Chapter 5

1594 Kata
Chapter 5 . . Sasuke Uchiha, kini memeluk putrinya, yang hanya bisa terdiam saat dipeluk walaupun hanya satu tangan kanan saja. "Maaf, pelukanmu terlalu erat."  Sarada Uchiha, gadis usia 12 tahun itu seakan tak nyaman dengan perlakuan, Sasuke. Sasuke melonggarkan pelukannya. "Maaf, aku terbawa suasana jika didekat anak kecil." Pelayan yang bernama, Sai Shimura yang sering dipanggil paman oleh Sarada, ia hanya tersenyum.  "Sara, apa kau senang sudah bertemu, teman paman?"  Sarada menoleh ke arah Sai, saat Sasuke berhenti untuk memeluk, Sarada. " Iya paman," jawab Sarada, diiringi senyuman. Sasuke terus tak henti-hentinya menatap wajah, Sarada yang terlihat menunjukkan rasa senang nya. "Hnn, ayo kita makan malam," gumam Sasuke. Sarada dan Sai menoleh memperhatikan Sasuke bersamaan.  "Tuan, ma-maksudku baiklah." jawab Sai yang terdengar sangat canggung. Sarada mengerutkan keningnya, dia membenarkan posisi kacamata berbingkai hitam miliknya. Mereka bertiga pun akhirnya memutuskan untuk makan malam. Hidangan tertata rapi di meja makan yang terlihat cukup panjang berbahan kayu jati yang dicat senada dengan warna kayu pada umumnya. Daging steak yang terlihat sangat menggoda mata, aroma yang memanjakan indra penciuman karena aromanya yang sangat harum, membuat seseorang akan membayangkan betapa nikmat, enaknya hidangan steak ini. Sai membimbing Sarada menggunakan garpu dan pisau yang biasanya untuk memotong daging steak. Sasuke hanya tersenyum, melihat kedekatan putrinya dan Sai yang memang sudah menjadi orang kepercayaan, Sasuke. Mereka bertiga hanya diam tanpa bicara, menikmati hidangan yang sangat nikmat. Sasuke menghirup aroma anggur. Sesekali menggoyangkan gelas yang berisi sedikit anggur berwarna merah yang aromanya bisa memanjakan, indra penciuman seseorang. Sarada sekilas melihat apa saja yang dilakukan, Sasuke. Sasuke hanya membalas senyum saat diperhatikan Sarada. Selesainya mereka bertiga menikmati makan malam, Sasuke mengajak Sarada untuk melihat-lihat kediaman Uchiha yang terlihat megah se-layaknya istana. Jika orang bodoh memasuki kediaman Uchiha ini mungkin akan menganga lebar sampai lupa akan menutup rapat mulutnya. Sai Shimura mengikuti Sarada, berjalan dibelakang Sarada. Sarada menghentikan langkahnya menunggu Sai anggar berjalan di samping nya.  "Paman, kenapa kau lambat sekali?" tanya Sarada dan berdengus pelan. Menunjukan rasa kesalnya karena Sai terlihat sengaja memperlambat langkahnya.  "Apa Sara, malu?" tanya Sai. "Tidak," jawab singkat Sarada yang terdengar kesal. "Sai, kau harus menjemput seseorang." Sarada dan Sai langsung terdiam yang tadinya mengikuti, Sasuke dari belakang. Sarada terus menatap Sasuke, dari belakang. Punggung yang terlihat kokoh itu terus menjadi objek pandangan Sarada.  Dia mulai berpikir Sosok yang dia lihat sekarang  benar-benar berbeda, dengan orang pada umumnya. Itu yang sekilas dipikirkan, Sarada. "Baik Tuan," jawab Sai kembali menunjukkan rasa hormatnya. "Sara, paman pergi dulu, kau tau kan paman akan kemana?" "Iya, aku mengerti hati-hati, paman," ucap Sarada. Sai pun pamit pergi. Sarada dan Sasuke hanya diam tanpa bicara. Mereka berdua hanya bisa diam tanpa berucap satu kata pun. Kolam yang sangat luas di sebelah mereka berdua menambah suasana bertambah hening. Sarada melihat ke arah kolam. "Kolamnya luas sekali kira-kira ukuran totalnya berapa?" gumam Sarada terdengar canggung.  "Panjang 50 meter lebar 25 meter," jawab gumam Sasuke. "Huuh.. Ternyata lebih dari perkiraanku," gumam Sarada. Sasuke menuju tempat duduk yang tersedia di dekat kolam renang.  "Kemarilah, sampai kapan kau mau berdiri?" ucap Sasuke. Sarada mulai melangkah maju, ke arah Sasuke, duduk. Sarada duduk disebelah Sasuke yang kini tersenyum sambil memperhatikan Sarada. "Apa kau bosan?" tanya Sasuke, dengan nada suara yang terdengar sangat ramah walaupun masih terkesan canggung. "Iya, aku bosan. Karena rumah yang luas ini sangat sepi padahal pelayan cukup banyak," jawab Sarada, sambil menyamankan posisi duduk. "Kau benar rumahku ini sangat sepi," gumam Sasuke. "Apa aku boleh memanggilmu, Sara? Seperti Sai memanggilmu?" "Iya, boleh. Tapi, apa boleh aku memanggil, ekhm.. Tuan Sasuke Uchiha menjadi, paman?" tanya Sarada. "Boleh, khusus untukmu." "Terima kasih. Aku dari tadi terus berpikir apa paman Sai benar bekerja disini?" "Iya, dia orang kepercayaanku." "Berarti, peralatan dapur dan mobil semua dari, tuan ekhm maksudku, paman kan?" Sasuke hanya tersenyum penuh arti dan membelai surai halus berwarna hitam milik Sarada. "Kau pintar," kata Sasuke. "Huuh.. Ternyata benar tebakanku," gumam Sarada. "Paman, apa benar Mamaku, memenangkan lotre?" tanya Sarada, diikuti tatapan yang memojokkan Sasuke. "Iya, Mamamu memenangkan lotre." "Apa iya? Aneh, aku masih berpikir ada yang mengganjal." "Kau terlalu banyak berpikir hal yang rumit." "Sudahlah aku jadi pusing" gumam Sarada, sambil melirik Sasuke karena terus membelai surai hitam Sarada.  "Paman, apa kau sangat suka anak kecil?" "Iya, aku suka," jawab Sasuke. "Huuh.." Dengus kesal Sarada. Sasuke dan Sarada hanya diam terus melihat ke arah kolam renang. Sarada mulai menyandarkan kepala, ke lengan kanan, Sasuke. Sasuke hanya tersenyum melihat wajah polos putrinya, saat tertidur. Pelayan laki-laki menghampiri mereka berdua.  "Tuan Uchiha, apa perlu saya membawa, nona kecil ini ke kamar yang sudah disediakan?" "Bawa saja ke kamarku." "Baik," jawab pelayan, dia menggendong sarada yang terlelap. Sasuke melihat layar handphonenya. Waktu menunjukkan hampir tengah malam. Pesan masuk tiba-tiba membuat Sasuke tersenyum karena dipesan itu tertulis. Sakura akan datang kesana. "Rencanaku berhasil," gumam Sasuke, beranjak dari duduknya. Sasuke menuju kamar miliknya, terlihat di tempat tidur berseprai putih. Sarada telah terlelap mungkin telah ada di alam mimpi. Sasuke melepas dasinya, lalu melepas membuka 2 kancing baju atasnya. Dia pun mendekat ke arah putrinya yang sedang terlelap.  Dia mulai melepas sepatu saat duduk ditepi ranjang setelah itu, dia merangkul putri yang sebenarnya, sangat Sasuke rindukan. "Sarada, sebelum kau tau dan membenciku. Aku akan membuatmu menyukaiku. Walau kau memanggil ayahmu dengan sebutan paman," gumam Sasuke, memeluk putrinya dalam tidurnya. . . . . Sasuke Pov. Aku terus memandang wajah, gadis kecil ini. Dia adalah putriku, Sarada Haruno. "Tidurlah yang nyenyak ayah, akan kembali lagi," ucapku.  Aku berbisik di telinga kanan nya sambil berhenti merangkul tubuhnya.  Aku meraih kacamata berbingkai hitam, aku meletakan kacamata ini di dekat meja kecil sebelah kanan, sisi tempat tidur. Aku beranjak dari tempat tidur, mulai melangkah maju menuju pintu keluar kamar ketika aku meraih gagang pintu. Aku melihat kearah putriku, yang sedang tertidur lelap.  "Walau kau memanggilku, paman.. Tapi, perasaanku sangat senang," gumamku. Clekh. Saat aku keluar dari kamar langsung melangkahkan kaki menuju ruang tamu. Aku akan menyambut kedatangan nya saat tiba nanti. Haruno, semoga kau tidak kesal karena ulah kecilku ini, karena aku tidak memberitahumu sebelumnya. Para pelayan setiaku membungkuk, menunjukkan rasa hormat mereka, aku balas dengan sedikit senyum untuk para pelayanku. Saat mereka menatap ke arah ku dengan ekspresi yang terlihat ramah. Saat aku menuruni anak tangga. Aku terus menatap ke arah pintu masuk dan di ruangan tamu yang terlihat luas hanya ada beberapa pelayan yang masih terjaga. "Sebaiknya kalian beristirahat dulu." Aku memberi perintah mutlak untuk pelayan, agar mereka beristirahat. Aku ingin menyambutnya sendiri. Aku duduk di sofa, menunggu, Haruno datang. Sesekali aku melihat jam tanganku juga sesekali menyamankan posisi duduk. Beberapa menit kemudian pintu mulai terbuka. Aku pun berdiri langsung menuju kearah pintu.  "Nona, Haruno?"  Aku hanya diam menatap intens kearah, Haruno yang terlihat khawatir.  "Sasuke, di mana Sarada?" "Hnn.."  Aku hanya tersenyum, sambil menatap ekspresi yang terlihat panik.  "Sasuke?!"  Haruno berdiri tepat di hadapanku dan di belakang nya terlihat Sai hanya diam.  "Sarada, ada di kamar. Tenanglah," ucapku. Haruno, langsung menarik kerah bajuku. Dia menatapku intens. "Kau, nekat sekali, kenapa tidak memberitahuku?!" Suara yang sangat nyaring membuatku ingin mengecup bibir manisnya.  "Hnn, tenanglah kau terlalu berlebihan, dia sedang tidur," jawabku. "Mudah sekali kau bilang begitu?!"  "Nona, Haruno tenanglah, Sara baik-baik saja."  "Kau juga!! Mudah sekali bicara!! Tenang kau bilang?!" Haruno, membentak Sai dengan nada suara nyaring. Aku meraih bahu kanan Haruno, agar dia melihat kearahku.  "Hnn.." "Heeh.. Aku ingin melihat putriku sekarang." "Iya, aku mengerti," jawabku.  Aku meraih pergelangan tangan Haruno, membimbingnya agar mengikutiku. Haruno, menghela nafas beberapa kali ketika kami berdua menaiki anak tangga.  "Tenangkan dirimu, kau terlalu khawatir," ucapku. "Tentu saja aku khawatir. Karena aku ini seorang ibu." "Hnn," jawabku. Sasuke Pov End. . . Sakura terlihat sangat cemas terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. Sasuke hanya memperhatikan, Sakura melangkahkan kakinya sedikit terburu-buru.  "Ini kamarnya?" Sakura bertanya kepada Sasuke. Sasuke hanya mengangguk satu kali.  Clekh. Sakura membuka pintu, terlihat jelas dari sudut pandang Sakura, Sarada sedang tertidur pulas  Dia pun mulai melangkah maju menuju ke tempat tidur. Sakura duduk ditepi tempat tidur sambil membelai surai hitam anaknya.  "Mama, sangat khawatir sayang." Sakura bergumam terdengar sedikit sendu, Sasuke terus memperhatikan Sakura, ia ikut duduk di tepi tempat tidur di sebelah Sakura. "Haruno, maaf soal kejadian ini." Sasuke terlihat menyesal dengan apa yang ia lakukan kelihatanya dia menyadari dampak yang dia perbuat.  "Iya Sasuke, tidak apa-apa, Sasuke maaf tadi aku kasar padamu."  Sasuke hanya tersenyum memperhatikan wajah, Sakura. "Kau benar-benar telah menjadi ibu yang baik, padahal aku dulu-," "Stt.. Sudah lupakan masa lalu," ucap Sakura memotong ucapan Sasuke.  "Hnn." Sasuke memperhatikan wajah Sarada yang kini sedang terlelap tak sadar bahwa kedua orangtuanya telah ada di dekat nya sekarang.  Tangan kanan Sakura meraih surai hitam milik Sasuke dan mulai membelai nya lembut, sesekali menyisir nya dengan jemari nya.  "Sasuke, kau kelihatan lelah istirahatlah dulu."  "Tidak," jawab Sasuke, sambil menatap intens ke arah wajah Sakura. Sakura hanya menghela nafas dan merapikan kerah baju Sasuke.  "Kau masih keras kepala."  Sakura bergumam, Sasuke langsung menyentuh pipi Sakura dengan telapak tangan kanannya. "Sasuke, aku sangat bahagia, karena kau sudah berubah lebih baik. Aku sangat senang harapanku selama ini akhirnya terwujud."  Ucapan Sakura yang diiringi bulir air mata. Membuat Sasuke membulatkan mata. Sasuke tersenyum sambil menghapus air mata yang membasahi pipi Sakura.  "Aku, janji kejadian masa lalu itu tak akan pernah terjadi lagi." Ucapan Sasuke membuat Sakura terlihat bahagia lalu ia memeluk Sasuke seakan membenamkan wajah di d**a bidang Sasuke. Sasuke mulai membelai surai merah muda halus milik Sakura, Sakura menempelkan pipinya di d**a kiri Sasuke lalu ia memejamkan mata. "Perubahanmu, membuatku nyaman, tetaplah seperti ini Sasuke." "Hnn."  Sasuke terus membelai surai merah muda Sakura. Sakura mulai terlelap. Sasuke merangkul tubuh Sakura, walau hanya dengan tangan kanannya saja. "Tidurlah, Sa, Haruno." "Kenapa berhenti, memanggil namaku?"  Sasuke membulatkan mata. Sakura memperhatikan Sasuke. "Kau belum tidur?" tanya Sasuke. Sakura mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke. "Sasuke coba sebut namaku, aku ingin mendengarnya."  "Sa." "Ayo cepat aku ingin dengar," ucap Sakura terkadang terkekeh pelan. "Sakura?" Sakura tersenyum bahagia setelah mendengar ucapan Sasuke. Cuph.. Sakura mengecup bibir Sasuke sekilas lalu memeluk Sasuke, menempelkan pipi di d**a bidang Sasuke. Sasuke hanya terdiam lalu mulai membentuk senyuman.  "Mama, bangun sudah pagi." Sasuke menoleh ke arah Sarada yang sedang mengigau, Sakura hanya menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Sasuke.  "Me, memalukan," gumam pelan Sakura. Sasuke terus membelai surai merah muda milik Sakura, sambil memejamkan mata. Sakura benar-benar terlelap suara dengkuran halus memecahkan suasana hening yang sempat Sasuke rasakan, Sasuke membaringkan Sakura di tempat tidur. Sasuke mengecup kening Sakura lalu kening Sarada, setelah itu ia keluar dari kamar itu.  BERSAMBUNG.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN