Chapter 3

1797 Kata
Chapter 3 . . . . Sasuke Pov.  Aku memejamkan mataku untuk mencoba menenangkan diri dari semua kesibukanku, ketika aku melihat layar handphone ku dan membaca ulang chat yang kemarin sudah aku baca bisa membuatku tersenyum tanpa sebab yang pasti. "Aku merindukanmu, Haruno."  Sejak aku bertemu dengannya lagi entah kenapa aku ingin terus di dekatnya juga rasa rindu ini seakan berlebihan.  Tok. Tok. Tok. "Masuklah," ucapku ketika aku mendengar ketukan pintu. Clekh. "Sasuke.." "Hnn, ternyata kau, Ino." Ino Yamanaka, wanita yang bekerja sebagai model dan cukup terkenal di kalangan para model ternama, ia baru saja menjadi artis yang langsung terkenal karena peran antagonisnya sangat menakjubkan.  "Tumben kesini?" tanyaku.  "Aku merindukan si b******k," jawabnya.  Dia mendekat ke arahku, yang kini sedang sibuk mengerjakan pekerjaanku dengan tumpukan dokumen.  "Kau selalu sibuk, Sasuke?" tanyanya, ia memperhatikanku disusul senyum yang ramah dan terlihat memukau tapi bagi orang lain. "Jangan bilang kau datang memintaku untuk ikut makan malam lagi." "Heh.. Kau selalu tau apapun rencanaku heehh," gumannya, dan menghela nafas pelan. "Hnn, kau mudah ditebak," ucapku. Dia duduk di tepi meja kerjaku sambil menunjukkan senyumnya. "Sasuke, kau banyak berubah. Aku jadi semakin tertarik padamu," ucapnya. "Hnn," jawabku singkat. "Aku selalu penasaran apa yang membuatmu berubah jadi seperti sekarang padahal dulu kau sangat m***m dan brengsek."  Aku menatapnya tegas. "Aku punya alasan untuk berubah," jawabku. "Apa karena, Sakura?" tanyanya singkat. "Hnn, mungkin." "Aku ingin sekali bertemu Sakura, dan meminta maaf atas semua kesalahanku walau sudah berlalu...sangat lama tapi perasaan bersalah ini tak pernah hilang," gumamnya sambil melihat ke atas dengan ekspresi sedih. "Bukan hanya kau saja yang berpikir seperti itu." "Heeh...jadi kau juga sama ya? Sasuke kau pernah bilangkan kalau Sakura hamil saat pergi, aku jadi berpikir jika itu benar pasti anakmu hampir remaja apa kau tidak ingin mencarinya?" tanyanya, diiringi tatapan tegas. "Turunlah dari mejaku, kau ingin makan malamkan? Aku ingin membicarakan sesuatu." "Wah, kau mau?" "Hnn," jawabku singkat. Aku memutuskan pergi bersama Ino untuk makan malam ketika keluar dari perusahaan ku. Ino menyuruh supirnya untuk kembali ke kediamannya dan ikut bersamaku menuju restoran bintang lima yang sering kami berdua datangi. Aku menatap ke arah jalan raya dari balik kaca mobil sambil memikirkan apa yang Haruno kerjakan sekarang? Dia saat ini mungkin sibuk dengan pekerjaannya padahal aku sudah melarangnya bekerja. "Sasuke, kenapa kau melamun?" tanya Ino, membuatku menoleh ke kiri menatap wajahnya yang dekat dan terlihat jelas senyum ramahnya. "Hnn, kau terlalu dekat." "Sorry," jawabnya, dan menyamankan duduknya. Sesampainya kami berdua ke tujuanku yaitu restoran yang cukup terkenal di konoha dan pemilik restoran yang ternama ini teman baikku sendiri. VVIP ruangan yang memang dikhususkan kalangan yang yang memang cukup terpandang juga artis yang memang populer apa lagi. Ino Yamanaka salah satu dari artis yang populer. Saat memasuki ruangan irama yang merdu dari tiap gesekan biola, yang membuat suasana romantis bagi yang menyukai hal romantis. Lilin menjadi pelengkapnya di ruangan yang romantis hanya ada aku dan Ino, juga pemain biola yang terlihat memukau dan pelayan yang meletakan pesanan yang terlihat membuat takjub dari cara menyajikannya. Aroma steak dan anggur yang mahal memanjakan indra penciumanku. "Aku jadi ingat saat kau mengajakku pertama kali kesini, Sasuke aku sangat takjub dengan semuanya sampai sekarang pun tetap begini dan tidak kusangka kau bisa romantis juga." "Aku ingin meminta saranmu," ucapku tegas. "Saran?" tanyanya, ia menghirup aroma anggur dan meminum sedikit anggurnya. "Aku sudah bertemu, Haruno." "Heh! Kenapa kau baru bilang?!" tanyanya, tegas diiringi tatapan yang berubah tegas seakan kesal padaku. "Diamlah dan dengarkan aku."  "Baiklah aku dengarkan. Hehh...kenapa kamu baru bilang sekarang." Aku meminta pemain biola dan pelayan untuk meninggalkan kami berdua. "Jadi begini. Apa yang harus aku lakukan jika Putri ku membenciku?" "Hahh?! Kau benar memiliki putri! Sasuke kenapa kau baru bilang?!" tanyanya. "Cih, tenanglah." Aku menceritakan apa penyebabnya. Putriku membenciku, Ino terlihat berpikir keras dan menghela nafas berat. "Sakura, hebat sekali bisa membesarkan putrimu sendirian. Kalau aku pasti sudah menangis tiap hari. Sasuke, untuk masalah ini aku cuma punya satu solusi, kau harus meminta maaf pada putrimu," ucapnya. "Aku sudah bertanya pada Haruno, dia melarangku, dia bilang itu sia-sia," jawabku.  Aku mencicipi anggur ku. "Heh, ini rumit," gumamnya, ia ikut mencicipi anggur. Aku menggoyangkan gelas yang berisi sedikit anggur, dan menghirup aromanya yang cukup menenangkanku. "Sasuke, kau telah berubah pasti Putrimu akan memaafkanmu, memang untuk dimaafkan itu mustahil tapi, bagaimana kalau dicoba dulu?" tanyanya. "Hnn.. Kau benar tapi, Haruno melarangku menemui Putri ku sendiri alasanya juga masuk akal dari segi manapun, aku hanya orangtua yang tak bertanggung jawab." "Heh.. Rumit," gumamnya. "Sasuke, apa aku boleh menemui Sakura? Aku minta alamatnya, aku ingin meminta maaf pada Sakura, walau nanti maafku tak diterima."  "Maafmu pasti diterima," ucapku. "Kau yakin sekali?" tanyanya. "Karena aku tau seperti apa sifat Haruno," jawabku. Aku memberi alamat Haruno kepada Ino, Ino memutuskan untuk ke rumah Haruno, dan mencoba mencari cara agar Putri ku bisa menerimaku bagaimana pun caranya. Selesainya kami berdua makan malam dan saling mencari solusi atas masalahku, aku pun mengantar Ino kembali ke kediaman nya tapi, aku tak kembali ke kediaman ku, aku menghubungi Sai yang aku tugaskan untuk menjadi supir pribadi Haruno, sekaligus untuk menjaganya. Malam hampir larut. Aku tadi cukup banyak menghabiskan waktuku bersama Ino, untuk mencari solusi. Aku menyuruh supir pribadiku menuju ke tempat Haruno bekerja.  Mini market yang terlihat biasa saja, disana terlihat Sai sedang berdiri dekat mobil. Aku keluar dari mobilku dan menghampiri Sai. "Tuan Uchiha," ucapnya. "Pekerjaanmu selesai pulanglah." "Baik. Tuan Uchiha," jawabnya ketika memasuki mobil dan pamit pergi. Cukup lama aku berdiri di dekat mobilku sambil melihat Haruno dari kejauhan yang sedang sibuk melayani pengunjung minimarket, setelah cukup lama aku menunggu akhirnya dia menutup mini marketnya. Aku pun menghampirinya, dia tidak sadar aku datang untuk menemui nya. "Hehh, akhirnya selesai juga." "Ekhemm." "Sasuke?!" ucapnya. "Ayo kita pulang," ucapku. "Mm, Sai mana?" "Hnn, Sai? Dia sudah pulang," jawabku.  