Alia menghampiri meja kafe yang telah di duduki oleh Firman, ia bisa melihat firman langsung berdiri begitu menyadari kehadiran Alia.
"Hai.." Ucap Firman sembari tersenyum canggung.
"Hai juga, udah pesan?" Tanya Alia , kali ini suasana hatinya sudah sedikit membaik.
"Belum, kamu mau pesan apa?" Tanya Firman.
" Lemon tea aja deh, soalnya aku lagi gak laper" Firman langsung mengangguk dan berdiri.
"Tunggu bentar ya, biar aku aja yang pesenin" Alia hanya mengangguk saja dan membiarkan firman pergi dari pandangannya dan selagi menunggu firman kembali , ia menatap sekeliling kafe yang terlihat cukup ramai yang mana memang kafe ini dikenal sebagai tempat nongkrong para pegawai kantor apalagi pegawai yang masih muda dan tidak terlalu suka bawa bekal makan siang.
"Ini minuman kamu!" Firman yang datang sembari membawa nampan berisi pesanan mereka, pesanan yang wajib diambil sendiri oleh pembelinya yang menjadi ciri khas bagi kafe ini .
"Makasih" Ucap Alia, ia langsung meneguk minuman tersebut setengah gelas lalu menatap canggung pada firman.
"Jadi Suasana hati kamu udah membaik?" Tanya Firman, alia hanya mengangguk saja.
"By the way, kamu gak mesan makan siang gitu? emangnya gak lapar?"
"Gak sih Al, udah kenyang lihat kamu doang"
"Maksudnya gimana?" Pertanyaan Alia yang membuat Firman kalang kabut.
"Eh.. maksudnya..udah gak usah bahas itu, hmmm ... By the way besok itu Minggu ya?" Tanya Firman yang terasa cukup lucu bagi Alia.
"Pertanyaan kamu lucu deh, ada-ada aja ya kamu" Tukas alia yang masih tertawa , bersamaan dengan suara handphone yang berdering keras membuat alia izin sebentar meninggalkan firman untuk mengangkat telepon tersebut yang tak lain dari Dokter Fahri.
"Sebentar ya firman, ada telepon penting!" Beritahu Alia, sebab tak biasanya juga fahri menghubungi wanita itu kalau tidak membicarakan tentang kesehatan anaknya sendiri.
"Ada Apa Fahri?" Tanya Alia .
"Kondisi Adam kembali memburuk, kamu bisa datang ke rumah sakit sekarang? "
"Maksud kamu gimana? bukannya tadi pagi adam baik-baik saja?" Tanya Alia yang mulai terguncang dan penuh kekhawatiran, tentu saja dokter Fahri yang sudah cukup jah mengenal alia langsung menjelaskan seringkas mungkin kesehatan adam agar gadis itu tidak terlalu khawatir ataupun panik.
"Kamu gak usah terlalu khawatir kok Al, kondisi adam sudah mulai membaik dan telah ditangani dengan baik atas kecekatan inisiatif mbok ina buat memanggil ambulance tadi jadinya adam bisa diatasi dengan cepat oleh rumah sakit" Jelas Fahri lagi.
"Makasih ya fahri, tapi tetap saja aku bakal segera datang kesana ya!" Tukas Alia yang langsung mematikan panggilan, ia berlari tergesa-gesa menemui firman.
"Anakku dirumah sakit, maaf ya firman ...kayaknya aku pergi duluan!" Ucapnya, tetapi bukannya mengiyakan firman malah ikut berdiri dan mendekati alia.
"Kamu bawa mobil?" Tanya Firman, alia hanya menggelengkan kepala saja.
"Yaudah, kalau gitu aku antar ya daripada kamu naik taksi dan angkot" Tawar Firman yang saat ini langsung diterima oleh alia tanpa pikir panjang.
"Oke, kamu tunggu didepan kafe dulu biar aku ngeluarin mobil dari parkiran" Ucap firman, ia segera berlari dengan langkah yang cukup cepat dan tak sampai beberapa menit dalam sekejap mobilnya langsung menghampiri posisi alia yang sedang berdiri didepan kafe .
