Chapter 4

1824 Kata
Chapter 4 . . . . Sakura Pov. Seperti biasa aku mulai pagi hariku, di meja makan menikmati sarapan ku dengan roti selai stroberi dan segelas s**u. Aku Sakura Haruno usia 30 tahun, status single memiliki putri yang cantik, rajin dan sifat yang terlalu dewasa padahal usianya baru 12 tahun. "Mama?" "Mm?" jawabku. "Selesai makan mama, langsung mandi!" "Mmh!!" Aku hampir tersedak karena perintah putri cantikku, yang mulai memberikan perintah mutlak andalannya.  "Huuh.. Iya Mama, mengerti."  Memang aku seorang ibu, tapi posisiku seakan terbalik, Putri ku seakan menjadi ibuku, kenapa sifat anak ku ini dewasa sekali. Terkadang aku berpikir tentang masa mudaku yang telah hilang karena kebodohan masa laluku. Tapi, aku telah melupakannya dan menerima takdirku sebagai orangtua tunggal walaupun aku bisa menikmati masa mudaku akhirnya juga sama saja, aku akan menjadi orang tua juga kan? Ting... Nung... Ting.. Nung.. Aku beranjak dari duduk meninggalkan meja makan, aku melewati Putri ku yang sudah berada di depan televisi untuk menonton acara yang dia sukai, Sarada menatapku intens.  Ya, mungkin karena aku belum mandi dan masih mengenakan piyama merah muda Bermotif bunga sakura, rambut ku sedikit berantakan yang kini aku coba rapikan. Clekh. Saat aku membuka pintu, Sasori langsung drop melihatku. "Eh, Sasori kau kenapa?"  "Sakura, apa kau belum mandi?" tanya Sasori, dan sesaat ia menghela nafas dan menatapku. "Belum. Aku sedang malas mandi pagi karena dingin," jawabku, dan mengaruk pipi kananku dengan jari telunjuk tangan kanan. "Tapi, kau tetap cantik walau belum mandi," ucapnya sambil menunjukkan seringai aneh. "Aduuh, aku sangat terpesona dengan dustamu Sasori, cepat masuk dan sarapan lah, ok!" Cupss.. Aku hanya bisa meraba pipi kiriku, saat Sasori mencium pipiku, sebelum dia melewatiku.  "Uhh.. Dasar," gumamku diiringi senyuman. Aku menutup pintu lantas menuju ke ruang tamu. Sesekali aku melihat cincin di jari manis tangan kiriku, aku jadi teringat waktu aku sedang ngidam kalau di ingat-ingat kasihan juga ketika itu malam hari aku ingin sekali pizza padahal sudah jam 3 pagi, aku menghubungi Sasori, meminta tolong padanya untuk membelikan pizza sampai dia harus mengelilingi kota untuk membeli pizza.  Huhh... Walaupun sudah lama berlalu aku tetap ingat kejadian itu. "Sarada, apa kau tidak rindu dengan pamanmu ini? Paman minta cium pipi kiri." "Hah! Paman apa kau sudah gila permintaan macam apa itu?!" ucap Putri ku, dan melempar boneka beruang ke wajah, Sasori. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku.  "Ya.. Ampun.." "Kalau kau mau cium pipi, paman nanti paman traktir pizza bagaimana?" ucap Sasori. "Pizza?" jawab Putriku.  Aku melihat ekspresinya berubah senang walau terlihat ditutup-tutupi. Andai Sasuke ada disini dan dia di posisi Sasori sekarang...pasti keluarga ini akan sempurna, aku terkadang ingin memberitahu Putri ku kalau Sasuke adalah ayahnya. Tapi, aku takut Putri ku akan membenci Sasuke dan akan menjadi beban baru untuknya.  Kami-Sama (Dewa), semoga kau merubah takdir ku ini lebih baik dan jujur saja aku ingin Sasuke ada dalam keluarga ini agar  Putri ku memanggilnya Papa. "Sakura, kau sedang melamun apa cepatlah mandi," ucap Sasori yang kini sedang memeluk Putri ku, walaupun Putri ku risih dengan perbuatan Sasori. "Paman! Lepas sesak" "Iya, iya," jawabku, dan melangkah menuju kamarku, aku melihat cermin di meja riasku. "Huuh.. Aku kacau sekali seperti penyihir." ketika di kamar mandi, aku hanya melamun.  Air dari shower membasahi tubuhku, aku terus berpikir walaupun kehidupanku ini cukup indah tapi hati ini merindukan sosok yang aku cinta agar dia disisiku, aku mulai terisak pelan merasakan d**a ini seakan sesak, aku ingin sekali disisinya tapi aku harus merelakan keinginanku dan ego ku. Jika aku menuruti ego ku, pasti semua ini akan menjadi rumit aku harus menunggu saat itu tiba ketika Sasuke ada di keluarga ini, aku mulai memejamkan mata sambil melepas cincin di jari manisku, tanpa sadar aku menjatuhkannya, aku melihat cincin itu jatuh.  "Kenapa aku melepasnya?" Aku mengambil cincin yang terjatuh di lantai yang basah karena air, aku mengenakan cincin yang diberikan Sasori. Selesainya aku mandi, aku ke lemari pakaian untuk memilih apa yang harus aku pakai hari ini. Kaos polo berwarna putih ada gambar panda yang lucu di bagian depan, celana pendek jeans biru pertengahan paha. Walau pakaian ini terlalu simpel kelihatan sedikit tomboy namun aku menyukainya karena ini musim panas lebih praktis begini walaupun aku sudah berumur. Aku mulai membuka pintu kamarku, saat aku melihat ke ruang tamu, ekspresi Putri ku dan Sasori terlihat aneh. "Astaga," ucap Sasori diiringi helaan nafas Putri ku. "Paman, berhentilah menganga bodoh seperti itu!" protes Putri ku. Aku hanya menahan tawa saat Putri ku menutup mulut Sasori dengan wajah boneka beruangnya. Aku dan Sasori bekerja saat sore hari, aku bekerja di minimarket sedangkan Sasori di kafe kecil milik temanya. Mereka bergantian berjaga Sasori mengambil syif sore, jam kerjanya juga sama denganku jam 4 sore. Sasori memesan pizza yang telah dia janjikan, kami bertiga menghabiskan waktu bersama bermain monopoli dan tebak-tebakan sampai membuat lelucon, tapi Putri ku tidak pernah membuat lelucon, ia selalu menghela nafas setiap mendengar lelucon Sasori yang selalu garing seakan membuat suara jangkrik. Tak terasa hari mulai sore, aku mulai bersiap untuk berangkat kerja. Sasori pamit, dia juga akan bersiap berangkat kerja. "Mama..." Aku memeluk putriku sebelum, aku pergi untuk bekerja. Setiap aku di dekat pintu keluar rumah, aku selalu melakukan ini. "Kau jaga rumah ya Sayang, Sayang. Paman Sai akan menjagamu, Mama pergi dulu ya?" "Mm.. Iya." Pintu tertutup rapat, aku berbalik bersiap untuk pergi. Langkahku terhenti di saat aku melihat seseorang di luar pintu pagar rumahku. Aku yakin dia adalah temanku yang paling dekat denganku dulu...dia berdiri di sebelah Sai yang kini berdiri di sebelah sosok yang lama tak pernah aku lihat. "Nona Haruno sepertinya, Nona Ino Yamanaka mencari anda." "Ino?!"  "Hmm, lama tak jumpa...jidat, aku merindukanmu." Aku membuka pintu pagarku lalu memeluknya erat. Aku hanya bisa memeluknya, entah kenapa aku sangat bahagia ketika Ino ada di hadapanku sekarang. "Maafkan aku ya," bisiknya, dan membalas pelukanku. "Aku sudah melupakan semuanya," jawabku lirih. Sakura Pov End. . . . . Sepasang Onyx hitam dari balik kacamata berbingkai merah menatap tajam di tujukan pada pria yang terlihat pucat. Senyum tipis dia tunjukkan pada gadis yang bernama Sarada Haruno, yang kini sedang memalingkan wajah kembali memperhatikan acara televisi. "Paman, jangan melihat seperti itu, Paman menyeramkan seperti zombie!" Yang dipanggil paman bernama Sai Shimura, hanya tersenyum dan ikut duduk disebelah Sarada. "Apa kau tidak bosan menonton tv setiap hari?" tanya Sai dan mengambil remote tv dan mematikan tv. "Hah!! Paman apa yang kau lakukan?!" protes Sarada terdengar kesal Sementara Sai hanya tersenyum.  "Ayo kita jalan-jalan, Paman ingin menemui seseorang," gumam Sai diiringi senyuman.  Sarada hanya menghela nafas. "Paman, ini sudah sore kalau Paman ingin menemui seseorang, Paman pergi saja aku tidak mau ikut," jawab Sarada. Sai terus membujuk, Sarada yang terus menolak dengan alasan sudah sore. "Pasti kau akan senang setelah mengenal teman Paman, ayolah Sara, Paman mohon."  "Huuh.. Memangnya siapa yang mau Paman temui sampai Paman memelas seperti anak kecil?" tanya Sarada, helaan nafas yang terdengar berat. "Sasuke Uchiha," gumam Sai. "Hah?! Apa Paman sedang bercanda?" tanya Sarada dengan nada suara yang terdengar cukup tegas hingga membuat Sai tersenyum. "Apa Paman tipe yang suka bercanda? Paman bicara jujur," jawab sai. Sarada beranjak dari duduknya, Sai tersenyum penuh arti, Sarada menatap intens ke arah wajah Sai. "Kalau Paman, sampai bohong, Paman harus mentraktir ku pizza selama sebulan!" "Baiklah. Tapi, kalau paman jujur, Sara harus menuruti ajakan paman selama sebulan," jawab Sai diikuti senyumannya. "Itu mudah," sahut Sarada singkat. Sarada langsung menuju kamarnya, 10 menit kemudian, ia keluar dari kamar lalu mendekat kearah Sai, yang kini sedang berdiri di dekat pintu keluar rumah. Sai hanya menahan tawa melihat penampilan Sarada. Kacamata berbingkai hitam, kaos polo hitam, celana biru tua hampir selutut terlihat sedikit aneh menurut pandangan Sai.  "Sara, kau masih usia 12 tahun, kenapa berpenampilan menakutkan seperti ini?" "Paman cobalah berkaca lihat saja menampilan Paman seperti apa? Setelan berwarna hitam seperti mafia gadungan!" protes Sarada, mendengus pelan. Clekh. Sai dan Sarada keluar dari rumah sederhana kediaman Haruno. Mereka berdua menuju mobil berwarna merah yang terparkir di luar rumah dekat jalan.  . . . . Sore tak terasa telah mulai menjadi malam, Sarada hanya menatap lurus kedepan melihat kendaraan yang didepan dari balik kaca mobil. "Paman, kita akan kemana perjalanan ini lama sekali apa rumah teman Paman itu jauh?" "Sebentar lagi kita sampai," jawab Sai sedang mengemudikan mobilnya.  . . . . [ 07:00 malam ] . . . . Mobil berwarna merah yang Sai dan Sarada gunakan berhenti di depan pintu gerbang yang terlihat tinggi dan lebar berwarna putih dan ada sedikit corak keemasan. Pintu gerbang itu mulai terbuka lebar, mobil mulai melaju perlahan, Sarada terus memperhatikan halaman yang sangat luas yang menyerupai taman ada pohon sakura di dekat kolam kecil.  Sarada terus tertuju melihatnya dari balik kaca mobil, Sai sekilas memperhatikan wajah yang kini mulai memperlihat senyum. Mobil berhenti dan seseorang membukakan pintu mobil. Sarada keluar dari mobil, Sai yang sudah keluar lebih dulu kini sedang melihat layar handphone. "Ayo kita masuk Sara, teman Paman sebentar lagi datang kita menunggunya dulu didalam," ucap Sai.  