Entah kenapa ucapannya membuatku kesal. "Sasuke kenapa kau mau repot kesini kamu kan sibuk?" tanyanya.  Aku meraih pergelangan tangannya membawa Sakura ke arah mobilku, dia hanya diam mengikuti kemauanku dan masuk kedalam mobil. Saat didalam mobil, aku meliriknya lalu membelai rambut pink nya yang halus.  "Apa kau tidak suka jika aku yang menjemputmu?" "Bukan begitu, aku hanya tidak ingin membuatmu sibuk," jawabnya. Aku hanya diam memperhatikannya, entah kenapa tangan ini tak mau berhenti membelai surai pink nya juga meraba pipi nya. "Sasuke," Srrkk... "Hnn?" jawabku singkat. Aku meraba Punggung nya saat dia memeluk ku. "Diam ya. Aku lelah aku ingin tidur sebentar." "Hnn, tidurlah," jawabku. Dan membelai surai pink nya, entah dia percaya atau tidak, aku sangat mencintaimu, Haruno. . . . . Wanita bersurai merah muda terus melihat ke arah mobil berwarna hitam yang semakin menjauh dari pandangannya sampai tak terlihat lagi, sedangkan perlahan sosok pria yang bersurai merah menghampirinya. "Sakura." Wanita bersurai merah muda itu menoleh ke arah asal suara dan senyum yang terkesan ramah di tunjukkan kepada Sasori, mereka berdua berdiri berhadapan saling menunjukkan senyum, di dekat pintu pagar rumah yang masih tertutup rapat. Sakura Pov. "Sakura, aku minta maaf soal waktu itu." "Aku sudah melupakannya." Walaupun kau tak meminta maaf, aku pasti memaafkanmu Sasori, ia terlihat sangat sedih dibalik senyumnya yang ramah bagaimanapun juga sedikit banyaknya, aku tahu sifat seseorang yang di hadapanku sekarang. "Heeh, Sakura soal waktu itu, aku berlebihan tapi saat aku bilang kalau aku mencintaimu itu semua  jujur, kita sudah lama saling mengenal aku harap kau bisa memikirkan permintaanku." "Aku sudah memutuskan apa yang harus aku pilih sekarang," ucapku. "Hah? Kau sudah memutuskan?" tanyanya. Dia menatap penuh arti dan terlihat ekspresinya begitu merasa penasaran. Aku mulai melangkah maju.  "Ayo kita ke taman," ucapku.  Tapi, Sasori hanya diam tak menjawab, ia mulai mengikuti langkahku hingga kami berdua berjalan bersebelahan, kami berdua hanya diam tanpa bicara terdengar langkah kamilah yang menggantikan percakapan yang harus nya kami berdua lakukan. "Apa kau menungguku dari tadi?" "Iya, aku menunggumu pulang," jawabnya, ia memperhatikanku, Itulah kebiasaannya sejak dulu walaupun aku selalu tak pernah bertanya apa yang dia perhatikan dari diriku ini? Aku dan Sasori sering berjalan bersama menuju taman yang berjarak 50 meter dari rumahku, aku tak akan pernah lupa apa yang kami biasa lakukan sampai sekarang. "Sakura, apa Sarada sudah tau soal, Sasuke?" "Belum," jawabku. "Hah? Apa kau tidak memberitahunya kalau Sasuke itu ayahnya?" tanya Sasori dengan nada yang terdengar tegas, aku melangkah tenang sesekali memejamkan mata. "Apa kau lupa? Kalau Putriku itu sangat membenci sosok seorang ayah? Karena sosok ayah yang seharusnya ada untuknya tidak pernah ada untuknya ataupun untukku," jawabku. "Bagaimana jika suatu saat Sarada tau kalau Sasuke yang dia idolakan adalah sosok ayah yang dia benci?"  "Kalau itu akan terjadi, aku akan menjelaskan semuanya" jawabku. Langkah kami berdua terhenti lalu kami menuju tempat duduk yang cukup panjang dekat mesin minuman, kami berdua memilih minuman yang kami suka, aku memilih kopi instan dingin sedangkan Sasori minuman cola dingin. Tekhh.. Sasori membuka pengait penutup kaleng Cola, ia meminum Cola nya perlahan sedangkan aku menikmati kopi instan dingin yang aku suka. "Kita ini aneh ya? Suka minuman dingin saat tengah malam," gumamku. "Aku kira hanya aku yang berpikir seperti itu ternyata kau juga." "Sasori, aku ingin jujur kalau aku ini masih memiliki perasaan terhadap Sasuke." "Aku heran kenapa kau tetap mencintainya?" tanyanya, ia menenggak Cola yang dia pegang. "Aku juga tidak tau kenapa tapi, perasaanku juga rasa sayangku padanya tak berubah walau dulunya dia sangat jahat padaku, tapi itu masa lalu...sekarang ia berbeda, Sasuke sangat baik sampai aku tak percaya dengan apa yang aku lihat," ucapku.  Aku menikmati kopi. Aku melirik ke sebelah kanan, Sasori merogoh saku celananya. Aku membulatkan mata karena saat ini dia membuka kotak kecil berwarna merah dan terlihat sepasang cincin emas walaupun biasa saja namun mampu membuatku jantungku berdebar. "Sakura, apa kau mau menerima pemberianku ini?" Dia menatapku diiringi senyum yang terlihat tulus. Apa yang harus aku katakan sekarang? Jika aku menolak Sasori, ia akan sedih karenaku? "Anggap saja ini ikatan persahabatan," ucapnya. Dia meraih tanganku. "Iya, tapi ini berlebihan Sasori." "Kalau kau memakainya, aku akan berhenti untuk memilikimu," ucapnya terdengar sendu. "Jangan bicara dengan nada bicara seperti itu, kau membuatku sedih." Aku hanya diam membiarkan Sasori mengenakan cincinnya ke jemariku, dan ada ukiran huruf (S) dibagian cincin emas ini.  "Aku juga memakai cincin dengan ukiran (S) coba lihat," ucapnya. Menunjukkan cincin yang baru dia pakai di jemarinya. "Kau bodoh kenapa tidak mencari wanita yang lebih baik dariku!" ucapku tegas. "Aku kan sudah bilang aku ini mencintai mu, Sakura walaupun kau lebih memilih Sasuke. Ternyata ucapan bodoh itu benar, cinta tak harus memiliki."  "Hikss... Bodoh," jawabku.  Entah kenapa aku menjadi sedih dan mulai menangis. Aku ini jahat sekali padahal, Sasori selalu membantuku juga baik padaku selama ini. Tapi, aku tidak pernah membalas sedikitpun kebaikan nya. "Sakura, apa aku boleh memelukmu?"  Aku hanya diam tak menjawab, suasana menjadi hening diikuti angin yang berhembus membuat suasana malam yang menjelang pagi ini menjadi terasa dingin. "Sasori, ma-maafkan aku...Hiks...maaf." Srrkk.. Aku hanya terdiam pasrah saat dia memelukku. "Sakura, walaupun aku tidak bisa memilikimu dan cintamu, paling tidak aku bisa melihatmu setiap hariku." "Hikss.. Maafkan aku," ucapku, dan membalas pelukannya. Apa yang aku lakukan ini salah? Aku merasa sangat bersalah pada Sasori, aku selalu menganggapnya sebagai teman, aku tak ingin berpura-pura mencintainya karena yang aku cinta hanya satu orang. Kami berdua berhenti saling membalas pelukan, Sasori menatapku intens dan mulai mendekatkan wajahnya, aku seakan membeku tak bisa menolak apa yang akan terjadi selanjutnya, ia mencium keningku cukup lama, aku mulai memejamkan mataku. Sasori, kau memang baik, aku yakin kalau suatu saat nanti wanita yang menjadi pasangan hidupmu pasti akan sangat bahagia. "Ayo kita pulang," gumamku. "Iya, ayo." Aku dan Sasori memutuskan untuk pulang, ia mengantarku sampai di depan rumahku. Kami berpisah dengan saling membalas senyum ketika aku memasuki rumah, aku melihat cincin yang dia berikan. "Maaf ya, Sasori...maafkan aku," gumamku. Sakura Pov End. . . . . BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN