Pagi ini rumah sakit tengah disibukkan dengan banyaknya petugas dan pasien yang berlalu-lalang mengitari koridor, bahkan cuaca pagi terlihat sangat mendukung menyambut sang mentari pagi. Namun berbeda dengan alia yang masih tak tenang mengkhawatirkan adam yang tengah menjalani kemoterapi pertamanya itu, sedari tadi ia tak berhenti berjalan kesana-kemari disekitaran ruangan khusus kemoterapi dan tak lupa pula ia selalu berdoa kepada sang pencipta, Hingga selang tak beberapa lama sesosok lelaki tampak berlari terburu-buru menghampiri alia.
"Alia, maaf ya aku telat soalnya baru bangun habis jagain angela tadi malam" Ucapnya yang seakan mencoba memberikan alasan pada alia, wanita itu hanya menatap tajam saja dan enggan memberikan komentar apapun pada ayah dari anak laki-laki nya itu.
"Adam pasti kuat kok, gak usah terlalu dikhawatirkan dek" Dimas mencoba menenangkan kegelisahan alia, namun bukannya merasa senang malahan wanita itu tampak geram.
"Mas, tolong jangan ajak aku bicara deh sekarang!" Tukas kesal wanita itu, " Harusnya mas gak perlu sok-sokan buat berlama-lama disini kalau ujung-ujungnya ... ah sudahlah mas, capek aku"
Alia memilih menjauh dari dimas, ia letih terus menerus meluapkan kekesalannya pada dimas yang memang pada kenyataannya bukan lagi siapa-siapanya jadi ia merasa tak memiliki kewajiban untuk menceramahi mantan suaminya itu.
"Maaf ya dek" Dimas mendekati alia, kini ia bersebelahan dengan mantan istrinya itu.
"Lebih baik nanti mas minta maaf sama Adam, ia gak suka sama orang yang gak suka menepati janji" Ucapan alia yang membuat dimas membungkam seketika, kini tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya selain aura keheningan yang menghiasi lorong tersebut.
Hingga tak beberapa lama, suara pintu ruangan yang dibuka memperlihatkan dokter Fahri beserta perawat lainnya yang tengah membawa adam keluar dari ruangan itu menuju kamar pasien milik adam.
Suasana saat ini tampak hening, tak ada kalimat sepatah katapun yang dapat disampaikan oleh alia maupun dimas selain ikut menuntun Adam kembali ke kamarnya.
"Untuk seminggu ini, usahakan kalian jangan terlalu berdekatan ya sama Adam soalnya.." Dokter Fahri menjelaskan segala hal mengenai kondisi adam kepada kedua orang tua tersebut, alia tampak mengerti dan hanya mengangguk setuju lalu ia berjalan masuk kedalam kamar adam begitu ia melihat dua orang perawat berjalan keluar dari pintu.
Didalam kamar, ia bisa melihat adam yang tampak setengah terduduk lemas dan linglung dan terus menerus berusaha menahan rasa gatal disekujur tubuhnya.
"Adam, jangan digaruk-garuk dulu ya badannya" Ujar Alia yang agak mendekati adam sembari mendekati baskom kecil didekat adam yang sewaktu-waktu bisa saja merasa mual dan muntah karena efek kemoterapi.
"Iya Bunda, Badan abang lemas semua dan kulit abang agak gatal" Keluhnya, tak habis pikir alia langsung mengompreskan kain basah dari dalam baskom kecil lainnya yang tadi disediakan dokter fahri diatas meja kekulit adam yang agak gatal.
"Makasih bunda..udah agak mendingan kok gatalnya" ucapnya, lalu kembali merasa mual dan mengeluarkan muntahannya kedalam baskom.
"Adam?" Panggil Dimas yang berjalan memasuki ruangan, namun tak ada respon sama sekali dari remaja itu selain wajah menyedihkan yang tengah merasa kesakitan.
"Mas, kayaknya hari ini kamu jangan ganggu kami dulu deh" Keluh alia, ia merasa kalau saat ini suasana hati putranya sedang kacau balau ditambah lagi penderitaan dari adam membuat nya tak karuan. Tanpa sempat berkata-kata, alia langsung menarik Dimas keluar dari kamar itu dan berjalan menyeret Dimas menjauhi pintu kamar Adam.
"Udahlah, mas mendingan urus aja istrimu hari ini dan Untung urusan adam biar aku yang urus sendiri"
"Gak bisa gitu dek, Aku kan juga ayahnya"
"Dan aku adalah ibunya yang udah ngasuh dia sejak masih dalam kandungan, jadi aku lebih berhak atas adam dan lebih bagus sekarang mas nurut deh hari ini"
"Dek.." Ia meletakkan kedua tangannya dibahuku, tatapannya kelihatan sangat serius seakan-akan ia telah letih untuk bersabar menghadapi sikap kasarku.
"Aku gak perduli dengan perasaan bencimu samaku, itu adalah masalahmu tapi.." Ia menghentikan ucapannya sejenak, entah kenapa beberapa kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya itu tampak menyakitkan untuk kudengar sampai-sampai bibirku sedikit bergetar.
"Setidaknya ijinkan aku buat berusaha menjadi sosok ayah baginya, bukannya itu yang dia inginkan sebelum ajal kematiannya?"
Dalam seketika, tanganku refleks mendaratkan tamparan keras diwajahnya, dari dalam lubuk hatiku yang terdalam merasakan kesakitan yang tak berujung seusai mendengarkan ucapan dimas barusan yang terlihat tak berperasaan.
"Aku gak menyangka mas bisa berpikiran seperti itu, Saat ini dia lagi berjuang menghadapi penderitaannya dan mas malah seenaknya bilang tentang ajal" Bentakku yang mulai meneteskan air mata tanpa sadar, " Mas boleh dulu pernah sakiti aku, tapi jangan mas sakiti adam juga!!!"
"Kecilkan suaramu!!!" Keluhnya, ia masih seakan tak merasa bersalah.
"Lelah juga ya ngomong sama kamu mas, intinya mulai detik ini aku melarang kamu buat dekat-dekat sama anakku!!!" Aku langsung menolaknya menjauh dariku dan berlari masuk kedalam kamar adam sembari menguncinya dari dalam.
Didalam, aku mencoba menahan air mataku dan sedikit memperbaiki suasana hatiku sebelum nantinya adam menyadari kesedihanku.
Cukup lama aku berdiam diri didekat pintu yang cukup jauh dari ranjang adam , kebetulan saja seluruh ranjangnya terhalangi oleh gorden biru sehingga ia mungkin saja tao menyadari keberadaanku.
"Aku harus bisa tegar buat adam" Gumamku, lalu berkali-kali menghapus air mata dari wajah sebelum akhirnya menghampiri adam diranjangnya.
***
Malam ini Alia telah tertidur pulas diranjangnya, bukan sengaja ia ingin tidur tapi lebih tepatnya ketiduran karena sudah beberapa hari ini ia memilih bergadang demi menjaga adam yang terus-menerus kesakitan seusai kemoterapi.
Kegigihan Alia menjadi seorang ibu yang baik untuk ada membuat fahri sangat mengagumi gadis itu, hanya saja ia harus lebih bersabar menahan perasaannya tersebut karena memang saat ini bukanlah waktu yang tepat bagi pria itu memasuki hati alia, lagipula ia juga tahu kalau ia tidak akan bisa menerobos dinding kebencian terhadap laki-laki dihati alia.
Semenjak diceraikan Oleh dimas, alia kerap selalu menutup hatinya dari pria manapun. Ia merasa kalau didunia ini hanyalah adam yang paling berharga dihidupnya sehingga sama sekali tak kepikiran untuk mendapatkan cinta dari lelaki lain.
"Fahri?" Alia tersentak bangun dari tidurnya, ia melihat Fahri yang sedari tadi berdiri menatapnya sembari menyandarkan diri di jendela yang ada disebelah Ranjang adam.
"Kau sudah bangun? Hmmm..tadi pas aku masuk ngelihat mu ketiduran, jadi aku sengaja tetap disini buat jaga adam selama kamu tidur"
"Makasih ya fahri, kamu selalu baik sama kami" Alia memberikan senyuman terindahnya pada pria itu.
"Hmmm... kalau mau lanjut tidur lagi, yaudah tidur aja biar aku yang ganti jagain adam"
"Gak usah deh, kamu pasti lagi sibuk dan aku gak mau repotin kamu" Alia menolak tawaran fahri, ia langsung memperbaiki selimut adam dan meneguk air dari botol minumnya.
"Hmm..alia, Aku udah dengar masalahmu sama dimas"
"Sudahlah fahri, jangan bahas itu lagi deh! Lagian dia gak pantas jadi ayah buat adam dan saat ini aku bisa kok menjaga dan melindungi adam"
"Alia, Aku percaya kau bisa menjaga dan melindunginya dan dunia ini pun percaya kalau Kau memang sosok ibu terbaik baginya, tapi tetap aja kamu gak akan bisa menggantikan peran seorang ayah baginya apalagi memainkan peran sosok ayah bagi adam"
Alia langsung terbungkam seketika setelah mendengarkan perkataan Fahri barusan, ia merasa kalau memang kenyataannya ucapan fahri barusan sangatlah benar dan akhir-akhir ini memang adam sangat membutuhkan sosok ayah dihidupnya.
"Tinggalkan aku sendirian disini, fahri"
"Oke deh kalau gitu, kalau ada apa-apa kabarin aja aku" Fahri menerima keputusan alia, ia langsung berjalan pergi meninggalkan kamar itu meskipun hatinya ingin sedikit berlama-lama disana menemani alia, cuman ia juga tak mau membuat alia merasa tak nyaman akan kehadirannya disana dan membuat gadis itu menjauh nantinya.
Ditengah kegelapan malam, alia mencoba menyenandungkan lagu pengantar tidur pada adam. Ia merasa walau bagaimanapun adam adalah bayi kecilnya tersayang dan ia masih belum sanggup membayangkan dunia ini tanpa kehadiran adam.
Baginya, kehadiran adam saja sudah seperti anugerah terindah yang diberikan allah pada gadis itu semenjak ia menyandang status sebagai seorang ibu. Meskipun perkataan Fahri tadi masih menghantui pikiran Alia, ia merasa tak seharusnya ia bersikap egois begini dan ia merasa kalau ia harus memberikan kesempatan sekali lagi untuk Dimas tanpa ia menyadari maksud dari perkataan Fahri barusan. Padahal fakta sebenarnya ialah agar alia membuka diri untuk menerima perasaan cinta fahri yang memang sudah lama telah siap menjadi sosok ayah pengganti bagi adam. Toh juga, ayah kandung ataupun ayah pengganti sama saja disebut sebagai sosok ayah yang siap memberikan warna bagi kehidupan adam yang telah lama merindukan sosok tersebut.
*Jadi guys, bagaimana menurut kalian tentang sosok fahri dikehidupan Alia? *