10

1020 Kata
"Ada Apa dek?" Tanya Dimas sembari menyeduh segelas kopi hangat digelasnya, kini ia menatap serius kearah alia yang berada duduk dihadapannya. "Aku ingin memberikan mas kesempatan sekali lagi" Alia mencoba bersikap tenang, ia sesekali mengamati para pengunjung kafe yang tak berhenti berkeliaran disekitar. "Kesempatan apa?" "Besok mas bisa main kerumahku selagi aku sedang bekerja, mungkin mas bisa mengakrabkan diri sama adam" "Besok ya? " Gumamnya, ia terdiam sejenak lalu kembali menyeduh kopinya. "Kalau gak bisa juga gak apa-apa kok, lagian ini bukan pemaksaan juga" Ketus alia, ia mula sedikit risih pada dimas meskipun ia tidak bisa memungkiri kalau hatinya masih saja deg-degan setiapkali berada didekat dimas. "Aku bisa kok, nanti kirim aja alamat adek ya" Dimas hanya tersenyum pada alia, dan membuat gadis itu agak risih. "Hmm ..yaudah kalau gitu aku mau pergi dulu" "Kok cepat banget, itu minumannya belum di habisin loh!" Ucap dimas yang membuat alia mengurungkan niatnya lalu meneguk habis jus jeruk yang dipesannya. "Udah habis, yaudah aku pulang duluan ya mas! kasihan adam" Alia langsung meninggalkan dimas sendirian dikafe, dimas hanya mengangguk saja sembari mengamati kepergian gadis itu. *** "Pagi...!" Sapa dimas yang sudah berdiri didepan pintu rumah alia. " Kau sudah datang mas, kebetulan juga ini aku udah mau berangkat" Alia merapikan pakaian kerjanya, "Yuk masuk dulu!" Tawarnya. Alia menuntun pria itu kedalam rumahnya, dan tak lupa ia juga memperkenalkan dimas pada ART yang baru saja di pekerjakan alia beberapa Minggu ini semenjak adam diperbolehkan pulang dari rumah sakit. "Salam kenal, mbok" Balas ramah dimas pada mbok ina , mbok ina hanya tersenyum saja membalas keramahan pria itu dan kembali melanjutkan pekerjaannya untuk memasak. "Adam ada dikamarnya dan kamarnya gak dikunci kok!" "Kamu udah bilang ke dia kalau hari ini aku datang?" "Udah mas, tapi adam masih marah sama kamu!" "Oh, yaudah mendingan kamu berangkat aja kerja dek biar Adam nanti aku yang urus" "Yaudah, tapi kalau memang hubungan kami dan adam gak bisa diperbaharui lagi berarti aku punya hak untuk melarang kamu buat gak nemuin adam lagi, ngerti?" Dimas hanya bisa mengangguk saja, entah memang dia terlalu acuh akan hal ini atau ia memilih tak ingin bertengkar dengan alia. "Oke, mbok!!! alia pergi dulu ya!" Alia menyalam mbok ina dan bergegas pergi, sedangkan dimas langsung berjalan kelantai dua untuk menemui putranya. "Adam? Boleh aku masuk?" Tanya Dimas sembari mengetuk kamar adam, namun tak kunjung ada jawaban dari remaja itu. "Oke, kalau gitu aku masuk aja ya!" Dimas langsung membuka pintu kamar adam dan mendapati adam yang sedang bermain gadget sembari mendengarkan musik diatas ranjang. Wajahnya memang masih pucat namun sudah cukup baikan , ia terlihat sangat acuh dan enggan melihat dimas. " So, What's happening?" Dimas meraih kursi belajar dan menariknya didekat ranjang adam, lalu ia duduk tenang menghadap ke anak laki-laki itu sembari melepaskan headset yang masih melekat ditelinga adam. "Maaf, anda siapa ya?" Adam menatap tajam pada dimas, lalu kembali mengenakan headset ditelinga nya. "Come on boy, Kau marah padaku?" Dimas menarik paksa headset adam beserta buku yang dibaca adam. Tentunya hal itu membuat adam kesal dan langsung berjalan pergi dari sana, namun kondisinya yang masih cukup lemah membuat ia terjatuh diambang