"Kamu yakin gak sarapan dulu?" tanya Fahri sembari menekan tombol lift menuju apartemen Dimas, tentu saja mereka bisa mengetahui lokasi apartemen Dimas sebab kala itu Fahri kah satu-satunya orang yang membantu mencari apartemen untuk ditinggali oleh kedua pasangan muda tersebut.
"Kalau Adam belum balik, aku gak bakalan bisa tenang Fahri." tukasnya yang kala itu tak pernah lepas menunjukkan wajah kekhawatiran yang sangat mendalam, baginya sehari saja tak bertemu Adam seperti kehilangan harapan untuk hidup.
Untungnya lokasi apartemen Dimas yang berada dilantai tiga tak msmbua mereka berdiri terlalu lama didalam lift, Alia yang tanpa sadar secara spontan menarik tangan Fahri menuju koridor gedung.
"Nomor berapa Apartemen mereka?" tanya Alia yang sudah gusar sejak kemarin.
"Nomor 100, ada disebelah kiri!"
"Yaudah kalau gitu, ayo kesana!" ajak Alia, ia masih tak sadar begitu kuat menggenggam jemari Fahri sampai membuat pria itu hanya bisa tersenyum senang menikmati sentuhan tangan Alia.
Meskipun Fahri sadar tak seharusnya ia merasa senang dengan momen seperti ini, tetapi ketidakfokusan Alia sedikit memberikannya kesempatan untuk menggapai gadis itu walaupun hanya sekejap saja.
Begitu tiba di depan pintu, tanpa berpikir panjang Alia langsung membunyikan bel pintu secara terus-menerus . Alia benar-benar tak perduli apakah kehadirannya saat ini mengganggu sang pemilik rumah ataupun tidak, namun yang jelas ia bisa membawa pulang anaknya dari sana dan memastikan kalau Dimas takkan lagi bisa meraih Adam.
"Dimas!!! Buka pintunya!!!!" teriak Alia yang sudah kehilangan kesabaran, apalagi jika mengingat kondisi Adam semakin membuatnya gusar tak menentu.
Namun lagi-lagi tak ada sedikitpun jawaban dari dalam yang membuat gadis itu semakin panik.
"Kok gak ada jawaban Fahri? gimana ini?" tanya Alia pada Fahri.
"Coba kamu telepon Dimas dulu!"
"Sebentar ya.." Alia langsung mengambil hpnya dan menghubungi nomor Dimas yang saat ini tak memiliki nama kontak dan hanya seutas nomor asing saja, tetapi tetap saja tak ada jawaban dari Pria itu.
"Dimas!!!! Kembalikan Anakku!!!!" jerit Alia yang tak bisa lagi berpikir jernih, entah kenapa satu-satunya hal yang paling ia takutkan adalah Dimas telah membawa lari anaknya tersebut.
Dan tanpa berpikir tenang, Alia berniat mengangkat pot kaca yang ada disebelahnya untuk dilemparkannya kedepan pintu .
Untungnya kehadiran Fahri yang berada disebelah Alia sedikit menguntungkan, dimana Fahri langsung mencoba menenangkan Alia sebelum wanita itu bersikap diluar kendali.
Fahri langsung memeluk Alia sembari berbisik pelan, ia mencoba menahan Alia untuk tetap tenang seraya mengajak wanita itu berjalan perlahan-lahan menjauhi pintu tersebut sebelum takutnya penghuni apartemen lain merasa terganggu akan keributan yang diperbuat oleh Alia.
"Kita coba tanyak Sama resepsionis saja ya, kamu harus tenang ya Alia." bujuk Fahri mencoba bersikap persuasif, untungnya Alia yang kala itu tak bisa berbuat apa-apa lagi hanya mengangguk setuju saja dan mengikuti langkah Fahri untuk turun kelantai dasar.
"Kamu duduk aja dulu disini, biar aku yang nanyak ke resepsionis!"
Alia hanya mengangguk saja , sepertinya ia benar-benar telah menaruh kepercayaan besar pada Fahri dan menurut saja untuk duduk disalah satu kursi yang ada didekat lift.
Dari kejauhan ia bisa melihat wajah fahri yang tampak serius mendengarkan resepsionis tersebut, cukup lama mereka berbincang hebat sampai akhirnya Langkah kaki fahri berbalik menghampiri dirinya.
Alia langsung bangkit dari duduknya dengan memasang wajah penuh harap, saat ini ja berusaha untuk tetap tenang dan berpikir positif meskipun ia tahu kalau raut wajah Fahri malah mengatakan hal sebaliknya.
"Mereka masih ada diapartemen kan?" tanya Alia .
"Mereka-" Fahri menghentikan perkataannya, ia cukup ragu untuk berterus-terang pada Alia.
"Mereka kenapa? kamu jangan diam aja dong Fahri!" keluh Alia, ia masih mencoba tetap tersenyum ramah pada Fahri walau ada suara getaran hebat dari setiap kalimat yang dilontarkannya.
"Mereka telah pergi tadi subuh, Adam juga ikut bersama mereka."
"Kemana?" tanya Alia lagi.
"Gak tahu." jawab Fahri yang kini mulai mematahkan harapan Alia, dan entah kenapa kedua kakinya terasa lemas hingga membuat ia terjatuh didalam pelukan Fahri yang kala itu langsung cekatan menahan tubuh Alia.
"Harusnya dari semalam kita jemput Adam." keluh Alia yang tak tahu lagi mau berkata apapun, ia juga tak mempunyai hak untuk menyalahkan semua ini kepada Fahri sebab ia juga mengerti kalau Fahri hanya berusaha berniat baik padanya, namun dilain sisi ia merasa sangat terpukul mendengar kenyataan kalau anaknya yang telah dikandungnya selama 9 bulan dan mati-matian dijaganya selama beberapa tahun ini telah direbut paksa oleh sang mantan suami.
"Ia pasti bakal merindukan ibunya, kasihan Adam..." isak tangis Alia kini mulai memekik jelas ditelinga Fahri.
Fahri yang juga sebenarnya merasa bersalah pada Alia hanya bisa terdiam saja, menahan tubuh Alia agar tak terjatuh lemas seraya mendengarkan seluruh keluh kesah gadis yang dicintainya itu.
"Anakku...Aku mau anakku kembali, Fahri." keluhnya lagi, tanpa perduli beberapa sorot mata pekerja yang memandangi mereka.
Fahri langsung membuka jaketnya dan menutupi Alia sebisanya agar gadis itu tak merasa malu dilihatin oleh beberapa pasang mata dan merasa nyaman untuk melepaskan seluruh air matanya.
Mungkin hanya cara inilah yang bisa dilakukannya untuk menenangkan Alia, ia tak mau lagi menjanjikan sesuatu hanya untuk menenangkan gadis itu seperti sebelumnya.
Namun yang jelas ia berjanji akan membantu Alia untuk menemukan Adam kembali, sebab ia percaya kalau Dimas takkan jauh membawa pergi Adam dari sini.
Mungkin itulah terakhir kalinya Alia mendengarkan kabar tentang Adam, dan baginya malam itu adalah malam terakhir ia bisa menggenggam Adam secara nyata sebab seiring berjalannya waktu ia sama sekali tak memperoleh kabar apapun tentang Adam maupun Dimas.
Mantan suaminya itu benar-benar menghilang secepat kilat seperti waktu dahulu, ia memang sangat ahli melarikan diri yang terkadang membuat Alia terlalu sulit untuk menggapainya dan mencoba menahannya untuk tetap berada disebelah Alia sewaktu gadis itu sedang mengandung.
Dua tahun telah berlalu dan sampai detik ini Alia hanya bisa berpura-pura kembali meneruskan hidupnya, walaupun jati dirinya telah mati terkubur dua tahun yang lalu saat ia harus benar-benar kehilangan putranya.
Kini Alia tumbuh menjadi wanita yang sangat cuek dan terkesan berbeda dari Alia yang dahulu kita kenal, ia bahkan mulai menjaga jarak dengan Fahri dan memutuskan untuk tidak terlalu menggubris kehadiran Firman yang jelas saja dulu hampir mengincarnya.
Dunia Alia benar-benar telah berubah, ia menjadi sangat angkuh dan lebih sarkas dalam berbicara bersamaan dengan statusnya sebagai seorang manajer membuatnya lebih penyendiri. Bahkan yang lebih parahnya, ia terlihat tak memperdulikan kesehatannya dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja setiap hari sampai membuatnya harus mengalami operasi usus buntu sekali dan diopname beberapa kali.