"Alia, aku dengar kalau putramu sudah keluar dari rumah sakit" Ucap Firman, yang merupakan rekan kerja alia yang sebenarnya tidak terlalu dekat dengan gadis itu namun entah kenapa hari ini adalah Untuk pertama kalinya pria itu mengajak alia berbicara selain untuk urusan rapat atau pekerjaan.
Firman memberikan secangkir kopi dingin kepada alia yang saat itu tengah bersiap-siap berberes untuk pulang dimeja kantornya sehingga ia tidak terlalu memperhatikan firman lebih detail.
"Iya, Alhamdulillah dia sudah membaik setelah menjalani beberapa perawatan" Tukas Alia yang merasa enggan dikasihani, lalu ia sedikit melirik pada firman sembari menyeduh kopinya.
"Tumbenan anda mengobrol pada saya, memangnya ada apa?" Tanya Alia yang cukup ragu dan curiga disaat yang bersamaan. Apalagi, Alia juga jarang sekali berkomunikasi dengan rekan kerjanya di kantor dikarenakan statusnya yang merupakan seorang Single Mother dan memiliki banyak kesibukan antara pekerjaan di rumah dan kantor.
"Jangan salah sangka, saya cuman sekedar basa-basi aja kok" Jawabnya kikuk, lalu berjalan pergi tanpa pikir panjang dan menyudahi obrolan itu begitu saja. Walau sebenarnya kaki Firman terasa sangat berat untuk melepaskan kesempatan emas itu untuk mulai mendekati Alia yang juga memiliki status yang sama dengan Firman.
"Al, kenapa itu si firman?" Tanya Lulu, satu-satunya rekan kerja alia yang cukup dekat dengan Alia.
"Enggak tahu, tumbenan dia ngasih kopi. Palingan juga merasa kasihan sama hidupku yang miris ini" Tukas Alia yang merasa acuh dan berjalan pergi dari sana , disusul juga oleh lulu.
"Kamu gak boleh berburuk sangka seperti itu, Alia. Gimana kalau seandainya si firman bukan kasihan sama mu, al? gimana kalau dia mau pdkt gitu, soalnya aku dengar-dengar kabar kalau dia juga single parent kayak kamu baru-baru ini" Lulu terlihat paling bersemangat kalau sudah masalah menjodohkan orang lain. Apalagi ia sangat paham betul bahwa Alia sudah lama menjomblo sejak ditinggal oleh Dimas dimasa lalu.
"Apaan sih kamu, Lu! Kamu kan tahu kalau Dunia ku udah habis semua untuk Adam. Bahkan, aku juga gak minat untuk membuka hati lagi buat laki-laki lain. Dan satu-satunya orang yang berhak untuk mengambil semua cintaku ya anakku. Jadi, lebih baik kamu gak usah repot-repot menjodohkan aku. Kau udah tahu kebiasaan kamu itu."
Alia berhenti dimeja kantornya dan mulai bersiap-siap membereskan barang-barang nya.
"Tapi, Kamu memangnya gak bosan sendirian terus?" tanya Lulu yang masih membujuk Alia.
"Aku gak sendirian, Lu. Aku masih punya Adam. Dan kalau memang suatu hari nanti takdir mempertemukanku dengan orang yang tepat, aku akan mempertimbangkannya kembali. Tapi saat ini, aku hanya bakal fokus ke Adam."
"Jadi, kamu nolak Firman nih secara gak langsung?" tanya Lulu lagi.
"Ya. Jadi berhenti mencoba membuat gosip aneh di kantor ini Lagipula belum tentu Firman suka sama janda kayak aku. Udah ah, aku mau pulang duluan ya soalnya anakku pasti membutuhkanku" Alia hanya menepuk bahu temannya dengan pelan lalu berjalan pergi ke parkiran tempat mobilnya diparkiran.
Dan tepat disebelah mobilnya terdapat firman yang sedang sibuk menunggu disana dengan gerak-gerik yang cukup aneh seakan-akan sedang menunggu kedatangan alia .
"Kenapa lagi, Fiman? Aku buru-buru banget nih. Kalau gak terlalu penting, kita bisa bahas besok aja." Keluh Alia.
"Tunggu, Al. Ini benar-benar penting. Sebenarnya aku mau minta tolong padamu," ucapnya yang terlihat ragu untuk berterus-terang pada alia.
"Gak usah ragu, kalau mau minta tolong bisa langsung diomongin aja. Mungkin aja aku bisa bantu. Apalagi kita ini rekan kerja sejak lama. Walaupun kita gak pernah berkomunikasi."
"Kau benar. Oke, jadi gini al..." Ia menghentikan Perkataannya sejenak dan menatap sekeliling parkiran, sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Gimana bilangnya ya, Al?" Ia malah menggaruk kepalanya yang jelas saja tidak gatal dan membuat alia menjadi tersenyum geli atas kelakuan pria ini.
"Kau kan tahu aku punya dua anak , dan hak asuh mereka itu samaku?" Ia menatap serius pada alia, alia hanya mengangguk saja.
"Jujur aja aku baru tahu"
"Ah? yasudah terserahlah kalau kau baru tahu" Tukasnya mencoba mengalihkan hal tersebut.
"Intinya , putri bungsuku tadi menelepon sambil menangis dan sepertinya ia baru saja mengalami menstruasi pertamanya saat ini " Bisik pelan firman sembari melihat sekeliling sekali lagi.
"Dan masalahnya aku mau belikan pembalut untuknya, tapi aku malu membelinya dan lagian aku juga gak tahu membedakan antara Pampers dan pembalut " Ucapnya blak-blakan.
"Kenapa gak diskusikan sama ibu mereka saja?"
"Dia melarikan diri ke amerika sehari setelah bercerai dariku, bahkan aku aja gak punya nomornya yang aktif gimana mau diskusi" Keluhnya.
"Yaudah deh, kalau gitu aku temani kau buat ke mini market" Ucap alia yang cukup merasa iba mendengarkan penjelasan Firman, ia gak bisa membayangkan bagaimana seorang anak pastinya sangatlah membutuhkan sosok ibu dimasa pubertas pertamanya, apalagi momen yang dirasakan putrinya firman saat ini adalah momen yang seharusnya didampingi seorang ibu.
"Oke, kalau gitu aku ikutin mobilmu dari belakang ya" Ucap Firman kesenangan, lalu ia berlari kearah mobilnya.
Alia hanya mengangguk saja dan menuntunnya kemini market, disana ia langsung memilah-milah pembalut yang tepat untuk digunakan remaja dan membayarkannya dikasir menggunakan uangnya sendiri sebelum akhirnya ia menyerahkan plastik belanjaan itu pada firman yang sedang menunggu di depan mini market dan enggan masuk.
"Makasih ya alia" Ucap firman, "Oh iya, uangnya berapa? biar kuganti"
"Gak usahlah diganti-ganti segala, anggap aja nih hadiahku buat kopi dinginnya tadi" Alia tersenyum yang membuat firman salah tingkah seketika, ia memang sudah sering melihat senyuman alia hanya saja tidak dalam jarak sedekat nih dengan statusnya sebagai duda.
"Oke deh" Ucap Firman.
"Iya, nanti kalau ada apa-apa bisa langsung chat aja aku ya atau gak kamu Boleh searching juga diinternet . Oh iya kalau nanti anakmu nyeri perut bisa coba kompres aja pakai air hangat perutnya supaya nyerinya agak reda " Firman hanya mengangguk saja dan cukup kagum atas penjelasan alia yang terlihat sangat perhatian.
"Makasih ya al, nyesal banget dari dulu aku gak nyoba ngeakrabkan diri sama kamu"
"Yaampun , kamu gak perlu repot-repot. Aku gak apa-apa kok firman, yaudah kalau gitu aku balek duluan ya" Alia langsung bergerak pergi , ia gak menyadari kalau saat ini firman mulai sedikit mengagumi dirinya dari kejauhan.
Sementara itu, Alia tampak sama sekali tidak menyadari perasaan Firman padanya yang mulai tumbuh.