14

1204 Kata
"Adam Mau makan , mbok?" Tanya Alia sembari memperbaiki kemejanya, namun mbok ina hanya menganggukkan kepalanya saja sembari membawa kembali nampan yang menyisakan piring kotor saja . "Udah mbok kasih obat juga kok, jadi nak alia gak usah khawatir ya" "Makasih ya mbok" Alia terlihat Senang dan memeluk mbok ina yang sudah dianggapnya sebagai keluarga , walaupun belum terlalu lama dekat . "Mbok yang harusnya terimakasih sama nak alia " Ucap Mbok ina, alia hanya tersenyum saja lalu memasukkan laptopnya kedalam tas sembari meneguk jus buatan mbok ina. "Oh iya mbok, adam masih marah ya sama saya?" Tanya Alia, si mbok tak menjawab dan hanya tersenyum saja. "Coba diajak aja dulu ngobrol, anak kecil memang gitu suka ngambek-an sama orang tua jadi perlu dibujuk" "Iya sih mbok" Gumam Alia, lalu ia meletakkan kembali tasnya kemeja. "Kalau gitu saya coba dulu ya mbok, soalnya ini baru pertamakalinya adam marah sama saya " Tukas Alia blak-blakan, ia juga merasa sedikit tak tenang sedari malam karena adam sebab tak biasanya adam sekesal ini pada dirinya dan tak pernah sekalipun adam sampai memintanya keluar dari kamar . Dengan langkah yang setengah berlari menaiki tangga, alia langsung mengetuk kamar adam sembari membuka pintu kamar tersebut bersamaan dengan Adam yang langsung menyembunyikan diri didalam selimut. Alia hanya bisa tersenyum pahit saja, ia berusaha melangkahkan kakinya mendekati ranjang adam dan berniat menarik selimut itu sebelum akhirnya ia mengurungkan niat tersebut dan hanya memandangi adam yang berada dibalik selimut. "Adam masih marah ya sama Bunda?" Tanya Alia lembut, namun tak ada jawaban dari anak semata wayangnya itu. "Bunda bakal sedih loh kalau adam ngediamin bunda kayak gini, bunda jadi gak konsentrasi kerjanya nanti" Tukas Lembut alia. "Bunda benar-benar menyesal, bunda minta maaf ya" Lirih Alia, lalu secara perlahan-lahan adam menurunkan selimutnya sampai wajahnya terlihat jelas dihadapan alia. "Bunda janji gak bakal ninggalin adam sama Paman itu lagi?" Tanya Adam , walau bagaimanapun ia masihlah anak manja yang menjadi kesayangan bundanya. "Bunda janji deh sama adam" Alia tersenyum dan menunjukkan janji kelingkingnya yang dibalas kelingking kembali oleh adam, lalu adam langsung memeluk bundanya itu. "Yaudah kalau gitu bunda pergi kerja dulu ya, adam mau nitip sesuatu biar bunda belikan?" Adam hanya menggelengkan kepalanya saja lalu menyalami alia, alia langsung beranjak dari sana dan menuruni anak tangga dengan raut wajah bahagia. "Sudah Baikan?" Tanya mbok ina, alia hanya mengangguk senang saja lalu meriah kembali tasnya. "Jaga adam ya mbok, kalau gitu saya pergi kerja dulu" Alia langsung pergi , kali ini suasana hatinya sudah membaik karena telah berbaikan dengan adam . Namun senyuman itu sedikit menipis saat melihat sosok Dimas yang berada didepan pagar rumah alia, sembari berdiri disebelah mobilnya yang pasti lebih mahal dibandingkan mobil milik alia yang masih terparkir di halaman rumah . "Aku perlu bicara!" Tukas Dimas , alia yang saat itu sedang membuka gerbang hanya berusaha mengacuhkan keberadaan dimas saja . "Aku perlu bicara sekarang, Alia!" Kini suara jengkel yang sedikit ditekan keluar jelas dibibir dimas, yang mana tentunya membuat alia merasa semakin kesal dan langsung menatap tajam pada dimas. "Gak ada yang perlu dibicarakan lagi mas, pergilah dari sini dan hidup bahagia dengan keluarga barumu" Ucap Alia tegas. "Tolong singkirkan juga mobilmu dari sini!" "Kau benar-benar menjengkelkan ya dek" Dimas hanya bisa menatap kesal sembari memegang lengan alia. "Lepasin aku!" "Kita harus bicara sekarang, lebih baik kau ikut mobilku atau aku bakal menerobos masuk kedalam dek" Ancam Dimas yang membuat alia sedikit panik dan sedikit melirik kerumahnya sendiri, beruntungnya kamar adam berada diujung jadi jendelanya tak mengarah langsung pada posisi alia sekarang. "Oke!" Alia mulai mengalah, dan dengan berat hati ia menutup pagar kembali dan menaiki mobil dimas saat itu juga. Mobil itu langsung bergerak menjauhi rumah alia begitu alia menaiki mobil