Chapter 6

1659 Kata
Chapter 6 . . Sasori Pov. [ 02:03 am ] Aku hanya bisa menatap langit yang hanya ada beberapa bintang. Aku hanya fokus ke lima bintang yang tanpa sadar terus aku perhatikan. Bersandar di bangku taman ini yang bisa aku lakukan. 'Sakura apa kau tahu? Perasaan ini sedikitpun tak pernah berubah walaupun kau lebih memilih dia.' Aku mulai meminum cola, yang aku pegang sedari tadi. Rasa sedih sangat menyayat hatiku. Aku merasa semua ini tidak adil untuk diriku ini, apa salahnya?, jika aku minta Sakura menjadi kekasihku. Kami-sama, apa kau bisa melihatku sekarang? Apa salahku? Kenapa Sakura harus menjadi milik si b******k itu? Takdir memang sudah diatur tapi, aturlah takdir ini agar lebih adil!!.  "b******k!!!" Aku lempar kaleng cola kearah depan sekuat yang aku bisa. Aku hanya bisa meremas kaos di d**a. Rasa sakit ini sangat dalam, cinta tak terbalaskan apa sesakit ini? d**a ini terasa sesak, rasa ingin memiliki hanya sebuah mimpi yang tak akan pernah terwujud.  Aku hanya bisa menggertak kan gigi. Emosi ku seakan meluap ingin sekali aku menghajar seseorang malam ini. Saat aku melirik ke arah jari manis tangan kiriku. Aku hanya bisa menatap sedu, aku mencium cincin ini entah kenapa perasaan bertambah sedih. 'Bila aku tak bisa memilikimu. Aku berharap di kehidupan selanjutnya kita akan bersama.' Aku melihat ke atas, bintang terlihat sangat indah walaupun sedikit tidak begitu jelas  Aku hanya bisa membulatkan mata, aku sadar airmata ini mulai turun membasahi pipi. Lengan kanan ku menghapus air mata yang tak ingin berhenti mengalir. Angin berhembus tenang di setiap sepoian angin malam ini sangat terasa sampai membuat nyeri di lubuk hati.  Aku mencoba menenangkan diri, menghirup perlahan oksigen dan mulai mengatur nafas untuk menenangkan diriku sendiri. 'Aku harus rela, Sakura bersama Sasuke.' Kaki ini mulai melangkah  tanpa perintahku, mungkin perasaanku yang membimbingnya. Taman yang sangat sepi hanya ada aku disini bersama kesunyian malam. Tubuhku seakan tak ada tenaga semua terasa lemas seakan seperti pemalas. Aku terus melihat layar handphone.  Dia sangat terlihat cantik, aku sangat menyayanginya lebih dari ku menyayangi diriku sendiri. 'Asal kau bahagia, Aku juga akan bahagia. Walau perasaan cintaku tak terbalas namun aku sangat bahagia telah mencintaimu Sakura.' Aku mulai melangkah cepat, hingga berlari sekuat yang aku bisa "Sakura!! Aku mencintaimu!!" teriakanku.  Suaraku seperti tersapu oleh angin, aku terus berlari walau keringat di kening ku mulai terasa mengalir, aku hanya menghapusnya dan terus berlari.  Kedua telapak tangan bertumpu di dekat lutut, sambil mulai mengatur nafas. Sepoi-sepoi angin mulai terasa dingin.  "Hah.. Hah.."  Nafasku seakan  terputus-putus tak stabil, tatapanku mulai sayup karena rasa lelahku. Aku menuju tempat awalku tadi saat memasuki taman, aku mendekat ke arah mesin minuman dan memilih cola, aku membuka pengait penutup cola.  "Gelkh.."  Aku meneguk rakus air cola yang mulai menghilangkan rasa hausku.  