Dalam perjalanan alia tak bisa menyembunyikan wajah kekhawatirannya pada sang putra, hal itulah yang membuat firman langsung menaiki kecepatan laju mobilnya karena ia tahu pasti saat ini alia sangatlah mengkhawatirkan anaknya tersebut selayaknya firman yang kala itu hampir merasa putus asa dan melakukan hal bodoh dikantor lamanya tatkala saat mendengarkan kabar kalau putra sulungnya mengalami demam beberapa tahun yang lalu.
****
"Gimana keadaan Adam, Dok?" Tanya Alia yang kali ini mulai menggunakan bahasa formal dalam memanggil fahri , disusul juga oleh firman yang berada disebelah alia sambil memberikan senyuman ramah pada fahri.
"Dia Siapa?" Tanya Fahri, ia tak bisa menyembunyikan wajah penasarannya saat melihat teman pria alia sebab baginya ini adalah pertama kali gadis pujaan hatinya itu mempunyai pria lain selain dirinya karena setahu dia kalau alia tak lagi menjalin pertemanan dengan pria manapun semenjak perpisahannya dengan Dimas .
"Dia teman kantorku, namanya Firman" Alia menunjuk firman, lalu ia mulai memperkenalkan fahri pada firman, "Ini adalah Dokter fahri, teman kecilku sekaligus dokter anakku" Firman langsung memberikan jabatan tangan pada fahri sembari tersenyum ramah, fahri langsung membalas jabatan tangan tersebut dengan senyuman pahit yang lebih terkesan dipaksakan.
"Oke, lupakan... intinya saat ini kondisi Adam sudah membaik dan besok boleh dibawa pulang kok"
"Makasih ya dok" Alia terlihat sangat senang dan mulai sedikit tenang, bahkan ia tak sadar secara spontan memeluk sahabatnya itu sebagai ungkapan terimakasih sebelum akhirnya ia mulai tersadar dan meminta maaf saat itu juga.
"Maaf ya dok, tadi saya ga sengaja" Tukasnya yang mulai merasa malu apalagi saat ini ia dilihat oleh firman yang merupakan teman sekantornya.
Fahri hanya tersenyum saja walaupun ia tak bisa menyembunyikan perasaan kaget bercampur senang, baginya ini adalah sebuah ketidaksengajaan yang terlihat manis .
"Dok, si mbok ada didalam?" Tanya Alia yang berusaha memperbaiki situasi.
"Tadi si mbok izin balik kerumah ambil pakaian adam"
"Kalau gitu kamu langsung aja masuk kedalam al, kasihan adam sendirian diruangan" Ucap Firman yang mulai menyadari tatapan fahri yang berbeda pada Alia .
"Kamu benar firman, yaudah kalau gitu aku masuk dulu ya dan-" Alia menghentikan sejenak Perkataannya dan menatap kearah Fahri.
"Dokter lagi sibuk gak hari ini?" Tanya alia.
"Sebenarnya hari ini aku ambil cuti, jadi kayaknya gak sibuk deh dan pasienku hari ini cuman adam doang sih"
"Kalau gitu aku minta tolong kamu nemanin firman bentar ya, soalnya gak mungkin juga aku ajak masuk kedalam"
"Tenang aja , kamu gak usah khawatir mendingan sekarang kamu masuk aja dulu temanin anak kamu" Ucap Firman yang merasa tidak ingin membuat alia malah gak enakan padanya.
"Iya aku bakal disini bareng teman kamu ini kok, kamu tenang aja al" Tukas Dokter Fahri juga yang membuat alia mulai merasa tenang dan langsung memasuki ruangan saat itu juga.
Didalam ruangan, ia bisa melihat kondisi adam yang sudah mulai membaik dan masih tertidur lelap diranjang.
Alia yang datang mendekat hanya mencium kening adam dan menggenggam jemarinya sampai-sampai anak itu terbangun.
"Bunda?"
"Iya , ini bunda "
"Tadi rasanya sakit banget bunda, adam kira kalau abang bakal pergi jauh tapi sekarang adam baik-baik aja kok jadi bunda gak usah khawatir ya" Adam memperlihatkan senyuman kuatnya pada alia yang membuat alia merasa bangga pada anaknya tersebut.
"Adam gak bakal kemana-mana kok, adam bakal selalu ada didekat bunda jadi adam juga jangan khawatir ya" Adam langsung mengangguk saja.
"Adam masih ngantuk, adam lanjut tidur ya" Ucapnya yang dibalas anggukan oleh alia saat itu juga.