"Bunda?" teriak Adam seraya turun dari mobil dengan wajah pucatnya, ia sedikit linglung menatap ketiga orang dewasa itu.
"Kamu sudah bangun nak?" tanya Alia yang langsung berlari mendekati Adam dan menggenggam jemarinya .
"Ayo kita masuk kedalam Rumah, kamu pasti ingin istirahat!" ucap Alia sambil menarik tangan Adam, ia terlihat buru-buru berusaha menjauhi Adam dari Dimas.
Tetapi sialnya langkah wanita itu sedikit kurang cepat dari Dimas, sebab belum sempat Alia memijakkan kaki kedepan teras rumah mendadak Adam langsung ditarik paksa oleh Dimas.
Tentu saja kondisi Adam yang saat itu masih lemas sama sekali tidak memberikan perlawanan apapun, ia seakan hany pasrah membiarkan kedua orangtuanya memperebutkan dirinya kesana-kemari .
"Aku perlu berbicara padanya, kau gak punya hak menjauhiku darinya dek!" tukas Dimas yang sudah lelah dengan sikap Alia.
"Aku berhak!!! aku berhak mas, adam ini dibawa hak asuhku jadi aku lebih berhak atasnya!!!" bentak Alia yang sudah hampir kesetanan, ia benar-benar frustasi dengan sikap keras Dimas .
Namun sialnya seberapa keras ia berusaha menahan Adam untuk tetap dalam genggamannya, kekuatannya masih kalah jauh dengan Pria yang ada dihadapannya itu hingga membuat ia terjungkal jatuh ketanah dan menyaksikan sang mantan suami yang menggendong erat anaknya itu.
Fahri yang saat itu ada didekat mereka hanya bisa berdiri kaku menyaksikan pertengkaran mantan suami-istri tersebut, bukannya ia tidak bisa menengahi pertengkaran itu atau memukul keras Dimas saat ini juga hanya saja ia tak mau membuat Kondisi Adam menjadi syok berat ataupun histeris . Baginya melihat momen pertengkaran diantara Dimas dan Alia saat ini saja sudah memberikan luka yang besar bagi Adam , apalagi usia adam sudah cukup matang untuk memahami pertengkaran orang tuanya dan ia tak mau keegoisannya untuk ikut campur pada pertengkaran orang tua adam malahan nantinya memperburuk keadaan saja.
Apalagi ia tidak mau Adam menyaksikan ayahnya dipukul habis-habisan oleh dirinya, atau sekedar mendengarnya makian kejam dari mulut Dimas yang tak dapar dikontrol yang mana nantinya itu bisa merusak kondisi mental anak tersebut.
Makanya yang bisa dilakukan Fahri saat ini hanyalah berlari kearah alia , dan mencoba menenangkan wanita itu meskipun ia sedikit kesal membiarkan Dimas seenaknya membawa pergi adam dari hadapan mereka. Namun hanya inilah satu-satunya yang bisa dilakukan oleh Fahri, lagian juga fahri merasa tak ada satu alasanmu yang mengharuskannya untuk khawatir mengenai keberadaan Adam yang sekarang berada digenggaman Dimas karena walau bagaimanapun ia bisa paham kalau Dimas masihlah seorang Ayah bagi Adam.
Dalam kegelapan malam, berbeda dengan Fahri yang kala itu mencoba tetap tenang sedangkan Alia hanya bisa menangisi mobil Dimas yang membawa pergi Adam dari dekapannya sembari menggenggam erat tangan besar fahri yang benar-benar terasa nyaman baginya saat ini.
Ia juga merasa tak mempunyai alasan untuk membenci Fahri yang saat ini memilih diam dan sama sekali tidak membantunya, ia benar-benar mengenal baik kepribadian teman kecilnya itu.
"Dia membawa anakku, Fahri!" lirih Alia yang kala ini berada dalam dekapan Fahri, bersandar lemas dipelukan sahabatnya itu sampai membuat kemeja coklat fahri menjadi basah terkena air mata Alia.
"Besok kita akan menjemput Adam secara baik-baik, kamu ga perlu khawatir ya Al."
"Harusnya aku bisa lebih kuat menahan Adam.." tangisnya .
"Hey dengarkan aku! bagi Adam, kamu ini adalah ibu yang paling kuat jadi jangan sekalipun kamu meragukan dirimu sendiri ."
Alia hanya mengangguk saja, ia merasa setiapkali kalimat yang keluar dari bibir fahri memberikan dorongan motivasi untuknya selayaknya seperti beberapa tahun silam dimana kala itu ia sedang berada dititik terendah seusai ditinggal oleh Dimas.
"Besok kita jemput Adam kan?" tanyanya lagi, Fahri hanya tersenyum dan mengangguk saja seraya menghapus seluruh air mata yang membasahi wajah cantik wanita yang dicintainya itu.
"Kamu gak boleh nangis kayak gini, kamu harus tetap kuat ya demi Adam."
"Makasih ya Fahri."
"Yaudah kalau gitu aku antar kamu masuk kerumah ya, kamu istirahat aja dulu dan besok aku bakal antar kamu buat jemput Adam!"
Alia hanya tersenyum saja dan dengan segala sisa tenaganya ia berusaha berdiri kembali.
"Kamu gimana?"
"Aku ... aku bakal tidur didalam mobil aja, aku jagain kamu dari mobil ya."
"Kamu yakin? kamu mau pulang aja dulu atau kalau gak tidur diruang tamu?"
"Gak usah deh Al, nanti gak enak apa kata tetangga kamu. Lebih baik sekarang kamu istirahat aja ya." Fahri menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Alia dan tetap memperlihatkan senyuman hangatnya pada wanita itu, alia yang kala itu juga tak mau ambil pusing hanya bisa menerima keinginan fahri saja dan segera masuk kedalam rumah.
Namun tak sampai beberapa lama, ia kembali keluar sambil membawa selimut dan bantal kepada Fahri .
"Ini buat menghangatkan kamu dan supaya kamu nyaman tidur di mobil, dan kalau bisa AC mobilnya jangan kekencangan ya nanti kamu sakit." ucap Alia yang terlihat kalau sebenarnya ia cukup perduli pada Sahabatnya itu.
"Sekali lagi makasih ya Fahri, dan maaf ya udah ngerepotin kamu." lirihnya, sebelum akhirnya ia beranjak kembali masuk kedalam Rumah.
Fahri hanya bisa menatapi punggung Alia yang perlahan-lahan menghilang dari hadapannya, setelah cukup yakin kalau pintu Alia benar-benar telah terkunci barulah ia kembali kedalam mobil dan setengah berbisik.
"Aku yang harusnya berterimakasih kepada kamu, Alia. Kalau kamu gak hadir dihidupku, mungkin aku gak bakal ada alasan untuk hidup benar seperti saat ini." gumamnya sembari memejamkan mata dan menyaksikan kehangatan selimut pemberian Alia.
Baginya, Alia adalah wanita yang kala itu memberikan harapan untuknya tetap hidup disaat ia merasa dunia begitu kejam dan tak adil telah membuatnya lahir di keluarga broken home yang setiap saat melakukan KDRT kepadanya.
Berbeda dengan Alia yang merasa kalau Fahri adalah teman terbaik yang selalu memotivasi Alia untuk selalu menghargai hidup, walau dilain sisi terkadang Alia merasa kalau dirinya adalah beban yang kerap mengganggu ketenangan Fahri dan dimatanya sendiri kalau ia adalah satu-satunya orang yang telah berhutang budi kepada Fahri makanya setiapkali Fahri menyatakan cinta padanya ia selalu tak punya alasan yang tepat untuk membuatnya layak menjadi pendamping hidup Fahri , apalagi sampai detik ini ia masihlah mencintai Dimas Meskipun sudah berkali-kali Lelaki itu menyakiti hatinya.
Hal itu dikarenakan alia merasa kalau cinta sejati hanyalah datang cukup sekali, makanya ia selalu menjunjung tinggi komitmennya untuk tetap mencintai Dimas selamanya seba baginya kesetiaan adalah hal penting yang ada dihidup ini .