Sasori Pov End. [ 02: 55 am ] Sasori mulai menaiki motornya, ia menyalakan motor, langsung menggagas kasar motornya. Jalan yang teramat sepi kendaraan satu arah dengannya juga yang melawan arah hanya ada beberapa.  "Sial, aku masih saja-," gumam Sasori, saat dia mengendarai motor dengan kecepatan hampir maksimal.  Wess! Tiinnn!! Tin!! Suara klakson dari seseorang yang menyalip, Sasori dengan kecepatan yang luar biasa. Sasori hanya menyunggingkan bibir dari balik helm yang ia kenakan. Jalan yang lumayan sepi menjadi saksi untuk mereka berdua yang saling menyalip bergantian. "Sial!! Dia cepat!!" teriak Sasori, yang sedang fokus mengikuti motor sport berwarna hitam polos tanpa ada motif lain atau corak sebagai hiasannya. Angin menerpa kencang. Sasori memicingkan mata seakan jalan mulai terlihat tidak begitu jelas karena kecepatan yang melebihi batas pada umumnya.  "Shittt!!!"  Kiiiitttttt.. Sasori menghentikan laju motor yang ia kendarai, lalu membuka helm yang dia kenakan.  "Sial, aku kalah telak," gumam Sasori, sambil menatap kearah depan. Dia menghela nafas berat kembali larut dalam kesedihannya. Bruumm!! Sasori menyalakan motornya, langsung mengendarai lurus kedepan. Dia mulai mempercepat laju motor secepat mungkin hampir mencapai maksimal.  Tatapan mata yang sangat fokus menatap lurus kedepan dibalik ekspresi yang terlihat serius tersimpan kesedihan yang teramat dalam. Perasaan yang tak menentu, menyalahkah diri sendiri. Itulah yang Sasori pikirkan saat ini, walaupun dia seorang laki-laki yang terlihat biasa saja dan selalu menebar senyum. Dia juga manusia perasaan bisa membawanya dalam kesedihan, bukan hanya Sasori mungkin semua juga mengalami suatu hubungan yang rumit.  Kau mencintainya, dia mencintai orang lain. Kau ingin bersamanya tapi? kita harus sadar satu hal yaitu cinta tak akan bisa dipaksa jika kau memaksa? Maka salah satu dari kalian akan terluka dan akan selalu berpura-pura bahagia. Angin terus menerpa tubuhnya dari arah depan. Dia terus mempercepat laju motor yang ia kendarai, setelah Sasori puas dengan apa yang dia lakukan. Sasori menghentikan motornya. Di sisi kiri jalan terlihat ada pantai, Sasori hanya tersenyum. Pandangannya tertuju pada pantai itu, dia tetap duduk diatas motornya.  "Pantai?" Sasori bergumam sangat pelan lalu dia membuka helmnya. angin tiba-tiba berhembus seakan menyapa kedatanganya.  Cahaya sang surya mulai dapat ia lihat. Matahari mulai menunjukkan keberadaannya. Pemandangan yang sangat indah kedua mata fokus menikmati keindahan itu. Sasori tersenyum sambil menikmati pemandangan yang sangat indah. Matahari terbit yang memanjakan mata, Sasori sudah melihatnya berkali-kali ia tetap tak ingin melewatkan kejadian itu. Kendaraan roda empat dan dua mulai berlalu-lalang. Sampai terlihat cukup banyak, Sasori mengenakan helmnya, ia memutuskan kembali untuk pulang, melajukan motornya dengan kecepatan yang umum dan terlukis senyuman yang tulus dari balik helm.  