi sinyalnya jelek, dan karena itu lo nggak bisa hubungin dia. Beres, kan?" "Ke rumah nenek?" ulang Kesya, memaksa tawanya, "nggak ada alesan yang lebih oke gitu? ke pasris, kek?" "Kesya?" panggil seseorang dari luar kamar, "udah selesai, Sayang?" "Udah, Tante," seru Diana mendahului pemilik nama, "sebentar lagi Diana bawa Kesya keluar." "Lo tuh, ya!" menyiku pelan perut Diana sebagai aksi protes, padahal ia ingin lebih mengulur waktunya. "Biar acaranya cepet selesai," sahut Diana, meraih lengan sahabatnya. "Siap?" tanyanya lagi memastikan. Hening. Meski sejak kemarin pelafalan itu mampu membuat Kesya tenang, tapi kenyataannya saat hariha Kesya tetap saja merasakan banyak keraguan. Akan jauh lebih baik kalau acara ini tidak pernah kejadian. "Ah, lama," Diana menarik Kesya, mau tak mau membuat gadis itu mengikuti langkah besarnya. "Pelan-pelan, Na?!" protes Kesya, "gue mau tunangan, bukan maen sepak bola. Feminim dikit lah, gimana sih?" Diana memelankan langkahnya, "maap, kebiasaan." Sebuah tangan terulur. Tanpa harus diminta, Diana segera memahami apa yang harus ia lakukan sekarang. Gadis itu melepaskan tangan sahabatnya, memberikannya pada sosok yang lebih pantas, bersamaan dengan mata Kesya yang ikut mengabsen tangan yang mulai ia pegang itu sampai pada wajahnya. Deg! Rangga, kini ia menggandeng tangan besar milik pria itu. Waktu seakan berhenti sesaat, seiring Kesya menangkap tatapan manik kecoklatannya. Meski ia yakin tunangan ini hanya sekadar ikatan yang tak berarti, tapi entah mengapa Kesya merasa kalau ini adalah awal yang tak akan pernah menemui akhir. "Ngedip kali, Key!" bisik Diana, mengusik ketertegunan Kesya. Sebenarnya bukan hanya Kesya yang dalam situasi mengerikan, sebab Rangga juga mengalami hal serupa. Ketika tak ada satupun kenangan yang Kesya campur adukkan dalam masalah ini, Rangga yang mulanya biasa mulai memiliki sedikit keraguan, sebab yang ada di hadapannya sekarang ini adalah Kesya berumur 5 tahunnya yang dulu, yang fokusnya tak pernah teralih darinya. Masalahnya adalah Rangga pernah memikirkan hal ini. Sempat terbayang kalau suatu saat gadis kecil itu bukan hanya merebut perhatiannya, tapi juga seluruh hidupnya. Apakah omong kosong seorang anak 10 tahun itu akan terwujud, sekarang? saat itu Rangga bahkan segera menyangkalnya. Kesya terkagum-kagum melihat kelangsungan acaranya. Dekorasi yang mewah dan elegan, namun jauh dari kesan berlebihan. Kesya tak tahu kalau persiapan dalam satu malam bisa sesempurna ini. Jujur saja, semua yang ada sekarang ini sesuai dengan yang Kesya impikan. Kebetulan yang begitu menarik. Kekurangannya hanya satu, tak ada tamu undangan yang merupakan kenalan Kesya, selain hanya Diana saja. Bagaimana tidak? kalau Kesya mengundang teman sekelasnya maka sama saja dengan bunuh diri. Seluruh tamu undangan yang hadir merupakan relasi kerja Rangga, pria yang sudah sah menjadi tuangannya setelah beberapa saat telah saling menyematkan cincin pada masing-masing jari manisnya. Para pimpinan perusahaan, bahkan yang seperti Rangga di sini sangat banyak, muda dan sukses. By the way Diana sedang sibuk mengedarkan matanya yang lapar. Syukurlah, setelah ini gadis itu tidak akan lagi terlalu menyanjung pria yang sibuk mengedar senyum di sampingnya. Bukan karena cemburu, hanya saja Kesya tidak setuju kalau Rangga dianggap definisi cowok terkeren. Tapi yang jadi perhatian yang paling mencolok adalah Kesya tak melihat perbedaan antara dirinya yang notabene pemeran utama di sini, dengan semua tamu wanita yang ada. Semua serba mewah dan berkelas, Kesya bahkan tak merasa kalau acara ini adalah miliknya. Ting! ting! Suara sendok memantul gelas secara serentak membuat perhatian semua orang teralih pada satu titik. Reno, Papanya Rangga, calon mertua Kesya--kalau jadi, sosok yang membuat suara. "Terimakasih kepada semua orang yang sudah menyempatkan waktunya, saya secara pribadi sangat bersyukur," tuturnya. "Dan hari ini, selain pertunangan, saya memiliki pengumuman yang sama pentingnya. Saya memutuskan untuk mundur dari perusahaan, dan Rangga Aditya Macmellen, sejak hari ini resmi menjadi penerus dari Macmillen Groups, menggantikan saya." Sebenarnya pengumuman ini sama sekali tak mengejutkan, sebab semua orang sudah tahu kalau cepat atau lambat Rangga akan diangkat menjadi CEO. Hanya saja tidak terpikir kalau akan bersamaan dengan acara hari ini yang bahkan diadakan mendadak. H-1 undangan baru disebar, yang mendapatkannya pun orang-orang penting yang mungkin sudah memiliki jadwalnya masing-masing. Tapi coba lihat sekarang, mereka dengan senang hati menyempatkan waktunya, atau malah rela reschedule jadwal yang sudah terencana. Melihat dari kerelaannya, maka sosok yang menjadi tujuan bukanlah orang biasa. "Selain itu," Reno kembali melanjutkan pengumumannya yang ternyata masih menyambung, "Acara pernikahan akan dilangsungkan bulan depan." Mendengar hal itu, sontak tepuk tangan para tamu semakin meriah, diikuti dengan alunan musik dansa yang mulai mengalun indah. Satu per satu pasangan pun maju ke tengah, saling bertautan lalu menari dengan mesra. Ssmua orang terlihat bahagia dan menikmati puncak acara, tapi tidak dengan Kesya. Gadis itu masih terbatuk-batuk akibat tersedak minumannya sesaat setelah ketetapan menohok itu diutarakan. "Pelan-pelan," Rangga menepuk punggung Kesya, tapi gadis itu segera menjauhkan diri. "Bu-bulan depan?" Kesya menautkan kedua alisnya, menaruh banyak tanya. "Nggak beneran, kan?" "Seharusnya yang sudah diumumkan di depan banyak orang bukan omong kosong." Mata Kesya melebar sempurna, entah ekspresi apa yang harus ia perlihatkan sekarang. Terkejut, protes, marah, semua menjadi satu. "Tapi nggak mungkin!" "Nggak ada yang nggak mungkin." "Oke. Mungkin tapi gue nggak bisa!" tekan Kesya, "gue nggak bisa nikah sama lo, Rangga! bukannya kemaren lo bilang ini cuma tunangan, kan? atau jangan-jangan lo udah tau kalau.." "Kali ini gue nggak ada campur tangan," Rangga mengangkat kedua tangannya. "Kalo gitu harusnya tadi lo protes." Rangga menampilkan senyum smirknya, "lo mau gue ke depan, terus bilang ke semua orang kalo kita cuma bakal tunangan dan nggak akan sampai nikah, gitu?" Hening. Memang tidak bisa seperti itu juga. Kesya menggigit bibir bawahnya, berpikir keras mengenai apa yang harus ia lakukan agar pernikahan itu gagal. 1 bulan, ia masih punya banyak sisa waktu. Deharuanya cukup untuk berbagai macam ide gila itu muncul. "Lo nggak usah khawatir!" Kesya menepuk bahu Rangga, menyalurkan kepercayadiriannya pada sosok yang juga sama-sama korban dari orang tua. Ya, Kesya bukan satu-satunya yang menderita di sini. "Gue bakal cari cara biar pernikahan ini batal. Setidaknya itu yang Kesya pikirkan. Tanpa tahu, kalau hanya Kesya lah satu-satunya orang yang tak menginginkan pernikahan ini, sebab Rangga, ia mulai memikirkan keinginannya yang dulu pernah ada. Bersambung . . . Jangan lupa klik love nya :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN