Setelah memastikan bahwa adam telah tertidur nyenyak dan kekhawatirannya mulai mereda, ia memutuskan untuk keluar kamar dan betapa kagetnya ia tatkala melihat kedua pria itu masih saja menunggunya didepan ruangan .
"Kalian masih disini?" tanya Alia yang sedikit merasa enak hati karena telah membuat kedua pria itu menunggunya disana.
"Iya, tapi santai aja kok Al. Lagian hari ini schedule ku lagi kosong." ucap Fahri , ia langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Alia yang juga disusul oleh Firman.
"Yaudah kalau gitu, aku bakal traktir kalian makan siang aja deh sebagai hadiah buat kalian yang udah mau bantuin aku hari ini." Alia menunjukkan Senyuman ramahnya pada kedua pria itu, ia benar-benar tak menyadari kalau saat ini ada dua pria yang sedang berusaha meraih hatinya .
"Kalian mau kan?" tanya Alia mencoba meyakinkan, ia juga tak ingin memaksa bila ternyata kedua pria ini mempunyai rencana lain dan ajakannya tersebut malah membuat rencana Firman ataupun Fahri menjadi terganggu.
"Aku gak ada schedule apapun kok Al, jadi aku bakal mau dong nemanin kamu makan siang." ucap Fahri yang langsung menerobos begitu saja tanpa memberikan jeda beberapa saat untuknya berpikir atas ajakan Alia.
"Makasih ya Fahri." Alia tersenyum pada Fahri dan menepuk pelan bahu sahabatnya itu, lalu ia mengalihkan pandangannya pada Firman.
"Kalau kamu gimana, Firman?"
"Mau kok Al, lagian anggap aja ini sebagai bayaran buat makan siang kita yang tadi sempat gak jadi."
"Oh yang tadi ya, maaf ya!"
"Gak apa-apa kok, kalau gitu mendingan kita langsung aja gerak deh selagi anak kamu masih tertidur."
"Makannya di Kafe depan Rumah Sakit aja, biar lebih dekat dan makanannya juga enak kok." ucap Fahri.
"Yaudah yuk!" Alia langsung berjalan duluan membiarkan kedua pria itu menyusulnya, setidaknya ini adalah satu-satunya cara untuk membalas budi kepada dua pria itu.
Untungnya lokasi kafe yang dikatakan Fahri sebelumnya memang tidak terlalu jauh sehingga tak menunggu waktu lama akhirnya mereka tiba juga disana, kebetulan sekali Kafe itu cukup ramai karena letaknya yang strategis sehingga membuat mereka terpaksa mengambil posisi yang sedikit berada dipojok luar kafe dan lokasinya sedikit tidak nyaman, namun mau gimana lagi sebab hanya kafe inilah satu-satunya lokasi paling dekat di Rumah Sakit sekaligus hasil rekomendasi Fahri yang mengatakan kalau Kafe ini memiliki Makanan yang sangat Enak .
"Kalian mau pesan apa?" tanya Alia sambil menulis Daftar pesanan mereka diselembar kertas yang tadi diberikan oleh pelayan padanya.
"Aku ayam goreng dan jus timun aja , Al." ucap Fahri, ia kini berada duduk tepat dihadapan Alia .
"Kalau aku-" Belum sempat Firman mengatakan pesanannya , mendadak ia mendapatkan pesan notifikasi dari ponselnya yang membuat ekspresi wajahnya langsung berubah marah bercampur khawatir dan segera berdiri dari kursinya.
"Maaf banget ya Alia, kayaknya aku harus balik duluan sekarang."
"Iya gak apa-apa kok Firman, memangnya ada apa?" tanya Alia.
"Putra Sulungku buat masalah lagi disekolah." tuturnya yang tampak merasa yakin untuk berterus-terang pada Alia padahal sebelumnya ia cukup ragu hanya sekedar untuk meminta bantuan gadis itu terkait peristiwa pembalut.
"Yaudah kalau gitu hati-hati ya kamu, semoga masalah putra kamu cepat selesai ya." Sekali lagi Alia memperlihatkan wajah cemasnya pada orang lain dihadapan Fahri yang terkadang membuat lelaki itu cemburu, ia memang sudah mengenal sangat jauh tentang gadis itu bahkan di waktu SMA saja hampir setiap saat Alia mengkhawatirkan orang lain bahkan saat itu Alia rela menolak Fahri hanya demi menjaga perasaan sahabatnya yang saat itu mencinta Fahri dan hampir bunuh diri karena mengetahui kalau Fahri mencinta gadis lain yang tak lain ialah Alia sendiri.
"Makasih ya Al." tukas Firman yang langsung beranjak pergi dari sana tanpa pikir panjang, kini meja itu hanya menyisakan Alia dan Fahri saja ditemani oleh seorang pegawai kafe yang baru saja tiba untuk mengambil lembar pesanan kembali.
Dengan cepat Alia menuliskan pesanannya dan menyerahkan pesanan itu pada si pegawai , kini pandangannya tak lagi sibuk menatapi menu dan tak ada lagi halangan yang bisa membuatnya tak menyadari keberadaan Fahri yang kini ada dihadapannya saat ini juga.
Fahri yang sejak tadi tak pernah berhenti menatap kearahnya , memandangi sosok wanita yang sejak dulu selalu diidamkan olehnya yang sampai detik ini juga masih sulit digapai oleh pria itu.
"Jangan menatapku seperti itu, Fahri." tukas Alia yang merasa sedikit tidak nyaman akan tatapan Fahri, bukan karena ia merasa muak hanya saja setiapkali ia menatap Fahri maka hanya perasaan bersalah saja yang membelenggu dirinya dan juga selain itu bayangan rasa cintanya pada Dimas masih saja terus membuatnya merasa terkekang dan setiapkali ia tak sengaja melirik pria lain , entah kenapa ia merasa kalau hal itu adalah perbuatan yang salah dan menganggap kalau dirinya tidak pantas mencintai pria lain karena kegagalannya yang telah menyerah membuat Dimas jatuh hati padanya .
" Maaf Al, aku..Aku cuman merasa kalau kamu itu tambah cantik aja." tutur Fahri yang entah kenapa mulai terkesan blak-blakan, ia merasa kehadiran Firman barusan telah membuatnya untuk harus terus melangkah karena ia tak mau kejadian yang sama berulang kembali dimana ia gagal mengambil Alia dari dekapan Dimas saat itu.
"Jangan buat aku malu dong Fahri, lagian rayuan kamu ini gak cocok buat aku yang udah berstatus single parent."
"Jangan insecure gitu Alia, lagian kalau kamu merasa canggung sama pujian aku barusan yaudah anggap aja itu sebagai pujian seorang sahabat kepada sahabatnya." tukasnya mencoba memperbaiki suasana, lalu ia meraih jemari Alia saat itu juga.
"Walaupun sebenarnya aku berharap kalau kamu bisa menganggap aku sebagai seorang Pria yang sedang berusaha meraih hati gadis pujaan hatinya."
"Aku belum siap , Fahri." Alia langsung melepaskan jemarinya dari genggaman Fahri, genggaman yang begitu terasa hangat dan amat dirindukan olehnya dari sosok seorang Pria.
"Aku minta maaf Alia, kayaknya aku terlalu agresif sama kamu." Raut wajah Fahri membuat Alia merasa bersalah.
"Bukan gitu Fahri, kamu gak salah kok cuman rasanya belum tepat aja soalnya kamu kan tahu kalau saat ini ada hati yang juga harus aku jaga jadi aku gak berhak buat egois seperti ini."
"Maksud kamu Adam?"
"Iya Fahri, kamu kan tahu saat ini ia sedang terluka atas perlakuan Dimas padanya jadi rasanya gak berhak aja aku memiliki hubungan dengan pria lain ."
"Kamu memang ibu yang baik ya Alia," Puji Fahri sembari tersenyum bangga pada alia sambil merapikan posisinya karena disaat yang bersamaan pulak pesanan mereka baru saja tiba.
Begitu pegawai kafe telah pergi barulah Fahri menghentikan senyumannya dan menatap dalam pada Alia.
"Kalau gitu mendingan kita makan dulu aja ya dan lupain masalah tadi!" Ucapnya sambil menyantap makan siangnya, Alia hanya mengangguk saja dan ikut menyantap makanannya juga sembari tersenyum senang pada Fahri yang sudah dianggapnya sebagai orang terdekat yang paling dipercayainya.