'Walaupun dia memilih orang lain, aku akan tetap disisinya. Jika aku menyerah dan larut dalam kesedihan, berarti aku ini pecundang. Aku akan tetap tersenyum bahagia selama dia bahagia.' gumam batin Sasori. . . . . [ 07:35 am ] [ Kediaman Uchiha ] Sakura tertidur pulas sambil memeluk Sarada yang kini mulai terbangun dari tidurnya. Sarada langsung memeluk ibunya, yang masih tertidur pulas di ranjang yang terlihat sangat nyaman. "Mama..," gumam Sarada. Dia menatap intens ibunya diiringi senyum yang terlihat senang. Sarada memejamkan mata lagi dan memeluk ibunya. Mungkin perasaan nya saat ini sedang merasa rindu?  Sakura mulai membuka kelopak mata yang tadinya tertutup rapat, ia melihat putrinya sedang terlelap.  'Tumben jam segini masih tidur,' kata batin Sakura. Sementara Sasuke sudah berada di meja makan menikmati kopi hangat setelah menyelesaikan sarapan paginya.  "Apa mereka berdua belum bangun?" tanya Sasuke kepada pelayan yang berdiri di sebelah Sasuke.  "Belum tuan," jawab pelayan itu. "Nanti setelah mereka berdua bangun siapkan semuanya." "Baik, tuan." Sai menghampiri Sasuke lalu ia bertanya, "tuan, apa saya harus membangunkan, nona Haruno dan Sara?" "Tidak perlu," jawab Sasuke dengan nada suara yang terdengar tenang, ia menikmati kopi.  Sai melangkah mundur menjauh dari dekat Sasuke yang terlihat mulai menunjukkan senyum berbeda dari biasa nya. Ramah dan terkesan bahagia terlihat sangat jelas. Sai yang sekilas melihat ekspresi itu, ikut tersenyum.  'Selamat, tuanku,' kata batin Sai. Dia kembali ke posisi nya berdiri dekat pelayan yang lain. Sasuke beranjak dari duduknya, dia pun melihat ke arah Sai.  "Ikut aku sebentar."  Sai mengangguk mengerti.  Dia mulai mengikuti Sasuke pergi menuju ruangan utama. "Sai, kau terlihat cukup dekat dengan, putriku. Aku ingin bertanya sesuatu yang penting." "Sesuatu yang penting?" tanya Sai. Terlihat penasaran, Sasuke menghentikan langkahnya sambil melihat bingkai foto keluarga yang cukup besar. "Seberapa bencinya dia padaku," gumam Sasuke, diiringi tatapan sendunya ketika melihat foto yang terpampang di dinding ruangan utama. Sai hanya diam lalu Sasuke menatap tegas ke arah wajah Sai. "Kau tidak usah ragu, katakan saja walau itu berita buruk!"  Sai menarik nafas sangat pelan lalu menunjukkan senyuman. "Tuan, maaf kalau ini terdengar tidak menyenangkan. Jujur saya mengerti jika diposisi, nona muda Sara-." "Hnn, lanjutkan?" "Nona, membenci anda." Sasuke menghela nafas terdengar sangat berat dan memaksa.  "Apa yang harus aku lakukan agar Putri ku menerimaku?" Sasuke menatap tegas ke arah Sai yang membalas dengan senyuman ramah.  "Mungkin, tuan harus menjadi seorang yang spesial bagi, nona muda." "Hnn?"  Sasuke sedikit mengangkat alis kanan, mencoba mencari apa maksud dari ucapan Sai. "Maksudmu apa? Orang spesial?" "Maksud saya, tuan harus menjalin ikatan yang dekat dengan nona muda, Sara. Maaf kalau saya lancang dalam berbicara."  Sai langsung membungkukkan badan, menunjukkan rasa hormatnya. Sasuke menghela nafas.  "Kau, tidak usah meminta maaf, ucapanmu benar. Aku harus mengikuti saranmu dan mulai sekarang kau menjadi orang ke percaya ku. Lebih dari sebelumnya."  Sai yang mendengar ucapan dari Sasuke, seakan tak percaya. "Tolong jaga, Haru-. Sakura dan putriku." "Baik. Saya mengerti," jawab Sai, tanpa rasa ragu. Sasuke melihat kearah foto kedua orangtua dan kakaknya.  "Kalau saja mereka masih ada pasti akan sangat bahagia," gumam Sasuke. "Sai, nanti kau ajak putriku berkeliling aku ingin membicarakan sesuatu dengan Sakura."  Sai menganggukan mengerti. Sasuke memutuskan kembali ke ruang makan diikuti oleh Sai. Sakura dan Sarada telah selesai menikmati sarapan pagi mereka. Sasuke sedikit mengerutkan kening memperhatikan penampilan Sakura yang terlihat belum mandi.  "Apa dia selalu seperti itu?"  "Iya, tuan," jawab Sai.  Sasuke hanya tersenyum lalu ia melangkah menghampiri, Sakura dan Sarada yang masih duduk di dekat meja makan. "Paman?!" ucap Sarada yang dibalas senyuman oleh Sasuke juga Sai.  "Sara, apa kau, mau ikut paman jalan-jalan sebentar?" tanya Sai. "Mm.. Kemana?" "Kita ke taman bermain pasti kau nanti akan suka tapi-."  Sai berbisik di telinga Sarada, Sarada mengangguk mengerti. "Iya, paman. Mama, aku pergi dulu. Paman Sai mengajakku ke taman bermain." "Ya sudah, kalau begitu, Mama mandi dulu-." "Mama disini saja," sahut Sarada. "Menunggu Mama terlalu lama. Paman ayo kita pergi."  Sakura hanya menganga lebar. Sai dan Sarada meninggalkan Sakura, Sasuke hanya bisa tersenyum. "Jahat sekali," gumam Sakura, lalu mengembungkan pipinya. "Posisi kalian terbalik, kau yang pantas menjadi seorang anak." Sakura menoleh kearah Sasuke, tetap mengembungkan pipinya. "Hnn, cepatlah mandi."  Sakura hanya merona malu mendengar ucapan Sasuke.  "Ma, malas." Para pelayan hanya menatap heran karena, tuan mereka yang terkenal jarang terbuka kini terlihat sebaliknya. Sasuke mendekat berbisik di telinga Sakura.  "Cepat mandi, atau kau ingin aku mandikan."  Sakura langsung beranjak dari duduknya tanpa basa-basi kembali ke arah kamarnya. Sasuke hanya sedikit tertawa geli. Ternyata cara lamanya masih bisa membuat Sakura menurut. Namun berbeda lebih lembut daripada 13 tahun yang lalu. Dimana saat itu sifat Sasuke masih benar-benar sangat buruk. Setelah Sakura selesai mandi, ia pun menemui Sasuke di halaman belakang kediamannya. Pemandangan yang indah. Taman buatan yang terlihat sangat memanjakan mata. Pandangan Sakura, tertuju pada Sasuke yang sedang duduk di bangku hampir seperti bangku taman.  "Sasuke?"  Sasuke menoleh ke arah Sakura yang kini sedang berdiri disebelah kanan, bangku yang Sasuke duduki. "Duduklah."  Sakura duduk di sebelah Sasuke, mereka menikmati pemandangan yang ada tepat di depan mereka berdua. Sasuke melirik ke arah jari manis tangan kiri Sakura, yang membuat Sasuke menunjukkan ekspresi tidak suka.  "Cincin?" gumam Sasuke.  Sakura langsung menyembunyikan tangan ke belakang punggungnya. "Cincin ini dari temanku," gumam Sakura. Dia mulai menggerakkan tangan lalu memperhatikan cincin yang ia kenakan.  "Lepas!" ucap tegas Sasuke. "Le-lepas?" Sasuke meraih tangan Sakura, saat Sasuke dapat meraih 'cincin', langsung ia tarik dan melempar jauh 'cincin' itu entah kemana. "Sasuke! Apa yang kau lakukan ?!" "Diam!" sahut Sasuke, diiringi tatapan mata yang tajam. Sakura hanya membulatkan mata karena tatap yang Sasuke tunjukkan, adalah tatapan 13 tahun yang lalu. . . . . BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN