Suara ketukan pelan terdengar di pintu. Tak lama, daun pintu terbuka sedikit. “Masuk aja, kalo nggak niat ngintip,” ucap Aleeya tanpa menoleh, pandangan masih tertuju pada layar laptop. Adzriel masuk, membawa sekotak biskuit coklat kesukaan mereka. Ditaruhnya di samping laptop sang kakak sebelum akhirnya duduk santai di tepi kasur. “Capek?” tanyanya sambil membuka bungkus biskuit. “Lumayan. Tapi bukan karena acara, lebih ke dramanya.” “Dramanya atau dramamu?” seloroh Adzriel cepat. Aleeya menghela napas. “Apa sih, Zriel—” Adzriel mengunyah satu biskuit sebelum akhirnya bicara lagi. “Aku tahu soal Pak Kevin. Kondangan, duduk sebelahan, foto bareng, senyum-senyum... kelihatan banget. Kakak serius sama dia?” Gadis itu memejamkan mata sejenak. “Itu cuma basa-basi. Dia kan dosen pembimb