pintu . "Biar kubantu!" Dimas mengulurkan tangannya kepada adam, namun remaja itu enggan menerima dan berusaha berdiri sendiri. "Oke.." Dimas akhirnya mengalah dan membiarkan adam berusaha sendiri untuk berjalan menuruni anak tangga, ia hanya bisa mengawasi langkah adam dibelakang tanpa mengatakan sekata patahpun . "Nek, lagi apa?" Tanya Adam pada mbok ina, mbok ina pun langsung membantu adam untuk duduk dikursi makan sembari menyeduhkan dua gelas air untuk adam dan dimas. "Nenek lagi masak ini, adam kenapa manggil-manggil nenek? adam kalau butuh sesuatu bilang sama nenek biar nenek buatkan". Mbok ina kelihatan sangat perhatian pada adam, ia memang sudah menganggap anak itu sebagai cucunya sendiri. "Enggak kok nek, yaudah nenek lanjut aja masaknya " "Iya mbok, biar adam dijaga sama saya aja" Dimas menimpali percakapan mereka, mbok ina hanya mengangguk mengiyakan saja dan beranjak dari sana. "Aku tahu kau marah besar denganku, nak" Ucap dimas, " Kau sudah besar jadi gak perlu pakai acara ngambek-ngambek, boy" Sambungnya, tentu saja ucapannya itu malah semakin memperkeruh suasana. Adam semakin kesal dan langsung melemparkan gelasnya kelantai hingga membuat kaget semua orang yang ada dirumah. "Pergilah dari rumahku sekarang!!!" Bentak Adam, tanpa disadarinya sebuah tamparan keras mendarat diwajahnya. "Kau boleh marah tapi jangan berbuat hal kekanak-kanakan gini, Perbuatanmu itu bisa aja melukai orang lain!!!" Ketus Dimas mencoba menasehati anaknya itu, namun tamparan spontannya telah memberikan luka lebar dihati anaknya. Adam menjadi semakin bertambah membencinya, ia menatap tajam pada dimas. "Aku membencimu!!! Kau bukan Ayahku!!!" Bentaknya, ia langsung berlari melewati pecahan kaca tersebut menuju keluar rumah. Langkahnya terlalu cepat untuk bisa ditahan oleh Dimas, lelaki itu kini mulai bimbang dan mau tak mau dirinya langsung mengambil tong sampah dan membersihkan lantai itu. "Sudah biar saya saja pak, bapak susul adam saja!" Ucap mbok ina yang merasa kasihan pada adam, ia langsung sigap membersihkan pecahan tersebut. "Maaf Mbok, aku pikir anak itu terlalu banyak dimanjain makanya kayak gitu" Ucapnya tanpa berpikir panjang. "Maaf ya pak, tapi ini semua bukan salah adam!" Mbok ina mulai memberanikan diri untuk buka suara, "Saya memang masih baru kerja dirumah ini, tapi saya bisa paham gimana kasihannya anak itu yang selalu merintih kesakitan dan belum lagi Nak alia yang selalu menangis setiap tengah malam karena ia selalu berpikir merasa gagal menjadi seorang ibu" Jelas mbok ina panjang lebar. "Aku bukannya mau ikut campur ya pak, tapi harusnya bapak ndak perlu kasar seperti itu pada adam! Ia pasti sudah terlalu banyak pikiran dan hanya ingin dimengerti saja, lagipula ia cuman anak remaja yang sedang puber jadi wajar pak" Mbok ina langsung mengangkat tempat sampah nya setelah memastikan lantai telah bersih dari pecahan kaca gelas. "Yaudah , saya permisi kebelakang dulu ya pak" Ucapnya, Lalu pergi. Dimas terdiam sejenak mendengarkan nasihat Mbok ina barusan, cukup lama ia berdiam diri disana lalu entah mengapa hatinya tergerak untuk mencari adam yang pergi entah kemana. Kini langkahnya jauh lebih ringan daripada sebelumnya, ia memang lelaki yang sangat acuh dan jarang memperdulikan orang lain dan kini entah kenapa ia mencoba menggali lebih sedikit mengenai putranya itu .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN