"Kau sudah pulang dek?" Tanya Dimas begitu melihat alia turun dari mobil, saat itu alia hanya bersikap datar saja menanggapi pertanyaan dimas sembari memperhatikan dimas yang sedang menunggunya didepan pintu seperti tengah bersiap-siap untuk segera pulang kerumah.
"Apa hari-harimu bersama adam berjalan menyenangkan mas?" Tanya Alia curiga.
"Kalau masalah itu kau bisa tanyakan sendiri sama adam, tapi yang jelas aku harus balik sekarang dek soalnya tadi angela nelpon butuh aku dirumah"
"Oke" Jawab singkat alia yang terlihat acuh .
"Silahkan pergi kalau gitu mas, lagian kasihan juga istrimu itu" Tukasnya lalu berjalan masuk, tanpa membalas sapaan selamat datang si mbok kala itu alia langsung berlari kekamarnya dan menangis tersedu-sedu dalam kecemburuan serta rasa sakit hatinya.
Entah mengapa Sampai detik ini ia belum bisa melupakan perbuatan dimas padanya dimasa lalu, ia merasa luka lama itu kembali muncul setiapkali melihat wajah dimas yang terlihat merasa tidak mempunyai dosa apapun padanya.
Dalam kesendiriannya, ia menangis pelan sembari menyalakan kran air ditoilet yang ada dalam kamarnya agar suara tangisnya tak terlalu terdengar jelas.
Cukup lama alia menangisi luka lamanya, hingga tak terasa sudah hampir setengah jam ia menyendiri dan langsung tersentak dari kesendiriannya . Wanita itu segera membersihkan diri dan mengenakan pakaian tidur sebelum akhirnya menghampiri kamar adam.
Saat itu adam sedang menulis sesuatu di buku catatannya, dan segera anak itu meletakkan buku itu ke meja saat alia memasuki kamarnya.
"Adam tahu bunda pasti habis nangis lagi karena pria itu" Tukas adam secara blak-blakan yang membuat alia hanya bisa membungkam dan sebisa mungkin untuk tetap tersenyum saat ini.
Alia langsung mendekati ranjang adam dan mengelus rambut putranya itu.
"Bunda gak sedih kok, cuman agak lelah aja soalnya banyak banget kerjaan menumpuk dikantor"
"Adam anggap itu benar deh bun" Celotehnya yang sebenarnya menyadari kalau alia hanya mencoba berbohong saja, sementara alia hanya bisa tersenyum melihat sikap sok tahu anaknya itu yang sangat gemesin baginya.
"Oh iya , bunda jadi penasaran deh kira-kira gimana hati-hati kamu sama Papa?"
"Biasa aja" Jawabnya datar.
"Kok biasa aja, memangnya kamu belum bisa maafin Papa kamu ya?"
"Dia bukan Papa buat adam lagi mulai sekarang, dia cuman seorang Paman buat Adam" Tukas Adam.
"Oke, kalau memang kamu maunya memanggil Papamu sebagai Paman"
"Makasih Bun" Adam langsung memeluk Alia saat itu juga, untuk beberapa saat ia bisa tahu kalau anaknya sedang menangis dibalik punggungnya .
"Kenapa, Nak?" Tanya Alia, namun tak ada jawaban sama sekali dari adam saat ini selain tetesan air matanya yang membasahi punggung alia untuk beberapa saat sebelum akhirnya adam sendirilah yang melepaskan pelukan itu.
Alia langsung menghapus sisa-sisa air mata adam dengan jemarinya, ia memang tidak dapat mengetahui penyebab adam menangis saat ini namun yang jelas apapun alasannya benar-benar telah melukai hatinya saat ini sebagai seorang ibu.
Ibu mana yang bakal sanggup melihat anaknya terluka seperti ini, pastinya semua ibu akan ikut terluka bila melihat bayi mungilnya tidak merasa bahagia.
"Sebenarnya abang gak disayangi Paman dimas kan , Bun?" Tanya Adam, alia langsung menggeleng-geleng saja .
"Dia sangat menyayangi adam kok, Papa mu itu sangat sayang sama adam jadi adam gak boleh berpikiran yang aneh-aneh ya"
"Dia janji bakal menghabiskan waktu dengan Adam , tetapi kenapa dia malah sibuk menelepon tante itu dan tadi adam juga dengar..." Ia menghentikan Perkataannya sejenak, lalu melepaskan genggaman tangan alia dari wajahnya.
"Dia hanya memuji anaknya tante angela daripada adam, memangnya adam gak boleh dapat pujian juga darinya?" Tanya adam yang membuat alia terbungkam, melihat ekspresi wajah alia yang terdiam membuat adam merasa bersalah dan langsung menutupi dirinya dengan selimut saat itu juga.
"Adam mau sendirian, bunda boleh keluar dari kamar adam Sekarang ya dan tolong malam ini bunda gak masuk kekamar adam sama sekali" Ucapnya , alia tak bisa berkata-kata lagi saat ini selain hanya menuruti kemauan adam saja .
Ia menuruni tangga dengan langkah yang lemas dengan kalimat adam yang maish terngiang-ngiang di kepalanya, bahkan saat si mbok tengah menyeduhkan segelas teh hangat saja ia tak menggubris sama sekali.
"Mbok, tolong bawain makan malam adam sekalian jangan lupa dikasih obat juga ya" Ucap alia sembari melirik kearah jam Sindir dibelakangnya, si mbok hanya mengangguk saja dan menuruti permintaan alia yang memang harus menyerahkan tugas tersebut pada mbok atas permintaan adam yang enggan memperbolehkan bundanya buat masuk malam ini.
"Aku harus menelepon mas dimas sekarang" Tukas Alia saat itu juga, ia tak mau hanya perkara hal ini membuat adam semakin banyak pikiran dan bertambah sakit.
Ia langsung berjalan kembali kekamarnya dan meraih handphone yang sedang di charger diatas meja kerja, lalu tanpa pikir panjang ia langsung menghubungi dimas saat itu juga.
"Ada Apa dek?" Tanya Dimas dari seberang telepon.
"Kau benar-benar jahat ya mas" Tukas Alia dengan suara yang mulai rapuh, namun ia berusaha untuk menahan air matanya .
"Apa sih maksudmu dek? setiap saat kau selalu mengatakanku jahat" Ucap Dimas yang tak kalah kesal, baru saja ia mengangkat telepon mendadak ia sudah dituduh jahat oleh mantan istrinya itu.
"Kenapa kau harus memuji anakmu didepan adam?" Tanya Alia ketus.
"Didepan? Kayaknya kau salah deh, aku memang berteleponan dengan angela saat adam tertidur kok, jadi gak mungkin dia bisa dengar kecuali dia memang sudah terbangun dan hanya pura-pura tidur...Eh tunggu dulu, berarti Adam memang pura-pura tidur sejak awal?" Tanya Balik Dimas.
"Aku gak perduli ya mas, tapi yang jelas perbuatanmu itu sudah melukai hati adam. Memangnya kau gak bisa sehari aja gak berkomunikasi dengan istrimu saat bersama adam? atau minimal kau gak memuji anakmu yang ada dikandungan angela dihadapan anakku dong"
"Kau yang terlalu membela adam , harusnya Adam gak perlu marah apalagi sampai cemburu karena pujian kecil apalagi cemburu dengan adik tirinya sendiri sih"
"Dengar ya Mas! Dia gak bakal cemburu kalau sekali aja kau memujinya, karena memang semua anak didunia ini sangatlah senang bila dipuji oleh orangtuanya dan kalau memang kau enggan berniat memuji adam , setidaknya kau bersembunyi dari hadapan anakku setiapkali kau ingin memuji anak kandungmu dengan Cathrine itu"
"Oke, kalau gitu aku bakal bicara sekarang dengan adam dan jujur kayaknya aku perlu minta maaf pada anak itu. Dimana dia sekarang?"
"Maaf mas, Mulai sekarang aku ngelarang kamu buat nemuin adam" Tukas Alia yang langsung memutuskan sambungan tersebut saat itu juga , rasanya ia terlalu lemah menghadapi kelakuan dimas yang sangat bertolak belakang dengan dirinya itu.
Bersamaan pula dengan suara handphone berdering berulangkali setelah hampir 1 menit semenjak Alia memutuskan telepon dimas, sepertinya pria itu cukup tercengang pada keputusan alia yang memutuskan hubungannya dengan sang anak.
Alia sebenarnya gak bermaksud ingin melarang dimas buat menemui adam, hanya saja sekali lagi demi anaknya ia harus melakukan itu karena tak ingin kesehatan anaknya bakal terganggu bila dimas masih terus-menerus menyakiti hati adam seperti hari ini dan rasanya ia cukup menyesal telah memberikan kesempatan kedua pada dimas.