"Apa maksudnya semua ini?" tanya Angela yang merasa bingung dengan sikap Suaminya, ia cukup kaget saat membuka pintu Apartemen dan mendapati suaminya kembali sembari membawa Adam kedalam Apartemen mereka.
"Lebih baik kita bicarakan di luar saja, dia sedang tidur!" ucap Dimas yang langsung menarik istrinya menjauhi kamar .
"Oke , sekarang kamu bisa jelasin sama aku apa maksudnya semua ini?" tanya Angela lagi seraya menjatuhkan dirinya diatas sofa , berusaha menahan beban diperutnya yang sedikit terasa berat.
"Aku bertengkar hebat dengan Alia tadi, ia bilang kalau aku gak berhak lagi menemui Adam untuk selama-lamanya." Dimas menatap tajam ke istrinya, berusaha mengatur nafas untuk sejenak.
"Lalu?" tanya Angela lagi sembari membiarkan kedua tangannya digenggam erat oleh Dimas, saat ini entah apa yang ada dipikiran Angela selain membiarkan sang suami menyelesaikan penjelasannya terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah ia berhak marah ataukah tidak.
"Aku juga bingung, entah kenapa yang ada dipikiranku saat itu hanya membawa pergi Adam dari ibunya." Ia semakin erat menggenggam tangan Angela dan sedikit mencondongkan diri kehadapan Angela.
"Sayang, bagaimana menurutmu kalau kita bawa pergi Adam buat ikut kita ke Amerika? kamu mau kan mengasuh Adam sebagai anak kamu sendiri?" tanyanya tanpa merasa bersalah, pantas saja membuat Angela sedikit kesal dan langsung menarik tangannya dari genggaman Dimas.
"Kamu ini keterlaluan mas!" ketusnya tajam.
"Kok keterlaluan sih, sayang?"
"Kamu ini egois banget, masa kamu mau merampas seorang anak dari ibunya sih. Lagian aku juga belum sanggup mengasuh anak yang bukan dari rahimku, jadi lebih baik besok kamu kembalikan dia sama mantan istri kamu itu!!!" tukas kesal Angela yang tak terima atas permintaan suaminya.
"Aku gak bisa! aku merasa gak bisa jauh darinya saat ini."
"Kenapa gak bisa? coba deh Sekarang kamu beri aku satu alasan yang kuat kenapa kamu gak bisa jauh darinya? kemarin-kemarin kamu bisa kok jauh darinya dan kenapa sekarang malah gak bisa?"
"Aku juga gak tahu, aku bahkan gak punya sedikitpun bayangan buat menjadi ayahnya cuman entah kenapa aku merasa gak bisa aja jauh darinya."
Angela yang mendengarkan hal itu merasa semakin kesal dan langsung bangkit saat itu juga, ia memperlihatkan wajah cemburu bercampur amarah dihadapan Dimas.
"Harusnya kita gak pernah datang kesini, Dimas! Aishh...intinya lebih baik kamu pikirkan lagi deh, kamu harus pilih mau jadi ayah buat anak kita atau kamu boleh pilih anak itu dan biarin aku sama bayi ini buat balik ke amerika selama-lamanya!!!" teriak Angela yang langsung berlari masuk kedalam kamar tidur mereka dengan langkah yang sudah benar-benar kesal, kini Dimas hanya bisa menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal dan menggerutu kesal pada dirinya sendiri.
Cukup lama ia terduduk diruang tamu, mendengarkan bisikan jarum jam dinding yang terus berjalan tanpa menghiraukan kebimbangannya. Ia merasa tak mungkin membiarkan angela dan calon bayinya pergi meninggalkannya , namun disisi lain ia juga tak ingin memiliki penyesalan bila melepaskan Adam untuk selama-lamanya.
"Ah sial, Kenapa juga berbuat sejauh ini?" gumamnya hampir berkali-kali, seakan ia mulai merasa menyesal atas tindakannya beberapa saat yang lalu.
Hingga suara sedikit kebisingan dari kamar Adam membuyarkan segala kebimbangan dan lamunannya itu, dengan perasaan malas ia berjalan menghampiri Adam sebelum nantinya malah Angela yang terganggu karena kebisingan yang diperbuat oleh Adam.
Dan begitu membuka pintu kamar, ia bisa melihat Adam yang telah mimisan hebat sampai membuat kotor selimut kesayangan Angela. Jelas saja saat itu Dimas langsung panik dan berusaha mengambil Tisu dari ruang tamu, lalu ia cupit kembali hidung Adam agar darahnya tak mengalir lebih banyak lagi.
Dengan buru-buru ia membersihkan wajah Adam yang telah berlepotan oleh darah dan memasukkan selimut itu kedalam keranjang pakaian yang ada di dekat pintu kamar.
"Harusnya kau bisa lebih berhati-hati , itu adalah selimut kesayangan istriku." keluh Dimas secara blak-blakan kepada Adam yang saat itu tak banyak mengeluh.
"Tetap cupit hidungmu sampai mimisannya berhenti, aku akan ambil air putih untukmu." ucapnya seraya berjalan pergi, sampai langkahnya tertahan oleh pertanyaan sederhana dari Adam.
"Apa maumu sebenernya, Paman? kau telah membuat Bundaku menangis."
"Aku ...aku akan ambil minuman untukmu." ucapnya yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Apa kau mulai menyayangiku, Paman?" tanyanya lagi, tetapi tak ada satupun Jawaban yang keluar dari bibir Dimas selain langkah kakinya yang berjalan meninggalkan kamar .
Selang tak beberapa lama, akhirnya ia kembali lagi membawakan segelas air putih yang diberikannya kepada Adam.
"Aku gak haus!" tolak Adam.
"Oh yaudah, kalau gitu biar aku yang minum." gumamnya yang sedikit agak tidak karuan seraya meletakkan gelas itu dimeja kecil sebelah ranjang.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, usiaku sudah 13 tahun jadi jangan mengacuhkanku seakan-akan aku gak ngerti apapun sama sekali tentang masalah kalian."
"Aku telah bertengkar dengan ibumu dan sekarang aku bertengkar dengan istriku, jadi tolong jangan semakin menambah masalah ya nak." ucap Dimas yang berusaha menahan emosinya dengan nada yang sedikit ditekankan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.
"Aku lebih baik tidur sekarang , mungkin kau bisa memulangkanku besok daripada hubunganmu dan istrimu hancur karena aku.Lagian aku juga jauh lebih nyaman bersama Bunda daripada denganmu." ujar Adam seraya menatap kecewa kepada Ayahnya itu, siapapun pastinya bakal langsung menyadari kalau saat ini suara rapuh Adam jelas menggambarkan kalau ia teramat kecewa akan perkataan Dimas sebelumnya. Ia bisa mengerti kalau Ayahnya jelas-jelas tidak pernah menginginkannya sama sekali ditambah lagi sikap ayahnya yang tampak kasar semakin menambah luka yang lebar dibenak Adam.
Ia langsung membaringkan diri kearah yang berlawanan dengan posisi Dimas saat ini dan jelas saja Dimas bisa melihat punggung Adam yang berusaha menjauh darinya, cukup lama ia terduduk kaku disana sampai akhirnya ia berniat untuk merebahkan diri disebelah Adam.
"Pergilah dari sini, aku gak nyaman tidur dilihatin oleh orang lain!" ketus Adam secara tiba-tiba yang membuat Dimas mengurungkan niatnya untuk berbaring disebelah anak itu.
"Aku akan tidur diruang tamu, panggil aja kalau butuh sesuatu." Dimas segera bangkit dan beranjak pergi dari sana tanpa menunggu respon dari Adam, ia menyadari kalau keberadaannya disana malah semakin merusak hubungan diantara mereka yang mana nantinya ia semakin takut kalau anaknya itu bakal membenci dirinya lebih jauh.
Kini ia malah menjadi seseorang yang menyedihkan, tidur diruang tamu dan dicuekin oleh istri dan anak sendiri. Dimas hanya bisa menatap kedua pintu kamar yang tertutup rapat itu seraya berbaring disofa ruang tamu sampai benar-benar tertidur dalam keadaan sedikit tidak nyaman karena memang pada dasarnya ia tak biasa tidur disofa seperti yang dialaminya saat ini.
Akan tetapi baru saja ia memejamkan mata, mendadak ia mengalami mimpi buruk yang membuatnya terbangun dala keadaan keringat disekujur tubuh dan nafas yang tersengal-sengal.
"Baru jam 2 subuh." gumamnya yang melirik sedikit kearah jam dinding, lalu ia meraih beberapa tisu dan menyingkirkan keringat dari sekujur leher dan wajahnya sebelum akhirnya ia bangkit dari sofa .
"Adam?" pekiknya dalam hati, lalu ia berlari kedalam kamar Adam seakan-akan ia baru saja memimpikan anak itu yang mana pastinya mimpi itu adalah mimpi yang buruk tentang Adam.
"Kau belum tidur?" tanya Dimas saat melihat Adam yang sedang meringkuk diatas ranjang sembari menangis pelan sampai suaranya sama sekali tak terdengar sedikitpun keruang tamu. Anak itu benar-benar ahli menyembunyikan perasaannya seperti ibunya yang hampir setiap saat mencoba berpura-pura bahagia ditengah penderitaan yang dialaminya.
"Kenapa kau menangis tengah malam begini?" tanya Dimas yang kini langkahnya sudah berada dihadapan Adam.
"Kenapa kalian harus bercerai? apa kalian tidak pernah memikirkan perasaanku?" tanya Adam yang langsung membuat Dimas terbungkam dalam sekejap.
"Kenapa aku harus jadi anak broken home? apa aku gak layak memiliki orang tua yang lengkap?" tanyanya lagi dengan suara yang cukup pelan , sepertinya ia berusaha mengecilkan suaranya untuk tetap menjaga kenyamanan dari Angela yang ada dikamar satunya.
"Ini sudah larut malam, kau harus tidur." ucap Dimas tegas.
"Apa sebenarnya maumu? tolong jangan membuatku bingung seperti ini." ia berusaha menghapus air matanya .
"Harusnya kau gak perlu datang lagi ke kehidupan kami kalau kau sama sekali gak menginginkanku, atau kalau bisa harusnya aku gak perlu dilahirkan didunia ini kalau hanya menjadi beban buat bunda dan memperoleh kekecewaan darimu saja." gumam Adam yang sepertinya telah benar-benar terluka.
"Kau benar-benar sangat terluka karenaku..." Sebuah kalimat langka yang secara spontan keluar dari sosok seperti Dimas sampai-sampai membuat Adam tercengang, dan tanpa hitungan detik Adam mulai merasakan pelukan hangat dari Dimas untuk pertama kalinya. Sebuah pelukan yang rasanya sangat berbeda dari beberapa hari yang lalu, kali ini pelukannya terasa sangat hangat dengan aroma parfum Dimas yang membuat Anak itu merasa tenang layaknya Aroma tubuh seorang Ayah yang selama ini teramat diinginkan oleh Adam.
Tanpa disadarinya, ia perlahan-lahan mulai tertidur dalam dekapan sang Ayah dengan perasaan lega karena telah menyampaikan setengah isi hatinya pada pria itu.
"Pelukanmu sangat hangat, apa ini rasanya dipeluk oleh Ayah?" gumam Adam yang semakin erat memeluk Dimas sampai rasa kantuk mulai menguasai dirinya.