Sarada hanya mengangguk pelan. Pintu rumah yang cukup besar berwarna putih itu mulai terbuka, Sai meraih pergelangan tangan kiri, Sarada.  "Paman akan menjagamu jangan takut, Sara." "Iya," jawab Sarada. . Sarada Pov. Paman Sai mengajakku ke tempat yang sangat luar biasa. Tempat ini seperti rumah dalam cerita dongeng saja begitu banyak pelayan, mereka memberi rasa hormat ke arah Paman Sai dan aku. Semua Ini sangat berlebihan, aku tidak kenal mereka kenapa mereka sampai membungkuk memberi rasa hormat? Apa mungkin ini aturan yang harus dianjurkan jika ada tamu? Aneh, hanya ini yang bisa aku katakan saat melewati para pelayan yang berada cukup jauh dari sisi, kiri dan kananku. Aku melihat ekspresi paman Sai yang terlihat berbeda...sangat tegas terkadang memberi perintah aneh pada pelayan. Apa paman Sai bekerja disini? Tapi, Paman bilang ini rumah temannya? Dan teman Paman adalah Sasuke Uchiha. Aku mungkin harus percaya karena aku bisa melihat buktinya walaupun baru kediaman megah yang hampir seperti istana. "Sara?" Aku melihat ke arah Paman Sai yang kini sedang ada didekatku. "Apa kau gugup?" tanya paman Sai, sambil menunjukkan senyum seperti biasanya.  "Aku tidak gugup biasa saja," jawabku.  Tapi, sebenarnya ada rasa aneh yang aku rasakan sekarang. "Apa makan malam, sudah disiapkan?"  "Iya, semua sudah siap," jawab salah satu pelayan. Aku hanya terdiam sambil menggenggam erat telapak tangan kanan paman Sai.  "Paman, sebenarnya siapa?  Aku bingung, apa Paman pelayan juga ditempat ini?"  Paman Sai menghela nafas lalu melihat ku. "Apa boleh buat sudah ketahuan." "Paman, aku benarkan?" tanyaku. "Iya Sara benar," jawab Paman Sai. Paman Sai membimbingku agar mengikuti ke ruangan yang cukup luas ada meja makan yang lumayan panjang dan ada hidangan yang tersusun rapi. "Sara, ayo kita duduk," ucap Paman Sai, dan membimbingku agar duduk di bangku yang di dekat meja makan, Paman Sai ikut duduk di sebelahku.  "Sara, suka steak tidak?" "Entahlah Paman, aku kan tidak tau rasa steak seperti apa?" jawabku. "Haha, benar juga, tapi ini lebih enak daripada pizza," ujar paman Sai. Paman Sai dan aku hanya mengobrol di ruang makan yang luas ini. Sesekali aku menatap hidangan yang terlihat sangat nikmat...anehnya aku kurang berselera. "Maaf kalian menunggu lama." Aku melihat ke arah asal suara dan ternyata benar yang dikatakan paman Sai.  "Tuan Uchiha, maaf kalau saya lancang karena tempat ini tak seharusnya." "Bersikaplah biasa seperti tadi." Aku hanya menatap idolaku, Sasuke Uchiha di depan ku sekarang, dia mulai mendekat ke arahku. Paman Sai menatapku intens membimbingku beranjak dari duduk ku.  "Ini teman Paman, Paman tidak bohongkan?" Aku mengangguk beberapa kali. "Sai, jadi gadis kecil ini yang mau kau kenalkan padaku?"  "Iya, tuan maksud saya-. Iya ini dia yang ingin aku kenalkan." "Sarada Haruno, apa kau suka tempat tinggalku ini?"  "Iya, aku suka," jawabku. Srrkk Aku hanya diam dan kenapa Sasuke Uchiha memelukku? walaupun hanya tangan kanannya yang memeluk ku erat.  "Aku sangat suka anak kecil, karena kau fansku, kau dapat pelukan." "I-iya.." Sarada Pov End. . . . . BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN