Bab 26

1674 Kata

“Kalau begitu,” ungkap Senja tertahan, “ini juga bagian dari hidup yang Mama anggap wajar?” Desti menatapnya. Sekilas saja. Tatapan itu cepat, dingin, lalu berpaling. Tidak ada kaget, tidak ada iba. “Kamu bikin dia marah, kan? Makanya sampai berakhir begini,” duganya kasat, seperti kesimpulan yang sudah ia pegang sejak awal. Kata-kata itu menghantam Senja tanpa peringatan. Ia menarik lengannya kembali, memeluknya erat, seolah luka itu bisa ia sembunyikan dari dunia. “Mama bahkan nggak tanya apa yang terjadi.” Suara Senja terdengar bergetar. “Mama nggak pernah peduli sama aku. Dari kecil, Mama selalu mementingkan ego sendiri.” Desti mengangkat bahunya ringan, acuh tak acuh. “Untuk apa tanya? Toh, semua udah jelas. Istri itu harus tau caranya jaga emosi suami. Kalau sampai kayak gini,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN