Sudah Hampir setengah jam dimas mencari keberadaan Adam disekeliling komplek perumahan, namun jejak anak itu tak kunjung ditemukan sampai-sampai timbul dipikirannya untuk menghubungi Alia.
"Ntar alia jadi khawatir lagi, gimana ya?" Gumam dimas yang masih terlalu bimbang mengatasi masalah ini.
"Coba cari sekali lagi aja lah, baru nanti hubungi alia" Ucapnya lagi, ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi alia dan kembali mencari dimas disekitaran komplek secara lebih detail, hingga langkahnya tertuju pada sebuah bangunan kosong yang ada diujung taman dan terlihat sangat tidak terurus.
Memang sih dari tadi dimas sudah melewati daerah itu tetapi ia sama sekali tidak terlalu memperhatikan rumah kosong tersebut, Bahkan ia tak pernah terpikirkan untuk menghampiri rumah tersebut seperti saat ini.
Dimas mau tak mau mencoba mendekati rumah kosong tersebut sembari meneriakkan nama adam.
"Adam, kau disana? kau pasti tak ingin membuat ibumu khawatirkan jadi lebih baik jawab aku!!!" Teriak Dimas, namun tak kunjung ada respon kecuali gerakan langkah pelan yang cukup terdengar samar-samar ditelinga dimas.
Pria itu langsung memasuki ruang tamu rumah tersebut dan melihat adam yang sedang mimisan sembari memegang kakinya .
"Kenapa?" Tanya Dimas, ia langsung mendekati adam dan mencupit hidung adam dengan tangannya.
"Aku gak apa-apa, pergi sana!!!" Bentak adam, ia langsung menyingkirkan tangan adam darinya dan berusaha berjalan pergi tetapi tiba-tiba saja ia terjatuh kelantai dan meringis kesakitan.
"Hey, lihat aku!!!" Dimas kembali mendekatinya, ia tidak memperdulikan penolakan adam dan masih membantu anak itu dengan terus mencumpit hidung adam sembari membersihkan darah yang menetes dengan lengan kemeja putihnya.
"Kakiku mati rasa, paman!" Adam mulai sedikit terbuka dengan memberitahukan apa yang sedang dirasakannya pada dimas.
"Ini yang sakit?" Dimas langsung memegang kedua kaki adam yang mati rasa sembari mencupit hidung adam .
"Sakit.." Adam mengeluh lagi, tentunya hal ini membuat dimas menjadi khawatir dan langsung menyuruh anaknya itu untuk naik ke punggungnya.
"Naiklah, kita akan kerumah sekarang!" Perintahnya, adam hanya menurut saja lalu menuruti perkataan dimas.
Begitu adam sudah berada di pundak dimas, langsung saja lelaki itu menggendong adam dan berlari menuju rumah.
"Hey, tetap Ciput hidungmu agar darahnya tidak keluar terlalu banyak!" Perintahnya pada adam, ia tetap berlari kedalam rumah tanpa memperdulikan mbok ina yang cukup kaget akan hal tersebut.
"Ada apa ini, pak?" Tanya mbok ina yang menyusul ke kamar adam.
"Ambilkan obat adam dan segelas air mbok!" Perintah dimas, ia langsung mendudukkan adam diranjangnya dan mengambil tisu yang ada diatas meja belajar sembari terus menghapus darah yang masih menyelimuti sekitaran wajah adam.
"Ini pak!" mbok ina memberikannya pada dimas, ia langsung menyuruh anaknya itu untuk segera meminum obat , setelah itu meminta mbok ina untuk meninggalkan mereka berdua diatas kamar.
"Baik pak, nanti kalau butuh sesuatu panggil saya ya pak" Ucap mbok ina, ia langsung pergi begitu melihat anggukan dari dimas.
Dimas langsung menidurkan adam dan menyelimuti remaja itu, sembari memberikan pijatan pelan pada kaki adam yang mulai terasa membaik sedikit.
"Lain kali jangan berkeliaran sendirian, ibumu bakal khawatir" Dimas menasehatinya, ia enggan merespon nasehat dimas dan hanya menatap kelangit-langit atap kamarnya .
"Apa masih ada yang sakit?" Tanya Dimas yang mulai mengerti akan arti dari sebuah kekhawatiran, dengan kejadian barusan kini ia mengerti bahwa ia juga tidak ingin kehilangan sosok bocah yang ada dihadapannya kini.
"Aku tak mengharapkanmu datang, paman!" Ucap Adam, namun ia masih enggan melihat wajah dimas.
"Aku ayahmu, bukan paman!" Ketus kesal Dimas, tetapi anak itu malah mengacuhkannya.
"Terserahlah, setidaknya kita berhenti untuk perang dingin"
"Aku gak ada memusuhi paman"
"Really? " Ia menatap kaget sembari memperlihatkan wajah kesalnya, "jelas-jelas kau tadi mencuekiku" Sambungnya lagi.
"Aku hampir menelepon bundamu, lain kali jangan main jauh-jauh"
"Hufft.. Kekanak-kanakan pakai acara ngadu!" Ketusnya lagi, lalu menutupinya dirinya dengan selimut.
"Kau memang mengesalkan ya" Keluh Dimas sembari merapikan kerah kemejanya yang tadi sempat kusut.
"Yaudah kalau gitu kau bisa istirahat, aku akan nonton televisi dibawah" Ucap Dimas lalu bangkit dari ranjang adam, namun secara tiba-tiba adam langsung menarik ujung lengan bajunya dan tetap menyembunyikan wajahnya dari balik selimut.
"Aku..."Ia sedikit ragu untuk berbicara pada dimas.
"Kenapa? kau butuh sesuatu nak?" Tanya Dimas yang kembali duduk diatas ranjang adam.
"Aku takut tidur sendirian, paman bisa menemaniku disini?" Tanyanya ragu dan terkesan berbohong dengan alasan yang tak masuk akal, namun ucapan adam barusan tanpa sadar memberikan senyuman spontan dibibir dimas.
"Oke, aku akan menemanimu sampai kau terbangun" Jawab dimas tanpa pikir panjang, lalu menggenggam erat tangan pucat adam yang memang membutuhkannya.
"Paman, sebenarnya aku udah menulis daftar list kegiatan di balik buku matematika diatas meja, kau bisa memilihnya untuk kegiatan kita nanti setelah aku bangun" Ucapnya yang masih kelihatan angkuh dari balik selimut, adam hanya mengangguk saja dan berdehem pelan tetapi tetap membiarkan genggaman tangan adam yang tak lepas darinya.
Dimas menunggu adam sampai tertidur lelap dan barulah ia mengambil kertas yang dimaksud oleh anaknya itu dan membaca stau persatu catatan yang berisi coretan, hingga matanya tak sengaja kakinya tertendang oleh tong sampah yang ada dibawah ranjang.
Tong sampah mungil itu berisi banyak sekali catatan kertas yang sama dengan coretan daftar list kegiatan dengan poin-poin yang hampir sama isinya dengan kertas yang dipegang Dimas sekarang dan yang membedakan hanyalah judul besar tulisan diatas kertas tersebut.
"Daftar List kegiatan bersama ayah" Dimas membaca kalimat yang terdapat pada beberapa tumpukan kertas yang sudah dibuang ditong sampah, namun untuk kertas baru yang dibalik buku matematikanya adam berubah kalimat menjadi Daftar list kegiatan bersama paman Dimas.
Kini ia mulai paham tentang kenyataan bahwa bukannya Adam membencinya saat ini, tapi Adam sudah terlalu terluka dan membuat segala hal yang teras muda jadi tampak sangat sulit bagi adam, terutama saat Dimas ingin Adam memanggilnya dengan sebutan seorang ayah, sedangkan kenyataannya dia sendiri tak pernah hadir dihidup adam dan bahkan saat ini pun ia tak pernah menunjukkan sikap sebagai seorang ayah bagi anaknya itu. Padahal satu-satunya alasan ia kembali ke Indonesia itu karena keinginan Adam yang merindukan sosok Ayah dari dirinya.
Dan perlahan-lahan, ia mulai merasa takut bila nanti kehadiran bayi kecil dari rahim angela semakin membuatnya gagal menunjukkan jati diri sebagai seorang ayah, bila bersama adam saja dirinya sudah sangat gagal. Dan perlahan-lahan rasa haus akan Keinginan menjadi Ayah untuk Adam mulai membara dihatinya.