Senja lupa mengabari Baskara jika malam ini ia lembur. Perempuan itu merutuki dirinya sendiri mengapa tak sempat mengabari sang suami. Senja ibarat menggali kuburnya sendiri saat ini. “Maaf, Mas, aku lupa ngabarin kalau hari ini lembur. Kerjaanku—“ Baskara bertepuk tangan berat berulang kali, bukan pertanda sambutan, tetapi sebuah penghinaan. “Pekerjaan apa yang menyita waktumu seharian penuh, Senja? Kamu lupa jika kamu sudah menjadi seorang istri?” Sindiran itu dilayangkan Baskara dengan nada ketus. Senja menutup mata beberapa detik. “Maaf, Mas. Pimpinan redaksiku minta diselesaikan malam ini juga. Aku bener-bener nggak megang hape sama sekali dari pagi. Aku—“ Lagi-lagi kalimat Senja terpotong akibat tangan Baskara yang tiba-tiba terangkat, meraih dagunya dengan kasar. “Alasan

