Keesokan paginya, langit masih berselimut biru pucat ketika Aleeya sudah mengenakan setelan olahraga sederhana—kaus putih dan celana training abu-abu. Di depan rumah, Papi Dimas sudah menunggunya sambil stretching ringan, lengkap dengan earphone yang hanya dikenakan sebelah. “Mau siapin oksigen darurat nggak, Papi?” sapa Aleeya sambil tertawa kecil. Papi Dimas terkekeh. “Jangan remehkan Papimu, Leeya. Dulu Papi sering ikut maraton dan menang.” “Dulu, Pi. Waktu dinosaurus masih berkeliaran,” goda Aleeya, yang langsung membuat tawa mereka pecah di udara pagi yang masih dingin. Mereka mulai berlari kecil menyusuri jalanan komplek yang masih sepi. Pepohonan di pinggir jalan menjatuhkan bayangan panjang, embun masih menggantung di pucuk dedaunan, dan suara burung terdengar samar di kejauhan