tersebut, tak ada percakapan diantara kedua orang dewasa tersebut selain musik galau yang memenuhi seisi mobil dan tatapan kebencian alia pada dimas yang masih fokus pada jalan. "Kita mau kemana? soalnya aku harus berangkat kerja" "Aku akan mengantarmu ke depan kantor, lalu kita akan membahas semuanya setelah aku menepikan mobil ini disana" Ucap Dimas yang enggan melirik kearah Alia. Alia hanya bisa menghela nafas kesal saja dengan tatapan muak pada dimas selama diperjalanan, hingga tak terasa keduanya telah tiba didepan kantor alia. Dimas langsung melepaskan safety beltnya dan mengarahkan posisinya menghadap alia yang berada disebelah kirinya. "Apa maksudmu melarang-larangku buat bertemu anak itu?" Tanya Dimas tanpa basa-basi. "Memangnya kenapa? lagian kau juga gak punya hak asuh akan dirinya, ah bukan..tapi bukannya kau dulu yang membuangnya dari hidupmu saat masih usia 1 tahun?" "Oke aku tahu itu semua salahku, aku menyesal...tapi walau bagaimanapun dia juga anakku jadi kau gak punya hak buat melarangku dekat dengannya dek" "Mas, aku sudah memberikanmu kesempatan tapi kau merusak segalanya, dan sekarang kau marah padaku ? lagian ya mas, waktu itu aku memintamu kembali karena memang adam yang meminta dan sekarang adam sendiri yang bilang padaku kalau ia tak mau lagi bertemu denganmu jadi aku bisa apa mas? " "Berikan aku kesempatan satu kali lagi, dek" Dimas langsung meraih tangan alia , tatapan matanya kali ini benar-benar memelas pada wanita itu seakan-akan mengingatkan alia pada masa itu dimana dulu ia juga pernah memelas pada dimas untuk tidak pergi darinya . "Hentikan tatapan menyedihkan itu mas!" Alia langsung melepaskan genggaman tangan dimas, ia melepaskan safety beltnya . "Mas, kau sudah punya keluarga jadi kembalilah pada keluargamu dan aku mohon jangan mengusik kami lagi untuk selama-lamanya" Lirih alia, ia berusaha mencoba menahan air matanya yang mulai menggenang disekitaran mata dan bersiap-siap untuk menetes keluar. "Justru itu dek, kalau aku gagal menjadi ayah untuk Adam mana mungkin aku pantas menjadi ayah buat bayiku nanti" Tukasnya blak-blakan yang membuat alia langsung menatapnya tajam. "Perkataanmu benar-benar menyakitkan mas, adam bukanlah subjek yang bisa kau jadikan percobaan untuk mengetahui kau itu layak atau tidak menjadi ayah buat bayimu" Bentak Alia , kini diiringi oleh air matanya yang menetes membanjiri wajah cantiknya. "Aku sangat kecewa padamu mas" Lirih Alia, ia langsung keluar dari mobil dan pergi sekencang-kencangnya dari sana sembari terus menutupi wajahnya dengan rambut hitam panjangnya tanpa menghiraukan panggilan dimas dari dalam mobil. Alia terus melangkahkan kaki memasuki kantor tanpa menghiraukan pandangan orang lain terhadapnya sampai tak sengaja ia menabrak firman yang sedang menunggu didepan lift. "Maaf, aku gak sengaja" Kata Alia ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang telah berantakan akibat menangis. "Kau baik-baik saja, al?" Tanya Firman, ia langsung memberikan sapu tangan bewarna pinknya pada alia. "Ah..itu rajutan buatan putriku, kau bisa memakainya" "Makasih ya" Alia langsung menghapus air matanya dengan menggunakan sapu tangan pemberian firman , sampai ia menyadari firman yang tak berhenti menatap kearahnya. "Jangan menatapku seperti itu, aku malu " Tukas Alia yang membuat firman hanya mengangguk sembari tersenyum saja. "Mau minum kopi di kafe sebelah kantor nanti siang?" Tanya Firman tanpa ragu-ragu, namun sebelum alia menanggapi tawarannya tersebut mendadak firman langsung melanjutkan perkataannya. "Jangan salah sangka, ini cuman nongkrong santai aja buat memperbaiki mood kamu dan sekaligus ucapan makasih buat bantuannya kemarin" "Baiklah, sampai ketemu nanti siang" Alia langsung menaiki lift yang masih kosong. "Kamu gak naik?" Tanya Alia. "Enggak, duluan aja" Jawab Firman yang sedikit salah tingkah dan membiarkan alia menaiki lift itu sendiri , walaupun ia tidak menyembunyikan wajah senangnya yang berhasil mengajak alia ke kafe nanti siang tanpa sebuah penolakan sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN