Begitu mendengar keluhan pelan dari pria itu, Aleeya langsung bangkit dari sofa. Tubuhnya condong ke depan, matanya menelusuri wajah Kaivandra dengan sorot cemas yang tak bisa disembunyikan. “Mas Kaivandra kenapa? Sakit kepala lagi? Aku panggil Tante Vania, ya.” suara Aleeya terdengar panik, satu tangannya buru-buru menyentuh dahi Kaivandra, lalu turun ke lehernya. “Kamu demam?” Kaivandra menahan senyum yang nyaris terbentuk. Tapi dia tetap menjaga ekspresi datar. Bahkan sedikit mengerutkan dahi, membuat wajahnya tampak lemah. “Agak berat rasanya kepalaku. Pusing sedikit,” ucapnya pelan, hampir seperti gumaman. Aleeya langsung berjongkok, tangannya refleks memegang tangan pria itu yang berada di atas pangkuan. “Kamu udah minum obat belum? Mau aku ambilin? Atau aku panggilin Tante?” Na

