Malam ini Alia memutuskan untuk membawa pulang Adam setelah berulangkali Adam berusaha untuk membujuknya, ia bisa paham bagaimana perasaan Adam yang terlihat membenci aroma menyengat Rumah Sakit .
"Maaf ya sekali lagi agak merepotkan kamu , Fahri." ujar Alia yang berada disebelah Fahri, Fahri tak banyak bereaksi selain tetap Fokus mengendarai mobilnya.
"Gak masalah kok Al, tapi nanti kalau tiba-tiba kondisi Adam memburuk langsung aja ya hubungi ambulance ataupun aku."
Alia hanya mengangguk saja sembari mendongak sekilas Adam yang berada dijok tengah dan masih tertidur pulas.
"Aku gak bakal bisa bayangin bagaimana hancurnya hidupku tanpanya, kau tahu kan kalau Adam lah yang menjadi satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan hidup waktu itu." tutur Alia yang merasa teringat akan masa lalunya yang kala itu hampir depresi karena diceraikan oleh Dimas.
"Pastinya Adam juga beruntung kok mempunyai hidup yang baik seperti kamu." Fahri menggenggam erat jemari Alia, kali ini alia tak berniat menghindari tangannya dari sentuhan Fahri dan hanya membiarkan kehangatan tangan Fahri menggenggam jemarinya.
"Kau benar-benar lelaki yang baik, fahri." lirih Alia sembari mengalihkan pandangannya menatap jalan setapak yang mulai gelap , hingga tak terasa mobil itu membawa mereka tiba kedalam perkarangan Rumah Alia bersamaan dengan sebuah mobil hitam yang terparkir sembrono dihalaman rumah Alia membuat Fahri mau tak mau mengerem paksa mobilnya itu .
"Tamu mu, al?" tanya Fahri, Alia menatap serius mobil hitam itu dan menyadari kalau mobil itu adalah mobil milik Dimas.
"Sebentar ya Fahri!" tukasnya, lalu berjalan keluar menghampiri mobil Dimas .
Dengan kesal, gadis itu mengetuk kencang kaca mobil hitam tersebut hingga memaksa pemiliknya untuk turun dari mobil dengan rambut yang berantakan dan mata setengah sadar.
"Apa yang kau lakukan lagi didepan rumahku, Mas?" tanya Alia.
"Aku ingin meminta maaf padamu dan juga Adam, aku pikir ...aku pikir perbuatanku sudah keterlaluan." ucapnya sambil meletakkan kedua tangan besarnya dibahu Alia.
Fahri yang melihat dari kejauhan langsung bereaksi kesal dan berniat turun, tetapi tindakannya langsung dicegat oleh suara Adam yang sedang mengigau dan membuat ia memilih memantau dan membiarkan Alia untuk menyelesaikan masalahnya untuk saat ini.
"Sudah kubilang jangan ganggu hidupku lagi, mas." tukas Alia yang mencoba menahan suaranya untuk tetap lembut.
"Tapi kau yang pertamakali mengundangku kesini, al. kau tahu pantas mengusirku seperti ini!!!" ucap Dimas setengah berteriak, dan membuat Alia langsung menampar wajahnya secara spontan dan membuat keheningan selama beberapa saat sebelum akhirnya alia berbicara kembali.
"Tolong berhenti bersikap kekanak-kanakan mas, aku mohon pergi dari sini sekarang!" Alia menundukkan wajahnya, ia tak sanggup menatap wajah Dimas kembali setelah secara tak sengaja menampar wajah mantan suaminya itu.
"Setelah kupikir-pikir kau itu gak ada bedanya sama wanita diluar sana ya." tukasnya yang sudah tak bisa lagi mengontrol perkataan, ia setengah tersenyum.
"Apa maksudmu, mas?" tanya Alia.
"Kau ingin balas dendam kan padaku? kau marah denganku karena dulu aku meninggalkanmu dan sekarang kau ingin memisahkan seorang ayah dari anaknya sendiri, kau itu munafik dek!!!" ucapnya setengah berteriak dengan tatapan menggila.
"Apa-apaan sih kau , mas!!! sakit kau mas seenaknya menuduhku seperti itu, bukannya kau sendiri yang sejak dulu tak menginginkan Adam!!!" bentak Alia yang merasa sakit hati atas Perkataan Dimas sebelumnya, kini suara pertengkaran mereka benar-benar tak dapat di toleransi kembali dan membuat Fahri langsung turun dari mobil .
"Ada apa ini? apa kau gak apa-apa Alia?" tanya Fahri yang langsung menjauhkan Alia dari Dimas.
"Aku gak perduli ya tentang hubungan kalian berdua, yang jelas mendingan kau gak perlu ikut campur deh Fahri!!!" bentak Dimas.
"Kau yang harusnya gak membuat keributan disini Bro, emangnya gak capek melukai hati Alia mulu?"
"Muak aku lihat kau, sialan!!!" ia langsung mendaratkan pukulannya kewajah Fahri, untungnya fahri langsung cekatan menepis tangan Dimas.
"Ini sudah malam , jangan buat keributan disini!" ucap Fahri yang berusaha untuk tidak terpancing akan kelakuan Dimas sebelumnya.
"Aku mohon berhenti mas, aku lelah dengan semua tingkahmu! " teriak Alia yang setengah menangis, ia tak mampu lagi menahan amarahnya terhadap Dimas.
"Lelah?" tanya Dimas yang menghela nafas panjang, lalu menatap sekelilingnya untuk sejenak sebelum akhirnya ia mendaratkan tatapannya kearah Alia sembari mendekati wanita itu kembali tanpa memperdulikan keberadaan Fahri yang berada disebelah Alia.
"Aku juga lelah harus berurusan lagi denganmu dek, jadi tolong jangan mempersulit keadaan kita." ucapnya tanpa sekalipun memperhatikan perasaan Alia saat itu.
"Tolong berikan aku kesempatan bertemu dengan Adam, aku mohon!!! aku gak bisa gagal seperti ini menjadi seorang Ayah!!!" lirihnya sembari berusaha menahan segala bentuk emosi yang ada pada dirinya.
"Kau bilang aku mempersulit keadaan, mas?" tanya Alia yang terlihat jelas diwajahnya menggambarkan perasaan lelah yang sesungguhnya.
"sekarang gini aja deh mas, aku mau nanyak satu hal sama kamu." ucap Alia bersamaan dengan Fahri yang tengah berusaha meredakan pertengkaran diantara mantan suami istri itu.
"Tenang Al, udah gak usah lagi digubris sikapnya yang ada malahan nanti kamu sakit."
"Udah diam dulu Fahri, aku perlu membuka lebar-lebar mata Pria ini supaya dia tahu kenyataan yang sesungguhnya." Alia menepis tangan Fahri dari bahunya lalu mendekat kearah Dimas.
"Apa kau memang benar-benar menyayangi Adam? apa gak ada sekalipun dihidupmu ...sekali aja kau merindukan anak itu sewaktu kau berada diluar negeri?" tanya Alia yang sudah kehabisan kesabaran, seakan-akan ia telah berubah menjadi Alia yang tak bisa lagi dikenali oleh Fahri dan Dimas.
"kenapa Diam? bingung mau jawab apa?" tanya Alia lagi setengah tersenyum licik.
"Ah iya mas, emangnya mas gak lelah mengecewai perasaan Adam terus? Ayah mana yang tega melukai perasaan anaknya sendiri mas? mas bisa nyakitin perasaan ku dulu tapi aku gak bakal pernah biarin mas seenaknya hadir dikehidupan Adam dan membuat luka yang lebar dihatinya, lagian juga Adam udah gak butuh lagi mas dihidupnya jadi tolong mendingan mas fokus aja ke keluarga mas yang baru supaya nanti bayi kecil mas gak bakal kecewa punya Ayah yang tidak bertanggungjawab seperti mas." ucap Alia panjang kebar seakan-akan ia tak memiliki jeda untuk menghentikan setiap kalimat dari bibirnya.
Perkataan Alia barusan benar-benar mampu membungkam keangkuhan Pria itu, ia tertegun sejenak kala ini dan kehilangan fokus atas dirinya sendiri untuk beberapa saat.
"Kau sudah dengar semua yang dikatakan alia kan?" tanya Fahri yang langsung merangkul tubuh Alia yang mulai lemas dan hampir saja terjatuh karena tak kuat menahan emosi yang masih terpendam didasar hatinya yang terdalam
"Kalau aku gak layak jadi Ayah, maka kau pun gak layak jadi seorang ibu!" tukasnya yang mencoba membela diri sendiri bersamaan dengan suara lirih dan langkah kaki dari Adam yang mencuri perhatian ketiga orang dewasa tersebut.